πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 8 dokumen

SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS TEMATIK KENYAMANAN HIDUP DISABILITAS DAN LANSIA DI TINGKAT KECAMATAN

Pembangunan inklusif menuntut ketersediaan data yang menghubungkan kondisi penyandang disabilitas dan lansia dengan ruang tempat mereka beraktivitas, namun data tersebut di Indonesia masih terfragmentasi dan minim dimensi keruangan. Penelitian ini mengembangkan sistem informasi geografis tematik kenyamanan hidup penyandang disabilitas dan lansia di tingkat kecamatan pada tiga wilayah percontohan, yaitu Kecamatan Sumur Bandung, Kecamatan Semarang Tengah, dan Kecamatan Jetis. Tingkat kenyamanan hidup dimodelkan dari tiga dimensi, yaitu aksesibilitas, kondisi lingkungan, dan bahaya banjir. Kualitas jalur pejalan kaki dinilai melalui interpretasi Google Street View (GSV) serta ekstraksi parameter roughness, slope, dan obstacle dari LiDAR genggam. Tingkat pemenuhan hak aksesibilitas terhadap fasilitas umum dihitung menggunakan algoritma Dijkstra pada jaringan jalur pejalan kaki dan diinterpolasi dengan Empirical Bayesian Kriging. Dimensi lingkungan disusun dari intensitas Urban Heat Island (UHI) berbasis Land Surface Temperature, tingkat polusi udara NO? dari Sentinel-5P TROPOMI, dan aksesibilitas ruang terbuka hijau, sedangkan bahaya banjir dimodelkan melalui Weighted Sum lima parameter yang diterapkan secara seragam pada ketiga wilayah studi. Ketiga dimensi diintegrasikan menggunakan pembobotan hasil perhitungan Pairwise Comparison yang penilaiannya diisi langsung oleh penyandang disabilitas dan lansia, menghasilkan bobot aksesibilitas sebesar 0,682, bahaya banjir 0,199, dan kondisi lingkungan 0,119. Hasil pengujian menunjukkan peta kualitas trotoar berbasis LiDAR memperoleh Overall Accuracy 61,13% dan Cohen's Kappa 0,514, peta intensitas UHI dan polusi udara terbukti konsisten secara fisik dan statistik, serta produk WebGIS interaktif yang dikembangkan, mencakup Geodashboard GeoInklusif, GeoStory, dan AccessRoute, memperoleh tingkat keberhasilan fungsional sebesar 94,44%. Seluruh peta tematik dan indeks kenyamanan hidup disajikan dalam WebGIS interaktif sebagai dasar visual dan analitis bagi perencanaan pembangunan inklusif berbasis bukti di tingkat kecamatan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Berliana Atria Prastiwi
🏷️ Geografi 🏷️ Inklusi Sosial 🏷️ Analisis Risiko

PERANCANGAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK KOTA DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING DAN INKLUSIVITAS: STUDI KASUS DI TAMAN TEGALLEGA, KOTA BANDUNG

Pertumbuhan kota yang pesat sering kali mengakibatkan menurunnya kualitas interaksi sosial dan keseimbangan ekologis di kawasan perkotaan. Dalam konteks tersebut, ruang terbuka hijau publik (RTH publik) memiliki peran vital sebagai wadah rekreasi, interaksi sosial, serta penunjang fungsi ekologis kota. Kota Bandung, sebagai kota metropolitan dengan kepadatan tinggi, menghadapi tantangan dalam mempertahankan proporsi dan kualitas RTH yang dapat diakses secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu ruang terbuka utama yang memiliki nilai sejarah, ekologis, sekaligus sosial adalah Taman Tegallega, yang saat ini menunjukkan gejala penurunan fungsi dan identitas akibat tekanan aktivitas urban, ketidakteraturan penggunaan ruang, dan kurangnya keterhubungan antar elemen ruang. Permasalahan tersebut mendorong perlunya perancangan ulang kawasan dengan pendekatan yang menempatkan manusia dan makna ruang sebagai pusat pengembangan, yaitu melalui konsep placemaking dan prinsip inklusivitas. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arah perancangan lanskap Taman Tegallega Bandung sebagai ruang terbuka hijau publik yang aktif, inklusif, dan memiliki identitas tempat yang kuat. Pendekatan placemaking digunakan untuk menggali potensi ruang melalui dimensi pengalaman, aktivitas, dan makna sosial pengguna, sementara prinsip inklusivitas diterapkan untuk memastikan akses dan keterlibatan setara bagi seluruh kelompok masyarakat tanpa memandang usia, gender, atau latar sosial. Secara khusus, penelitian ini berupaya menjawab bagaimana prinsip placemaking dan inklusivitas dapat diterjemahkan ke dalam elemen fisik dan non-fisik lanskap taman kota, agar ruang publik dapat berfungsi optimal sebagai ruang hidup bersama (shared space). Metode yang digunakan mencakup tahapan site inventory, site analysis, dan conceptual design. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara informal dengan pengguna taman, serta telaah literatur mengenai teori placemaking, desain inklusif, dan kebijakan tata ruang kota. Aspek yang dianalisis meliputi kondisi fisik (topografi, sirkulasi, vegetasi), aspek sosial (pola aktivitas, persepsi pengguna, interaksi sosial), serta aspek kebijakan (RTRW dan RDTR Kota Bandung). Analisis dilakukan dengan pendekatan opportunities and constraints serta significance and suitability, untuk mengidentifikasi potensi dan masalah utama kawasan sebagai dasar perumusan konsep perancangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Taman Tegallega memiliki posisi strategis di pusat Kota Bandung, dengan potensi ekologis dan sejarah yang kuat, namun menghadapi degradasi fungsi ruang akibat aktivitas yang tidak terkelola dan kurangnya integrasi antar zona. Taman ini cenderung berfungsi sebagai ruang transit ketimbang ruang interaksi, dengan distribusi aktivitas yang tidak merata dan area kosong yang belum termanfaatkan optimal. Berdasarkan telaah tata ruang, kawasan ini termasuk dalam zona β€œRuang Terbuka Non Hijau (Sarana Olahraga)” dalam RTRW Kota Bandung, yang mengizinkan aktivitas publik non-komersial namun tetap menekankan fungsi hijau dan sosial. Perancangan yang diusulkan menekankan tiga strategi utama, yaitu: (1) Rekontekstualisasi makna ruang publik melalui penerapan prinsip placemaking yang menghidupkan kembali identitas lokal dan memfasilitasi pengalaman ruang yang beragam; (2) Perancangan ruang yang inklusif dengan memastikan akses universal, keberagaman fasilitas, serta distribusi ruang yang adil bagi semua kelompok pengguna; dan (3) Penguatan sistem ekologis dan konektivitas kota melalui pengelolaan vegetasi adaptif, sirkulasi pedestrian dan sepeda yang terhubung, serta integrasi elemen biru-hijau. Pendekatan placemaking yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada fisik ruang, tetapi juga menekankan keterlibatan pengguna dalam membentuk identitas dan makna taman. Dengan demikian, rancangan Taman Tegallega diarahkan menjadi ruang hidup yang terbuka, nyaman, dan inklusif serta membangun tempat masyarakat merasa memiliki dan berinteraksi secara setara. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan simultan konsep placemaking dan inklusivitas dalam konteks perancangan ruang terbuka hijau publik kota yang padat, dengan menggabungkan dimensi sosial, ekologis, dan kebijakan tata ruang secara terpadu. Hasil penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik perancangan lanskap perkotaan di Indonesia, terutama dalam mewujudkan ruang publik yang berkelanjutan, beridentitas, dan inklusif. Selain itu, hasilnya diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah, akademisi, dan praktisi dalam merumuskan kebijakan maupun rancangan ruang terbuka hijau publik di kawasan perkotaan lain dengan karakter sosial yang serupa.

2026
πŸ‘€ Penulis: Helmy Annas Kharisma
🏷️ Ruang Terbuka Hijau Publik 🏷️ Placemaking 🏷️ Inklusi Sosial

PERANCANGAN BOARD GAME SEBAGAI MEDIA SOSIALISASI BAHASA ISYARAT UNTUK ANAK 8-10 TAHUN MENGGUNAKAN PEDEKATAN DDE FRAMEWORK

Dominasi komunikasi verbal di masyarakat sering kali meminggirkan interaksi non-verbal, sehingga memicu kesenjangan empati antara anak dengar dan komunitas Tuli. Kurangnya pemahaman anak dengar mengenai bahasa isyarat turut menghambat terbentuknya hubungan sosial yang inklusif sejak usia dini. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan merancang board game sebagai media sosialisasi guna menormalisasikan penggunaan bahasa isyarat dan membangun persepsi kesetaraan komunikasi bagi anak dengar usia 8-10 tahun. Metode perancangan menggunakan kerangka kerja Double Diamond yang diintegrasikan dengan pendekatan Design, Dynamics, Experience (DDE) Framework untuk menciptakan ruang simulasi bermain yang aman. Evaluasi data kualitatif dilakukan melalui observasi partisipatif saat uji coba dan divalidasi melalui wawancara mendalam bersama guru kelas. Hasil penelitian ini berupa board game "Ssszoo...!!!", sebuah permainan sosial kooperatif yang mengadopsi mekanika informasi asimetris dan pembatasan suara. Aturan tersebut secara sistematis mendekonstruksi dominasi verbal dan mendorong anak untuk menggunakan gestur serta mimik wajah sebagai alat komunikasi utama. Hasil evaluasi membuktikan bahwa pengalaman bermain ini berhasil menuntun partisipan melalui tahapan ranah afektif hingga memicu fenomena Tangential Learning. Anak-anak terbukti secara sukarela mengadopsi bahasa isyarat ke dalam rutinitas keseharian mereka di luar ruang permainan. Disimpulkan bahwa intervensi desain melalui board game kooperatif efektif untuk meruntuhkan stigma kecacatan dan menanamkan nilai inklusivitas yang mendalam pada anak dengar.

2026
πŸ‘€ Penulis: Febianszini Al Szi
🏷️ Desain Interaktif 🏷️ Komunikasi Non-Verbal 🏷️ Inklusi Sosial

INKLUSIVITAS RUANG PUBLIK KAWASAN KOTATUA JAKARTA DAN ADAPTASI MASYARAKAT MISKIN DALAM PEMBENTUKAN RUANG KOMUNAL DI PERMUKIMAN SEKITARNYA

Revitalisasi kawasan Kotatua Jakarta sejak diberlakukannya Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 36 Tahun 2014 telah meningkatkan kualitas fisik ruang publik di zona inti melalui penataan pedestrian, pengendalian aktivitas informal, serta penguatan citra kawasan sebagai destinasi pariwisata heritage. Namun, orientasi revitalisasi tersebut berpotensi menghasilkan inklusivitas yang terbatas bagi masyarakat miskin di sekitarnya. Kelompok ini secara geografis berada paling dekat dengan kawasan yang direvitalisasi, tetapi kurang memperoleh manfaat yang setara dalam pemanfaatan ruang publik. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain konvergen melalui wawancara mendalam terhadap warga di Kelurahan Pinangsia dan Kelurahan Ancol, observasi lapangan, dan kuesioner persepsi pengguna ruang publik di Taman Fatahillah dan koridor pedestrian Kali Krukut-Kali Besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat miskin memaknai ruang publik kawasan Kotatua sebagai ruang ekonomi dengan akses bersyarat dan berisiko, ruang sosial yang kurang berfungsi, serta ruang yang terasa asing. Kehadiran mereka di kawasan inti bersifat temporer dengan strategi adaptasi berupa pengaturan waktu, perpindahan lokasi, pembayaran pungutan tidak resmi, dan pemanfaatan jaringan informal. Sebagai respons, masyarakat mengembangkan ruang komunal di permukiman melalui pemanfaatan gang, teras, fasilitas bersama, dan ruang terbuka yang fleksibel. Pengukuran inklusivitas ruang publik formal menghasilkan indeks sebesar 70,10. Nilai ini termasuk dalam kategori tinggi, tetapi lebih merepresentasikan pengalaman pengguna umum kawasan wisata dibandingkan masyarakat miskin sekitarnya. Interaksi antara ruang komunal permukiman dan ruang publik formal membentuk pola relasi adaptif yang terdiri dari relasi substitutif, komplementer, negosiasi taktis, dan paralel. Temuan penelitian menegaskan bahwa peningkatan kualitas fisik ruang publik tidak selalu menghasilkan inklusivitas sosial. Oleh karena itu diperlukan pengakuan hak masyarakat miskin untuk mengakses dan memaknai ruang kota secara adil, serta keterlibatannya dalam penataan ruang publik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

2026
πŸ‘€ Penulis: Januarta Dwi Kusmayanti
🏷️ Inklusi Sosial 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Kawasan Perumahan

ANALISIS TINGKAT INKLUSI SOSIAL SERTA KARAKTERISTIK KELOMPOK MASYARAKAT DALAM LINGKUP TAMBAK DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN BERAU (STUDI KASUS : DESA PEGAT BATUMBUK, SUARAN, DAN TABALAR MUARA)

Inklusi sosial merupakan pilar pembangunan berkelanjutan yang diamanatkan dalam agenda SDGs dan RPJMN 2025-2029, namun penerapannya di sektor budidaya tambak Kawasan Pesisir masih jauh dari merata β€” kelompok seperti perempuan, pemuda, dan buruh tambak kerap terpinggirkan dari akses program, pengambilan keputusan, dan distribusi manfaat ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat inklusi sosial masyarakat dalam lingkup tambak di Desa Pegat Batumbuk, Suaran, dan Tabalar Muara β€” tiga desa dengan konsentrasi lahan tambak aktif terbesar di Kabupaten Berau (>11.000 ha). β€” beserta karakteristik kelompok masyarakatnya. Menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis survei dengan kuesioner Likert 4 poin, data dikumpulkan dari 158 responden yang terbagi dalam kelompok petambak, perempuan, pemuda, dan kelompok rentan melalui stratified random sampling, dianalisis menggunakan kerangka empat dimensi GEDSI β€” akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat β€” yang dioperasionalisasikan menjadi 12 indikator terukur ( r > 0,7; ? > 0,8). Hasil pengukuran menunjukkan tingkat inklusi sosial Desa Suaran sebesar 67,04% (sedang), Desa Pegat Batumbuk 63,27% (sedang), dan Desa Tabalar Muara 52,91% (rendah), namun angka agregat tersebut menyimpan ketimpangan yang jauh lebih dalam di tingkat kelompok β€” kondisi paling kritis ditemukan pada kelompok perempuan di Desa Suaran (36,54%;sangat rendah) dan kelompok rentan di Desa Tabalar Muara (35,26%;sangat rendah). Dimensi partisipasi secara konsisten mencatat nilai terendah di hampir seluruh kelompok dan desa, sementara keterlibatan dalam organisasi kemasyarakatan terbukti berkorelasi positif dengan tingkat inklusi sosial. Temuan ini menegaskan bahwa ketimpangan inklusi sosial dalam lingkup tambak bersifat kelompok-spesifik dan tidak dapat dibaca semata dari nilai agregat desa. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan instrumen pengukuran inklusi sosial berbasis GEDSI yang diadaptasi secara kontekstual untuk komunitas tambak pesisir, sekaligus menjadi landasan bagi Pemerintah Kabupaten Berau dalam merancang kebijakan sektor perikanan yang lebih inklusif dan responsif terhadap gender.

2026
πŸ‘€ Penulis: Nadhilah Nur Adlina
🏷️ Inklusi Sosial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Perikanan 🏷️ Analisis Data Berbasis Survei

PERANCANGAN MUSEUM SAINS ANAK DI BANDUNG BERBASIS KONSEP INKLUSIF DAN INTERAKTIF

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman sumber daya alam nya. Keberagaman tersebut dapat didukung serta dilestarikan dengan ilmu pengetahuan yang baik. Namun pada kenyataannya, pendokumentasian pengetahuan alam tersebut masih terbilang minim dan tidak jarang masyarakat abai terhadap alam maupun lingkungan sekitarnya. Edukasi yang diberikan terkadang tidak melibatkan masyarakat secara langsung, sehingga tidak tercipta kepedulian yang kuat. Peran museum menjadi penting guna mengedukasi masyarakat secara informal dengan menghadirkan berbagai koleksi objek sains maupun edukasi melalui berbagai media yang tidak biasa ditemui pada edukasi yang bersifat formal. Selain media visual, masyarakat dapat turut aktif dalam aktivitas seperti demonstrasi terjadwal pada museum. Tugas akhir ini mengusulkan perancangan museum sains yang dikhususkan untuk pengguna anak-anak dengan pendekatan inklusif dan interaktif. Pendekatan ini bertujuan untuk menjangkau dan memfasilitasi lebih banyak kelompok masyarakat difabel serta mengembangkan daya motorik anak sesuai usia pertumbuhannya dengan latar alam. Sedangkan tema yang digunakan pada perancangan ini adalah β€œTiny Human Expedition”, memanfaatkan ruang interior yang didesain dengan pemanfaatan berbagai media yang mengambil inspirasi objek alam untuk membangun rasa penasaran dan eksploratif anak. Diharapkan dengan pendekatan serta konsep yang diajukan, desain ruang dapat menjadi lebih ramah dan dapat menarik lebih banyak masyarakat untuk berkunjung.

2025
πŸ‘€ Penulis: Yasmin Yavana Puteri
🏷️ Inklusi Sosial 🏷️ Interaksi Anak 🏷️ Edukasi Melalui Museum

IDENTIFIKASI FASILITAS PENUNJANG AKSESIBILITAS PENYANDANG DISABILITAS PADA KAWASAN BRAGA, KOTA BANDUNG

Infrastruktur aksesibilitas dalam pariwisata merupakan aspek penting untuk mewujudkan kesetaraan dan inklusi sosial, khususnya bagi penyandang disabilitas. Penelitian ini mengkaji sejauh mana Kawasan Braga, sebagai ruang terbuka publik sekaligus destinasi wisata ikonik di Kota Bandung, telah memenuhi kebutuhan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Adanya manfaat rehabilitatif dari aktivitas pariwisata bagi penyandang disabilitas dan dengan signifikannya jumlah penyandang disabilitas di Kota Bandung menjadi penting bagi pemerintah daerah untuk menjamin hak mereka dalam mengakses kegiatan wisata maupun ruang terbuka publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana fasilitas penunjang aksesibilitas di Kawasan Braga telah memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods) dengan mengombinasikan data kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi dilakukan untuk menilai ketersediaan fasilitas yang ramah disabilitas, serta ketersediaan informasi dan layanan pendukung lainnya. Sementara itu, kuesioner dan wawancara ditujukan untuk memperoleh persepsi pengguna dan memahami tantangan dalam implementasi kebijakan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan fasilitas aksesibilitas di Kawasan Braga masih bersifat parsial dan belum merata. Beberapa fasilitas untuk penyandang disabilitas telah tersedia pada beberapa titik, namun tidak secara menyeluruh. Sementara itu, fasilitas non-fisik seperti informasi dalam format aksesibel (braille, audio, atau bahasa isyarat), layanan pendamping tidak tersedia. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengguna sebesar 72,56%. Meskipun beberapa fasilitas dinilai cukup memadai, masih terdapat banyak aspek yang belum mampu memenuhi ekspektasi penyandang disabilitas sebagai pengguna ruang. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai hambatan, seperti keterbatasan regulasi, tata kelola pemerintah yang belum optimal, minimnya kolaborasi antarpihak, serta rendahnya kesadaran dan dukungan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang inklusif.

2025
πŸ‘€ Penulis: Raja Fadhilah Firdaus
🏷️ Kepatuhanan Peraturan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Inklusi Sosial

PERANCANGAN DOKUMENTER ANIMASI SEBAGAI MEDIA PENGENALAN NILAI-NILAI INKLUSIF PADA PENYANDANG ASD (AUTISM SPECTRUM DISORDER) UNTUK REMAJA USIA 15-18 TAHUN

Kemandirian merupakan aspek penting dalam hidup penyandang ASD (Autism Spectrum Disorder). Melalui kemandirian, penyandang ASD dapat berdaya dan menjalani hidup tanpa perlu bergantung pada orang lain. Untuk mencapai hidup yang mandiri, penyandang perlu memiliki lingkungan yang inklusif. Namun nyatanya, masyarakat umum di Indonesia masih kurang inklusif. Remaja merupakan masa perkembangan yang ditandai dengan peningkatan toleransi, penerimaan, dan keterbukaan terhadap keragaman. Mereka dikenal sebagai agen perubahan dalam masyarakat. Dengan demikian, pengenalan nilai-nilai inklusif penyandang ASD pada remaja dinilai efektif dan berkelanjutan untuk membentuk lingkungan masyarakat yang inklusif pada penyandang ASD. Pengenalan ini dilakukan melalui animasi dokumenter. Media ini dinilai dekat dengan remaja serta memiliki nilai informatif dan aktual. Dokumenter animasi dinilai mampu mengemas keterbatasan dan pengalaman penyandang ASD yang abstrak melalui aspek animasi tanpa menghilangkan aktualitas informasi di dalamnya. Dokumenter animasi mampu menjembatani kesenjangan antara remaja dengan penyandang ASD secara emosional dan faktual. Setelah melalui rangkaian proses perancangan, ditemukan bahwa dokumenter animasi merupakan media yang unggul dalam memvisualisasikan konsep berbasis fakta yang tidak berwujud (intangible concepts). Konsep ini merupakan karakter yang signifikan dibanding film dokumenter live-action convensional, di mana mengandalkan wawancara dan rekaman saja terkadang dapat membatasi kedalaman hubungan emosional dan pemahaman audiens pada topik film.

2024
πŸ‘€ Penulis: Sabine Shafa Luna
🏷️ Autisme 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Media Edukasi 🏷️ Inklusi Sosial
πŸ’¬