📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenEVALUASI KESIAPAN KAWASAN JAKARTA INTERNATIONAL STADIUM SEBAGAI SARANA PUBLIK BERSTANDAR INTERNASIONAL
Stadion pada dasarnya adalah suatu sarana umum yang digunakan untuk kegiatan berolahraga yang dikelilingi oleh tribun penonton. Namun, seiring perkembangan zaman, stadion kini dirancang dengan fleksibilitas untuk menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan selain kegiatan olahraga, seperti konser musik, festival budaya, hingga kegiatan sosial, bisnis, dan politik. Perkembangan paradigma ini memposisikan stadion sebagai katalisator perkembangan perkotaan. Perkembangan ini juga menjadikan stadion tidak hanya sekadar objek bangunan yang berdiri sendiri, melainkan suatu kawasan yang harus didukung oleh sarana pendukung lainnya agar tidak menimbulkan dampak negatif pada aktivitas perkotaan secara keseluruhan. Jakarta International Stadium (JIS) merupakan stadion terbesar di Indonesia dengan kapasitas 82.000 penonton yang berlokasi di Jakarta Utara. Kawasan JIS memiliki potensi untuk menghasilkan peningkatan pergerakan yang masif dalam jendela waktu yang sempit pada saat penyelenggaraan kegiatan di sarana tersebut. Namun, terdapat kesenjangan antara potensi kawasan JIS dengan kesiapan kawasannya dalam mengakomodasikan peningkatan pergerakan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesiapan kawasan Jakarta International Stadium sebagai sarana publik berstandar internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluasi semu dengan sifat kuantitatif deskriptif yang didukung oleh data dari observasi lapangan pada kondisi normal dan pada kondisi pelaksanaan kegiatan. Perangkat evaluasi yang digunakan terdiri dari 5 kriteria yang dirincikan dengan indikatornya masing-masing. Berdasarkan hasil evaluasi, kawasan JIS memiliki tingkat kesiapan hanya dalam kategori cukup, hal ini menunjukkan kawasan ini belum sepenuhnya siap. Hal ini tentunya memerlukan upaya peningkatan agar kawasan JIS dapat memenuhi kategori siap dan permasalahan yang timbul ketika pelaksanaan kegiatan di kawasan JIS dapat diminimalisir.
WALKABILITY DAN KONTESTASI RUANG KOTA MELALUI PERSPEKTIF MOBILITY (STUDI KASUS: AREA TROTOAR BALUBUR TOWN SQUARE, BANDUNG)
Penelitian ini mengeksplorasi transformasi fungsi trotoar menjadi ruang multifungsi dan konsekuensinya terhadap walkability (kemampuan berjalan kaki) di Kawasan Balubur Town Square (Baltos), Bandung. Dengan paradigma new mobilities yang menempatkan pergerakan sebagai praktik sosial-politik antara relasi manusia dengan infrastruktur, penelitian ini menganalisis dinamika walkability pada trotoar Balubur Town Square (Baltos), Bandung, dengan fokus pada kontestasi ruang. Kawasan Balubur Town Square (Baltos) merupakan salah satu kawasan di Kota Bandung yang menjadi titik multi aktivitas karena lokasinya yang strategis, berdekatan dengan Jalan Layang Pasupati dan kawasan padat penduduk. Metode yang digunakan bersifat kualitatif: observasi, wawancara semi-terstruktur dengan aktor kunci, serta analisis performatif dengan staging mobilities dipadukan pandangan material semiotika yang menggambarkan bagaimana interaksi manusia dengan objek di sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun trotoar secara formal dirancang sebagai koridor pejalan, secara empiris trotoar tersebut mengalami pergeseran fungsi menjadi ruang ekonomi melalui proses yang dilakukan secara rutin dan terorganisir. Proses ini memproduksi ketidaksetaraan mobilitas (subjek differently mobile) dan melemahkan keadilan prosedural bagi kelompok rentan. Analisis dengan kerangka staging mobilities memperlihatkan dikotomi antara staging from above (desain infrastruktur, kebijakan) dengan staging from below (interaksi sosial dan aktivitas informal). Pembacaan dengan analisis material semiotika memperjelas bahwa keduanya berinteraksi dan saling mempengaruhi dalam membentuk aktivitas yang kini dominan di kawasan Baltos. Temuan menegaskan perlunya kombinasi intervensi desain material strategis dan mekanisme partisipatif untuk merestorasi fungsi trotoar sebagai ruang publik yang adil dan inklusif.