π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenPEMBUATAN PETA ZONA TAMBAHAN BERDASARKAN PETA GARIS PANGKAL UNTUK PERCEPATAN PENANGANAN MASALAH PENYELUNDUPAN DAN PELANGGARAN BATAS LAUT TERITORIAL INDONESIA
Indonesia merupakan Negara Kepulauan (Archipelagic State) yang memiliki wilayah perairan yang mencakup 2/3 dari luas wilayah keseluruhan. Oleh karena itu, ketersedian peta sangat diperlukan, terutama yang berkaitan dengan informasi batas laut. Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memperjelas dan menegaskan batas wilayah lautnya termasuk batas Zona Tambahan yang didalamnya Indonesia memiliki hak untuk mengatur kewenangan yang berkaitan dengan bea cukai, fiskal, imigrasi dan saniter. Implementasi informasi Zona Tambahan Indonesia ditinjau dari kepentingan beberapa instansi yang dikaitkan dengan kebutuhan akan Peta Batas Zona Tambahan. Dengan demikian dapat dirumuskan hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam penetapan Zona Tambahan di Indonesia dengan hasil akhir berupa Peta Zona Tambahan Indonesia. Peta tersebut digunakan oleh para instansi yang berwenang pada Zona Tambahan Indonesia dan dapat dimaksimalkan untuk percepatan penanganan masalah kriminalitas di Laut Teritorial Indonesia, terutama dalam permasalahan penyeludupan dan pelanggaran batas laut.
PENGARUH TRANSPORTASI PUBLIK DALAM PENGEMBANGAN DAYA TARIK WISATA PERKOTAAN (STUDI KASUS : KAWASAN KOTA TUA, PROVINSI DKI JAKARTA)
Transportasi publik memiliki peran strategis dalam mengatasi permasalahan aksesibilitas yang ditimbulkan oleh kemacetan lalu lintas, sekaligus mendorong pengembangan pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Penerapan kebijakan Low Emission Zone di Kawasan Kota Tua Jakarta merupakan langkah strategis untuk mengintegrasikan mobilitas rendah emisi dengan peningkatan kualitas pengalaman wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi wisatawan terhadap aksesibilitas transportasi publik, menganalisis pengaruhnya terhadap tingkat kepuasan kunjungan, serta menelaah persepsi manfaat kebijakan Low Emission Zone dari sudut pandang pengelola kawasan dan pelaku usaha lokal. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods), yang mencakup analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui pendekatan network analysis dengan model service area, survei kuantitatif terhadap 438 responden wisatawan, serta wawancara mendalam terhadap 10 informan kunci. Data kuantitatif dianalisis menggunakan analisis faktor eksploratori dan regresi linier, sedangkan data kualitatif diolah melalui teknik reduksi dan kategorisasi tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BRT berperan sebagai simpul transportasi utama dalam mendukung aksesibilitas kawasan wisata. Persepsi positif wisatawan terhadap aksesibilitas transportasi publik terbukti secara signifikan meningkatkan tingkat kepuasan kunjungan. Selain itu, kebijakan Low Emission Zone memberikan dampak positif berupa manfaat sosial dan ekonomi yang dirasakan oleh pengelola kawasan serta pelaku usaha lokal. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan spasial dan berbasis persepsi dalam menilai dampak kebijakan lingkungan terhadap sistem pariwisata perkotaan. Temuan ini memberikan kontribusi konseptual dan praktis dalam pengembangan teori dan kebijakan pariwisata berkelanjutan berbasis integrasi transportasi publik.
IDENTIFIKASI VARIABEL KRITIKAL ANTARA STRATEGI KEBERLANJUTAN DAN BISNIS KORPORAT: STUDI KASUS TERHADAP PT INDOFOOD SUKSES MAKMUR
Dengan terus berkembang ke skala global, PT Indofood Sukses Makmur memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang lebih besar secara sosial, lingkungan, dan etis dalam operasinya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara aktivitas keberlanjutan yang dilakukan Indofood dengan strategi bisnisnya serta mengidentifikasi variabel-variabel penting di antara keduanya. Analisis konten menggunakan perangkat lunak pengkodean ATLAS.ti digunakan untuk secara sistematis meninjau, mencatat, dan mengelompokkan data dari laporan keberlanjutan Indofood ke dalam kategori dan konsep yang telah dikelompokkan berdasarkan referensi. Hasil dari skema pengkodean juga digunakan sebagai dasar untuk analisis co-occurence guna menemukan hubungan antara aktivitas terkait keberlanjutan dan bisnis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendekatan Indofood terhadap strategi keberlanjutan dan bisnisnya dapat dihubungkan melalui kerangka balanced scorecard (BSC), di mana kerangka ini telah diadaptasi untuk memasukkan elemen keberlanjutan yang dikenal sebagai sustainable balanced scorecard (SBSC), seperti yang telah dieksplorasi dalam penelitian sebelumnya. Terdapat pola yang jelas antara aktivitas terkait keberlanjutan, seperti emisi gas rumah kaca (GRK), keanekaragaman hayati, dan pengembangan komunitas dengan aktivitas-aktivitas terkait bisnis, seperti kinerja keuangan dan efisiensi operasional. Indofood juga dapat mengintegrasikan banyak aktivitas keberlanjutannya ke dalam proses internal dan aktivitas kapasitas organisasinya berdasarkan kerangka SBSC.
PENERAPAN KEBIJAKAN ZERO DELTA Q DALAM PERENCANAAN DRAINASE KAWASAN METLAND KERTAJATI
Sistem drainase dikembangkan untuk menangani adanya runoff. Mulanya, sistem drainase dibangun dengan pendekatan untuk mengalirkan runoff dari kawasan terbangun secepat mungkin. Akan tetapi, pendekatan tersebut menimbulkan permasalahan berupa peningkatan debit puncak, volume runoff, dan polusi dari kawasan terbangun. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan sistem drainase ramah lingkungan. Manajemen runoff pada sistem drainase ramah lingkungan dilakukan dengan pendekatan untuk mereplikasi mereplikasi pola drainase alami dari suatu kawasan. Dalam pengerjaan tugas akhir ini, dilakukan perencanaan sistem drainase ramah lingkungan di kawasan Metland Kertajati. Perencanaan meliputi desain saluran terbuka, pompa, kolam retensi, dan bioretention. Perencanaan sistem drainase ramah lingkungan dilakukan dengan bantuan software SWMM 5.2 untuk pemodelan sistem drainase dan HEC-HMS untuk pemodelan aliran dari luar kawasan. Diperoleh besarnya curah hujan rencana dalam perencanaan drainase sebesar 178,121 mm, sistem drainase berupa saluran persegi dengan kedalaman 2 m dan lebar 2 m, empat kolam retensi dengan kedalaman masing-masing 5 meter, dan bioretention sebesar 5% dari setiap subcatchment, dengan rencana anggaran biaya konstruksi saluran drainase sebesar Rp235.925.252.622,00.
KINERJA BUDAYA KESELAMATAN UNTUK MENDUKUNG KEBERLANJUTAN USAHA LAPANGAN MIGAS LEPAS PANTAI YANG TELAH TUA
Studi ini mengkaji determinan kinerja budaya keselamatan di perusahaan minyak dan gas lepas pantai yang sudah matang, dengan fokus pada studi kasus sebuah perusahaan di Indonesia. Faktor-faktor kunci yang diidentifikasi meliputi komitmen manajemen, kepemimpinan keselamatan, sikap pribadi, komunikasi, kompetensi, dan kondisi tempat kerja. Pendekatan metode campuran menggabungkan wawancara kualitatif dan analisis kuantitatif menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Temuan mengungkapkan bahwa komitmen manajemen secara signifikan meningkatkan kepatuhan keselamatan. Kepemimpinan keselamatan berpengaruh positif terhadap kepatuhan dan partisipasi keselamatan, menekankan pentingnya kepemimpinan yang efektif. Sikap pribadi terhadap keselamatan juga berdampak pada kepatuhan dan partisipasi, sehingga menyoroti peran keyakinan individu. Komunikasi sangat penting untuk partisipasi keselamatan, dengan penekanan pada perlunya saluran komunikasi organisasi yang jelas. Kompetensi, melalui pelatihan dan keterampilan, akan memastikan kepatuhan terhadap protokol keselamatan dan partisipasi aktif dalam kegiatan keselamatan. Kondisi tempat kerja, termasuk lingkungan fisik dan organisasi, secara signifikan mempengaruhi kepatuhan dan partisipasi keselamatan. Studi ini menggarisbawahi peran mediasi kepatuhan dan partisipasi keselamatan dalam menerjemahkan komitmen manajemen, kepemimpinan, sikap pribadi, komunikasi, kompetensi, dan kondisi tempat kerja dalam peningkatan kinerja budaya keselamatan. Meningkatkan kepatuhan dan partisipasi keselamatan akan menumbuhkan budaya keselamatan yang kuat. Kontribusi teoretis dari studi ini yaitu model baru yang menghubungkan faktorfaktor tersebut dengan kinerja budaya keselamatan, sehingga memperkaya teori manajemen keselamatan. Secara praktis, studi ini merekomendasikan komitmen manajemen yang lebih kuat, menumbuhkan kepemimpinan keselamatan, mendorong sikap keselamatan yang positif, meningkatkan komunikasi, berinvestasi dalam kompetensi, dan memastikan kondisi tempat kerja yang mendukung. Masih terdapat keterbatasan pada studi ini, yaitu sampel yang digunakan hanya satu perusahaan. Disarankan, penelitian selanjutnya sebaiknya mengeksplorasi konteks yang lebih beragam dan sampel yang lebih besar.
DEGRADASI: KARAT SEBAGAI BENTUK REFLEKSI MANUSIA DARI FENOMENA ANTROPOSEN DALAM KARYA SENI ABSTRAK
Kekaryaan pada Tugas Akhir β(De)gradasiβ berangkat dari observasi terhadap fenomena Antroposen, sebuah istilah yang merujuk pada epoch geologi saat ini yang permasalahan utamanya dikarenakan oleh sifat destruktif manusia yang memiliki dampak signifikan terhadap sistem bumi. Projek Tugas Akhir ini menggunakan metode kualitatif dan eksperimentatif untuk menghasilkan unsurunsur visual yang akan diaplikasikan ke dalam karya. Penciptaan karya ini bertujuan untuk mewujudkan serta memvisualisasikan karat dalam proses penciptaan karya seni, sekaligus sebagai cerminan dampak manusia terhadap fenomena Antroposen. Melalui proses korosif, perlakuan terhadap material dilakukan dengan cara mereduksi material besi (kawat) hingga menjadi jejak-jejak karat secara abstrak di atas permukaan bidang kanvas. Secara implisit, hal tersebut menegaskan posisi seniman (manusia) sebagai agen kerusakan yang memiliki dampak signifikan. Proses ini membuat aspek metaforis terbangun dari hubungan seniman (subjek) dengan material (objek) serta hubungan antar material yang saling berdialog. Hasilnya adalah serangkaian karya yang menyajikan dualitas hubungan manusia-alam: di satu sisi dampak destruktif aktivitas manusia terhadap lingkungan dan di sisi lain kerentanan manusia terhadap kekuatan alam.
PERANCANGAN PENAMPUNGAN AIR HUJAN SEBAGAI UPAYA PENGOPTIMALAN PENGGUNAAN AIR DI KAWASAN PERBUKITAN KARST GUNUNG SEWU (STUDI KASUS : KABUPATEN GUNUNGKIDUL, D.I.Y.)
Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem penampungan air hujan sebagai upaya pengoptimalan penggunaan air di kawasan perbukitan karst Gunung Sewu, dengan studi kasus di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I.Y.). Kawasan ini sering mengalami kekurangan air akibat sifat karst yang menyebabkan air hujan cepat meresap ke dalam tanah, sehingga sulit untuk dimanfaatkan. Dalam penelitian ini, dilakukan analisis terhadap kondisi hidrologi dan geologi kawasan, serta perencanaan teknis penampungan air yang efektif. Metodologi yang digunakan meliputi survei lapangan dan analisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem penampungan air hujan dapat meningkatkan ketersediaan air secara signifikan. Sistem ini menyediakan sumber air alternatif yang berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada air bawah tanah, dan mendukung konservasi lingkungan. Implementasi hasil penelitian ini dapat diterapkan di daerah karst lainnya dengan masalah serupa