📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenPOLA INTERAKSI SOSIAL DAN PEMANFAATAN RUANG INFORMAL SEBAGAI INFRASTRUKTUR SOSIAL BERDASARKAN TINGKAT URBAN LONELINESS MAHASISWA DI KAMPUS ITB
Fenomena urban loneliness atau kesepian perkotaan semakin mendapat perhatian dalam kajian kesehatan dan pembangunan kota. Data WHO (2025) menunjukkan bahwa kelompok usia muda 13-29 tahun merupakan kelompok yang paling banyak mengalami loneliness secara global, dengan prevalensi 17-21%. Di lingkungan kampus, persoalan ini relevan untuk dikaji karena mahasiswa dapat berada dalam ruang yang padat secara fisik, tetapi tidak selalu merasakan keterhubungan sosial yang bermakna. Dari perspektif Perencanaan Wilayah dan Kota, persoalan tersebut berkaitan dengan fungsi ruang informal kampus sebagai infrastruktur sosial. Penelitian ini mengisi celah kajian dengan menghubungkan urban loneliness mahasiswa dengan pola interaksi sosial dan pemanfaatan ruang informal kampus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola interaksi sosial dan pemanfaatan ruang informal Kampus ITB Ganesha berdasarkan tingkat urban loneliness mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif komparatif dengan mixed method melalui kuesioner UCLA Loneliness Scale versi 3 serta observasi behavior mapping untuk memvalidasi temuan. Responden penelitian berjumlah 102 responden mahasiswa aktif di ITB Ganesha yang menggunakan tiga ruang informal, yaitu Campus Center Timur, Campus Center Barat, dan Beranda 80. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68,63% mahasiswa berada pada kategori loneliness sedang, dengan rata-rata skor UCLA sebesar 45,14. Pola interaksi didominasi oleh kelompok kecil dalam jaringan sosial yang sudah terbentuk, terutama teman satu jurusan. Pemanfaatan ruang juga masih lebih berorientasi akademik daripada sosial, ditunjukkan oleh rendahnya proporsi interaksi spontan sebesar 7,78%. Temuan ini menunjukkan bahwa intensitas penggunaan ruang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas keterhubungan sosial yang dirasakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ruang informal Kampus ITB Ganesha sudah inklusif secara spasial, tetapi belum sepenuhnya inklusif secara sosial. Kebaruan penelitian terletak pada pembacaan fungsi infrastruktur sosial kampus melalui analisis komparatif berdasarkan tingkat urban loneliness mahasiswa, sehingga dapat menjadi dasar pengembangan ruang informal kampus yang lebih peka terhadap variasi kebutuhan sosial mahasiswa.
IDENTIFIKASI RUANG KETIGA SEBAGAI RUANG INTERAKSI MAHASISWA DI KAMPUS ITB JATINANGOR
Ruang ketiga adalah ruang yang terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi secara spontan. Kampus merupakan salah satu tempat yang berpotensi sebagai tempat bertumbuhnya ruang ketiga. Keberadaan ruang ketiga di kampus dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk bertukar informasi dan wadah untuk berinteraksi dengan siapa saja. Di sisi lain, ruang ketiga identik sebagai isu sosial dari keterbatasan ruang sehingga keberadaan ruang ketiga perlu diidentifikasi untuk menghindari dampak negatif yang mungkin akan muncul. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi keberadaan ruang ketiga sebagai ruang interaksi sosial di kampus ITB Jatinangor. Untuk mencapai tujuan tersebut, ruang ketiga diidentifikasi melalui metode analisis kualitatif. Analisis dilakukan berdasarkan hasil kuesioner yang dilakukan untuk kemudian diidentifikasi ruang ketiga apa saja yang dipilih oleh mahasiswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat ruang ketiga di Kampus ITB Jatinangor. Pihak kampus juga sudah menyediakan ruang-ruang bagi mahasiswa untuk dapat berkumpul, beristirahat, maupun belajar di sela-sela perkuliahan. Ruang ketiga di kampus memiliki ciri khasnya tersendiri, yaitu kegiatan di dalamnya serta adanya ruang tersebut berhubungan erat dengan fungsi kampus sebagai tempat belajar mengajar.
STUDI TEMPAT KETIGA (THIRD PLACE) BAGI MAHASISWA ITB KAMPUS CIREBON
Keberadaan tempat ketiga (third place) menjadi penting bagi mahasiswa dalam mendukung kegiatan interaksi sosial sekaligus sebagai tempat untuk melepas penat dari aktivitas perkuliahan formal. Tempat ketiga (third place) merupakan tempat untuk orang-orang berkumpul secara informal dan menyenangkan di luar tempat tinggal dan tempat bekerja. Tempat ketiga dapat berupa kafe, perpustakaan, warung, dan berbagai tempat berkumpul lainnya. Mahasiswa pun tentu dapat memanfaatkan berbagai tempat di luar kampus tersebut untuk berinteraksi dengan mahasiswa lain, bahkan masyarakat umum. Kampus merupakan salah satu tempat yang dapat digunakan mahasiswa untuk berkumpul. Selain sebagai tempat belajar mengajar, kampus dapat berperan sebagai tempat interaksi sosial bagi mahasiswa. Oleh karena itu, tempat ketiga sebagai tempat berinteraksi sosial bagi mahasiswa pun dapat terbentuk di dalam kampus. Berdasarkan preseden penelitian, terdapat berbagai ruang interaksi sosial mahasiswa di kampus seperti kantin, lobi kampus, taman, lorong/selasar, taman, ruang ber-wifi, masjid kampus, dan tempat UKM. Kampus ITB Cirebon di Kecamatan Arjawinangun baru beroperasi aktif sekitar 2 tahun dan masih dalam tahap pembangunan. Oleh karena itu, ketersediaan dan kualitas pelayanan ruang di Kampus ITB Cirebon pun belum sepenuhnya mewadahi kegiatan informal mahasiswa. Selain itu, belum banyak tempat berkumpul di sekitar Kampus ITB Cirebon yang diketahui cocok sebagai tempat ketiga bagi mahasiswa. Oleh karena itu, perlu penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan dan kondisi tempat ketiga (third place) sebagai tempat interaksi sosial bagi mahasiswa ITB Kampus Cirebon. Penelitian ini menggunakan pengumpulan data primer dan data sekunder untuk memperoleh data-data terkait tempat interaksi sosial mahasiswa serta kondisinya, baik yang disediakan oleh kampus maupun yang mahasiswa biasa manfaatkan. Data tersebut diolah dan dikaji lebih lanjut menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan keberadaan serta kesesuaian karakteristik tempat ketiga mahasiswa. Terdapat analisis pendukung yaitu analisis spasial sederhana berupa pemetaan persebaran lokasi tempat ketiga bagi mahasiswa yang berada di dalam area kampus serta di luar kampus yaitu di Kabupaten Cirebon atau Kota Cirebon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempat ketiga dapat berada di dalam dan di luar kampus, sebagai wadah interaksi sosial mahasiswa ITB Kampus Cirebon. Bahkan,iii mahasiswa cenderung lebih sering menggunakan tempat di dalam Kampus ITB Cirebon untuk berinteraksi sosial. Tempat ketiga bagi mahasiswa di dalam kampus berupa area luar gedung, koridor/balkon gedung, teras/selasar gedung, serta fasilitas bersama lainnya. Sedangkan, tempat ketiga di luar kampus yaitu fasilitas olahraga, mal, supermarket, minimarket, restoran/kafe, rumah/warung makan, kedai makanan, alun-alun, dan tempat hiburan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran dan masukan untuk mahasiswa, pihak kampus, peneliti, dan pemerintah, baik dalam penggunaan maupun penyediaan tempat ketiga sebagai tempat interaksi sosial bagi mahasiswa atau kalangan lainnya.