📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN BERBASIS FUZZY LOGIC PADA KOTA RAWAN MULTIHAZARD STUDI KASUS: KOTA PALU

Perkembangan kawasan perkotaan pada wilayah rawan multi-bencana menghadirkan tantangan mendasar dalam praktik penataan ruang, terutama dalam memastikan bahwa ekspansi permukiman tetap selaras dengan daya dukung biofisik dan batas keselamatan geologis. Kota Palu merupakan salah satu kota yang berkembang pada lanskap tektonik aktif dengan ancaman majemuk berupa sesar aktif, likuifaksi, gerakan tanah, tsunami, dan banjir. Pasca-bencana tahun 2018, pemerintah menetapkan Peta Zona Rawan Bencana (ZRB) sebagai instrumen regulatif mitigasi bencana dalam penataan ruang. Namun demikian, pendekatan evaluasi kesesuaian lahan konvensional yang berbasis klasifikasi diskrit maupun agregasi linier kompensatoris berpotensi menghasilkan fenomena kompensasi antar-variabel, dimana nilai tinggi pada variabel utilitas ruang dapat menutupi tingkat kerawanan bahaya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen evaluasi kesesuaian lahan permukiman berbasis logika fuzzy yang mampu mengintegrasikan dimensi potensi ruang dan kendala bahaya secara lebih terstruktur, serta mengevaluasi tingkat konsistensi spasial antara distribusi permukiman eksisting dan alokasi kawasan permukiman dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Palu terhadap indeks kesesuaian lahan yang dihasilkan. Penelitian menggunakan pendekatan deduktif-kuantitatif melalui pemodelan Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) berbasis Sistem Informasi Geografis. Variabel analisis disusun ke dalam dua sub-model utama, yaitu submodel potensi ruang yang mengintegrasikan parameter topografi dan aksesibilitas,ii serta sub-model kendala yang berbasis Zona Rawan Bencana. Transformasi variabel dilakukan menggunakan fungsi keanggotaan fuzzy untuk menghasilkan derajat kesesuaian kontinu pada rentang 0,0–1,0. Integrasi variabel potensi ruang dilakukan menggunakan operator Fuzzy Gamma, sementara zona bahaya ekstrem dan kawasan lindung RTRW diperlakukan sebagai pembatas absolut melalui mekanisme masking biner. Stabilitas model kemudian diuji melalui analisis sensitivitas terhadap variasi parameter gamma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model evaluasi yang dikembangkan mampu merepresentasikan distribusi spasial kesesuaian lahan secara konsisten dengan karakteristik fisik wilayah Kota Palu. Zona dengan tingkat kesesuaian tinggi terkonsentrasi pada wilayah dataran lembah Palu yang memiliki topografi relatif datar dan aksesibilitas yang baik, sedangkan wilayah perbukitan serta koridor sesar aktif menunjukkan nilai kesesuaian yang sangat rendah hingga nol mutlak. Hasil uji sensitivitas menunjukkan korelasi spasial antar-skenario parameter gamma di atas 0,997, yang mengindikasikan bahwa model memiliki tingkat stabilitas yang tinggi terhadap perubahan parameter integrasi. Evaluasi konsistensi spasial menunjukkan bahwa sebagian permukiman eksisting masih berada pada area dengan tingkat kesesuaian sangat rendah akibat persinggungan dengan zona pembatas, sementara alokasi kawasan permukiman dalam RTRW secara umum menunjukkan tingkat kesesuaian yang relatif sebanding dengan distribusi kesesuaian lahan eksisting. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka evaluasi kesesuaian lahan berbasis logika fuzzy yang secara eksplisit memisahkan variabel potensi ruang dan variabel pembatas bahaya dalam struktur model hierarkis, serta menempatkan regulasi Zona Rawan Bencana sebagai baseline normatif dalam proses evaluasi kesesuaian ruang. Pendekatan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan metode evaluasi spasial yang lebih sensitif terhadap bahaya bencana dalam konteks perencanaan kota pada wilayah rawan multi-bencana.

2026
👤 Penulis: Ismail Djohan
🏷️ Kawasan Permukiman 🏷️ Penataan Ruang 🏷️ Zona Rawan Bencana

EVALUASI KEBERLANJUTAN KAWASAN PERMUKIMAN PASCA PROGRAM PENANGANAN KUMUH DI KELURAHAN CIBADAK, KOTA BANDUNG

Sebagai bentuk komitmen terhadap pemenuhan hak seluruh masyarakat Indonesia terhadap permukiman yang layak huni, Pemerintah Indonesia memiliki sasaran untuk Indonesia bebas kawasan dari kumuh di tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah menyelenggarakan berbagai macam program peningkatan kualitas kumuh yang berorientasi pada prinsip berkelanjutan seperti Program KOTAKU di berbagai daerah termasuk Kota Bandung. Namun berdasarkan studi serupa, didapatkan bahwa Program KOTAKU hanya dapat mendukung kondisi permukiman yang ditingkatkannya hanya sebatas pada kondisi cukup berkelanjutan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Program KOTAKU yang hanya berfokus pada infrastruktur dan kondisi fisik lingkungan dapat mendukung terwujudnya suatu kawasan permukiman yang berkelanjutan sesuai dengan apa yang dirumuskan pada tujuan programnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keberlanjutan permukiman yang telah ditangani oleh Program KOTAKU menggunakan metode RAPFISH yang dapat menentukan nilai keberlanjutan objek analisis dan faktor pengungkit dari variabel keberlanjutan yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan RW 07 Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar memiliki tingkat keberlanjutan sebesar 64,598, dengan tingkat keberlanjutan dicapai pada aspek sosial dan hukum dan kelembagaan, tingkat keberlanjutan yang cukup pada aspek lingkungan dan infrastruktur, dan kurang berkeberlanjutan pada aspek ekonomi.

2026
👤 Penulis: Ali Garda Muhammad
🏷️ Kawasan Permukiman 🏷️ Program Kotaku 🏷️ Analisis Keberlanjutan

PERANCANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PULO GEULIS PUSAT KOTA BOGOR DENGAN KONSEP ACTIVE DESIGN

Perkembangan urbanisasi telah memberikan dampak signifikan terhadap perubahan lingkungan perkotaan, termasuk peningkatan gaya hidup sedentery di kalangan masyarakat perkotaan. Gaya hidup ini ditandai dengan pola aktivitas pasif, seperti duduk dalam waktu lama dan melakukan kegiatan berdiam lainnya dengan minim pergerakan fisik, yang berimplikasi negatif terhadap kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko kesehatan, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular. Salah satu faktor yang memengaruhi tingkat aktivitas fisik masyarakat adalah bentuk dan kualitas lingkungan perkotaan yang mendukung pergerakan aktif, seperti aktivitas berjalan kaki, bersepeda, atau berolahraga. Kawasan Permukiman Pulo Geulis memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan aktif, karena lokasinya yang strategis di pusat kota dan karakteristik mobilitas yang dinamis. Namun, rendahnya kualitas fasilitas dan bentuk lingkungan perkotaan, seperti trotoar yang tidak memadai, ketidaktersediaan jalur sepeda, akses moda transportasi yang terbatas, serta kurangnya ruang terbuka publik, mengakibatkan masyarakat cenderung memilih aktivitas yang minim akan pergerakan dan lebih sering menggunakan kendaraan pribadi. Prinsip active design dapat menjadi respon dengan mendorong aktivitas fisik melalui penciptaan ruang kota yang terhubung, aman, inklusif, atraktif, dan berkelanjutan secara konteks pergerakan lokal. Penerapan prinsip desain aktif pada perancangan Kawasan Permukiman Pulo Geulis diharapkan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pergerakan aktif serta menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan mendukung kualitas hidup yang lebih baik.

2024
👤 Penulis: Jasin Gumilar
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Active Design 🏷️ Kawasan Permukiman

ARAHAN PENYEDIAAN PERUMAHAN DI KAWASAN PERKOTAAN PURWAKARTA BERDASARKAN KETERSEDIAAN LAHAN POTENSIAL UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DAN PERMINTAAN PERUMAHAN

Lahan merupakan tempat yang dibutuhkan dalam menyuplai keperluan masyarakat. Peningkatan jumlah penduduk dapat mempengaruhi pertumbuhan suatu wilayah, dan berdampak kepada supply lahan yang terbatas. Keterbatasan lahan ini dapat disebabkan oleh adanya tuntutan dalam kelangsungan kebutuhan hidup masyarakat untuk permukiman. Adanya kenaikan jumlah penduduk yang tidak dapat dihindari, memunculkan beberapa permasalahan dalam pengalokasian ruang. Kabupaten Purwakarta terkhusus kawasan Perkotaan Purwakarta merupakan ibukota Kabupaten mengakibatkan urbanisasi, bersumber Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Purwakarta di tahun 2018 mencatat sebanyak 1.348 jiwa penduduk yang datang ke Kecamatan Purwakarta. Bersumber dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Purwakarta Tahun 2011 – 2031 terdapat rencana pola ruang berupa Kawasan Permukiman Perkotaan seluas 8161,01 Ha, dan rencana kawasan permukiman perdesaan seluas 6576,42 Ha. Penelitian menggunakan jenis penelitian eksploratif yang dimana untuk mencari hubungan gejala-gejala yang hendak diteliti antara ketersediaan lahan potensial dengan permintaan perumahan. Berdasarkan analisis ketersediaan lahan potensial kawasan perkotaan Purwakarta memiliki luas lahan potensial 1297,56 Ha. Maka, arahan penyediaan perumahan di kawasan Perkotaan Purwakarta untuk lahan potensial yang tinggi dapat membangun perumahan dengan komposisi 3:2:1, sedangkan lahan potensial yang rendah menggunakan sistem rumah sewa.

2024
👤 Penulis: Dita Mulyani
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Lahan 🏷️ Kawasan Permukiman
💬