📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenPENATAAN KAWASAN TRANSIT RAMAH PEJALAN KAKI DI STASIUN BANDUNG-KEBON KAWUNG-PASIRKALIKI
Kawasan transit Stasiun Bandung berperan sebagai simpul transportasi publik yang strategis, namun saat ini menghadapi persoalan dalam menyediakan lingkungan yang ramah pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan penataan kawasan transit yang ramah pejalan kaki di Stasiun Bandung–Kebon Kawung– Pasirkaliki. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan delapan indikator komponen Walk dan Connect dari ITDP TOD Standard 3.0 dengan analisis konfigurasional space syntax (segment integration dan segment choice) sebagai pendekatan komplementer. Hasil pengukuran menunjukkan ketidakselarasan sistematik kawasan studi. Komponen Connect mencapai skor agregat 88,89% (kategori sangat baik) yang menandakan kerangka jaringan permeabel, sementara komponen Walk berada pada skor 0% yang menandakan defisit menyeluruh kondisi mikro infrastruktur pejalan kaki. Analisis space syntax mengungkap struktur konfigurasional berupa "bingkai kotak" empat koridor utama (Pajajaran, Otto Iskandardinata, Kebon Jati–Suniaraja, dan Pasirkaliki) yang dilengkapi "poros tunggal" Pasirkaliki, serta ketidakselarasan konfigurasional Stasiun Bandung dengan kerangka utama kawasan. Sintesis lintas-pendekatan menghasilkan klasifikasi empat kategori peran segmen sebagai dasar prioritisasi penataan, yaitu Koridor Utama Konfigurasional, Zona Pengaruh Stasiun, Koridor Penghubung Sekunder, dan Jaringan Kapiler Permukiman. Penelitian ini memberikan kontribusi metodologis berupa integrasi pendekatan ITDP TOD Standard dengan space syntax, dan kontribusi substantif berupa diagnosis kawasan transit kolonial Indonesia: kawasan tidak menderita ketiadaan modal struktural, melainkan kegagalan mengaktualkan modal yang sudah tersedia menjadi pengalaman pejalan kaki yang nyata.
KAJIAN OPTIMALISASI JARINGAN DAN TATA BANGUNAN PADA KAWASAN TRANSIT DUKUH ATAS JAKARTA DENGAN EVALUASI UNA (URBAN NETWORK ANALYSIS)
Kawasan TOD Dukuh Atas merupakan pengembangan kawasan transit pertama dengan lima jenis moda transportasi publik di Jakarta, yakni MRT Jakarta, BRT TransJakarta, kereta bandara, kereta commuterline, dan LRT Jabodebek. Namun posisinya saat ini menyebabkan sejumlah titik transit dalam Kawasan TOD Dukuh Atas sulit untuk terintegrasi. Selain terbelah oleh Sungai Ciliwung dan Jalan Sudirman yang membagi kawasan transit menjadi empat kuadran, lokasi TOD Dukuh Atas juga berbatasan dengan zona hunian cagar budaya Menteng. Hal ini memerlukan perhatian yang berbeda dalam meningkatkan kepadatan kawasan transit TOD Dukuh Atas. Untuk mengajukan rekayasa jaringan struktur dan komposisi tata bangunan pada ragam aktivitas ruang kota, maka perlu dilakukan analisis dampak sentralitas dengan metode kuantitatif: Urban Network Analysis (UNA). Perangkat analisis dengan metode UNA yang digunakan dalam riset ini adalah: Reach Index, Gravity Index, Betweenness Index, Straightness Index, dan Closeness Index. Kelima perangkat analisis sentralitas ini akan diterapkan pada kondisi eksisting, kondisi penyesuaian dengan PRK (Panduan Rancang Kota) Kawasan TOD Dukuh Atas, kondisi ajuan rekayasa dua alternatif, dan hasil interasi ajuan studi desain. Sehingga didapat komposisi pola jaringan dan tata bangunan dengan sebaran ragam aktivitas yang optimal untuk kondisi pengembangan Kawasan TOD Dukuh Atas. Perbedaan kebutuhan rekayasa antara kawasan berkepadatan tinggi pada area transit dan kawasan kepadatan rendah pada area cagar budaya berdampak pada kebutuhan yang berbeda di antara kelima perangkat analisis. Hasilnya, pada pengembangan kawasan transit berkepadatan tinggi, diperlukan nilai sentralitas reachness, gravity, dan straightness yang tinggi, sedangkan pada kawasan cagar budaya residensial berkepadatan rendah dibutuhkan nilai sentralitas straightness dan betweenness yang tinggi untuk kemudahan akses menuju fasilitas kawasan. Desain yang diajukan telah memenuhi kondisi ini dan mempertahankan nilai straightness dan betweenness yang baik. Kajian ini bermanfaat untuk mengetahui bagaimana kelima perangkat analisis UNA (Urban Network Analysis) dapat digunakan pada karakter kawasan yang berbeda dan menjadi contoh kasus studi yang melibatkan kawasan berorientasi transit dan kawasan hunian cagar budaya dengan metode analisis Urban Network Analysis (UNA).
PENILAIAN FASILITAS PEJALAN KAKI KAWASAN STASIUN MRT (STUDI KASUS : STASIUN MRT LEBAK BULUS GRAB)
Berjalan kaki adalah salah satu poin kunci dalam menilai kualitas transportasi perkotaan, begitu juga dengan kualitas pelayanan angkutan umum, aksesibilitas, dan konektivitas penggunaan lahan. Penyediaan fasilitas pejalan kaki merupakan bagian penting dalam mewujudkan pembangunan dan pengembangan transportasi dengan konsep transprtasi yang berkelanjutan (sustainable development), sehingga penyelenggaraan fasilitas pejalan kaki harus mengakomodir perspektif masyarakat terhadap fasilitas pejalan kaki dan pola perjalanan kaki eksisting. Untuk itu, diperlukan penilaian yang dapat menggabungkan kedua perspektif tersebut demi mewujudkan fasilitas pejalan kaki dengan memadukan kedua perspektif tersebut. Tujuan dari penelitian ini melakukan penilaian terhadap penyediaan fasilitas pejalan kaki berdasarkan kombinasi antara performa (kondisi eksisting) dan perspektif pejalan kaki sehingga dapat menghasilkan rekomendasi peningkatan dan perbaikan fasilitas pejalan kaki pada kawasan transit (transportasi publik). Metode yang digunakan pada penilitian ini ada 3 yakni pertama Indeks Kelayakan Berjalan (IKB) untuk menilai performa fasilitas pejalan kaki eksisting, kedua survey lapangan untuk mendapatkan jarak aktual dari point of interest sampai security check di concourse , dan ketiga Level of Acceptance (LOA) untuk mengukur perspektif pejalan kaki terhadap fasilitas pejalan kaki. Adapun pedoman yang digunakan pada penelitian ini adalah Pedoman Bina Marga Penentuan Indeks Kelayakan Berjalan di Kawasan Perkotaan No.05/P/BM/ 2023. Penelitian ini menganalisis kondisi jaringan pejalan kaki di kawasan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab dengan 9 rute berdasarkan Pedoman Bina Marga tahun 2023. Hasil penilaian menunjukkan bahwa rata-rata Indeks Kelayakan Berjalan kawasan tersebut masuk kategori baik dengan skor 71,28. Detail penilaian untuk masing-masing rute menunjukkan variasi dari cukup baik hingga sangat baik, dengan fokus pada parameter IKB kondisi jalur pejalan kaki, fasilitas pendukung, penghalang, keamanan, dan konflik dengan moda transportasi lainnya. Pola pergerakan pejalan kaki didominasi oleh pengguna dengan karakteristik Captive, Natural, dan Choice.