📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPERANCANGAN INTERIOR MUSEUM ARSITEKTUR NUSANTARA DENGAN PENDEKATAN EXPERIENTIAL LEARNING
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan keberagaman budaya yang tinggi, yang tercermin dalam berbagai bentuk arsitektur tradisional, khususnya rumah adat dari setiap daerah. Arsitektur Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga merepresentasikan nilai filosofis, sistem sosial, serta kearifan lokal masyarakat setempat. Namun, penyajian informasi mengenai arsitektur Nusantara saat ini masih didominasi oleh media pembelajaran konvensional yang bersifat dua dimensi, sehingga belum mampu menghadirkan pengalaman ruang, skala, material, dan suasana arsitektur secara utuh. Kondisi tersebut menyebabkan pemahaman masyarakat, terutama generasi muda, terhadap arsitektur Nusantara menjadi terbatas dan kurang kontekstual. Perancangan interior Museum Arsitektur Nusantara di Kota Bandung ini bertujuan untuk menghadirkan media edukasi arsitektur yang informatif, interaktif, dan berbasis pengalaman melalui pendekatan experiential learning. Pendekatan ini menekankan proses pembelajaran melalui pengalaman langsung, sehingga pengunjung dapat memahami arsitektur Nusantara tidak hanya secara visual, tetapi juga melalui pengalaman ruang, material, pencahayaan, dan suasana interior. Museum dirancang sebagai living institution yang berfungsi sebagai sarana edukasi, pelestarian, penelitian, dan rekreasi budaya. Metode perancangan yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah metode kualitatif, yang dilakukan melalui studi literatur terkait arsitektur Nusantara, museum, dan teori experiential learning, serta observasi lapangan ke beberapa museum sebagai studi preseden. Hasil analisis digunakan sebagai dasar penyusunan konsep perancangan interior, meliputi konsep ruang, sirkulasi, material, warna, furnitur, pencahayaan, pengkondisian udara, dan sistem keamanan museum. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan pendekatan experiential learning dalam desain interior museum mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih imersif dan bermakna bagi pengunjung. Setiap ruang pamer dirancang untuk merepresentasikan karakter rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia melalui pengolahan elemen interior yang kontekstual. Dengan lokasi di Kota Bandung sebagai kota pendidikan dan kreatif, Museum Arsitektur Nusantara diharapkan dapat menjadi pusat edukasi dan apresiasi arsitektur Nusantara yang relevan, inklusif, serta mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya Indonesia.
PERANCANGAN INTERIOR MUSEUM GASTRONOMI NUSANTARA BERBASIS INTERPRETASI KULINER MULTISENSORI
Indonesia memiliki kekayaan kuliner tradisi yang amat beragam, namun menghadapi ancaman akibat ketergantungan impor pangan serta pergeseran gaya hidup generasi muda yang cenderung mengonsumsi makanan modern maupun instan. Perubahan pola konsumsi ini berisiko mengikis keberagaman pangan lokal dan identitas budaya Nusantara. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sarana rekreasi edukatif yang mampu memperkenalkan serta melestarikan narasi gastronomi Indonesia secara interaktif dan relevan dengan generasi modern. Tujuan perancangan ini adalah mewujudkan museum gastronomi modern bernama Gastro Loka. Museum ini dirancang untuk merekonstruksi dan mempresentasikan identitas kuliner tradisi dari berbagai penjuru Nusantara melalui pendekatan spasial yang tidak sekadar visual, melainkan juga menyentuh aspek sensori manusia secara menyeluruh. Metode perancangan yang digunakan meliputi pengumpulan data melalui studi literatur, observasi, serta analisis kualitatif terhadap karakteristik kuliner lokal, perilaku pengunjung, dan standar museum interaktif. Pendekatan perancangan menerapkan interpretasi kuliner multisensori yang mengintegrasikan aspek pencahayaan, materialitas, akustik, tekstur, dan pengalaman olfaktori ke dalam ruang interior. Konsep desain museum mengusung tema "Kelana Rasa Nusantara", yang mengarahkan alur eksplorasi pengunjung melalui rangkaian program spasial yang saling terintegrasi. Implementasi desain diwujudkan melalui pembagian zona utama, meliputi galeri pameran interaktif untuk narasi sejarah dan tradisi pangan, area workshop untuk edukasi pembuatan hidangan secara langsung, hingga restoran gastronomy fine dining yang menyajikan reinterpretasi kuliner Nusantara. Seluruh elemen interior dan tata pamer dirancang terpadu guna menstimulasi emosi dasar pengunjung serta membangun kembali kebanggaan terhadap kekayaan pangan lokal.
PERANCANGAN INTERIOR MUSEUM GASTRONOMI NUSANTARA BERBASIS INTERPRETASI KULINER MULTISENSORI
Indonesia memiliki kekayaan kuliner tradisi yang amat beragam, namun menghadapi ancaman akibat ketergantungan impor pangan serta pergeseran gaya hidup generasi muda yang cenderung mengonsumsi makanan modern maupun instan. Perubahan pola konsumsi ini berisiko mengikis keberagaman pangan lokal dan identitas budaya Nusantara. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sarana rekreasi edukatif yang mampu memperkenalkan serta melestarikan narasi gastronomi Indonesia secara interaktif dan relevan dengan generasi modern. Tujuan perancangan ini adalah mewujudkan museum gastronomi modern bernama Gastro Loka. Museum ini dirancang untuk merekonstruksi dan mempresentasikan identitas kuliner tradisi dari berbagai penjuru Nusantara melalui pendekatan spasial yang tidak sekadar visual, melainkan juga menyentuh aspek sensori manusia secara menyeluruh. Metode perancangan yang digunakan meliputi pengumpulan data melalui studi literatur, observasi, serta analisis kualitatif terhadap karakteristik kuliner lokal, perilaku pengunjung, dan standar museum interaktif. Pendekatan perancangan menerapkan interpretasi kuliner multisensori yang mengintegrasikan aspek pencahayaan, materialitas, akustik, tekstur, dan pengalaman olfaktori ke dalam ruang interior. Konsep desain museum mengusung tema "Kelana Rasa Nusantara", yang mengarahkan alur eksplorasi pengunjung melalui rangkaian program spasial yang saling terintegrasi. Implementasi desain diwujudkan melalui pembagian zona utama, meliputi galeri pameran interaktif untuk narasi sejarah dan tradisi pangan, area workshop untuk edukasi pembuatan hidangan secara langsung, hingga restoran gastronomy fine dining yang menyajikan reinterpretasi kuliner Nusantara. Seluruh elemen interior dan tata pamer dirancang terpadu guna menstimulasi emosi dasar pengunjung serta membangun kembali kebanggaan terhadap kekayaan pangan lokal.
PERANCANGAN KEMBALI MUSEUM SINGHASARI
Museum memiliki peran dalam pelestarian warisan budaya sekaligus sebagai ruang edukatif dan rekreatif bagi masyarakat. Namun, dalam implementasinya, masih ditemukan berbagai kendala yang memengaruhi efektivitas fungsi ruang dan penyampaian informasi kepada pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang interior Museum Singhasari dengan menekankan pengembangan tata ruang yang mendukung kegiatan utama museum serta pemanfaatan teknologi digital. Pendekatan Learning Style Theory diterapkan untuk menyesuaikan bentuk penyajian informasi dengan beragam gaya belajar pengunjung, khususnya pelajar sebagai kelompok pengunjung dominan. Konsep perancangan melibatkan penggunaan media visual, auditori, dan kinestetik, serta integrasi elemen digital seperti multimedia interaktif dan sistem basis data koleksi. Perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan ruang, memperkaya pengalaman pengunjung dan memperkuat peran Museum Singhasari sebagai institusi edukatif yang adaptif terhadap dinamika kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi informasi.