📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 29 dokumenPENINGKATAN KAPASITAS FLOODWAY CISANGKUY DENGAN OPTIMASI GEOMETRI DAN PERKUATAN SALURAN
Floodway Cisangkuy berfungsi mengalihkan aliran Sungai Cisangkuy di Dayeuhkolot menuju Sungai Citarum di Katapang untuk mengurangi risiko banjir di kawasan rawan seperti Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi geometri penampang dan mengevaluasi stabilitas lereng floodway agar mampu menampung debit melebihi debit rencana 215 m³/s, menggunakan pemodelan HEC-RAS 1D dan analisis stabilitas lereng metode Taylor. Karena keterbatasan lahan akibat jalan dan dinding penahan di sekitar floodway, optimasi difokuskan pada geometri penampang, kemiringan lereng, dan koefisien Manning, tanpa pelebaran horizontal. Hasil analisis menunjukkan koefisien Manning dan jari-jari hidrolik paling berpengaruh terhadap kapasitas debit, sedangkan keamanan lereng ditentukan oleh tinggi lereng terhadap tinggi kritisnya. Konfigurasi terpilih adalah kemiringan H:V = 1:1 (45°) dengan tinggi kritis minimum 3,19 m, tinggi pilih 2,13 m, dan bench minimum 2 m, menghasilkan penampang lebar dasar 13,2 m dan total 44 m yang mampu menampung debit hingga 280 m³/s. Kecepatan dan tegangan geser dikendalikan dengan menyesuaikan kemiringan memanjang menjadi 0,00044 dengan mengubah struktur terjun eksisting tinggi 2 m menjadi 3,815 m yang diperkuat dengan material beton. Total biaya galian dan timbunan diperkirakan Rp2.295.046.338,26.
PERANCANGAN STRUKTUR BREAKWATER DI PELABUHAN TAMPERAN, PACITAN
Pelabuhan Tamperan di pesisir selatan Pacitan sering mengalami kendala gelombang ekstrem akibat pengaruh Samudra Hindia, sehingga perancangan struktur pemecah gelombang (breakwater) menjadi krusial untuk mengoptimalkan ketenangan kolam bagi operasional kapal purse seine 20–30 GT. Studi ini menggunakan QGIS untuk pengolahan data batimetri serta simulasi Delft3DWAVE untuk analisis pemodelan gelombang, dengan menetapkan parameter HHWL sebesar 2.53 meter dan tinggi gelombang ekstrem 4.41 meter. Desain terpilih adalah breakwater tipe sisi miring (rubble mound) dengan elevasi puncak 4.88 meter, panjang 140 meter, lebar puncak 2 meter, kemiringan 1:1.5, serta lapisan pelindung utama tetrapod 500 kg. Evaluasi stabilitas daya dukung tanah menggunakan formulasi Terzaghi menghasilkan nilai faktor keamanan (safety factor) sebesar 4.25, yang mengindikasikan bahwa desain telah memenuhi kriteria keamanan standar (???????? > 2,0).
EVALUASI SISTEM DRAINASE POLDER DI KAWASAN PANTAI INDAH KAPUK 2, KECAMATAN KOSAMBI, KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN
Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) merupakan kawasan reklamasi pesisir di Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, yang menerapkan sistem drainase berbasis polder dengan pengendalian muka air terpusat melalui kolam retensi, jaringan saluran, serta pompa dan pintu air. Banjir yang terjadi pada 12 Januari 2026 menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem eksisting, sehingga Tugas Akhir ini bertujuan mengevaluasi kinerja sistem drainase polder melalui analisis hidrologi, pemodelan menggunakan EPA SWMM 5.1 dan HEC-RAS 6.5, serta evaluasi kapasitas komponen sistem polder. Model SWMM dibangun dengan 1.364 node, 1.677 konduit, dan luas DTA 713,6 ha yang terbagi ke dalam empat stasiun pompa (PS1–PS4) dengan kapasitas eksisting 42,40 m³/s. Hasil pemodelan mengidentifikasi empat zona genangan banjir, di mana Skenario 3 berupa peningkatan kapasitas PS1 dan PS2 masing-masing menjadi 13,50 m³/s dengan total sistem 49,40 m³/s terpilih sebagai konfigurasi pompa optimal yang mampu mempertahankan TMA Storage Utara di bawah ambang aman +2,40 mdpl. Penambahan box culvert sebagai saluran diversi pada Zona 2 berhasil mereduksi node kritis dari 40 menjadi 21 node. Pemodelan HEC-RAS pada Sungai Tahang menunjukkan bahwa beban lateral flow pemompaan sebesar 49,40 m³/s menyebabkan overtopping tanggul eksisting +4,00 mdpl, sehingga direncanakan peningkatan tanggul menggunakan CCSP W400 dengan elevasi puncak +5,00 mdpl, tip ?11,00 mdpl, total panjang tiang 16,00 m, dipasang pada kedua sisi sungai sepanjang 1.320 m dengan total panjang CCSP 2.640 m.
PENGEMBANGAN VEGETASI BUATAN TERENDAM DI SALURAN TERBUKA SEBAGAI ALTERNATIF PERLINDUNGAN PERMUKAAN DASAR SALURAN TERHADAP GERUSAN LOKAL
Abstrak dapat dilihat di File
KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI AIR BENGKULU DI KOTA BENGKULU
Provinsi Bengkulu merupakan wilayah yang berada di sisi barat Pegunungan Bukit Barisan dan memiliki karakteristik topografi curam di bagian hulu serta dataran rendah di wilayah hilir. Sungai Air Bengkulu sebagai salah satu sungai utama di provinsi ini melintasi wilayah Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah yang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengkulu. Dalam beberapa dekade terakhir, DAS Bengkulu menunjukkan kecenderungan penurunan fungsi hidrologis dan kualitas lingkungan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi serta besarnya kejadian banjir, salah satunya peristiwa banjir besar pada April 2019 dan Agustus 2022. Banjir yang terjadi pada Sungai Air Bengkulu disebabkan oleh kombinasi faktor hidrologis dan hidraulis, antara lain besarnya debit banjir akibat curah hujan ekstrem, perubahan karakteristik DAS, serta keterbatasan kapasitas penampang sungai yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi, khususnya di bagian muara. Kondisi tersebut menyebabkan aliran sungai tidak mampu mengalirkan debit banjir secara optimal sehingga terjadi limpasan dan genangan di wilayah perkotaan. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu telah melaksanakan upaya pengendalian banjir secara bertahap dan komprehensif. Namun demikian, kajian teknis terintegrasi tetap diperlukan untuk mendukung upaya penanganan yang telah dan akan dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrologi dan hidraulika Sungai Air Bengkulu berdasarkan kejadian banjir aktual melalui pemodelan, menilai pengaruh upaya pengendalian banjir terhadap reduksi banjir, serta mengkaji alternatif upaya tambahan yang diperlukan untuk mendukung pengendalian banjir yang efektif dan efisien. Analisis hidrologi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS untuk memperoleh debit banjir rencana, diawali dengan pengujian kualitas data curah hujan melalui uji konsistensi, uji outlier, uji independensi. Data curah hujan yang digunakan berasal dari empat pos hujan, yaitu PCH Bajak, Taba Mutung, Tanjung Jaya, dan Batu Raja dengan panjang data 17 tahun (2008–2024). Curah hujan wilayah dihitung menggunakan metode Polygon Thiessen, kemudian dilakukan analisis distribusi frekuensi hujan rencana dengan beberapa metode distribusi dan uji kesesuaian untuk menentukan distribusi terbaik. Perhitungan hujan efektif dilakukan untuk mendapatkan nilai Curve Number berdasarkan ii karakteristik DAS, tutupan lahan, dan jenis tanah. Selanjutnya, debit banjir rencana dihitung menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetis Snyder yang telah dikalibrasi terhadap kejadian banjir observasi. Hasil analisis hidrologi menunjukkan bahwa debit banjir rencana kala ulang 50 tahun (Q50) sebesar 879,4 m³/s digunakan sebagai dasar dalam analisis hidraulika. Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan HEC-RAS dua dimensi untuk mensimulasikan kondisi genangan banjir eksisting dan beberapa skenario penanganan banjir. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa kapasitas Sungai Air Bengkulu pada kondisi eksisting tidak mampu menampung debit banjir rencana Q50, yang ditunjukkan oleh luasan genangan mencapai 1.439,8 ha dengan kedalaman genangan berkisar antara 0,66 hingga 3,66 meter. Dari enam skenario penanganan yang disimulasikan, skenario keenam yang merupakan kombinasi peningkatan tanggul eksisting dan normalisasi sungai sepanjang 1,5 km di bagian muara menunjukkan kinerja terbaik dengan reduksi luas genangan sebesar 74,3%. Skenario ini dinilai memenuhi aspek efektivitas dalam pengurangan banjir serta efisiensi dari sisi pemeliharaan. Selain itu, hasil pemodelan menguatkan hipotesis bahwa penyempitan atau bottleneck di bagian muara sungai merupakan salah satu penyebab utama terjadinya banjir. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar teknis dalam perencanaan pengendalian banjir Sungai Air Bengkulu secara berkelanjutan serta mendukung penyusunan mikrozonasi kawasan berisiko tinggi bencana banjir di Kota Bengkulu.
DETERMINATION OF HYDRODYNAMIC PARAMETERS OF OFFSHORE FLOATING SOLAR POWER PLANTS USING THE DMB NUMERICAL MODEL AND LABORATORY TEST RESULTS
Floating photovoltaic (FPV) systems are a promising offshore renewable energy solution, but their performance depends on accurately predicting hydroelastic responses under wave loading. This study investigates the dynamic behavior of an FPV island through laboratory experiments and numerical modeling. A scaled FPV model was tested at the ITB Wave Laboratory, with Inertial Motion Units (IMUs) measuring acceleration, angular velocity, and pitch. The numerical model was developed in OrcaFlex using the Discrete Modular Beam (DMB) method, with hydrodynamic data obtained from OrcaWave. Baseline comparisons showed large discrepancies between experiment and simulation, particularly in acceleration responses. Through iterative tuning of equivalent beam stiffness, drag coefficients, and structural damping, the numerical model was significantly improved. The final calibrated parameters reduced errors and provided validated input for FPV hydroelastic simulations. This study highlights the DMB method as an efficient tool for FPV analysis, bridging physical and numerical approaches.
EVALUASI DAN PERANCANGAN SISTEM DRAINASE BERBASIS KONSEP ECO DRAINAGE DI KAMPUS UNIVERSITAS PADJADJARAN, KECAMATAN JATINANGOR
Universitas Padjadjaran (UNPAD) Jatinangor Campus is experiencing rapid development that increases built-up areas and reduces water catchment areas. This condition results in an increasing volume of rainwater runoff and the risk of local flooding, thus demanding a sustainable water management system. This research designed a drainage system based on the concept of eco drainage as an effort to conserve water and mitigate runoff. Hydrological analysis was carried out as the basis of the design, generating an Intensity-DurationFrequency (IDF) curve using the Van Breen Method with the Talbot formula approach. For the 5-year Rain Recovery Period (PUH), the planned rain intensity used is 66.708 mm/h. With PCSWMM modeling, runoff in the existing drainage system for 5-year PUH is estimated to reach 56.99 m³/second, where the simulation results show the potential for inundation at several channel junction points. Based on consideration of the condition of low infiltrated clay soil and land availability, the selected eco drainage technologies are Swale, Detention Basin, Rainwater Harvesting, and Green Roof. After redesign and re-simulation with the application of the technology, inundation at critical points such as nodes JA13 and JA25 was successfully eliminated, indicating that the designed system was effective in reducing runoff loads. In terms of non-technical analysis, this project is also considered financially feasible. The results of the investment feasibility analysis for 20 years of projection showed a positive Net Present Value (NPV) value of Rp 730,578,614.58 and a Benefit-Cost Ratio (BCR) of 1,564, which indicates that the project is feasible because the benefits obtained exceed investment and operational costs
PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR DI KALI SUNTER, JAKARTA UTARA, PROVINSI DKI JAKARTA
Kali Sunter mengalir di Jakarta utara yang melewati enam kecamatan, yaitu Kecamatan Koja, Kecamatan Kelapa Gading, Kecamatan Cakung, Kecamatan Duren Sawit, Kecamatan Jatinegara, dan Kecamatan Pulo Gadung. Banjir pada kawasan tersebut disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi menyebabkan kapasitas infrastruktur pengendali banjir yang tidak dapat mengalirkan debit secara maksimal. Berdasarkan lokasi layanan Kali Sunter, hilir Kali Sunter terletak di Kresek, Jakarta Utara yang langsung terhubung ke laut sehingga menghambar aliran air saat pasang laut (Backwater). Tata guna lahan Kali Sunter didominasi oleh pemukiman penduduk yang menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai akibat aktivitas manusia. Kondisi banjir pada di Kali Sunter membutuhkan pengendalian banjir yang memadai untuk mengurangi risiko banjir. Pengendalian banjir menggunakan hujan rencana periode ulang 50 tahun dengan tipologi kota metropolitan dan luas daerah pengaliran sekitar 50.34 km2. Penyusunan Tugas Akhir dimaksudkan untuk merencanakan sistem pengendalian banjir di kawasan Kali Sunter, Jakarta Utara. Pengendalian banjir yang akan diterapkan adalah normalisasi dan penanggulan dengan menggunakan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP). Selain itu, dalam mendukung pemodelan 1-D (satu dimensi) dan 2-D (dua dimensi) untuk meninjau genangan dan muka air banjir yang terjadi, maka digunakan software HEC-RAS. Kombinasi antara normalisasi dan penanggulan merupakan solusi yang digunakan dalam meningkatkan kapasitas aliran di Kali Sunter Kresek untuk dapat mereduksi genangan banjir dan kedalaman banjir di Kawasan Sunter Kresek.
INTEGRASI DARI PARAMETER DESAIN HYDRAULIC FRACTURING KE DALAM SIMULASI RESERVOIR: STUDI KASUS SUMUR AMB-2X DI FORMASI LG
Hydraulic fracturing has been widely applied in low-permeability reservoirs to enhance hydrocarbon productivity by creating high-conductivity flow paths and reducing near-wellbore skin. In this study, an integrated approach is proposed by embedding detailed hydraulic fracturing design parameters into a reservoir simulation model to improve the accuracy of post-fracturing production. The AMB-2X exploration vertical well, located in the South Natuna Sea, was selected as a case study due to its multilayer tight gas characteristics and the availability of comprehensive fracturing design data. The main target of the well is the LG Formation. Initially, hydraulic fracturing design for nine stages was performed and optimized based on log-derived stress profiles, offset well analogs, and reservoir quality indicators. Conventionally, post-fracturing production analysis relies on skin factor estimation through DST results and transmissibility-rate correlation. However, this study advances the analysis by incorporating fracture geometry parameters—such as half-length, width, height, and SRV expansion value— into the dynamic simulation model. As a result, the integrated model produces the same results as the conventional method after stimulation. The approach demonstrates how coupling fracture design with reservoir simulation can reduce uncertainty in production estimation and support development planning in tight gas fields.
OPTIMISASI BUKAAN KATUP PADA INFLOW CONTROL DEVICE PADA SUMUR HORIZONTAL MULTI-PERFORASI DI RESERVOIR BATUPASIR: PENDEKATAN MODEL KONSEPTUAL
A multi-perforated horizontal well is one of the most effective methods to improve sweep efficiency in hydrocarbon recovery. However, this approach often faces challenges such as influx imbalance and increasing water-oil ratio (WOR), which can significantly reduce production efficiency. To mitigate these issues, inflow control device (ICD) are installed at each perforation interval to regulate fluid entry and ensure uniform inflow along the wellbore. In this study, a conceptual sandstone reservoir model was used to perform a sensitivity analysis aimed at identifying the most influential parameters in ICD installation performance. The results, presented in a Pareto chart, indicate that porosity (followed closely by permeability) and grid thickness are the most sensitive parameters affecting oil production. Building upon this, an advanced sensitivity analysis was conducted by combining these key reservoir properties with various ICD valve opening percentages. This process led to the development of a fluid flow dynamic model equation, which serves as a valuable tool for optimization. The objective is to determine the optimum reservoir intervals and ICD valve openings that maximize cumulative oil production while minimizing WOR, ultimately enhancing the effectiveness of ICD implementation in horizontal wells.
MODEL PENGENDALIAN DEBIT LINGKUNGAN PADA SUNGAI CITARUM, SUB DAS CITARUM HULU
Konsep kebutuhan debit lingkungan sangat penting dalam pengelolaan air berkelanjutan, khususnya di daerah aliran sungai seperti DAS Citarum Hulu yang menghadapi permasalahan tekanan antropogenik yang signifikan. Dengan mendefinisikan debit lingkungan berdasarkan kebutuhan ekologis habitat akuatik, upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan ketahanan ekosistem sungai dapat didukung secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebutuhan debit lingkungan di DAS Citarum Hulu dengan fokus pada dinamika habitat akuatik. Tujuan utamanya adalah memberikan informasi yang dapat membantu para pengambil kebijakan, praktisi konservasi, dan pengelola sumber daya air dalam membuat keputusan yang seimbang antara kebutuhan manusia dan pelestarian ekosistem perairan yang penting. Untuk menentukan ambang batas debit lingkungan, digunakan indikator hidrologi seperti 7Q10 dan 7Q5, serta analisis kurva durasi aliran (Flow Duration Curve/FDC) dengan probabilitas 95%, 97,5%, dan 99%. Data ini diperoleh dari stasiun pencatatan muka air Nanjung, juga data iklim dari stasiun terdekat. Segmen sungai yang diteliti memiliki panjang sekitar 50 km. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecepatan aliran merupakan parameter hidraulik yang paling tidak terpenuhi di sebagian besar segmen sungai untuk 12 jenis ikan yang diuji. Sedangkan parameter kedalaman aliran masih dapat memenuhi kebutuhan 12 jenis ikan yang diuji. Secara khusus, 74,4% penampang sungai tidak memenuhi kebutuhan minimum kecepatan aliran sebesar 0,3 m/detik yang penting bagi kelangsungan hidup ikan Cyprinus carpio pada kondisi debit Q95%%. Persentase ini meningkat menjadi 81,5% dan 81,7% untuk debit 7Q10 di lokasi Nanjung dengan Metode Sacramento dan Observasi di Nanjung secara berturut-turut. Perbandingan antara Q95%% dan 7Q10 menunjukkan perbedaan 7,3% dalam pemenuhan parameter kecepatan aliran. Dari skenario aliran yang dievaluasi, Q95%% yang memiliki debit terbesar berpotensi digunakan sebagai referensi dalam penentuan kebutuhan debit lingkungan. Namun, debit aliran saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan habitat, khususnya dari segi kecepatan aliran. Oleh karena itu, diperlukan intervensi rekayasa untuk memodifikasi morfologi sungai, seperti penerapan penampang komposit dengan bagian tengah yang lebih dalam guna meningkatkan kecepatan aliran dan kesesuaian habitat. Dalam kondisi di mana modifikasi morfologi sungai tidak memungkinkan, debit alternatif perlu dipertimbangkan, dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan kecepatan dan kedalaman bagi spesies ikan kunci seperti Cyprinus carpio. Pendekatan pengelolaan yang diusulkan, yang menggabungkan analisis hidrologi dan rekayasa sungai yang terarah, diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan habitat ikan dan berkontribusi terhadap tujuan pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi dan berkelanjutan di DAS Citarum Hulu.
ESTIMASI FAR-FIELD SIGNATURE DARI NEAR-FIELD HYDROPHONE
Air gun array merupakan sumber seismik utama dalam survei laut yang menghasilkan dua jenis source signature: near-field dan far-field. Far-field signature memiliki peran yang signifikan dalam pemrosesan data seismik, terutama pada tahap dekonvolusi. Namun, pengukuran langsung far-field signature di laut sering kali sulit dilakukan karena kendala teknis dan biaya. Sebagai alternatif, metode estimasi far-field signature dari rekaman near-field hydrophone memberikan solusi yang berbasis shot-to-shot sehingga lebih sesuai dengan keadaan sebenarnya dibandingkan dengan metode pemodelan akustik yang hanya menghasilkan satu source signature untuk keseluruhan survei. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan far-field signature dari rekaman nearfield hydrophone. Kemudian, far-field signature tersebut akan dianalisis dan dibandingkan dengan hasil pemodelan akustik dari perangkat lunak Gundalf. Data yang digunakan berupa rekaman near-field hydrophone dari konfigurasi air gun array yang tersusun atas 12 sumber aktif. Pengolahan data dimulai dengan perhitungan notional signature yang selanjutnya disuperposisi dari setiap shot untuk menghasilkan far-field signature. Estimasi far-field signature dilakukan untuk 200 shot. Selanjutnya, far-field signature yang didapatkan dihitung crosscorrelation-nya untuk melihat tren variasi antar shot. Lalu, signature tersebut juga diaplikasikan pada data seismik dalam proses debubble dan designature. Hasil menunjukkan bahwa estimasi far-field signature dapat dilakukan dengan menggunakan rekaman near-field hydrophone. Perbandingan dengan hasil pemodelan Gundalf juga memperlihatkan kesesuaian dari segi frekuensi ghost notch, peak-to-bubble ratio (PBR), dan cross correlation. Akan tetapi, crosscorrelation antara far-field signature shot pertama dengan shot lainnya menunjukkan hasil yang konsisten mendekati 1. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi survei berjalan dengan stabil dan penggunaan single signature telah cukup representatif untuk keseluruhan data. Penggunaan single signature tersebut terbukti efektif dalam menekan efek bubble dan zero-phasing data seismik.
ERROR BUDGET AND PERFORMANCE ANALYSIS OF A PORTABLE HYDROGRAPHIC SURVEY ON A NON-STANDARD VEHICLE IN SHALLOW WATER ENVIRONMENT
Hydrographic surveys are inherently subject to errors. To ensure the highest quality of the resulting seafloor model, the International Hydrographic Organization (IHO) provides a set of standards known as the IHO S-44 Standards to support the design, data acquisition, and quality assessment of a hydrographic survey project. Problems arise when the hydrographic survey is conducted portably on a non-standard survey vehicle. Individual performance analysis of each survey instruments involved in a hydrographic survey must be assessed, as well as the installation and integration of the whole survey system. Therefore, this study aims to assess the total propagated uncertainty of a portable hydrographic survey on a non-standard vehicle to ensure adherence to the IHO S-44 Standards. To obtain the total propagated uncertainty of the portable survey system, we indicate nine parameters that affects the error budget both horizontally and vertically. Each parameter is assessed using static and dynamic measurements across various seafloor morphology in the vicinity of the Pramuka Island, DKI Jakarta. The study finds that GNSS positioning error using the Njord receiver after convergence reaches 0.2121 ± 0.0769 meters horizontally, while SBES depth measurements showed increasing variability beyond 30 meters with standard deviations up to 0.71 meters. MBES-derived DEM exhibits vertical error range between 0–4 meters, with standard deviation values in slope areas remaining under 0.5 - 1 meters, indicating stable performance in deeper morphology. The Side Scan Sonar (SSS) performance showed high-resolution capabilities at 0.1 m/pixel and a swath width of 101.7 meters, with consistent seafloor feature detection across opposing tracks. These results suggest that a careful estimation of the error budget will support a portably conducted hydrographic survey on a non-standard vehicle to adhere to the IHO S-44 Standards.
ERROR BUDGET AND PERFORMANCE ANALYSIS OF A PORTABLE HYDROGRAPHIC SURVEY ON A NON-STANDARD VEHICLE IN SHALLOW WATER ENVIRONMENT
Hydrographic surveys are inherently subject to errors. To ensure the highest quality of the resulting seafloor model, the International Hydrographic Organization (IHO) provides a set of standards known as the IHO S-44 Standards to support the design, data acquisition, and quality assessment of a hydrographic survey project. Problems arise when the hydrographic survey is conducted portably on a non-standard survey vehicle. Individual performance analysis of each survey instruments involved in a hydrographic survey must be assessed, as well as the installation and integration of the whole survey system. Therefore, this study aims to assess the total propagated uncertainty of a portable hydrographic survey on a non-standard vehicle to ensure adherence to the IHO S-44 Standards. To obtain the total propagated uncertainty of the portable survey system, we indicate nine parameters that affects the error budget both horizontally and vertically. Each parameter is assessed using static and dynamic measurements across various seafloor morphology in the vicinity of the Pramuka Island, DKI Jakarta. The study finds that GNSS positioning error using the Njord receiver after convergence reaches 0.2121 ± 0.0769 meters horizontally, while SBES depth measurements showed increasing variability beyond 30 meters with standard deviations up to 0.71 meters. MBES-derived DEM exhibits vertical error range between 0–4 meters, with standard deviation values in slope areas remaining under 0.5 - 1 meters, indicating stable performance in deeper morphology. The Side Scan Sonar (SSS) performance showed high-resolution capabilities at 0.1 m/pixel and a swath width of 101.7 meters, with consistent seafloor feature detection across opposing tracks. These results suggest that a careful estimation of the error budget will support a portably conducted hydrographic survey on a non-standard vehicle to adhere to the IHO S-44 Standards.
ERROR BUDGET AND PERFORMANCE ANALYSIS OF A PORTABLE HYDROGRAPHIC SURVEY ON A NON-STANDARD VEHICLE IN SHALLOW WATER ENVIRONMENT
Hydrographic surveys are inherently subject to errors. To ensure the highest quality of the resulting seafloor model, the International Hydrographic Organization (IHO) provides a set of standards known as the IHO S-44 Standards to support the design, data acquisition, and quality assessment of a hydrographic survey project. Problems arise when the hydrographic survey is conducted portably on a non-standard survey vehicle. Individual performance analysis of each survey instruments involved in a hydrographic survey must be assessed, as well as the installation and integration of the whole survey system. Therefore, this study aims to assess the total propagated uncertainty of a portable hydrographic survey on a non-standard vehicle to ensure adherence to the IHO S-44 Standards. To obtain the total propagated uncertainty of the portable survey system, we indicate nine parameters that affects the error budget both horizontally and vertically. Each parameter is assessed using static and dynamic measurements across various seafloor morphology in the vicinity of the Pramuka Island, DKI Jakarta. The study finds that GNSS positioning error using the Njord receiver after convergence reaches 0.2121 ± 0.0769 meters horizontally, while SBES depth measurements showed increasing variability beyond 30 meters with standard deviations up to 0.71 meters. MBES-derived DEM exhibits vertical error range between 0–4 meters, with standard deviation values in slope areas remaining under 0.5 - 1 meters, indicating stable performance in deeper morphology. The Side Scan Sonar (SSS) performance showed high-resolution capabilities at 0.1 m/pixel and a swath width of 101.7 meters, with consistent seafloor feature detection across opposing tracks. These results suggest that a careful estimation of the error budget will support a portably conducted hydrographic survey on a non-standard vehicle to adhere to the IHO S-44 Standards.