📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenANALISIS KINERJA CAMPURAN 2-MERKAPTOBENZOTIAZOL DAN L-SISTEIN SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA KARBON DALAM LARUTAN NACL 1% (B/V)
Baja karbon berasal dari unsur besi dan karbon, dengan konsentrasi karbon terlarut sebesar 0,04% hingga 1,7%, sehingga memiliki sifat mekanik yang kuat, namun harganya tetap terjangkau. Di balik kelebihannya, baja karbon memiliki kelemahan fatal, yaitu korosi. Berbagai metode penanggulangan korosi, seperti injeksi inhibitor, telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini. Penggunaan inhibitor korosi tunggal memiliki keterbatasan, yaitu inhibisi hanya melalui satu mekanisme. Sehingga, campuran dari dua inhibitor sering kali diteliti untuk memetakan efek satu sama lain. Penelitian ini membahas kinerja 2-merkaptobenzotiazol, L-sistein, dan campuran keduanya sebagai inhibitor korosi pada baja karbon dalam larutan NaCl 1%. 2-merkaptobenzotiazol dilaporkan mampu menginhibisi baja karbon melalui mekanisme anodik, sedangkan L-sistein dilaporkan sebagai inhibitor korosi yang bekerja dengan tipe campuran, yaitu anodik dan katodik. Adapun tujuan penelitian ini yaitu menentukan konsentrasi optimum, interpretasi parameter sinergistik, serta mekanisme inhibisi 2-merkaptobenzotiazol, L-sistein, dan campurannya sebagai inhibitor korosi pada baja karbon dalam larutan NaCl 1% berdasarkan hasil Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) dan Potentiodynamic Polarization (PDP). Berdasarkan penelitian ini, diperoleh konsentrasi optimum 2-merkaptobenzotiazol sebesar 20 ppm dan 50 ppm, konsentrasi optimum L-sistein sebesar 20 ppm dan 50 ppm, serta konsentrasi optimum campuran, yaitu 50 ppm 2-merkaptobenzotiazol dengan 20 ppm L-sistein, yang bersifat antagonis satu sama lain. Selain itu, didapatkan pula mekanisme inhibisi yang terlibat, yaitu mekanisme campuran antara inhibisi anodik dan katodik pada seluruh variasi konsentrasi.
EFEKTIVITAS ASAM GLUTAMAT SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA KARBON DALAM LARUTAN NACL 1%
Korosi merupakan masalah rumit dalam pertambangan minyak bumi. Selain mengandung air, minyak mentah dan gas alam juga dapat mengandung CO2, asam organik, misalnya asam asetat, serta senyawa sulfida dan garam-garam klorida yang bersifat korosif terhadap bagian dalam pipa baja pengalirnya. Korosi di luar pipa dapat dihambat dengan mengecat dan perlindungan katoda, sedangkan korosi di bagian dalam pipa dihambat dengan penambahan inhibitor. Ada dua macam inhibitor korosi yaitu inhibitor anorganik dan organik. Inhibitor anorganik memiliki inhibisi yang baik terhadap laju korosi namun menimbulkan masalah bagi lingkungan apabila terakumulasi, sehingga pengunaan inhibitor organik menjadi pilihan alternatif karena lebih ramah lingkungan. Senyawa organik heteroatom yang mengandung atom nitrogen, oksigen, atau sulfur pada molekulnya seperti asam amino dapat digunakan sebagai inhibitor korosi, karena dapat teradsorpsi dengan baik pada permukaan logam. Asam amino seperti asam glutamat memiliki dua gugus karboksilat dan satu gugus amina diharapkan dapat menginhibisi korosi dengan cara teradsorpsi pada permukaan baja karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas asam glutamat sebagai inhibitor korosi pada baja karbon dalam larutan NaCl 1% jenuh CO2 menggunakan metode Tafel, dengan optimasi konsentrasi, pH, dan suhu. Optimasi pH menggunakan larutan buffer asetat yang dibuat dari natrium asetat yang konsentrasinya tetap dan larutan asam asetat yang konsentrasinya bervariasi. Aplikasi hasil riset ini untuk pembelajaran kimia di Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam topik pembahasan mengenai sel elektrokimia, pengukuran daya inhibisi suatu inhibitor korosi tidak memungkinkan menggunakan metode Tafel, sehingga uji inhibitor asam glutamat pada paku besi dilakukan dengan menggunakan media agar. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa konsentrasi asam glutamat yang memberikan inhibisi korosi terbesar adalah 8 ppm sebesar 48,19% pada suhu kamar (26oC). Gugus fungsi asam glutamat yang berperan dominan dalam menginhibisi korosi adalah gugus karboksilat rantai samping. Dengan adanya buffer asetat dalam media dan kondisi di atas suhu kamar, asam glutamat 8 ppm tidak memberikan inhibisi yang berarti. Pada pH buffer asetat yang lebih tinggi, asam glutamat bersifat korosif terhadap baja karbon karena terbentuk lapis lindung yang kurang kedap atau berpori dibanding pH yang lebih rendah. Pada pH yang lebih rendah konsentrasi ion asetat dalam larutan semakin banyak dan membentuk lapis rangkap FeCO3.CH3COO– yang tidak berpori atau kedap sehingga arus korosi mengecil. Pada suhu yang lebih tinggi interaksi antara molekul asam glutamat dengan besi pada permukaan baja karbon melemah, sehingga interaksi permukaan baja karbon dengan media yang korosif masih dapat terjadi. Kenaikan suhu menyebabkan asam glutamat terurai melepas H+ membuat larutan uji semakin korosif dan arus korosi membesar. Kemampuan inhibisi asam glutamat pada paku besi dalam media agar menunjukkan hasil signifikan, sehingga dapat dipahami peran gugus fungsi pada asam glutamat dalam proses pembentukan lapis lindung pada permukaan paku besi dalam menghambat laju korosi. Asam glutamat paling efektif digunakan sebagai inhibitor korosi dalam media NaCl 1%, jenuh CO2, suhu kamar adalah pada konsentrasi 8 ppm. Dalam media yang mengandung buffer asetat dan di atas suhu kamar, asam glutamat tidak efektif digunakan sebagai inhibitor korosi. Dalam media agar, asam glutamat menunjukkan inhibisi yang baik pada paku besi, sehingga percobaan mengenai inhibitor korosi sebagai salah satu cara untuk memahami konsep korosi dalam topik elektrokimia, dapat diterapkan di Sekolah Menengah Atas
ISOLASI PROTEIN DARI GETAH KARET HEVEA BRASILIENSIS DAN UJI INHIBISI KOROSI PADA BAJA KARBON
Pipa baja karbon banyak digunakan untuk mengalirkan bahan baku atau hasil produk di dalam industri. Salah satu industri yang banyak menggunakan pipa baja karbon ini adalah industri minyak bumi. Adanya gas seperti CO2, O2 dan H2S dan air yang terdapat di lingkunganya menyebabkan pipa baja karbon mudah mengalami korosi. Korosi ini bisa terjadi di dalam maupun di luar pipa. Korosi yang terjadi di luar pipa dapat dihambat dengan pengecatan maupun dengan pembentukan sel galvani. Sedangkan korosi yang terjadi di dalam pipa dapat dihambat dengan menambahkan inhibitor korosi ke dalam lingkungannya. Inhibitor korosi dapat diartikan sebagai sebagai suatu zat kimia, yang ditambahkan dalam jumlah yang sedikit ke dalam lingkungannya, sehingga dapat menghentikan atau mengurangi laju korosi. Inhibitor korosi dapat berupa senyawa anorganik maupun senyawa organik heteroatom. Penggunaan senyawa anorganik seperti garam kromat, fosfat dan nitrit, telah mulai ditinggalkan, hal ini disebabkan senyawa anorganik ini bersifat toksis dan tidak mudah didegradasi di alam sehingga dapat mencemari lingkungan. Sebaiknya senyawa organik lebih mudah didegradasi di alam sehingga relatif ramah lingkungan. Senyawa organik yang mulai banyak dimanfaatkan sebagai inhibitor korosi adalah asam amino. Beberapa penelitian menunjukan asam amino seperti prolin, histidin dan alanin, memberikan daya inhibisi korosi yang cukup baik terhadap baja karbon. Beberapa penelitian juga menunjukan asam-asam amino yang membentuk senyawa peptida memberikan daya inhibisi korosi yang lebih baik jika dibandingkan dalam bentuk tunggalnya. Protein yang merupakan polimer peptida diduga juga memiliki daya inhibisi korosi terdahap baja karbon seperti halnya asam amino dan senyawa peptidanya. Lateks merupakan bahan ekstraktif yang dihasilkan oleh pohon karet Hevea brasiliensis yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Lateks diperoleh dari hasil penyadapan getah karet. Getah karet selain mengandung partikel karet juga mengandung senyawa yang lain salah satunya adalah protein. Namun pada pengolahan lateks di industri, protein yang terdapat di dalam getah tidak dimanfaatkan dan dibuang ke dalam limbah. Hal ini dikarenakan protein-protein ini dapat menyebabkan alergi pada manusia. Oleh karena itu, pada penelitian ini digunakan protein yang terdapat dalam getah karet sebagai sumber inhibitor korosi terhadap baja karbon, sehingga hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari protein getah karet ini. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka dilakukan beberapa metode, yaitu pemisahan lateks dari senyawa lain dengan cara koagulasi lateks dengan menggunakan asam asetat 1 %. Cairan (larutan serum) yang diperoleh dari hasil pemisahan ini mengandung berbagai senyawa dan salah satunya adalah protein. Selanjutnya larutan serum ini dilakukan uji inhibisi korosi terhadap baja karbon menggunakan metode Tafel. Larutan serum yang memberikan daya inhibisi ini selanjutnya difraksinasi dengan menggunakan garam ammonium sulfat. Hasil fraksinasi ini menghasilkan 3 fraksi protein yaitu fraksi 60%, 80% dan 90 %. Uji inhibisi korosi terhadap baja karbon dari ketiga fraksi ini memberikan daya inhibisi korosi secara berturut-turut adalah 66,56 %, 44, 32 % dan 33,96%. Sedangkan daya inhibisi korosi larutan serum adalah 87, 63%. Efisiensi inhibisi korosi dari larutan serum yang lebih tinggi daripada fraksi proteinnya. Hal ini disebabkan oleh adanya efek sinergis yang dihasilkan oleh protein yang terdapat dalam ketiga fraksi tersebut. Alasan lainnya adalah dapat pula disebabkan oleh adanya komponen selain protein yang juga memberikan efek inhbisi korosi. Namun sebagian besar komponen yang terdapat di dalam larutan serum ini bersifat relatif tidak stabil. Hal ini dapat terlihat dari hasil uji inhibisi korosi terhadap larutan serum yang disimpan dalam waktu tertentu. Hasil pengukuran inhibisi korosi dari larutan serum yang disimpan selama 1, 7 dan 21 hari menunjukan penurunan efisiensi inhibisi korosi, yaitu secara berturut-turut sebesar 87,63%, 72,27% dan 41,25 %. Berdasarkan hasil uji inhibisi korosi dari ketiga fraksi protein, fraksi 60 % memberikan efisiensi inhibisi korosi paling besar dan fraksi 90 % memberikan efisiensi inhibisi korosi paling kecil. Perbedaan ini dipengaruhi oleh ukuran dan berat molekul protein yang terdapat dalam masing-masing fraksi. Pada proses fraksinasi, protein dengan berat molekul kecil akan mengendap pada konsentrasi ammonium yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan protein dengan berat molekul yang lebih besar. Protein yang memiliki berat molekul lebih besar mempunyai asam amino yang lebih banyak. Protein ini juga memliki gugus polar yang lebih banyak, sehingga interaksi dengan logam Fe lebih banyak dan efisiensi inhibisi yang diberikan lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini, ukuran dan berat molekul protein diduga memegang peranan penting dalam proses inhibisi korosi terdapat baja karbon. Selain itu, kestabilan suatu molekul juga menentukan efisiensi inhibisi korosi.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA 8-BROMOKAFEIN SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA PERMUKAAN BAJA KARBON DALAM LARUTAN NACL 1%
Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena umum yang dihadapi industri pada sistem perpipaan. Bahan yang umumnya digunakan pada berbagai peralatan industri minyak ialah logam baja karbon dikarenakan memiliki kekuatan mekanik yang baik dengan harga yang relatif murah. Inhibitor korosi merupakan senyawa yang bila ditambahan dalam jumlah tertentu dapat menurunkan laju korosi dalam media yang agresif secara efisien dan ekonomis. Senyawa kafein telah diteliti sebagai inhibitor korosi karena merupakan senyawa organik yang ramah lingkungan. Pada penelitian ini, akan disintesis senyawa turunan kafein, yaitu 8 bromokafein. Setelah disintesis, senyawa tersebut akan dikarakterisasi dengan FTIR dan NMR. Kemudian senyawa tersebut akan diuji aktivitasnya dengan metode EIS dan Tafel. Dari data EIS diperoleh nilai inhibisi (?) untuk kafein mencapai 32,26% pada 40 ppm dan untuk 8 bromokafein mencapai 80,76% pada 45 ppm dalam NaCl 1%. Berdasarkan data Tafel, kafein dan 8-bromokafein adalah tipe inhibitor campuran yang mengurangi reaksi pada katoda (bc) dan anoda (ba) dalam sistem. Nilai (?) untuk kafein mencapai 48,62% pada 40 ppm dan untuk 8-bromokafein mencapai 54,61% pada 45 ppm dalam NaCl 1%. Nilai arus korosi (icorr) berkurang dari 81,71 µA cm-2 mejadi 41,97 µA cm-2 untuk kafein dan 3,08 µA cm-2 untuk 8 bromokafein. Pada kondisi yang sama, nilai laju korosi mengalami penurunan dari 955,3 µm tahun-1 hingga 490,9 µm tahun-1 (kafein) dan 433,6 µm tahun-1 (8-bromokafein).