📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenANALISIS RISIKO PAJANAN DEBU MIKROPLASTIK TERESPIRASI TERHADAP GANGGUAN KESEHATANPERNAPASAN PADA PEKERJA DI INDUSTRI PVC COMPOUND DI KABUPATEN TANGERANG
Industri polyvinyl chloride (PVC) compound di Kabupaten Tangerang yang meliputi pencampuran, penggilingan, dan ekstrusi resin PVC beserta bahan aditifnya berpotensi melepaskan partikel respirabel dust, termasuk mikroplastik terespirasi, ke udara lingkungan kerja. Partikel tersebut dapat terhirup oleh pekerja dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pernapasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi respirabel dust dan karakteristik mikroplastik terespirasi di udara kerja, menilai fungsi paru pekerja beserta hubungannya dengan pajanan, serta menghitung tingkat risiko kesehatan menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian menggunakan desain observasional cross-sectional terhadap 40 responden (30 kelompok terpajan dan 10 kelompok kontrol). Data dikumpulkan melalui pengukuran gravimetri respirable dust, identifikasi jenis polimer dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) ATR, serta uji fungsi paru menggunakan spirometer, kemudian dianalisis melalui perhitungan Chronic Daily Intake (CDI) dan Hazard Quotient (HQ). Hasil menunjukkan konsentrasi respirable dust pada kelompok terpajan sebagian besar masih di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) 3 mg/m³, namun dua titik (S29 dan S30) melewati nilai ambang batas, yaitu 3,7 dan 3,2 mg/m³, dan berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p=0,002). Mikroplastik dominan teridentifikasi sebagai polyethylene, yaitu chlorosulfonated polyethylene turunan polietilena yang lazim digunakan sebagai bahan aditif atau pemodifikasi dalam PVC compound dengan nilai kecocokan spektrum (hit quality) 93 yang menunjukkan tingkat keyakinan identifikasi yang tinggi. Jumlah mikroplastik pada kelompok terpajan (27–480 partikel/sampel) jauh lebih tinggi daripada kelompok kontrol (27–58 partikel/sampel), dengan bentuk pelet (5.475 partikel) dan fiber (2.467 partikel) paling dominan. estimasi asupan (CDI) mikroplastik PE melalui inhalasi pada kelompok terpajan berkisar 22,7–579,7 partikel/kg.hari dibandingkan 25,6–55,0 partikel/kg.hari pada kelompok kontrol. Karakterisasi risiko memperoleh rata-rata HQ kelompok terpajan sebesar 1,2579±1,7782 (maksimum 7,2494), dengan 8 dari 30 pekerja (26,6%) berada pada kategori tidak aman (HQ>1), sedangkan seluruh kelompok kontrol tergolong aman. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara CDI mikroplastik dan penurunan fungsi paru (FVC p=0,919; FEV? p=0,928). Penelitian merekomendasikan pengendalian teknis berupa Local Exhaust Ventilation berfiltrasi HEPA dan surveilans kesehatan berkala.
ANALISIS DAMPAK PAJANAN PM2.5 TERHADAP KESEHATAN PEKERJA PANDAI BESI DI DESA MEKARMAJU, KECAMATAN PASIRJAMBU, KABUPATEN BANDUNG
Industri pandai besi merupakan sektor informal yang berpotensi menghasilkan pencemaran udara berupa partikulat halus PM2.5 dari proses pembakaran dan penempaan logam. Paparan PM2.5 secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan penurunan fungsi paru pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi PM2.5 di lingkungan kerja, menghitung nilai intake dan risiko kesehatan pekerja, serta menganalisis pengaruh intake PM2.5 terhadap fungsi paru pekerja pandai besi di Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan menggunakan alat PurpleAir PA-II pada beberapa titik lokasi kerja. Subjek penelitian terdiri atas 20 pekerja pandai besi dan 10 responden kontrol. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji ANCOVA dengan pengendalian variabel usia, berat badan, lama kerja, dan status merokok. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 sebesar 101,82 µg/m³, melebihi baku mutu PM2.5 berdasarkan Permenkes RI No. 2 Tahun 2023 sebesar 25 µg/m³. Sebagian besar pekerja memiliki nilai Hazard Quotient (HQ) > 1 yang menunjukkan adanya potensi risiko non-karsinogenik. Hasil uji ANCOVA menunjukkan bahwa intake PM2.5 berpengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC setelah dikontrol oleh variabel kovariat (p<0,05). Selain itu, berat badan juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan intake PM2.5 berpotensi menurunkan fungsi paru pekerja pandai besi. Upaya pengendalian diperlukan melalui peningkatan ventilasi, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan pemantauan kualitas udara secara berkala.
KAJIAN PENGEMBANGAN SAFETY LEADERSHIP TERHADAP SAFETY CULTURE DALAM MENINGKATKAN SAFETY PERFORMANCE K3 DI PROYEK KONSTRUKSI STUDI KASUS: PROYEK KERETA CEPAT JAKARTA - BANDUNG (HSRCC SEKSI III JEMBATAN, SUBGRADE DAN STASIUN)
Abstrak bisa dilihat di filenya