📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 12 dokumen

KUANTIFIKASI NITROGEN DAN KANDUNGAN KLOROFIL PADA PAKCOY (BRASSICA RAPA L.) DENGAN HIDROPONIK WICK SYSTEM MENGGUNAKAN LARUTAN NUTRISI AB-MIX, PUPUK ORGANIK CAIR (POC), DAN PUPUK EMULSI IKAN

Pakcoy merupakan salah satu komoditas hortikultura yang dapat di budidaya secara hidroponik dengan sistem sumbu (wick system). Budidaya pakcoy secara hidroponik membutuhkan larutan nutrisi agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Larutan nutrisi yang paling umum digunakan yaitu AB Mix. Namun AB mix dapat berakibat toksik dan menimbulkan residu kimia, jika digunakan dalam jangka panjang. Alternatif pengganti nutrisi AB Mix yaitu penggunaan pupuk organik cair dan pupuk emulsi ikan. Penggunaan pupuk organik berpotensi menggantikan peran AB Mix dalam sistem hidroponik, khususnya dalam penyediaan nitrogen dan peningkatan kadar klorofil tanaman pakcoy. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh penggunaan masing-masing larutan nutrisi AB-Mix, pupuk organik cair (POC), dan pupuk emulsi ikan terhadap kandungan klorofil dan nitrogen tanaman pakcoy pada hidroponik wick system. Penelitian ini dilaksanakan pada Juni – Agustus 2025 di Screenhouse Laboratorium Teknik 1A ITB Kampus Jatinangor, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan tiga perlakuan yaitu P1 = Larutan AB Mix (27 mL larutan A + 27 mL larutan B), P2 = POC NASA (23 mL), dan P3 = Pupuk emulsi ikan (16 mL). Setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Berdasarkan hasil penelitian didapat, kandungan nitrogen maupun kandungan klorofil pada perlakuan AB Mix memiliki hasil yang paling tinggi dibandingkan dua perlakuan yang lain. Perlakuan AB Mix menghasilkan 7,02% untuk total nitrogen dan 4,79 mg/L untuk total klorofil. Sementara itu, perlakuan POC NASA menghasilkan nilai nitrogen 1,82% dan total klorofil 2,49 mg/L, sedangkan pupuk emulsi ikan menghasilkan nitrogen 2,39% dan klorofil 2,45 mg/L. Penggunaan AB Mix pada sistem hidroponik wick memberikan pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan penggunaan pupuk organik cair, baik POC NASA maupun emulsi ikan terhadap kadar nitrogen total tanaman pakcoy. Begitu juga dengan kandungan klorofil, penggunaan AB Mix secara signifikan menghasilkan kandungan klorofil yang lebih tinggi pada daun pakcoy. Ketersediaan hara merupakan faktor penentu utama dalam keberhasilan sistem budidaya hidroponik. Nitrogen pada AB Mix tersedia dalam bentuk anorganik yang langsung diserap akar, sehingga lebih efisien dalam membentuk asam amino, protein, dan klorofil. Sedangkan, pupuk organik cair membutuhkan proses mineralisasi, sehingga ketersediaan haranya lebih lambat, tidak seragam, dan lebih rendah. Berdasarkan hasil tersebut dapat dibuktikan bahwa penggunaan pupuk organik belum mampu menyaingi penggunaan AB Mix, meskipun lebih ramah lingkungan pupuk organik masih menghasilkan total nitrogen dan kadar klorofil yang lebih rendah.

2026
👤 Penulis: Siti Hadiyati
🏷️ Hidroponik 🏷️ Nutrisi Tanaman 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH VARIASI KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP GERMINASI, BIOMASSA, DAN KANDUNGAN VITAMIN E, FE, K, ZN PADA MICROGREENS BUNGA MATAHARI (HELIANTHUS ANNUUS L.)

Indonesia mengalami urbanisasi yang pesat, dengan proyeksi 66,6% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan pada tahun 2035. Penduduk perkotaan lebih rentan terjangkit penyakit terkait gaya hidup tidak sehat. Konsumsi sayuran yang cukup dapat mengurangi resiko seseorang menderita penyakit-penyakit tersebut. Di daerah perkotaan dengan lahan yang terbatas, microgreens menjadi alternatif pangan fungsional untuk memenuhi gizi dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh komposisi media tanam terhadap kualitas dan kuantitas hasil panen microgreens bunga matahari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 kelompok dan 5 perlakuan media tanam. Perlakuan terdiri atas cocopeat 100% (P1), cocopeat 60% dan tanah 40% (P2), cocopeat 60% dan vermiculite 40% (P3), cocopeat 60% dan vermicompost 40% (P4), serta cocopeat 60% dan perlite 40% (P5) berdasarkan rasio bobot per bobot. Parameter yang diamati pada penelitian ini meliputi kondisi mikroklimat dan edafik selama penelitian, tinggi tanaman, bobot panen, rasio tajuk-akar, germination index, germination percentage, serta kandungan vitamin E, Fe, K, dan Zn. Microgreens bunga matahari dipanen 10 hari setelah tanam. Analisis data dilakukan dengan uji homogenitas Saphiro-Wilk dan normalitas Levene, kemudian dilanjutkan dengan uji ANOVA two way factors dan uji lanjut Tukey-b. Data yang tidak homogen diuji dengan Welch ANOVA dan uji Post-Hoc Games Howell. Data dengan penyimpangan tinggi diuji dengan uji non-parametrik Kruskal-Wallis dengan uji post-hoc Dunn. Hasil analisis menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, panjang akar, bobot panen, germination percentage, germination index, kandungan Fe dan Zn. P2 menghasilkan microgreens bunga matahari dengan tinggi tanaman, bobot panen, dan kandungan Fe tertinggi. P3 menghasilkan microgreens bunga matahari dengan panjang akar, germination index, dan kandungan Fe tertinggi. P4 menghasilkan microgreens bunga matahari dengan kandungan Zn tertinggi. Media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air, rasio tajuk-akar, kandungan vitamin E dan kandungan K pada microgreens bunga matahari. Media tanam terbaik untuk microgreens bunga matahari adalah P3 dengan bobot panen 0,28 g/tanaman, panjang akar 11,26 cm, germination index 51,744, germination percentage 93%, kadar air 90,12%, kandungan vitamin E 7,83 mg/100 g bobot basah, kandungan Fe 69,48 mg/100 g bobot basah, kandungan K 0,41 mg/100 g bobot basah, dan kandungan Zn 16,80 mg/g bobot basah. Oleh karena itu, media tanam P3 menjadi media tanam yang cocok digunakan dalam budidaya microgreens bunga matahari untuk memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat kota.

2026
👤 Penulis: Lidwina Caroline Napitupulu
🏷️ Microgreens 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidroponik

PRODUKSI FERONIKEL BERBASIS REDUKTOR BIOMASSA TERTOREFAKSI

Indonesia dengan cadangan bijih nikel terbesar di dunia, sekitar 55 juta ton, memiliki peran penting dalam rantai pasok nikel global. Untuk mendukung strategi hilirisasi nasional, pemanfaatan bijih nikel secara efisien, khususnya melalui produksi feronikel, menjadi krusial. Namun, penggunaan batubara sebagai reduktan konvensional berisiko meningkatkan emisi karbon seiring meningkatnya permintaan feronikel sehingga menjadi tantangan terhadap target Net Zero Emissions 2060. Di sisi lain, Indonesia juga menghasilkan sekitar 12,8 juta ton limbah palm kernel shell (PKS) setiap tahun, yang berpotensi dimanfaatkan sebagai reduktan biomassa rendah karbon. Namun, kandungan fixed carbon PKS yang rendah menjadi penghalang terhadap penggunaannya pada proses metalurgi. Penelitian ini dimulai dari torefaksi PKS pada 300°C selama 1 jam yang meningkatkan kandungan fixed carbon dari 17,43% menjadi 40,16%. PKS tertorefaksi kemudian digunakan sebagai reduktan untuk mereduksi bijih nikel saprolit dengan rasio 3:12 gram (reduktan:bijih) pada temperatur 500°C, 700°C, dan 900°C selama 60 120 menit. Padatan hasil reduksi kemudian dikarakterisasi melalui analisis XRD dan SEMEDS. Keberadaan logam hasil reduksi ditemukan pada sampel hasil reduksi 120 menit 700°C dan 900°C dengan kandungan besi (Fe) 96,17% dan 95,67%. Sampel yang direduksi selama 120 menit kemudian dilebur pada temperatur 1373°C, 1473°C, dan 1573°C. Padatan hasil peleburan kemudian dikarakterisasi melalui analisis SEM-EDS. Kenaikan temperatur reduksi dan temperatur peleburan mengindikasikan peningkatan jumlah pembentukan logam pada padatan hasil peleburan. Logam yang terbentuk melalui proses peleburan pada 1573°C memiliki kadar Fe 79,30% dan nikel (Ni) 15,59% untuk sampel reduksi 500°C, sementara itu pada temperatur reduksi 700°C diperoleh logam dengan kadar 74,62% Fe dan 14,88% Ni dan pada temperatur reduksi 900°C diperoleh logam dengan kadar 75,57% Fe dan 13,77% Ni.

2025
👤 Penulis: Rama Haidar
🏷️ Metalurgi 🏷️ Hidroponik 🏷️ Reduksi Bijih Nikel

PRODUKSI FERONIKEL BERBASIS REDUKTOR BIOMASSA TERTOREFAKSI

Indonesia dengan cadangan bijih nikel terbesar di dunia, sekitar 55 juta ton, memiliki peran penting dalam rantai pasok nikel global. Untuk mendukung strategi hilirisasi nasional, pemanfaatan bijih nikel secara efisien, khususnya melalui produksi feronikel, menjadi krusial. Namun, penggunaan batubara sebagai reduktan konvensional berisiko meningkatkan emisi karbon seiring meningkatnya permintaan feronikel sehingga menjadi tantangan terhadap target Net Zero Emissions 2060. Di sisi lain, Indonesia juga menghasilkan sekitar 12,8 juta ton limbah palm kernel shell (PKS) setiap tahun, yang berpotensi dimanfaatkan sebagai reduktan biomassa rendah karbon. Namun, kandungan fixed carbon PKS yang rendah menjadi penghalang terhadap penggunaannya pada proses metalurgi. Penelitian ini dimulai dari torefaksi PKS pada 300°C selama 1 jam yang meningkatkan kandungan fixed carbon dari 17,43% menjadi 40,16%. PKS tertorefaksi kemudian digunakan sebagai reduktan untuk mereduksi bijih nikel saprolit dengan rasio 3:12 gram (reduktan:bijih) pada temperatur 500°C, 700°C, dan 900°C selama 60 120 menit. Padatan hasil reduksi kemudian dikarakterisasi melalui analisis XRD dan SEMEDS. Keberadaan logam hasil reduksi ditemukan pada sampel hasil reduksi 120 menit 700°C dan 900°C dengan kandungan besi (Fe) 96,17% dan 95,67%. Sampel yang direduksi selama 120 menit kemudian dilebur pada temperatur 1373°C, 1473°C, dan 1573°C. Padatan hasil peleburan kemudian dikarakterisasi melalui analisis SEM-EDS. Kenaikan temperatur reduksi dan temperatur peleburan mengindikasikan peningkatan jumlah pembentukan logam pada padatan hasil peleburan. Logam yang terbentuk melalui proses peleburan pada 1573°C memiliki kadar Fe 79,30% dan nikel (Ni) 15,59% untuk sampel reduksi 500°C, sementara itu pada temperatur reduksi 700°C diperoleh logam dengan kadar 74,62% Fe dan 14,88% Ni dan pada temperatur reduksi 900°C diperoleh logam dengan kadar 75,57% Fe dan 13,77% Ni.

2025
👤 Penulis: Akhmat Fauzan Saputra
🏷️ Metalurgi 🏷️ Hidroponik 🏷️ Reduksi Bijih Nikel

PERBEDAAN DURASI STIMULASI PULSED ELECTRIC FIELD (PEF) PADA AKAR TERHADAP KOMPONEN PERTUMBUHAN DAN KUALITAS PANEN TANAMAN KAILAN (BRASSICA OLERACEA) PADA SISTEM HIDROPONIK NUTRIENT FILM TECHNIQUE

Produksi petsai/sawi-sawian (termasuk kailan) di Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun 2020-2023. Pada tahun 2022 merupakan puncak produksi yaitu 760.608 ton, pada tahun 2023 menurun menjadi 686.834 ton. Penurunan ini diduga disebabkan oleh penyempitan lahan pertanian serta teknik budidaya yang kurang optimal, sehingga berdampak pada rendahnya kualitas dan kuantitas hasil panen. Pertanian secara konvensional merupakan metode pertanian yang kurang efisien karena, mudah terkontaminasi penyakit, membutuhkan lahan luas, banyak tenaga kerja, dan bergantung pada cuaca. Salah satu metode alternatif pertanian adalah hidroponik karena bersih, tidak membutuhkan lahan luas, sedikit tenaga kerja, tidak bergantung pada cuaca, lebih hemat air, dan pertumbuhan lebih cepat. Salah satu metode hidroponik terbaik adalah NFT karena memenuhi segala kebutuhan tanaman mulai dari air, oksigen, hingga nutrisi. Salah satu pendekatan yang berpotensi meningkatkan efisiensi produksi biomassa pada hidroponik NFT adalah stimulasi Pulsed Electric Field (PEF). Maka dari itu, penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh PEF melalui perbedaan durasi stimulasi. PEF distimulasikan dengan memberikan medan listrik sebagai bentuk sinyal stres pada tanaman. Sinyal stress pada tanaman ini diharapkan berpengaruh positif kepada komponen pertumbuhan & kualitas tanaman. Komponen pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, lebar daun, jumlah daun, berat basah, berat kering, & rasio akar tajuk. Sedangkan kualitas tanaman meliputi Soil Plant Analysis Development (SPAD) klorofil, kandungan klorofil & flavonoid. Penelitian PEF dilakukan di screenhouse ITB Jatinangor, dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan perlakuan berupa stimulasi PEF 0, 20, 40, 60, 80, dan 100 detik sebesar 0,5 kV/cm dengan frekuensi 500 Pulse Per Second (PPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan durasi perlakuan PEF tidak berpengaruh pada komponen pertumbuhan dan kualitas tanaman kailan.

2025
👤 Penulis: Nicholas Nathaniel Setiawan
🏷️ Hidroponik 🏷️ Stimulasi Pulsed Electric Field (Pef)

PENGARUH SISTEM TANAM DAN VARIASI DOSIS PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN, HASIL BIOMASSA, DAN KADAR VITAMIN C TANAMAN BAYAM HIJAU (AMARANTHUS HYBRIDUS L.)

Permintaan bayam hijau (Amaranthus hybridus L.) di Indonesia terus meningkat seiring kesadaran masyarakat akan konsumsi sayuran bergizi. Namun, produksi bayam mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman. Untuk mengatasi keterbatasan lahan dan air, sistem recirculating watering dengan media tanah berisi pupuk organik dapat menjadi solusi dalam budidaya bayam di perkotaan dengan pengunaan nutrisi berulang. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan pengaruh perlakuan sistem tanam dan variasi dosis pupuk organik terhadap pertumbuhan, hasil biomassa, dan kadar vitamin C tanaman bayam hijau (Amaranthus hybridus L.). Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan yaitu sistem tanam dan variasi dosis pupuk organik. Analisis yang digunakan yaitu ANOVA Two way taraf kepercayaan 95% dan uji lanjut DNMRT (Duncan’s New Multiple Range Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antar 2 faktor perlakuan. Untuk sistem recirculating watering memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bayam. Sistem ini terbukti memberikan pengaruh nyata pertumbuhan tanamana bayam pada parameter tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, diameter batang, serta kadar klorofil daun. Sistem recirculating watering berpengaruh nyata terhadap bobot segar, bobot kering, vitamin C, dan luas daun pada panen pertama, serta bobot segar pada panen kedua. Perlakuan dosis pupuk organik kompos dengan rasio 2:1 (tanah:pupuk) memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman, ditunjukkan melalui parameter tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, diameter batang, jumlah daun, kadar klorofil, serta parameter hasil panen berupa bobot kering pada panen siklus tanam kedua. Sementara itu, rasio 1:1 (tanah:pupuk) memberikan pengaruh nyata kadar vitamin C pada tanaman pada siklus tanam pertama.

2025
👤 Penulis: Diah Aqila
🏷️ Hidroponik 🏷️ Nutrisi Organik 🏷️ Kecerdasan Buatan

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL PRODUKSI BIOMASSA TANAMAN BAWANG DAUN (ALLIUM FISTULOSUM) PADA SISTEM HIDROPONIK KRATKY DENGAN KOMBINASI LARUTAN NUTRISI AB-MIX DAN VERMICOMPOST TEA

Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, mengalami lonjakan populasi dari 87.8 juta jiwa pada tahun 1960 menjadi 264 juta jiwa pada tahun 2017. Meskipun memiliki sumber daya manusia yang besar, ketahanan pangan masih berbanding jauh dari pertumbuhan penduduk, sehingga perlunya pengelolaan pangan yang efektif. Urban farming muncul sebagai solusi, mengintegrasikan pertanian ke dalam ekosistem perkotaan, mengatasi tantangan ketahanan pangan, dan meningkatkan pendapatan rumah tangga perkotaan salah satunya dengan sistem hidroponik Kratky. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pertumbuhan dan hasil produksi biomassa tanaman bawang daun (Allium fistulosum) serta menentukan neraca massa dan energi dalam produksi biomassa tanaman bawang daun dengan menggunakan kombinasi larutan nutrisi AB-Mix dan vermicompost tea dalam sistem hidroponik Kratky. Percobaan dilakukan di screenhouse ITB Jatinangor dari bulan Agustus hingga November 2023. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan lima ulangan: P1 (100% AB-Mix), P2 (75% AB-Mix + 25% vermicompost tea), P3 (50% AB-Mix + 50% vermicompost tea), P4 (25% AB-Mix + 75% vermicompost tea), dan P5 (100% vermicompost tea). Parameter pertumbuhan yang diukur meliputi tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, panjang batang, dan panjang akar setiap 3 hari sekali hingga 30 hari setelah tanam. Parameter biomassa yang diukur pada saat panen meliputi bobot basah tanaman, bobot kering tanaman, dan root length denstiy. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang tidak nyata dari pertumbuhan dan hasil produksi biomassa tanaman bawang daun. Nilai tertinggi untuk pertumbuhan didapatkan pada P3 (50% AB-Mix + 50% vermicompost tea) dan pada bobot basah tanaman pada P2 (75% AB-Mix + 25% vermicompost tea). Penelitian ini menunjukkan bahwa bawang daun dapat tumbuh dengan baik dengan berbagai kombinasi larutan nutrisi dalam sistem hidroponik Kratky. Perhitungan neraca massa dan energi dari produksi biomassa tanaman bawang daun memiliki neraca massa total sebesar 18174.64 g/ember/produksi dan heatloss hasil dari pengurangan laju energi input dan laju energi output sebesar 33798.45 kJ/produksi.

2025
👤 Penulis: Fikri Sabilal Huda
🏷️ Hidroponik 🏷️ Nutrisi Organik 🏷️ Pertanian Urban

Terbatasnya lahan di perkotaan mendorong diterapkannya sistem budidaya yang tidak bergantung pada tanah, yaitu sistem hidroponik yang salah satunya dipengaruhi oleh larutan nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh larutan nutrisi AB mix dan vermicompost tea pada berbagai komposisi terhadap pertumbuhan dan hasil biomassa tanaman caisim pada sistem hidroponik Kratky serta menentukan neraca massa dan energi dari perlakuan yang menghasilkan pertumbuhan dan hasil biomassa tanaman caisim yang paling baik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari 100% AB-Mix (P1), 75% AB-Mix + 25% Vermicompost tea (P2), 50% AB-Mix + 50% Vermicompost tea (P3), 25% AB-Mix + 75% Vermicompost tea (P4), dan 100% Vermicompost tea (P5). Berdasarkan uji ANOVA diperoleh bahwa kombinasi larutan nutrisi AB mix dan vermicompost tea berpengaruh signifikan terhadap laju pertumbuhan relatif tinggi dan jumlah daun; bobot basah, bobot kering, dan volume akar; bobot basah tajuk; kadar klorofil dan luas daun; tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap bobot kering tajuk. Selanjutnya, diperoleh bahwa perlakuan 75% AB mix + 25% vermicompost tea menghasilkan laju pertumbuhan relatif tinggi tanaman, bobot basah akar, volume akar, bobot basah tajuk, dan bobot kering tajuk paling tinggi secara tidak signifikan dan menghasilkan luas daun yang paling tinggi secara signifikan. Perlakuan 50% AB mix + 50% vermicompost tea menghasilkan laju pertumbuhan relatif jumlah daun dan bobot kering akar paling tinggi secara tidak signifikan. Perlakuan 100% AB mix menghasilkan kadar klorofil yang paling tinggi secara tidak signifikan. Perlakuan 100% vermicompost tea paling rendah pada semua parameter secara signifikan dan menunjukkan gejala defisiensi nutrisi. Berdasarkan hasil perhitungan neraca massa dan energi, budidaya sistem hidroponik Kratky pada ember menggunakan larutan nutrisi sebanyak 17 liter yang terdiri dari kombinasi larutan nutrisi AB mix 75% dan vermicompost tea 25% menghasilkan neraca massa total yaitu 17020.435 g/unit dan neraca energi total yaitu 185.008 MJ/unit

2024
👤 Penulis: Dandi Muhamad Zaki
🏷️ Hidroponik 🏷️ Nutrisi Subsidiir 🏷️ Manajemen Nersia

PRA-RANCANGAN URBAN FARMING DENGAN SISTEM HIDROPONIK KRATKY YANG TERINTEGRASI VERMIKOMPOS

Diperkirakan urbanisasi dunia akan meningkat menjadi 69% pada tahun 2050 sehingga sistem produksi pangan pada daerah urban akan memainkan peran penting. Pada daerah urban yang memiliki keterbatasan dalam lahan, pertanian berbasis non lahan, seperti hidroponik akan memainkan peran penting dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat. Namun, karena tidak semua wilayah perkotaan memiliki akses modal, teknologi, dan energi yang sama maka dibutuhkan pendekatan pertanian hidroponik bersifat pasif dan minim perawatan. Salah satu model tersebut adalah sistem hidroponik Kratky. Pada penelitian ini dilakukan simulasi sistem hidroponik Kratky dengan upaya substitusi, sebagian atau keseluruhan, larutan standar hidroponik (AB mix) menggunakan larutan vermicompost tea yang memungkinkan untuk diproduksi secara mandiri. Sistem ini digunakan untuk budidaya tanaman buncis (Phaseolus vulgaris). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi pertumbuhan dan hasil produksi biomassa tanaman buncis hasil budidaya dengan sistem Kratky. Percobaan dilakukan di screen house ITB Jatinangor dari bulan Agustus hingga November 2023 dengan menggunakan rancangan acak lengkap bagi lima perlakuan dan lima ulangan, yaitu: P1(100% AB-Mix), P2(75% AB-Mix + 25% vermicompost tea), P3 (50% AB-Mix + 50% vermicompost tea), P4 (25% AB-Mix + 75% vermicompost tea), dan P5 (100% vermicompost tea). Parameter pertumbuhan yang diukur meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga, dan parameter biomassa berupa jumlah polong dan bobot polong diukur setiap 3 hari sekali hingga 30 hari setelah tanam. Nilai tertinggi untuk pertumbuhan didapatkan pada perlakuan P2 (75% AB-Mix + 25% vermicompost tea) biomassa pada P4 (25% AB-Mix + 75% vermicompost tea). Penelitian ini menunjukkan bahwa buncis dapat dibudidayakan dengan kombinasi AB mix dan vermicompost tea dalam sistem hidroponik Kratky. Perhitungan neraca massa dan energi dari produksi biomassa tanaman bawang daun memiliki neraca massa total sebesar 20456.0212 g/ember/produksi dan heat loss hasil dari pengurangan laju energi input dan laju energi output sebesar 63216.008 kJ/produksi.

2024
👤 Penulis: Fathia Mahira Sjoekri
🏷️ Hidroponik 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL PRODUKSI BIOMASSA TANAMAN SELADA (LACTUCA SATIVA L.) PADA SISTEM HIDROPONIK KRATKY DENGAN KOMBINASI LARUTAN NUTRISI AB MIX DAN VERMICOMPOST TEA

Urbanisasi adalah fenomena sosial yang telah medistorsi distribusi pangan dan sektor budidaya Indonesia. Hal ini berujung pada ketidakseimbangan pangan dan kesenjangan ekonomi antara lapisan masyarakat. Urban farming merupakan sebuah solusi yang dapat diimplementasikan untuk mewujudkan keamanan dan ketersediaan pangan di wilayah kota. Sistem hidroponik Kratky serta vermikompos adalah salah satu contoh konsep dari implementasi urban farming. Dalam penelitian lain, telah ditemukan bahwa larutan ekstraksi vermikompos (compost tea) terbukti dapat menggantikan pupuk inorganik (AB Mix) sebagai sumber nutrisi pada hidroponik. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh dari perbedaan proporsi larutan AB mix dan vermicompost tea terhadap pertumbuhan dan hasil produksi biomassa tanaman selada (Lactuca sativa L.) dalam sistem hidroponik Kratky. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakua P3 (kombinasi larutan AB Mix 50% dan vermicompost tea 50%) memberi respons terbaik untuk pertumbuhan dan biomassa tanaman selada. Tanaman selada yang diberi perlakuan P3 menunjukkan pertumbuhan yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya dari parameter jumlah daun, luas daun dan bobot basah tajuk dengan rata-rata bobot basah 80.8gr/tanaman. Perhitungan neraca massa untuk perlakuan P3 selama masa tanam memiliki nilai 17008 gr/unit produksi dalam keadaan setimbang. Pada neraca energi, energi radiasi matahari yang diperoleh memiliki nilai sebesar 65046 kJ/unit sedangkan heat loss yang dialami bernilai 36653 kJ/unit

2024
👤 Penulis: Jeremia Toby
🏷️ Hidroponik 🏷️ Vermikompos 🏷️ Biomassa Tanaman

SMART INDOOR FARMING SYSTEM DALAM KERANGKA SMART SYSTEM 4 LAYERS

Pertanian yang berkelanjutan merupakan langkah yang dilakukan dalam mengentaskan keterbatasan lahan, keterbatasan lahan di perkotaan menciptakan tingkat konsumsi pangan yang meningkat dan berbanding lurus dengan besarnya jumlah masyarakat di perkotaan. Seperti halnya bertani pada lahan terbuka besar, hidroponik juga memerlukan sumber daya alam seperti matahari dalam mendapatkan energi untuk proses fotosintesis. Kondisi cuaca yang tidak menentu dapat mengganggu proses fotosintesis, respirasi, transpirasi, serta absorpsi air dan nutrisi pada tanaman cabai rawit hidroponik. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk melakukan inspeksi dan menentukan formulasi yang presisi terhadap proses pertanian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam kerangka smart system. Sehingga hasil yang dicapai adalah terciptanya teknologi pencahayaan buatan yang dapat memberikan cahaya yang optimal pada rentangan intensitas 100 hingga 6000 lux dengan spektrum 360nm hingga 760nm, terukurnya partikel terlarut didalam air 1 hingga 1400 ppm, terukurnya suhu udara sekitar tanaman pada rentangan 19oC sd. 31oC beserta kelembapan udara yaitu antara 64% hingga 95%, terukurnya suhu air pada rentangan 17oC hingga 27oC, terbentuknya sebuah platform manajemen informasi yang bermanfaat bagi pengguna. Pemanfaatan teknologi smart system 4 layers yang terintegrasi dengan hasil instrumentasi menjadi langkah awal dalam mewujudkan teknologi smart indoor farming.

2024
👤 Penulis: Fajar Winata
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidroponik

PERANAN JALUR ASAM ARAKIDONAT DALAM EKSPRESI PUTUS OBAT SETELAH PEMBERIAN BERULANG EKSTRAK ETANOL DAUN KRATOM (MITRAGYNA SPECIOSA (KORTH.) HAVIL) PADA MENCIT JANTAN GALUR BALB-C

Kratom (Mitragyna speciosa (Korth.) Havil) merupakan tumbuhan tropis dari suku Rubiacea yang banyak ditemukan di Asia Tenggara, khususnya di Kalimatan Barat, Indonesia. Penggunaan pada dosis kecil di masyarakat sebagai stimulan pada saat bekerja, namun penggunaan pada dosis besar akan menimbulkan efek sedatif narkotik seperti morfin. Selain itu, kratom juga dimanfaatkan untuk mengatasi ketergantungan opium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manifestasi putus obat pada mencit setelah pemberian berulang ekstrak etanol daun kratom dan mempelajari keterlibatan jalur asam. Mencit Jantan galur Balb-c diberi perlakuan pelarut, morfin dan ekstrak etanol daun kratom dosis 30 mg/kgBB, 60 mg/kgBB dan 100 mg/kgBB selama 5 hari dan 10 hari. Selain itu terdapat mencit yang diberi natrium diklofenak 10 mg/kgBB 2 hari sekali i.p 30 menit sebelum pemberian bahan uji selama 10 hari. Pengamatan tanda putus obat dilakukan 24 jam setelah pemberian kratom terakhir selama 30 menit. Setelah selesai pengamatan perilaku dilakukan pengukuran kadar dopamin dan serotonin otak, serta uji histopatologi. Diperoleh hasil bahwa pemberian ekstrak selama 5 hari teramati peningkatan konsentrasi kadar dopamin (terbesar pada dosis 100 mg/kgBB, p<0,01) dan setelah pemberian selama 10 hari terjadi penurunan kadar dopamin (penurunan terbesar terjadi pada dosis 100 mg/kgBB, p<0,05) disertai kenaikan persentase degenerated neuron. Pada kelompok yang diberi diklofenak terlihat durasi tanda putus obat tidak berbeda bermakna dengan kelompok normal namun berbeda bermakna dengan kelompok ekstrak dosis 100 mg/kgBB, penurunan kadar dopamin dan serotonin baik di bagian hippocampus maupun korteks prefontal. Hasil penelitian ini menunjukkan kratom memiliki sifat adiktif, yang semakin kuat dengan bertambahnya durasi paparan, dan hal ini disertai dengan penurunan kadar dopamin. Selain itu, ditunjukkan adanya peran jalur asam arakhidonat dalam ekspresi putus obat dari kratom.

2024
👤 Penulis: Eka Tristy Dian Permatasari
🏷️ Krutosis 🏷️ Hidroponik 🏷️ Asam Arahidonat
💬