📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenSTUDI PRODUKSI LOGAM ZIRKONIUM DARI ZIRKONIA MELALUI KOMBINASI REDUKSI KARBOTERMIK DAN PLASMA HIDROGEN
Zirkonium merupakan logam transisi bernilai tinggi dengan kekuatan mekanik, ketahanan korosi, dan stabilitas kimia yang baik sehingga banyak digunakan pada industri berteknologi tinggi, terutama sektor nuklir karena penampang serapan neutron yang rendah. Kebutuhan globalnya terus meningkat seiring transisi menuju energi rendah karbon, namun proses produksi konvensional melalui Proses Kroll masih memiliki keterbatasan seperti tahapan kompleks, konsumsi energi tinggi, dan dampak lingkungan akibat penggunaan gas Cl2 sehingga mendorong pengembangan metode alternatif yang lebih efisien seperti Hydrogen Plasma Smelting Reduction (HPSR). Penelitian ini mengkaji reduksi serbuk zirkonia melalui kombinasi reduksi karbotermik dan plasma hidrogen, serta pengaruh durasi peleburan dan variasi stoikiometri grafit terhadap karakteristik briket ZrO2 hasil reduksi menggunakan SEM-EDS dan EPMA, untuk memberikan dasar pemahaman eksperimental dan termodinamika terhadap penerapan kombinasi reduksi karbotermik dan plasma hidrogen sebagai metode alternatif ekstraksi zirkonium. Serangkaian percobaan dilakukan bersamaan dengan simulasi termodinamika menggunakan perangkat lunak FactSage™ 8.4 untuk menganalisis kestabilan fasa serta kemungkinan jalur reaksi pada proses reduksi zirkonia dalam atmosfer hidrogen dengan penambahan karbon. Serbuk zirkonia dikarakterisasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD) untuk identifikasi fasa, kemudian dikompaksi menjadi briket bermassa 0,5 gram dengan penambahan binder pati sebesar 2 %brt serta variasi penambahan grafit berdasarkan stoikiometri reaksi. Briket selanjutnya direduksi dalam reaktor plasma hidrogen dengan variasi stoikiometri grafit dan durasi peleburan selama 4-12 menit. Setelah proses reduksi, dilakukan analisis komposisi kimia dan morfologi sampel menggunakan SEM-EDS dan EPMA untuk mengevaluasi hasil reduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan durasi peleburan dari 4 hingga 8 menit pada kondisi 1,5 stoikiometri karbon menghasilkan kondisi paling optimal pada bagian oksida yang lebih tereduksi, dengan kadar Zr tertinggi sebesar 94,87%, kadar O terendah sebesar 0,91%, dan kadar C sebesar 2,82% berdasarkan analisis EPMA. Sementara itu, peningkatan penambahan grafit dari 0 hingga 1,5 stoikiometri secara konsisten meningkatkan kadar Zr dari 86,08% menjadi 93,13%, disertai penurunan kadar O dari 8,24% menjadi 1,45%. Kadar C yang berada pada kisaran 3,72-4,17% menunjukkan bahwa karbon masih tersisa dalam hasil reduksi dan berperan sebagai reduktor, namun juga berpotensi membentuk fasa karbida. Kondisi paling optimal diperoleh pada 1,5 stoikiometri karbon dengan durasi peleburan 8 menit, yang menghasilkan kadar Zr tertinggi serta kadar O dan C yang relatif lebih rendah dibandingkan kondisi lainnya.
JEJAK KARBON INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM PERKOTAAN DI INDONESIA: LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) RAMBUTAN DAN KARANG ANYAR II, PALEMBANG
ABSTRAK JEJAK KARBON INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM PERKOTAAN DI INDONESIA: LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) RAMBUTAN DAN KARANG ANYAR II, PALEMBANG Oleh Puteri Denita Novianti NIM: 25723306 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi) Perubahan iklim menuntut upaya mitigasi yang mencakup seluruh sektor infrastruktur, termasuk sistem penyediaan air minum perkotaan. Emisi gas rumah kaca (GRK) dalam proses pengolahan air minum dapat muncul pada berbagai tahap operasional, mulai dari pengambilan air baku, pengolahan, hingga distribusi, terutama jika sumber energi listrik yang digunakan masih bergantung pada jaringan yang didominasi oleh pembangkit berbahan bakar fosil. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jejak karbon pada dua instalasi pengolahan air minum (IPA) yang dioperasikan oleh Perumda Tirta Musi Kota Palembang, yaitu IPA Rambutan dan IPA Karang Anyar II, mengidentifikasi unit proses yang memiliki kontribusi emisi terbesar, dan merumuskan skenario mitigasi operasional. Analisis dilakukan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan bantuan perangkat lunak OpenLCA yang memiliki batasan studi gate-to-gate dan satuan fungsional sebesar 1 m3 air yang olahan. Dampak perubahan iklim diukur menggunakan metode IPCC 2021 AR6 GWP100. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi listrik menjadi sumber utama emisi di kedua IPA, dengan kontribusi sekitar 89% dari total emisi. Intensitas karbon masing-masing instalasi tercatat sebesar 0,2625 kg CO2-eq/m3 untuk IPA Rambutan dan 0,3244 kg CO2-eq/m3 untuk IPA Karang Anyar II yang ekuivalen dengan total emisi harian masing-masing sebesar 20.791 kg CO2-eq/hari dan 14.128 kg CO2-eq/hari. Analisis hotspot mengindikasikan bahwa unit intake dan distribusi merupakan tahapan yang paling intensif menghasilkan emisi. Skenario mitigasi menunjukkan bahwa penerapan Variable Speed Drives (VSD) pada sistem pemompaan di unit hotspot berpotensi menurunkan emisi sebesar 25–30%. Intervensi tambahan seperti pengelolaan lumpur dengan kombinasi sludge drying bed (SDB) dan constructed wetlands pada IPA Rambutan serta pemanfaatan PLTS atap di area IPA juga memberikan kontribusi dalam penurunan emisi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi stakeholder untuk perumusan strategi pengelolaan air minum perkotaan yang lebih rendah karbon dan berkelanjutan.
STUDI KARAKTERISASI DAN PENYEBARAN KARBON BERDASARKAN ANALISIS KARBON DAN RAMAN SPEKTROSKOPI DI DAERAH PROSPEK PENAMBANGAN EMAS KECAMATAN SEKAYAM, KALIMANTAN BARAT
Grafit merupakan mineral berharga karena konduktivitas dan ketahanan panas yang tinggi. Grafit atau karbon banyak digunakan dalam berbagai aplikasi khususnya bahan anoda baterai lithium-ion, energi nuklir, tenaga angin, sel surya, sel bahan bakar, semikonduktor, dan grafena. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara total karbon dengan kadar Au, karakterisasi karbon, dan hubungan keberadaan karbon dengan sistem mineralisasi emas Sekayam, Kalimantan Barat. Metode pengujian yang dilakukan adalah Analisis Karbon dan Sulfur serta Raman Spektroskopi. Hasil pengujian Karbon dan Sulfur dianalisis kembali menggunakan regresi linier sedangkan Raman Spektroskopi menggunakan algoritma IFORS. Hasil analisis menunjukkan bahwa karbon memiliki korelasi terhadap litologi dan struktur geologi serta memiliki peran sebagai perangkap struktural, agen reduksi dan katalis pengendapan emas serta indikator suhu metamorfik. Karbon Sekayam terdiri atas karbon organik dan karbon anorganik dengan tingkat grafitisasi amorf hingga semi-grafit.
VALUASI STOK KARBON BERDASARKAN TUTUPAN LAHAN SEBAGAI POTENSI PERDAGANGAN KARBON (STUDI KASUS: KABUPATEN GARUT)
Emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia mencapai 1,24 Gt CO?e pada tahun 2022, menjadikannya sebagai penyumbang emisi GRK terbesar ke-8 di dunia dengan kontribusi sekitar 2,3% dari total emisi global. Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Indonesia telah menetapkan komitmen National Determination Contribution (NDC) untuk mengurangi emisi GRK pada tahun 2030. Komitmen ini mendasari lahirnya kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan mekanisme perdagangan karbon melalui kredit dan stok karbon. Di sisi lain, Indonesia mengalami deforestasi seluas 257,3 ribu ha pada tahun 2023 yang dapat mengurangi kapasitas penyimpanan karbon. Pencegahan kerusakan hutan menjadi penting mengingat hutan berfungsi sebagai penyerap CO? dan penghasil O?. Berdasarkan RTRW Kabupaten Garut 2011-2031, daerah ini diarahkan sebagai kabupaten konservasi dengan kebijakan penataan ruang yang bertujuan untuk melestarikan kawasan lindung dan menjadikannya lokasi yang ideal untuk penelitian perdagangan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi keuntungan yang dapat dihasilkan dari perdagangan karbon berdasarkan jumlah karbon yang tersimpan pada perubahan tutupan lahan di Kabupaten Garut. Metode yang digunakan bersifat kuantitatif, eksplanatori, dan eksploratif, dengan pendekatan teknis, deduktif, dan longitudinal. Data sekunder dianalisis menggunakan teknik spasial dan statistik deskriptif, dengan aplikasi seperti Google Earth Engine, ArcGIS Pro, QGIS, InVEST, STATA, dan Microsoft Excel. Penelitian ini juga menerapkan pendekatan baru dalam menghitung stok karbon berdasarkan nilai biomassa dari citra satelit Landsat 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan stok karbon menunjukkan penurunan menjadi 19,62 juta ton C (-6,24%) untuk skenario Business as Usual (BAU) dan 20,9 juta ton C (-0,08%) untuk skenario Protecting Forest Area (PFA). Estimasi keuntungan perdagangan karbon menunjukkan penurunan menjadi Rp 2,160 triliun pada 2045 (-6,2%) untuk skenario BAU, sedangkan skenario PFA diprediksi mencapai Rp 2,302 triliun (-0,1%).
ANALISIS MONETISASI KREDIT KARBON DI SEKTOR PERUSAHAAN PERTAMBANGAN & ENERGI
Studi ini meneliti pasar karbon Indonesia yang baru saja diluncurkan, IDX Carbon, dengan fokus pada penerapannya pada perusahaan pertambangan dan energi yang terdaftar di bursa. Penelitian ini membandingkan IDX Carbon dengan sistem perdagangan karbon yang mapan di Uni Eropa dan Tiongkok untuk menilai perbedaan struktural dan mekanisme penetapan harga. Dengan menggunakan data emisi dari tahun 2020 hingga 2023, studi ini menghitung surplus dan defisit emisi tahunan berdasarkan penghitungan karbon Fase 1. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa sebagian besar perusahaan Indonesia mengalami defisit kredit karbon, yang mengakibatkan biaya operasional tambahan. Meskipun ada potensi untuk memonetisasi kredit karbon, terutama bagi perusahaan dengan surplus emisi, manfaat finansial secara keseluruhan tetap terbatas dalam kondisi pasar saat ini. Khususnya, harga per ton CO2e di Indonesia jauh lebih rendah daripada di UE dan Tiongkok, yang menunjukkan bahwa pasar karbon Indonesia masih dinilai rendah dan kekurangan likuiditas. Kondisi ini dapat menghambat partisipasi aktif dan melemahkan peran pasar dalam mendorong dekarbonisasi perusahaan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman implementasi pasar karbon tahap awal di negara berkembang dan menyoroti area yang perlu ditingkatkan dalam desain regulasi, penetapan harga karbon, dan transparansi pelaporan. Ini juga menyediakan dasar untuk studi masa depan tentang keuangan berkelanjutan dan reformasi kebijakan karbon di Indonesia, terutama di sektor-sektor dengan emisi tinggi seperti pertambangan dan energi.
ESTIMASI SIMPANAN KARBON PADANG LAMUN PADA TIGA PULAU DENGAN TUTUPAN MANGROVE BERBEDA DI TAMAN NASIONAL LAUT KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA
Ekosistem padang lamun memiliki potensi tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon untuk memitigasi perubahan iklim. Salah satu kawasan dengan padang lamun yang luas dan beragam adalah Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Padang lamun di Kepulauan Seribu dapat ditemukan tumbuh berdekatan dengan mangrove, maupun pada pulau yang tidak terdapat ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi simpanan karbon padang lamun pada tiga pulau di Kepulauan Seribu dengan kondisi mangrove yang berbeda. Tiga pulau tersebut terdiri dari Pulau Pramuka dan Pulau Panggang yang memiliki luasan mangrove berbeda, serta Pulau Kotok yang tidak terdapat ekosistem mangrove. Luasan padang lamun diperkirakan menggunakan analisis spasial dengan data satelit Sentinel-2A dengan klasifikasi unsupervised. Pengambilan data biotik lamun dilakukan menggunakan transek dan plot kuadrat. Komunitas lamun di tiap pulau dideskripsikan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP) spesies. Simpanan karbon biomassa dan sedimen dihitung dengan metode pengabuan (loss on ignition/LOI). Luas mangrove di Pulau Panggang diperkirakan 1,19 ha lebih luas dibandingkan Pulau Pramuka. Secara keseluruhan ditemukan enam spesies lamun dari ketiga pulau. Pada Pulau Pramuka dan Pulau Panggang, komunitas lamun yang teramati adalah Thalassia-Enhalus sementara komunitas pada Pulau Kotok adalah Halodule-Thalassia. Simpanan karbon pada Pulau Pramuka terukur sebesar 46,3 g C m-2 dalam AGB (above ground biomass), 125,7 g C m-2 pada BGB (below ground biomass) dan 6444 g C m-2 pada sedimen dengan kedalaman 20cm. Pada Pulau Panggang simpanan karbon dalam AGB terukur sebesar 37,7 g C m-2, dalam BGB sebesar 119,8 g C m-2, dan 6762 g C m-2 dalam sedimen. Pada Pulau Kotok simpanan karbon dalam AGB terukur sebesar 28,5 g C m-2, dalam BGB sebesar 24,4 g C m-2, dan 4405 g C m-2 dalam sedimen. Hasil uji signifikansi pada simpanan karbon antar pulau menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05) pada simpanan karbon dalam sedimen. Uji lanjutan menunjukkan perbedaan signifikan antara Pulau Panggang dan Pulau Kotok (p<0,05) dan antara Pulau Pramuka dan Pulau Kotok (p<0,05). Hasil tersebut mengindikasikan bahwa keberadaan ekosistem mangrove memengaruhi simpanan karbon dalam sedimen padang lamun; simpanan karbon sedimen lebih besar pada pulau yang memiliki ekosistem mangrove. Jika dijumlahkan, maka total karbon di Pulau Pramuka diperkirakan sebesar 0,73GgC, Pulau Panggang 1,12GgC, dan Pulau Kotok 0,27GgC.
SEKUESTRASI KARBON DAN AKUMULASI LIPID OLEH KOKULTUR CHLORELLA VULGARIS DAN SPIRULINA PLATENSIS PADA MEDIUM CAMPURAN ZARROUK DAN BOLD BASAL MEDIUM
Mikroalga merupakan agen biologis yang potensial untuk mitigasi pemanasan global melalui sekuestrasi karbon. Organisme fotosintetik ini menyerap karbondioksida dari udara dan mengubahnya menjadi senyawa organik, seperti karbohidrat, protein, pigmen, dan lipid. Dengan efisiensi fotosintetik yang 10-50 kali lebih tinggi daripada tanaman terrestrial, mikroalga adalah organisme yang penting untuk dimanfaatkan sebagai agen penyerap karbon anorganik di udara. Kokutur Chlorella vulgaris dan Spirulina platensis dilaporkan dapat meningkatkan pertumbuhan, penyerapan karbondioksida, dan akumulasi lipid pada mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah performa kokultur Spirulina platensis dan Chlorella vulgaris pada sistem autotrofik dalam medium campuran Zarrouk dan Bold Basal Medium (BBM). Variasi rasio medium Zarrouk dan BBM pada kokultur adalah 25:75; 50:50; dan 75:25 (v/v). Performa kokultur S. platensis dan C. vulgaris dibandingkan juga dengan monokultur S. platensis pada Zarrouk 100% dan C. vulgaris pada Bold Basal Medium 100%. Mikroalga dikultivasi selama 16 hari pada botol jamu kaca 1 liter dengan aerasi 0,4 l/min. Pengukuran konsentrasi biomassa dilakukan setiap dua hari. Konsentrasi biomassa digunakan untuk menentukan parameter kinetika laju pertumbuhan spesifik maksimum dan konsentrasi biomassa maksimum melalui pemodelan logistik. Laju penyerapan karbondioksida ditentukan melalui perhitungan antara produktivitas biomassa, jumlah karbon pada biomassa, serta rasio antara massa molekuler karbon dan karbondioksida. Ekstraksi lipid dilakukan dengan metode Bligh dan Dyer. Hasil menunjukkan laju pertumbuhan spesifik maksimum berturut-turut untuk monokultur S. platensis dalam Zarrouk 100%, monokultur C. vulgaris dalam BBM 100%, serta kokultur S. platensis dan C. vulgaris dalam Zarrouk:BBM (25:75; 50:50; dan 75:25 v/v) berturut-turut sebesar 0,28; 0,30; 0,26; 0,21; dan 0,25 /hari dengan nilai tertinggi dicapai oleh monokultur C. vulgaris sebesar 0,30/hari. Tidak ada beda nyata dalam pertumbuhan antarvariasi. Laju penyerapan CO2 sebesar 0,605±0,11; 0,120±0,01; 0,275±0,08; 0,210±0,05; 0,259±0,05 gCO2/l/hari serta jumlah CO2 yang terserap setelah 16 hari sebesar 3,71±0,22; 0,87±0,03; 1,90±0,12; 1,72±0,20; dan 1,79±0,11 gCO2/0,8 liter medium berturut-turut untuk monokultur S. platensis dalam Zarrouk 100%, monokultur C. vulgaris dalam BBM 100%, serta kokultur S. platensis dan C. vulgaris dalam Zarrouk:BBM=25:75; 50:50; dan 75:25 (v/v). Penyerapan CO2 tertinggi dicapai oleh monokultur S. platensis dengan laju penyerapan CO2 sebesar 0,605±0,11 gCO2/l/hari dan CO2 yang terserap setelah 16 hari sebanyak 3,71±0,22 gCO2/0,8 L medium. Terdapat beda nyata dalam penyerapan CO2 pada kelima variasi. Akan tetapi, berdasarkan uji post hoc Tukey tidak terdapat beda nyata antar variasi kokultur. Akumulasi lipid untuk monokultur S. platensis dalam Zarrouk 100%, monokultur C. vulgaris dalam BBM 100%, serta kokultur S. platensis dan C. vulgaris dalam Zarrouk:BBM (25:75; 50:50; dan 75:25 v/v) berturut-turut adalah 0,16±0,04; 0,21±0,04; 0,11±0,01; 0,15±0,07; 0,13±0,01 % (glipid/gbiomassa) dengan nilai tertinggi dicapai oleh monokultur C. vulgaris. Tidak terdapat beda nyata dalam akumulasi lipid antarvariasi. Singkatnya, kokultur S. platensis dan C. vulgaris dapat mensekuestrasi karbon lebih banyak daripada monokultur C. vulgaris, namun lebih sedikit daripada monokultur S. platensis. Pertumbuhan dan akumulasi lipid tertinggi diperoleh pada monokultur C. vulgaris dibandingkan pada monokultur S. platensis maupun kokultur S. platensis dan C. vulgaris