📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenPERANCANGAN ALAT BANTU MOBILISASI DALAM PRAKTIK RELOKASI TELUR PENYU (STUDI KASUS: KONSERVASI PENYU NAGARAJA, CILACAP)
Penyu laut merupakan spesies kunci yang keberadaannya dilindungi, namun siklus hidupnya di darat kian terancam oleh tekanan aktivitas antropogenik dan perubahan bentang alam. Di pesisir selatan Indonesia, khususnya Cilacap, ancaman terhadap sarang alami, mulai dari lintasan kendaraan wisata, predasi, hingga abrasi dan Pembangunan, menjadikan relokasi telur sebagai strategi intervensi yang vital. Praktik ini, yang telah menjadi metode konservasi global sejak pertengahan abad ke-20, bertujuan memindahkan telur ke area yang lebih aman. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan mulia konservasi dan fasilitas yang tersedia. Petugas konservasi sering kali harus menempuh jarak patroli hingga 30 km menggunakan sepeda motor trail di medan yang ekstrem, hanya bermodalkan wadah improvisasi seperti kantong plastik atau tas laptop. Kondisi ini meningkatkan risiko guncangan vertikal yang fatal bagi embrio serta paparan fluktuasi suhu ekstrem. Penelitian ini menggunakan pendekatan Human-Centered Design (HCD) dengan metode kualitatif eksploratif-deskriptif untuk menjembatani kebutuhan ekologis telur serta tantangan operasional petugas di lapangan. Melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam, perancangan difokuskan pada pengembangan alat bantu mobilisasi yang adaptif terhadap kondisi medan pesisir serta aktivitas relokasi telur di lapangan. Hasil perancangan menghadirkan solusi produk fisik yang dirancang untuk meminimalkan guncangan mekanis serta menjaga stabilitas termal selama proses relokasi telur. Desain ini menawarkan solusi adaptif, terukur, dan low-cost yang secara signifikan dapat mengurangi risiko mortalitas telur akibat proses relokasi, sekaligus memberikan standar baru dalam praktik konservasi yang lebih ergonomis dan bermartabat bagi para garda depan pelestarian satwa di Indonesia.
RE-DESAIN SMP SANTA ANGELA DENGAN PENDEKATAN HUMAN-CENTERED DESIGN DAN SENSE OF PLACE DI BANDUNG
Di Kota Bandung, SMP Santa Angela merupakan sekolah Katolik yang menempati bangunan cagar budaya yang berdiri sejak masa kolonial. Sekolah ini menghadapi tantangan dalam menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan pembelajaran saat ini. Ruang kelas yang dialihfungsikan, kompleksitas kebutuhan siswa, dan kondisi lingkungan belajar yang belum optimal, seperti kebisingan, pencahayaan yang kurang memadai, dan penghawaan yang kurang nyaman. Selain itu, integrasi nilai sekolah dalam desain ruang masih terbatas sehingga potensi penguatan identitas sekolah dalam pengalaman ruang belum terimplementasi secara optimal. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan desain baru dalam mengatasi permasalahan dan tatangan di SMP Santa Angela melalui pendekatan human- centered design dan sense of place. Pendekatan human-centered design berfokus pada kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial pengguna yang akan menjadi dasar pengembangan solusi desain. Pendekatan sense of place diterapkan untuk menyelaraskan karakter fisik bangunan, aktivitas sosial, dan makna simbolik guna memperkuat keterikatan serta rasa memiliki (sense of belonging) warga sekolah. Metode penelitian meliputi survei, observasi, kuesioner, wawancara, dan pengukuran faktor lingkungan menggunakan 5 in 1 environment meter. Perancangan ulang SMP Santa Angela ini mengangkat tema “Transforming into a Brighter Future: Honoring the Past, Transforming the Present, Shaping the Future” sebagai upaya menyelaraskan pelestarian identitas historis bangunan cagar budaya dan nilai Serviam dengan transformasi ruang yang responsif terhadap kebutuhan masa kini serta kebutuhan pembelajaran masa depan. Implementasi desain menerapkan kedua pendekatan desain pada sekolah dengan 6 ruang sebagai prioritas tertinggi, yaitu lobi, koridor sejarah, student hub, ruang guru, dan 2 ruang kelas tipikal. Perancangan ini diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik dan berpusat pada pengguna, mendukung kenyamanan, aktivitas, interaksi sosial, serta memperkuat identitas sekolah melalui pengalaman ruang untuk meningkatkan ‘rasa memiliki’ bagi warga sekolah.
PENGEMBANGAN DESAIN CONTINUOUS GLUCOSE MONITORING (CGM) UNTUK PASIEN ANAK DIABETES TIPE 1
Peningkatan prevalensi Diabetes Mellitus Tipe 1 pada anak-anak memunculkan kebutuhan mendesak akan solusi pemantauan kadar glukosa darah yang tidak hanya akurat secara medis, tetapi juga ramah secara psikologis dan ergonomis bagi pengguna usia dini. Laporan ini membahas proses perancangan dan pengembangan desain Continuous Glucose Monitoring (CGM) Kit yang ditujukan khusus untuk anak-anak usia 6–12 tahun di Indonesia. Dengan pendekatan Human-Centered Design dan Child-Centered Design, penelitian ini melibatkan studi literatur, observasi lapangan, wawancara dengan pengguna dan ahli, serta eksplorasi visual dan teknis produk. Konsep desain akhir yang dipilih adalah sistem CGM Kit Modular yang terdiri dari sejumlah komponen yang saling terintegrasi satu dengan lain. Setiap komponen dirancang secara ergonomis, ringan, dan fleksibel. Sistem ini memungkinkan penggantian perangkat secara terpisah dan mendukung pemantauan jarak jauh melalui aplikasi pendamping. Desain visual dirancang bersahabat dengan anak melalui bentuk dan antarmuka yang mudah dipahami. Hasil akhir dari proyek ini adalah rancangan CGM Kit yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional pemantauan kadar gula darah, tetapi juga memperhatikan aspek emosional, sosial, dan estetika anak sebagai pengguna utama. Produk ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian anak-anak dengan Diabetes Tipe 1 dalam mengelola kondisi mereka secara mandiri dan menyenangkan.