📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

PERANCANGAN KAWASAN CAGAR BUDAYA TUGU PERJUANGAN RAKYAT DESA CIJAMBU, KECAMATAN CIPONGKOR, KABUPATEN BANDUNG BARAT SEBAGAI OBJEK WISATA

Sektor pariwisata budaya semakin diakui sebagai penggerak pembangunan ekonomi lokal, khususnya di wilayah perdesaan yang menyimpan warisan sejarah, karena tidak hanya berkontribusi terhadap pendapatan pariwisata, tetapi juga memperkuat identitas lokal dan membuka lapangan kerja baru. Desa Cijambu di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, merupakan salah satu kantong kemiskinan, tergolong dalam kuadran High-High pada analisis Local Indicator of Spatial Autocorrelation (LISA), yang sesungguhnya memiliki potensi sejarah melalui keberadaan Tugu Perjuangan Rakyat di Bukit Pasir Kentit, sebuah monumen yang memperingati perlawanan rakyat terhadap agresi militer Belanda. Peristiwa perlawanan tersebut merupakan bagian dari rangkaian sejarah kekerasan pada masa Agresi Militer Belanda di wilayah Cipongkor, sehingga monumen ini menyimpan nilai memori kolektif yang penting bagi masyarakat setempat. Akan tetapi, monumen tersebut berada dalam kondisi terbengkalai dengan aksesibilitas yang buruk, ketiadaan fasilitas pendukung, serta belum adanya batas zonasi yang melindungi nilai sakralnya, sehingga potensi ekonomi wisata yang dimiliki belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan merancang kawasan Tugu Perjuangan Rakyat Desa Cijambu sebagai kawasan pariwisata budaya yang merespons persoalan kawasan, mengoptimalkan potensi kawasan dan warga sekitar, serta memenuhi kebutuhan pengguna. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan normatif, menggunakan metode perancangan Fragmental (Shirvani, 1985) dan teknik Problem Solving (Lynch, 1984). Data primer dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur, peraturan perundang-undangan, serta preseden kawasan sejenis. Analisis dilakukan melalui kajian deskriptif kualitatif dan analisis tapak terhadap delapan elemen perancangan kota, dengan membandingkan kondisi aktual kawasan terhadap prinsip normatif yang telah dirumuskan untuk mengidentifikasi potensi dan persoalan kawasan. Analisis tapak juga mengacu pada variabel kajian Edward T. White (1986) yang mencakup aspek visual, sirkulasi, fitur alami, serta konteks lingkungan dan sosial-budaya kawasan.iv Penelitian menghasilkan tiga temuan utama sesuai sasarannya. Pertama, teridentifikasi tujuh prinsip perancangan kawasan wisata budaya, yakni keselamatan, atraksi dan keindahan, aksesibilitas, kenyamanan dan amenitas, keamanan, kebersihan, serta preservasi fisik dan keasrian lingkungan. Kedua, teridentifikasi potensi kawasan berupa Tugu Perjuangan Rakyat sebagai landmark bernilai sejarah, bentang alam perbukitan dengan sawah terasering dan hutan, serta potensi ekonomi lokal melalui kerajinan golok dan kuliner khas; sementara persoalan utamanya meliputi ketiadaan zonasi yang jelas, aksesibilitas yang buruk tanpa kantong parkir, jalur pejalan kaki yang tidak inklusif, minimnya fasilitas dan elemen penanda, serta degradasi fisik tugu. Ketiga, dirumuskan konsep perancangan yang membagi kawasan menjadi tiga zona, yaitu Zona Inti (tugu dan pelataran monumental), Zona Penyangga (ruang terbuka hijau dan Heritage Trail), serta Zona Pengembangan (sentra UMKM, kantong parkir, dan fasilitas pendukung). Konsep tersebut diwujudkan melalui Heritage Trail sepanjang kurang lebih 600 meter yang dilengkapi ramp berkelandaian maksimal 8% guna menjamin aksesibilitas universal, plaza monumen berperkerasan andesit, restorasi nondestruktif terhadap tugu, serta retensi permukiman warga berbasis pendekatan Living Heritage. Keputusan mempertahankan atau membongkar bangunan permukiman aktual ditetapkan melalui lima parameter penilaian kelayakan yang mengacu pada ketentuan zonasi cagar budaya serta kriteria Rumah Tidak Layak Huni. Perancangan ini berkontribusi sebagai model penataan kawasan cagar budaya berbasis lanskap perbukitan pada konteks perdesaan yang mengintegrasikan upaya pelestarian, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Pendekatan Living Heritage yang diterapkan menempatkan masyarakat sebagai bagian integral dari pelestarian, sehingga Tugu Perjuangan Rakyat tidak menjadi monumen yang statis, melainkan cagar budaya yang hidup bersama masyarakatnya.

2026
👤 Penulis: Aimar Daffa Setyawan
🏷️ Kawasan Cagar Budaya 🏷️ Desa Dan Pariwisata Desa 🏷️ Pengelolaan Lokal

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN NONCAGAR BUDAYA DALAM KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTA BANDUNG

Kawasan Cagar Budaya di koridor Braga dan Asia Afrika merupakan identitas sejarah utama Kota Bandung yang saat ini menghadapi tekanan pembangunan yang sangat tinggi. Persoalan utama dalam penelitian ini adalah ketiadaan pedoman operasional yang konsisten bagi Bangunan Noncagar Budaya (BNCB), yang mengakibatkan munculnya anomali morfologi berupa ketidakkonsistenan garis sempadan bangunan dan dominasi visual bangunan masif yang mendegradasi karakter kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pedoman pembangunan BNCB yang kontekstual dan aplikatif bagi Pusat Kota Lama Bandung. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptifeksploratori dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan periode 2025-2026, wawancara mendalam dengan narasumber dari dinas terkait dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), serta studi komparatif preseden internasional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa di Koridor Braga, konsistensi ruko 2-3 lantai dan garis sempadan bangunan (GSB) nol meter tetap terjaga namun terancam oleh intensitas pembangunan tinggi dari regulasi zonasi. Sementara itu, Koridor Asia Afrika terfragmentasi menjadi dua karakteristik: Segmen 1 menghadapi ancaman dominasi visual menara tinggi yang memerlukan intervensi sistem podium empat lantai, sedangkan Segmen 2 mengalami ambivalensi morfologi akibat kebijakan parkir depan (setback) masa lalu yang memutus kontinuitas dinding jalan monumental. Kesimpulan penelitian ini merumuskan pedoman pembangunan BNCB melalui mekanisme pengendalian “Dual-Gate Permit” mengintegrasikan aspek administratif zonasi dengan audit sensitivitas desain oleh TACB. Pedoman ini menetapkan kewajiban pengembalian GSB nol meter secara mutlak, penerapan sistem podium dan desain step-back, serta penggunaan prinsip "To the Present" dengan transparansi kaca lantai dasar lebih dari 70% guna menjamin kualitas ruang publik pejalan kaki di kawasan bersejara.

2026
👤 Penulis: Muhammad Yusrizal Azhar
🏷️ Kawasan Cagar Budaya 🏷️ Desain Urbanisasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Bangunan

KETENTUAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DI KORIDOR JALAN L.L.R.E.MARTADINATA KOTA BANDUNG

Kawasan cagar budaya merupakan bagian penting dari identitas kota karena mengandung nilai historis, sosial, dan arsitektural yang membentuk karakter ruang perkotaan. Namun, dinamika pembangunan dan intensifikasi kegiatan ekonomi sering kali menimbulkan tekanan terhadap keberlanjutan kawasan bersejarah. Koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung merupakan salah satu kawasan cagar budaya yang mengalami transformasi signifikan dari kawasan hunian kolonial menjadi koridor perdagangan dan jasa. Perubahan fungsi tersebut memicu berbagai bentuk intervensi fisik yang berpotensi menurunkan integritas visual, karakter kawasan, serta nilai signifikansi budayanya. Persoalan utama yang dihadapi adalah belum tersedianya ketentuan pengendalian pembangunan kawasan yang bersifat operasional, kontekstual, dan selaras dengan karakter budaya kawasan. Penelitian ini bertujuan merumuskan ketentuan pengendalian pembangunan dalam pelestarian kawasan cagar budaya di Koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata Kota Bandung. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan strategi studi kasus, metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan studi dokumen. Analisis dilakukan secara normatif, visual, morfologi kota, dan deskriptif–komparatif untuk mengidentifikasi karakter kawasan, prinsip pelestarian, serta persoalan empiris pembangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan fisik bangunan, dominasi visual bangunan baru, alih fungsi ruang publik, serta penambahan elemen komersial yang tidak kontekstual menjadi isu utama pelestarian kawasan. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan mekanisme pengendalian pembangunan berbasis design control yang mencakup prinsip, indikator, komponen pengendalian, serta pedoman perancangan dan prosedur design review. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis bagi kajian perancangan kota dan kontribusi praktis sebagai rujukan pengendalian pembangunan kawasan cagar budaya di Kota Bandung.

2026
👤 Penulis: Zahra Saffa Zafira
🏷️ Kawasan Cagar Budaya 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Kontekstual

PENATAAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG YANG MENDUKUNG KAWASAN CAGAR BUDAYA

Secara umum, ruang publik terbuka adalah area yang mendukung kebutuhan manusia untuk berkumpul dan berinteraksi, menyediakan tempat yang sesuai untuk berbagai aktivitas. Ruang publik berperan penting dalam perkembangan wilayah karena menyediakan aksesibilitas, jalur komunikasi, dan tempat untuk bermain serta bersantai. Kualitas ruang publik ditentukan oleh kenyamanan, citra positif, aksesibilitas, konektivitas, dan tingkat interaksi sosial. Kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) di Palembang adalah contoh ruang publik yang kaya akan nilai historis dan berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial serta wisata. Keberadaan ruang terbuka publik di perkotaan seperti Palembang, termasuk Kawasan BKB, sangat penting untuk interaksi sosial dan destinasi wisata. BKB, yang bersejarah dari abad ke-18, telah dijadikan ruang publik dan wisata, namun menghadapi tantangan dalam perawatan dan daya tariknya. Upaya pembenahan oleh pemerintah bertujuan menjadikan BKB sebagai tujuan wisata dengan perhatian khusus pada pelestarian cagar budaya dan peningkatan fasilitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur keberhasilan ruang terbuka publik serta mengevaluasi kegiatan perbaikan dan pengembangan kawasan melalui peningkatan kualitas penataan bangunan dan lingkungan yang mampu memberdayakan aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya. Selain itu, penelitian ini bertujuan agar kegiatan penataan kawasan dapat memberikan karakter khusus berdasarkan potensi yang dimiliki, sehingga kawasan tersebut mampu menampilkan karakteristik kebudayaan dan menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap kota yang ditinggali. Untuk mecapai tujuan terdapat sasaran yang perlu dipenuhi yaitu, terindentifikasinya aspek dan indikator yang memengaruhi keberhasilan ruang terbuka publik yang baik di kawasan cagar budaya, teridentifikasinya fakta lapangan yang menunjukkan potensi dan persoalan yang terjadi di ruang terbuka publik di Kawasan Benteng Kuto Besar, terukurnya kualitas ruang terbuka publik berdasarkan metode Public Space Index dan Importance Performance Analysis yang ada, teridentifikasinya peran dan kepentingan para stakeholder yang berpengaruh dan terdampak dalam penataan ruang terbuka publik yang mendukung kawasan cagar budaya dan termuskannya pertimbangan dan komponen yang perlu di tata pada ruang terbuka publik di kawasan cagar budaya berdasarkan persoalaniii dan berbagai kebijakan. Setelah itu dilanjutkan dengan pengukuran dan analisis. Tahapan penelitian ini dimulai dengan merumuskan isu persoalan yang dimuat pada latar belakang, merumuskan tujuan penelitian dilanjutkan melakukan kajian teori berdasarkan literatur yang berkaitan, menyusun metodologi kemudian melakukan survey serta analisis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif & kuantitatif (mix method) dengan pendekatan deskriptif eksploratif dengan tujuan mendeskripsikan objek penelitian ataupun hasil penelitian. Hasil studi didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan ruang terbuka publik berdasarkan kajian literatur seperti inclusiveness, meaningfull activities, comfort, safety, pleasurability, makna, budaya, kreatifitas. Faktor-faktor ini yang selanjutnya menjadi variabel dalam pengukuran keberhasilan ruang terbuka publik. Kemudian didapatkan juga kondisi faktual berupa perosalaan dan potensi yang ada dinilai melalui observasi menggunakan variabel tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan importance performance analysis (IPA) untuk mengevaluasi dan memahami persepsi pengguna terhadap suatu layanan atau fasilitas hasilnya didapatkan 4 kuadran berisi masing-masing atribut yang perlu diprioritaskan penataannya maupun yang sudah baik sekalipun. Selanjutnya mencari stakeholder mana yang memiliki peran paling berpengaruh dalam penataan ruang terbuka publik di Kawasan BKB melalui stakeholder mapping. Selanjutnya termuskannya rekomendasi ruang terbuka publik di Kawasan BKB berdasarkan hasil kondisi faktual lapangan dan persepsi pengguna dan dibantu dengan stakeholder yang berwenang berdasarkan derajat pengaruh dan kepentingannya.

2024
👤 Penulis: Sabrina Alifia Zahra
🏷️ Ruang Publik 🏷️ Kawasan Cagar Budaya 🏷️ Peningkatan Fasilitas
💬