📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

EFEK KULIT BATANG KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANNII NEES & T. NEES BLUME) TERHADAP LIPID DARAH TIKUS WISTAR JANTAN

Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyebab utama kematian secara global. Salah satu faktor penyebab penyakit ini adalah hiperlipidemia. Peningkatan kadar lipid darah dapat dicegah atau diturunkan dengan menggunakan antihiperlipidemia yang dapat diperoleh dari tanaman. Pada penelitian ini akan diuji efek kayu manis (Cinnamomum burmannii) yang merupakan rempah dengan kandungan sinamatnya yang diduga dapat menurunkan kadar lipid darah. Efek serbuk kulit batang kayu manis terhadap lipid darah diuji pada tikus Wistar jantan melalui uji pencegahan dan penurunan kadar lipid darah. Tikus dibuat hiperlipidemia dengan pemberian pakan tinggi lemak. Tiga dosis serbuk kulit batang kayu manis yang diujikan yaitu 90 (DR), 180 (DS), dan 360 (DT) mg/kg bb. Hasil menunjukkan pada uji pencegahan ketiga dosis dapat mencegah kenaikan lipid darah, tetapi hanya DS yang dapat menghambat secara signifikan (Kolesterol Total = 104,26 vs 116,63 mg/dL; Trigliserida = 132,09 vs 154,93 mg/dL; Low Density Lipoprotein = 51,97 vs 64,09 mg/dL) setelah pemberian selama 4 minggu. Pada uji penurunan kadar lipid darah, ketiga dosis belum dapat menurunkan kadar lipid darah secara bermakna pada pemberian selama 2 minggu. Berdasarkan penelitian ini, serbuk kulit batang kayu manis pada dosis sedang (180 mg/kg bb) dapat mencegah kenaikan lipid darah secara signifikan. Untuk menurunkan kadar lipid darah diperlukan pemberian serbuk kulit batang kayu manis dengan waktu yang lebih lama.

2026
👤 Penulis: Astrid Dewanti Nugroho
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kardiovaskular 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN TENSIMETER DIGITAL BERBASIS SUARA KOROTKOFF

Tekanan darah merupakan salah satu parameter fisiologis utama yang berperan penting dalam menilai kondisi kesehatan sistem kardiovaskular. Pengukuran tekanan darah secara non-invasif umumnya dilakukan dengan metode auskultasi menggunakan stetoskop dan manometer, namun keakuratannya sangat bergantung pada keterampilan pengguna. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengembangkan prototipe pengukuran tekanan darah otomatis berbasis deteksi suara Korotkoff secara digital. Metode yang digunakan melibatkan pemrosesan sinyal suara dari mikrofon elektret yang dilengkapi dengan filter bandpass (fL ? 20,4 Hz dan fH ? 204,2 Hz), serta pembacaan tekanan menggunakan sensor MPS20N0040D-S dan modul HX710B. Kalibrasi dilakukan untuk mengubah sinyal tekanan menjadi nilai tekanan aktual. Hasil pengujian menunjukkan bahwa prototipe memiliki performa yang baik dengan nilai MAE sebesar 3,14 mmHg (sistolik) dan 3,24 mmHg (diastolik), serta nilai R² masing-masing sebesar 0,870 dan 0,893. Prototipe memenuhi kriteria akurasi standar AAMI dengan bias ± simpangan baku sebesar -1,82 ± 3,37 mmHg (sistolik) dan -0,96 ± 3,79 mmHg (diastolik), serta memenuhi Grade A berdasarkan standar BHS karena 84% data sistolik dan 78% data diastolik berada dalam selisih ±5 mmHg. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan memiliki potensi sebagai alternatif alat pengukur tekanan darah otomatis yang akurat dan andal.

2025
👤 Penulis: Rahmat Yasin
🏷️ Elektronika Medis 🏷️ Analisis Sinyal Elektrik 🏷️ Kardiovaskular

AKTIVITAS DAN MEKANISME KARDIOPROTEKTIF SPIRULINA PLATENSIS G. DAN MOMORDICA CHARANTIA L. DALAM PENCEGAHAN KERUSAKAN JANTUNG PADA MODEL TIKUS INFARK MIOKARD

Infark miokard atau yang dikenal masyarakat sebagai serangan jantung adalah penyakit penyebab kematian atau nekrosis otot jantung dikarenakan iskemia berkepanjangan. Spirulina platensis dan Momordica charantia dilaporkan memiliki aktivitas dalam mempercepat penyembuhan luka dan sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji aktivitas dan mekanisme kerja kardioprotektif dari ekstrak Spirulina platensis dan Momordica charantia serta kombinasinya (SPMC). Tahapan penelitian diawali dengan pengujian secara invivo masing-masing sampel dan kombinasinya yang diberikan pada tikus yang diinduksi isoproterenol, sebagai model serangan jantung. Pengujian dilanjutkan dengan penentuan dosis kombinasi efektif, uji toksisitas, studi mekanisme kerja terhadap SIRT1 dan sitokin proinflamasi interleukin-1?. Tahap akhir, dilakukan studi in silico dan identifikasi senyawa sebagai prediksi senyawa bioaktif yang berperan sebagai kardioprotektif. Karakterisasi simplisia Spirulina platensis dan Momordica charantia memenuhi syarat penerimaan mutu berdasarkan nilai rujukan yang ditetapkan. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak air Spirulina platensis mengandung flavonoid dan tanin, sedangkan ekstrak etanol Momordica charantia mengandung flavonoid, tannin dan alkaloid. Pada studi in-vivo untuk melihat aktivitas kardioprotektif memperlihatkan bahwa pemberian kombinasi ekstrak SPMC lebih baik dibandingkan pemberian ekstrak tunggalnya. SPMC 50 mg/kg dan 50 mg/kg bb secara signifikan (P<0,05) menghambat peningkatan kadar biomarker jantung. Kadar SGOT (198,27 ± 6,53 mg/dL), CK (185,82 ± 33,98 mg/dL), CK-MB (249,3 ± 17,24 mg/dL) dan LDH (444,58 ± 50,95 mg/dL) pada tikus model serangan jantung lebih rendah signifikan dibandingkan dengan kontrol positif yaitu SGOT (232,78 ± 20 mg/dL), CK (393,2 ± 23,1 mg/dL), CK-MB (549,05 ± 56 mg/dL) dan LDH (963,21 ± 93 mg/dL). Integritas sel, keutuhan inti sel dan infiltrasi leukosit yang minimal dibandingkan dengan kelompok kontrol positif juga terlihat pada analisis histopatologi kelompok yang mendapatkan kombinasi SPMC. Berdasarkan parameter biomarker jantung, luas area infark dan analisis histopatologi, kombinasi ekstrak SPMC 50 mg/kg dan 50 mg/kg bb memiliki aktivitas kardioprotektif terbaik dibandingkan dengan kombinasi 25 mg/kg dan 75 mg/kg bb serta 75 mg/kg dan 25 mg/kg bb. Pada uji toksisitas akut, pemberian SPMC dengan dosis 5 gram/kg bb. tidak menginduksi tanda-tanda toksisitas pada aspek perilaku hewan coba dan bobot badan. Pemeriksaan makroskopik organ tampak normal dan tidak ditemukan adanya kematian setelah 14 hari pemberian SPMC. Kategori toksisitas berdasarkan panduan Badan POM diklasifikasikan ke dalam kategori 5 (Unclassified) sehingga tergolong aman. Studi mekanisme kerja dilakukan menggunakan kombinasi ekstrak Spirulina platensis dan Momordica charantia terhadap protein SIRT1 secara in vivo dan in vitro. Pemberian SPMC 50 mg/kg dan 50 mg/kg bb tikus mampu menghambat peningkatan kadar sitokin pro inflamasi interleukin-1?(639,41 ± 55 pg/mL) yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol positif (1208,25 ± 57 pg/mL). Kadar serum SIRT1 pada kelompok kontrol negatif, kontrol positif, kombinasi ekstrak 50 mg/kg dan 50 mg/kg bb serta pembanding resveratrol masing-masing adalah 0,594 ± 0,03 ng/mL; 0,668 ± 0,02 ng/mL; 0,83 ± 0,04 ng/mL dan 0,84 ± 0,05 ng/mL, SPMC secara signifikan mampu meningkatkan kadar serum SIRT1 dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (P<0,05). Secara in vitro, pemberian SPMC pada konsentrasi 1 ppm, 10 ppm dan 100 ppm tidak menurunkan viabilitas sel kardiomiosit primer dan H9C2 cell line. Pada studi molekular, pemberian SPMC 100 ppm juga mampu meningkatkan ekspresi SIRT1 pada H9C2 cell line. Senyawa phycocyanobilin dengan kadar 4,18 mM teridentifikasi pada sampel Spirulina platensis, sedangkan pada sampel Momordica charantia terdeteksi senyawa momordicoside A dengan kadar 0,54 mM. Secara in silico, senyawa phycocyanobilin dan momordicilin memberikan binding energi yang lebih negatif terhadap protein SIRT1 (PDB ID: 4ZZJ) masing-masing sebesar -10.98 kJ/mol dan -11.3 kJ/mol. Senyawa pembanding resveratrol memiliki binding energy -8.17 kJ/mol. Hasil ini mengindikasikan bahwa senyawa pada Spirulina platensis dan Momordica charantia diprediksi juga memiliki potensi sebagai SIRT1 activator. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kombinasi ekstrak Spirulina platensis dan Momordica charantia pada dosis 50 mg/kg dan 50 mg/kg bb memberikan efek kardioprotektif yang lebih baik dibandingkan dengan ekstrak tunggalnya. Kombinasi tersebut juga menunjukkan profil keamanan yang baik. SPMC memiliki aktivitas kardioprotektif dengan menghambat peningkatan kadar IL-1?dan peningkatan ekspresi protein SIRT-1 pada sel jantung dan peningkatan serum SIRT1.

2024
👤 Penulis: Gayuk Kalih Prasesti
🏷️ Kardiovaskular 🏷️ Fitokimia 🏷️ Sirtuin

POTENSI AKTIVITAS KARDIOPROTEKTIF EKSTRAK ETANOL BUAH LABU SIAM (SECHIUM EDULE JACQ.) PADA TIKUS MODEL DISLIPIDEMIA YANG DIINDUKSI INFARK MIOKARD

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di dunia. Hingga saat ini, dislipidemia masih menjadi kontributor utama terhadap penyakit kardiovaskular. Kondisi dislipidemia merupakan prekursor terjadinya aterosklerosis yang dapat menyebabkan infark miokard. Beberapa studi menyatakan bahwa buah labu siam dapat menjadi sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas kardioprotektif buah labu siam beserta mekanismenya pada tikus jantan galur Wistar model dislipidemia yang diinduksi infark miokard. Penelitian dilakukan terhadap enam kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok pembanding atenolol (4,5 mg/kg bb), kelompok ekstrak etanol buah labu siam (EELBS) 100 mg/kg bb, kelompok EELBS 200 mg/kg bb, dan kelompok EELBS 400 mg/kg bb. Seluruh hewan uji, kecuali kelompok kontrol negatif, diberikan induksi dislipidemia dan induksi infark miokard. Parameter yang diukur meliputi kadar kolesterol total, kadar biomarker jantung, pengukuran luas infark, dan analisis histopatologi jantung. Hasil penelitian diolah secara statistik dengan metode one-way ANOVA (p<0,05) kemudian dilanjutkan dengan uji Fischer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EELBS pada dosis 100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb, dan 400 mg/kg bb, dapat menghambat pelepasan biomarker jantung (AST, ALT, CK, CK-MB, dan LDH) dan mencegah terjadinya infark pada jantung secara berbeda bermakna (p<0,05) terhadap kelompok kontrol positif. EELBS pada setiap dosisnya juga menunjukkan profil histologi jantung yang menyerupai keadaan jantung normal. Berdasarkan penelitian ini, diketahui bahwa ekstrak etanol buah labu siam memiliki aktivitas kardioprotektif pada kondisi dislipidemia melalui penghambatan pelepasan biomarker jantung dan pencegahan kerusakan jaringan jantung. Akan tetapi, aktivitas kardioprotektif pada ekstrak etanol buah labu siam tidak berkaitan dengan perbaikan profil lipid.

2024
👤 Penulis: Syifa Fadhilah Faza Hermanto
🏷️ Kardiovaskular 🏷️ Dislipidemia 🏷️ Aterosklerosis

POTENSI AKTIVITAS KARDIOPROTEKTIF EKSTRAK ETANOL HERBA SELEDRI (APIUM GRAVEOLENS L.) PADA TIKUS MODEL DISLIPIDEMIA YANG DIINDUKSI INFARK MIOKARD

Penyakit kardiovaskular, terutama serangan jantung (infark miokard), merupakan salah satu penyebab utama tingginya angka kematian di seluruh dunia. Dislipidemia telah diidentifikasi sebagai faktor risiko utama dalam perkembangan penyakit kardiovaskular. Bahan alami seperti seledri (Apium graveolens L.) menjadi pengobatan alternatif yang potensial untuk terapi pada individu dengan risiko tinggi terkena serangan jantung dan mengidap dislipidemia. Penelitian ini mengevaluasi potensi aktivitas kardioprotektif dari ekstrak herba seledri beserta dosis dan mekanismenya. Seledri diekstraksi menggunakan etanol 70% dengan metode maserasi, kemudian diuji pada tikus Wistar jantan yang mengalami dislipidemia dan diinduksi infark miokard dengan isoproterenol. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak seledri dengan dosis 50 mg/kg BB dapat menghambat peningkatan biomarker jantung dan mencegah kerusakan area infark secara signifikan (p<0,05) terhadap kontrol positif serta memiliki profil histologi jantung yang mirip dengan keadaan jantung normal meskipun tidak mencegah kenaikan kolesterol. Di sisi lain, ekstrak seledri dengan dosis 100 dan 200 mg/kg BB tidak menunjukkan efek terhadap parameter tersebut. Dengan demikian, ekstrak seledri dengan dosis 50 mg/kg BB menunjukkan aktivitas kardioprotektif tanpa perbaikan profil lipid.

2024
👤 Penulis: Kem Achmad Ichsani Rahadian
🏷️ Kardiovaskular 🏷️ Dislipidemia 🏷️ Eksplorasi Obat Alternatif
💬