📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenDAMPAK INKLUSI KEUANGAN TERHADAP PENGELUARAN MAKANAN: ANALISIS KEPEMILIKAN REKENING BANK DAN KEPEMILIKAN DOMPET DIGITAL DI KOTA JAKARTA
Studi ini meneliti hubungan antara inklusi keuangan dan ketahanan pangan rumah tangga di perkotaan Jakarta, Indonesia, dengan menggunakan pengeluaran pangan bulanan sebagai proksi untuk ketahanan pangan. Dengan menggunakan data lintas sektoral dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2024 yang mencakup 12.600 rumah tangga, studi ini menggunakan regresi Ordinary Least Squares (OLS) yang kuat untuk menganalisis pengaruh kepemilikan rekening bank dan penggunaan dompet digital terhadap pengeluaran pangan. Model-model tersebut mengontrol pendapatan rumah tangga, tingkat pendidikan, ukuran rumah tangga, dan perbedaan regional, serta lebih lanjut memasukkan istilah interaksi untuk menilai peran moderasi pendapatan dan pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan rekening bank dan penggunaan dompet digital sama-sama berhubungan positif dengan pengeluaran pangan yang lebih tinggi, dengan pendapatan rumah tangga sebagai penentu terkuat ketahanan pangan. Model interaksi mengungkapkan bahwa manfaat inklusi keuangan secara signifikan meningkat bagi rumah tangga berpenghasilan tinggi, sementara pendidikan tidak memainkan peran moderasi yang berarti. Temuan ini menunjukkan bahwa layanan keuangan digital dapat mendukung ketahanan pangan perkotaan, terutama jika dikombinasikan dengan pendapatan rumah tangga yang memadai. Studi ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan inisiatif inklusi keuangan dengan kebijakan peningkatan pendapatan untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga dan ketahanan pangan di perkotaan Indonesia.
DAMPAK INKLUSI KEUANGAN DIGITAL TERHADAP KINERJA UMKM DI MALAYSIA: BUKTI DARI SURVEI PERUSAHAAN BANK DUNIA 2024
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara inklusi keuangan digital (digital financial inclusion) dan pertumbuhan penjualan pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Malaysia. Dalam penelitian ini, inklusi keuangan digital diukur melalui penggunaan pembayaran elektronik (electronic payments), dengan fokus pada pembayaran yang diterima dari pelanggan serta pembayaran yang dilakukan kepada pemasok. Analisis menggunakan data tingkat perusahaan (firm-level data) yang bersumber dari World Bank Enterprise Survey (WBES) 2024 untuk Malaysia dan diestimasi menggunakan metode regresi ordinary least squares (OLS). Penelitian ini menggunakan tiga model analisis, yaitu binary adoption model, continuous-intensity model, dan hybrid model. Selain itu, ukuran perusahaan (firm size) dan usia perusahaan (firm age) dimasukkan sebagai variabel kontrol (control variables). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi pembayaran elektronik secara sederhana tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan penjualan. Namun demikian, perusahaan yang lebih sering menggunakan pembayaran elektronik dalam melakukan pembayaran kepada pemasok cenderung mengalami pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa inklusi keuangan digital lebih berperan melalui cara pembayaran elektronik digunakan, bukan sekadar apakah pembayaran tersebut telah diadopsi.
PENILAIAN DAMPAK INKLUSI KEUANGAN DIGITAL DAN INISIATIF KEUANGAN HIJAU TERHADAP STABILITAS SISTEM PERBANKAN: BUKTI DARI NEGARA-NEGARA ASEAN
Adopsi kemajuan teknologi, khususnya dalam bidang keuangan digital dan sistem perbankan, bersama dengan inisatif keuangan hijau di negara-negara ASEAN, termasuk Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, mendorong stabilitas sistem perbankan. Inisiatif keuangan hijau, termasuk penerbitan obligasi hijau serta pembiayaan hijau di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, memperkuat pengaruh adopsi keuangan digital terhadap stabilitas sistem perbankan nasional. Penelitian ini menyelidiki pengaruh inklusi keuangan digital, dengan moderasi dari inisiatif keuangan hijau, terhadap stabilitas perbankan di negara-negara ASEAN selama periode 2016 hingga 2023. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari laporan tahunan bank-bank besar, World Development Indicators (WDI), Asian Green Bonds, dan International Monetary Fund (IMF) di delapan negara ASEAN tersebut. Selain itu, faktor makroekonomi seperti Produk Domestik Bruto (PDB) dan keterbukaan perdagangan juga dianalisis dalam penelitian ini. Keuangan hijau bertindak sebagai variable moderasi yang di-lag karena penelitian ini memperkirakan bahwa dampak dari implementasi inisiatif keuangan hijau tidak akan langsung mempengaruhi stabilitas perbankan. Penelitian ini menggunakan Random Effect Model dalam regresi data panel untuk menguji hubungan serta tingkat signifikansi masing-masing variable. Temuan penelitian menunjukkan abhwa inklusi keuangan digital da keuangan hijau memiliki pengaruh positif signifikan terhadap stabilitas perbankan. Selain itu, efek dari inisiatif keuangan hijau terhadap stabilitas sistem perbankan baru terlihat setelah satu tahun implementasi. Dengan demikian, temuan ini menyiratkan bahwa kedelapan negara ASEAN yang disebutkan sebaiknya mempertimbangkan timeline dalam mengadopsi inklusi keuangan digital dan inisiatif keuangan hijau secara bersamaan untuk mencegah potensi risiko.
DAMPAK EKONOMI PEMBIAYAAN ULTRA MIKRO TERHADAP PENGENTASAN KEMISKINAN DI KALANGAN PEREMPUAN DI KOMUNITAS PEDESAAN: STUDI KASUS AMARTHA
Bagi kelompok kurang mampu—terutama perempuan wirausaha di pedesaan— teknologi finansial telah mentransformasi akses terhadap permodalan. Dengan menggunakan studi kasus Amartha, sebuah platform peer-to-peer (P2P) lending, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pembiayaan ultra-mikro dapat mengurangi kemiskinan di kalangan perempuan Indonesia. Studi ini mengkaji kerangka legislasi, pengaruh ekonomi terhadap perempuan, serta aksesibilitas teknologi yang memengaruhi inklusi keuangan di daerah tertinggal. Kurangnya riwayat kredit, agunan, dan pekerjaan formal membuat perempuan di pedesaan Indonesia mengalami eksklusi finansial. Bank konvensional umumnya mengabaikan kelompok ini, menciptakan kesenjangan yang coba dijembatani oleh perusahaan fintech seperti Amartha. Amartha menyediakan pinjaman mikro bagi perempuan wirausaha untuk memulai atau mengembangkan usahanya, sehingga meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Sejak diluncurkan pada tahun 2010, Amartha telah memberdayakan lebih dari 1,5 juta perempuan, menunjukkan kekuatan transformatif fintech dalam pengentasan kemiskinan. Pertanyaan utama dalam penelitian ini berkaitan dengan strategi korporasi dan dampak ekonominya. Studi ini menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif. Data sekunder berasal dari laporan perusahaan, literatur ilmiah, dan dokumen regulasi, sementara data primer dikumpulkan melalui survei dan wawancara dengan manajemen serta mitra Amartha. Untuk mengevaluasi kinerja Amartha, penelitian ini juga menggabungkan teori manajemen risiko, kebijakan inklusi keuangan, dan model ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model bisnis Amartha—yang memadukan sistem group lending ala Grameen dengan penilaian kredit digital melalui Amartha Score—telah berhasil menurunkan rasio Non-Performing Loan (NPL) secara signifikan, bahkan melampaui kinerja bank tradisional seperti BRI dalam beberapa kuartal antara tahun 2023 dan 2024. Temuan survei memperkuat kinerja ini karena Amartha secara signifikan meningkatkan akses perempuan terhadap pembiayaan, pendapatan, dan kemandirian finansial di pedesaan Indonesia. Melalui analisis strategis menggunakan Porter’s Five Forces, SWOT, dan TOWS, penelitian ini menyoroti kekuatan Amartha dalam memanfaatkan model pinjaman berbasis sosial, operasi digital yang efektif, serta diferensiasi misi yang kuat dalam pasar P2P lending yang semakin kompetitif. Penelitian ini menganalisis efektivitas model bisnis Amartha—yang berpusat pada sistem group lending ala Grameen dan skor kredit digital—dalam mempertahankan rasio NPL yang rendah serta mendorong inklusi keuangan bagi perempuan kurang mampu di pedesaan Indonesia. Dengan dukungan dari sistem pengawasan antar mitra (peer monitoring), keterlibatan komunitas, dan pendekatan hibrida antara teknologi dan sentuhan manusia, Amartha menunjukkan kinerja NPL yang kompetitif bahkan seringkali lebih baik daripada model tradisional milik BRI. Melalui analisis deskriptif terhadap data NPL, wawancara pemangku kepentingan, dan survei peminjam, penelitian ini menemukan bahwa strategi Amartha tidak hanya meningkatkan kedisiplinan pembayaran, tetapi juga membantu peningkatan pendapatan serta pemberdayaan finansial perempuan. Untuk memetakan posisi strategis Amartha dalam lanskap fintech Indonesia, studi ini menggabungkan kerangka PESTEL, SWOT, TOWS, VRIO, dan Porter’s Five Forces.
PENGARUH LITERASI DIGITAL DAN LITERASI KEUANGAN TERHADAP KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF LANSIA DI INDONESIA: PERAN EFEK MEDIASI INKLUSI KEUANGAN DIGITAL
Literasi finansial dan inklusi keuangan adalah dua hal penting yang seringkali dihubungkan dengan konsep kesejahteraan subjektif individu. Pandemi yang terjadi di tahun 2020 telah meningkatkan kenaikan dari pertumbuhan teknologi finansial yang juga membuka kesempatan untuk penerapan inklusi keuangan digital secara lebih luas lagi. Di satu sisi, implementasi dari konsep keuangan digital telah membuka kesempatan untuk para lansia agar dapat mengakses layanan keuangan yang terpercaya secara lebih mudah. Namun sebaliknya, para lansia juga seringkali mengalami kesulitan dalam mengakses layanan keuangan digital karena eksistensi dari kesenjangan digital dan juga kurangnya kemampuan dalam aspek literasi digital. Indonesia memiliki populasi lansia sebanyak 44 juta orang dan 43,29% di antaranya dikategorikan dalam golongan 40% terbawah dalam pengeluaran di Indonesia. Situasi ini terjadi karena hanya sebagian kecil dari lansia di Indonesia yang memiliki dana pensiun dan menggunakan keuntungan investasi untuk kehidupan tua mereka atau dapat dianggap mandiri secara finansial. Sebagian besar lansia di Indoensia masih sangat mengandalkan kehidupan finansial, fisik, dan psikologis mereka kepada generasi muda Indonesia. Karena situasi ini, kesejahteraan subjektif lanjut usia di Indonesia perlu diperhatikan secara lebih cermat. Riset ini menganalisa secara lebih jauh tentang pengaruh dari literasi digital, literasi keuangan, dan mediasi dari inklusi keuangan digital terhadap kesejahteraan subjektif individu lansia, khususnya dalam tiga aspek, yakni kesehatan, kondisi psikologis, dan kepuasan hidup. Riset ini telah mengumpulkan data dari 203 responden yang berusia ? 55 tahun di Indonesia. Hubungan antara masing-masing variable di riset ini diukur menggunakan metode Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil dari penelitian ini menunjukkan literasi digital dan literasi keuangan memiliki efek positif yang signifikan terhadap beberapa aspek dari kesejahteraan subjektif lansia di Indonesia. Selain itu, mediasi dari variable inklusi keuangan digital kemudian memperkuat efek dari literasi digital dan literasi keuangan terhadap kesejahteraan subjektif lansia di Indonesia, khususnya di bagian kondisi psikologis dan kepuasan hidup.