📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 18 dokumenPEMETAAN HAMBATAN DAN STRATEGI AKSELERASI KARIER MANAJER PROYEK PEREMPUAN DI KONTRAKTOR BUMN KONSTRUKSI INDONESIA MELALUI PENDEKATAN DEKOMPOSISI KOMPETENSI
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan spesifik yang dihadapi perempuan dalam mencapai posisi Manajer Proyek (L1P) di BUMN Konstruksi Indonesia melalui pendekatan dekomposisi kompetensi standar PMI Talent Triangle (ways of working, power skills, dan business acumen). Industri konstruksi yang kaku dengan dominasi budaya maskulin sering menciptakan fenomena glass ceiling yang menghambat mobilitas karier vertikal perempuan. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) yang terbagi dalam tiga fase: wawancara mendalam untuk validasi kompetensi, kuesioner dengan skala Likert untuk analisis Importance-Performance Analysis (IPA), serta perumusan strategi taktis menggunakan analisis SWOT-TOWS. Hasil penelitian mengidentifikasi empat subkompetensi yang termasuk dalam kategori Krusial—Sulit Dicapai (KSD) sebagai prioritas utama perbaikan, dengan skor (Tingkat Krusialitas; Tingkat Hambatan) sebagai berikut: Servant Leadership (4,643; 3,357), Conflict Management (4,679; 3,500), Emotional Intelligence (4,607; 3,571), dan Agility (4,607; 3,321). Sebagai solusi strategis, penelitian ini merumuskan program Project Manager – Graduate Development Program (PM-GDP) dan Project Manager – Medium Development Program (PM-MDP) sebagai jalur akselerasi karier terstruktur selama enam tahun. Temuan ini menjadi rujukan bagi manajemen BUMN Konstruksi untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif, memitigasi hambatan kultural dan struktural, serta memastikan kesetaraan peluang pengembangan karier bagi perempuan di sektor publik.
NUTRIKITCHEN: PUSAT EDUKASI KULINER DAN PRODUKSI PANGAN BERGIZI UNTUK MENDUKUNG PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, namun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan fasilitas yang mengintegrasikan edukasi gizi, pelatihan keterampilan, produksi, dan distribusi pangan. Oleh karena itu, NutriKitchen dirancang sebagai pusat edukasi kuliner dan produksi pangan sehat yang mengintegrasikan pembelajaran, pengembangan keterampilan, pengolahan makanan, serta distribusi pangan dalam satu ekosistem untuk mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis. Perancangan menekankan terciptanya lingkungan yang edukatif, transparan, dan kolaboratif melalui pengaturan ruang yang mendukung proses belajar, produksi, serta interaksi antar pengguna, sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat ketahanan pangan, dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap penyediaan makanan bergizi.
PERANCANGAN ULANG CITY BRANDING KABUPATEN BANYUMAS SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN CITRA DAERAH
Perkembangan kota menengah dalam satu dekade terakhir menunjukkan meningkatnya persaingan untuk menarik wisatawan, investasi, dan talenta, seiring dengan pergeseran tren wisata menuju pengalaman yang auten k dan berbasis budaya lokal. Kabupaten Banyumas memiliki potensi budaya dan pariwisata yang beragam, namun city branding “Be er Banyumas” yang diluncurkan sejak 2015 belum berjalan opmal karena rendahnya pemahaman masyarakat, kurangnya representasi keunikan daerah, serta ke adaan sistem iden tas visual dan strategi komunikasi yang berkelanjutan. Peneli an ini menggunakan metode design thinking dengan pendekatan kualita f melalui studi literatur, kuisioner, dan wawancara mendalam dengan pemangku kepen ngan. Hasil peneli an menunjukkan bahwa kegagalan city branding Banyumas disebabkan oleh lemahnya perumusan konsep iden tas, minimnya sosialisasi hingga ngkat desa, serta ketergantungan citra pada satu des nasi wisata utama. Hasil luaran peneil an ini merumuskan strategi komunikasi brand yang mampu membangun citra baru Kabupaten Banyumas serta merancang iden tas visual baru Kabupaten Banyumas yang dapat mendukung pembentukan citra baru.
TRANSFORMASI KONSEP ESTETIK DAN KAITANNYA DENGAN RELASI KEKUASAAN DALAM PERKEMBANGAN BATIK DI JAKARTA STUDI KASUS : PROSES KREASI MOTIF BATIK MARUNDA KARYA WENDY SIBARANI
Penelitian ini mengkaji transformasi konsep estetik dan proses kreasi dalam perkembangan batik di Jakarta dan kaitannya dengan relasi kekuasaan, dengan studi kasus proses kreasi motif batik Wendy Sibarani pada tahun 2015-2025. Batik di Jakarta tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya, tetapi berkembang melalui berbagai pengembangan kreatif dalam konteks kebijakan dan dinamika sosial perkotaan. Proses kreasi menunjukkan adanya adaptasi visual sebagai bentuk negosiasi terhadap kebijakan dan regulasi yang berfungsi sebagai intervensi struktural dalam mengarahkan produksi dan pengembangan visual motif. Intervensi tersebut direspons oleh perancang melalui strategi adaptasi dan negosiasi kreatif, sehingga menghasilkan pengembangan motif batik berbasis konsep urban, yang mengindikasikan terjadinya transformasi pada konsep estetik batik. Studi ini bertujuan untuk memahami transformasi konsep estetik batik di Jakarta melalui studi kasus Batik Marunda, dengan menelaah bagaimana perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan kebijakan memengaruhi proses kreasi serta mengarahkan perkembangan visual batik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta analisis visual terhadap karya motif batik rancangan Wendy Sibarani. Pemilihan sumber data dilakukan secara purposive sampling, dengan penerapan triangulasi sumber dan teknik untuk menjaga validitas data. Data primer diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara, sedangkan data sekunder berasal dari kajian literatur, dokumentasi, arsip, dan sumber pendukung lainnya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan kerangka teori transformasi, teori proses kreasi, dan teori kekuasaan untuk menelaah keterkaitan antara konteks kebijakan, proses kreasi, dan perubahan konsep estetik batik di Jakarta. Hasil penelitian ini membuktikan terjadinya transformasi konsep estetika batik di Jakarta, dengan studi kasus motif batik rancangan Wendy Sibarani untuk batik Marunda (2015–2025). Proses kreasi Batik Marunda Jakarta berlangsung dalam pengaruh kebijakan dan regulasi pemerintah sebagai bentuk intervensi struktural. Intervensi tersebut direspons oleh perancang melalui adaptasi dan negosiasi kreatif, yang tercermin pada pengembangan visual motif batik berbasis konsep urban. Temuan ini menunjukkan bahwa relasi kuasa bekerja secara aktif dalam proses kreasi, tidak hanya membatasi ruang estetik, tetapi juga mengarahkan pilihan visual dan narasi motif.
DIVERSIFIKASI STRATEGIS KE DALAM KONSULTANSI KEBERLANJUTAN: ANALISIS KESESUAIAN INTERNAL–EKSTERNAL PADA PREMYSIS CONSULTING
Penelitian ini mengkaji strategi diversifikasi Premysis Consulting ke dalam layanan konsultasi tentang keberlanjutan dan ESG (Environmental, Social, and Governance) dengan menggunakan pendekatan analisis kesesuaian antara faktor internal dan eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai bagaimana expertise Premysis dalam konsultasi berbasis ISO dapat dimanfaatkan untuk memasuki pasar ESG yang sedang berkembang di Indonesia. Hal ini dipicu oleh regulasi POJK 51/2017 serta meningkatnya tuntutan dari para pemangku kepentingan. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kualitatif eksploratori. Penelitian dilakukan melalui wawancara internal, enam wawancara eksternal dengan klien, dan satu sesi Diskusi Kelompok Terfokus (FGD). Analisis PESTGDP dan VRIO–RBV mengungkapkan bahwa Premysis memiliki aset berharga seperti kepercayaan dari klien, metodologi yang teratur, serta kompetensi dalam regulasi. Namun, perusahaan ini juga menghadapi tantangan dalam hal keterampilan teknis ESG, kesiapan digital, dan pengembangan budaya inovasi. Hasil analisis tematik mengidentifikasi empat segmen pasar utama: Compliance-Oriented, Transformation-Focused, Mid-Sized/Underserved, dan Innovation-Oriented. Dari keempat segmen tersebut, segmen yang paling strategis untuk dikembangkan adalah Transformation-Focused dan Mid-Sized. Penelitian ini menganjurkan penerapan strategi bisnis hibrida. Strategi ini menggabungkan fokus pada diferensiasi untuk klien yang mengalami transformasi dan pendekatan kepemimpinan biaya untuk klien berskala menengah. Diversifikasi ESG dianggap pantas apabila didukung oleh peningkatan kemampuan dalam bidang ESG, pengembangan alat digital, dan pendekatan kerjasama dengan klien. Penelitian ini memberikan sumbangan pada kajian tentang konsultansi keberlanjutan dengan mengungkapkan cara keselarasan antara faktor-faktor internal dan eksternal dapat mendukung perusahaan konsultansi dalam bertransisi dari layanan yang fokus pada kepatuhan menjadi kemitraan strategis di bidang ESG.
PERANCANGAN KAWASAN MARANATHA SECURE UNIVERSITY TOWN DENGAN PENDEKATAN CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED)
Kota yang aman dan nyaman menjadi salah satu kriteria utama dalam menentukan kualitas sebuah kota. Salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) adalah sustainable cities and communities . Dalam konteks keberlanjutan kota, isu keamanan menjadi sangat relevan, terutama ketika dikaitkan dengan tingkat kriminalitas di suatu kawasan perkotaan. Perancangan ini mencoba mengkaji ulang desain kawasan di sekitar Kampus Universitas Maranatha, Sukajadi, Kota Bandung, yang menghadapi tantangan tingkat kriminalitas tinggi dan fenomena fear of crime yang menghambat aktivitas masyarakat, terutama mahasiswa yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Kawasan ini menunjukkan adanya persoalan desain seperti minimnya penerangan, ruang negatif yang rentan, rendahnya konektivitas, serta kurangnya fasilitas ruang publik yang menunjang interaksi sosial. Di sisi non-desain, tingginya angka kejahatan, keterbatasan jam operasional, serta kerentanan sosial. Pendekatan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) diusulkan sebagai solusi inovatif untuk merancang ulang kawasan ini. Perancangan ini mengidentifikasi kriteria, prinsip normatif, dan indikator perancangan guna merumuskan visi, misi, konsep, serta skenario pengembangan kawasan yang aman, nyaman, dan inklusif. Melalui simulasi implementasi CPTED, hasil perancangan diharapkan dapat meningkatkan persepsi keamanan, mengurangi peluang kejahatan, serta mendukung keberhasilan akademis mahasiswa dan kesejahteraan masyarakat. Perancangan ini memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan kota berkelanjutan sesuai SDGs nomor 5, 11, dan 16. Perancangan ini juga berfungsi sebagai panduan strategis bagi pengambil kebijakan dan perancang kota dalam mengoptimalkan potensi lingkungan fisik untuk menciptakan ruang hidup ideal dan terjamin keamanannya. Perancangan ini menggunakan metode fragmental untuk melakukan perancangan yang komperhensif dan sistematis.
PERANCANGAN PENGEMBANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI TPS3R SALING ASIH II KECAMATAN BATUNUNGGAL KOTA BANDUNG
Kota Bandung merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk sebanyak 2.527.854 Jiwa (Badan Pusat Statistika, 2022). Angka ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk di Kota Bandung. Tahun 2022, DLH mencatat volume sampah tembus hingga 8.419.981 ton. Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, menghasilkan timbulan sampah signifikan seiring peningkatan jumlah penduduk. TPS 3R Saling Asih II saat ini memiliki keterbatasan luas dan fasilitas sehingga tidak mampu menangani beban sampah secara optimal. Oleh karena itu, dilakukan perancangan pengembangan fasilitas menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti. Data tersebut digunakan sebagai dasar pertimbangan awal dalam menentukan teknologi pengolahan yang akan diterapkan. TPST berbasis teknologi RDF merupakan solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah di Kecamatan Batununggal. Sampah sebanyak 48,62% akan diolah menggunakan metode RDF dan sampah organik sebanyak 37,69% akan diproses menggunakan fasilitas pengolahan BSF. Rencana Anggaran Biaya perancangan TPST Kecamatan Batununggal hasil perhitungan diperkirakan mencapai Rp. 5.517.342.000,00 dengan biaya operasional diperkirakan dan pemeliharaan mencapai Rp. 3.004.169.484, dengan estimai potensi pendapatan sebesar RP. 86.314.318.232,14.
PERANCANGAN PENGEMBANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI TPS3R SALING ASIH II KECAMATAN BATUNUNGGAL KOTA BANDUNG
Kota Bandung merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk sebanyak 2.527.854 Jiwa (Badan Pusat Statistika, 2022). Angka ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk di Kota Bandung. Tahun 2022, DLH mencatat volume sampah tembus hingga 8.419.981 ton. Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, menghasilkan timbulan sampah signifikan seiring peningkatan jumlah penduduk. TPS 3R Saling Asih II saat ini memiliki keterbatasan luas dan fasilitas sehingga tidak mampu menangani beban sampah secara optimal. Oleh karena itu, dilakukan perancangan pengembangan fasilitas menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti. Data tersebut digunakan sebagai dasar pertimbangan awal dalam menentukan teknologi pengolahan yang akan diterapkan. TPST berbasis teknologi RDF merupakan solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah di Kecamatan Batununggal. Sampah sebanyak 48,62% akan diolah menggunakan metode RDF dan sampah organik sebanyak 37,69% akan diproses menggunakan fasilitas pengolahan BSF. Rencana Anggaran Biaya perancangan TPST Kecamatan Batununggal hasil perhitungan diperkirakan mencapai Rp. 5.517.342.000,00 dengan biaya operasional diperkirakan dan pemeliharaan mencapai Rp. 3.004.169.484, dengan estimai potensi pendapatan sebesar RP. 86.314.318.232,14.
JEJAK KEBERADAAN DAN PERGESERAN MEBEL OTENTIK INDONESIA: AMBEN
Amben, mebel komunal otentik yang secara tradisional digunakan di rumah-rumah masyarakat Jawa, kini semakin jarang ditemukan dalam hunian kontemporer. Studi ini menelusuri penurunan popularitas amben dengan menganalisis pergeseran bentuk, fungsi, dan maknanya dalam konteks masyarakat Jawa. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan menggabungkan analisis konten visual dan kajian literatur. Data visual berupa gambar, lukisan, foto, dan video dikumpulkan dari rentang tahun 1800 hingga 2025 melalui arsip digital dan platform media sosial. Data tersebut dianalisis untuk menelusuri pergeseran serta mengidentifikasi bentuk mebel modern yang setara dengan amben. Sumber tekstual dari publikasi akademik, laporan sejarah, dan arsip media digunakan untuk memberikan konteks terhadap perubahan persepsi ruang dan nilai sosial masyarakat Jawa, khususnya dalam kaitannya dengan dinamika sosial-politik. Meskipun amben telah banyak berkurang dari penggunaan sehari-hari, peran komunalnya masih bertahan. Fungsi yang serupa kini muncul melalui elemen struktur bangunan, bangku lain, atau penataan tempat duduk yang fleksibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik budaya komunal dan interaksi sosial yang dahulu diwujudkan melalui amben terus mengalami evolusi dalam konteks sosial budaya di masa kini.
PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT TENTANG KESEJAHTERAAN HEWAN PELIHARAAAN DI JABODETABEK
Di Indonesia, anjing adalah hewan peliharaan keempat terpopuler menurut Akhmad (2023). Namun, masih banyak kasus kekerasan terhadap hewan, termasuk anjing, di Indonesia karena penegakan hukum yang lemah tentang penelantaran dan kekerasan hewan. Ini ditunjukkan oleh banyak berita media online dan fakta bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan unggahan konten kekerasan terhadap hewan tertinggi di dunia. Berdasarkan hasil analisa dan wawancara menyatakan permasalahan ini terkait erat dengan kurangnya rasa tanggung jawab pemilik hewan peliharaan dan tingkat pendidikan yang rendah. Kampanye sosial yang memanfaatkan komik sebagai media utama dan didukung oleh model instalasi dan elemen fasilitas publik dibuat sebagai upaya untuk menangani masalah tersebut. Komik ini dibuat untuk meningkatkan kesadaran orang-orang, terutama pemilik dan calon pemilik anjing, melalui berbagai macam konten baik sekedar komik komedi yang mengangkat isu tersebut dan komik naratif supaya lebih memahami tanggung jawab mereka dalam merawat hewan peliharaan
PERANCANGAN FILM DOKUMENTER MENGENAI KEHIDUPANSOSIAL PETANI TEMBAKAU DI KABUPATEN TEMANGGUNG
Kabupaten Temanggung dikenal sebagai penghasil tembakau terbaik di Indonesia, bahkan mendapat julukan Kota Tembakau. Komoditas ini menjadi tulang punggung perekonomian daerah, dengan kontribusi besar terhadap pendapatan nasional melalui cukai rokok yang mencapai lebih dari 218 triliun rupiah per tahun. Namun, ada ironi yang tersembunyi di balik kejayaan industri tembakau ini: kesejahteraan petani tembakau yang tidak sebanding dengan besarnya kontribusi mereka. Salah satu daerah yang menjadi pusat produksi tembakau berkualitas tinggi adalah Desa Legoksari, yang terletak di lereng Gunung Sumbing. Desa ini terkenal dengan tembakau srintilnya yang bernilai tinggi dan sering diburu oleh industri rokok besar. Meskipun demikian, para petani di Legoksari tetap menghadapi kesulitan dalam hal harga jual yang tidak stabil, ketergantungan pada tengkulak, serta kebijakan pemerintah yang sering tidak berpihak kepada mereka. Meski ada alternatif komoditas pertanian lain, banyak petani tetap bertahan menanam tembakau karena sudah menjadi warisan turun-temurun dan keahlian mereka dalam mengolah tembakau berkualitas tinggi. Untuk mengangkat realitas ini, diperlukan media yang dapat menyampaikan suara para petani. Salah satu bentuknya adalah film dokumenter yang mampu menggambarkan perjuangan mereka secara objektif dan mendalam. Melalui dokumenter ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif yang dapat mendorong kebijakan lebih adil serta inovasi dalam industri tembakau yang tidak hanya menguntungkan negara dan industri rokok, tetapi juga memberikan kesejahteraan bagi para petani di Kota Tembakau, khususnya di Desa Legoksari
FOODSCAPES : A LIVING SPACE FOR FARMERS AND SOCIETY
Kehadiran perguruan tinggi menjadi salah satu faktor terjadinya urbanisasi di Kecamatan Dramaga. Meningkatnya jumlah penduduk menjadikan banyak lahan pertanian dialihkan menjadi lahan permukiman dan jalan menyesuaikan kebutuhan penduduk sehingga ketahanan pangan terancam karena adanya penurunan produksi pangan. Perubahan iklim juga menjadi tantangan bagi para petani karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Namun di samping itu, petani juga ikut berpartisipasi dalam peningkatan emisi dengan pertanian yang tidak berkelanjutan. Tingginya keinginan konsumen mengenai kualitas pangan menjadikan banyak produk pangan tidak laku sehingga produk pun membusuk dan terbuang sia-sia yang seharusnya jika ditangani dengan baik dapat menjadi solusi kelaparan dan kekurangan gizi masyarakatnya. Proyek ini menawarkan kolaborasi untuk membina para petani mengenai pertanian yang berkelanjutan dan memberikan dukungan terhadap hasil panennya. Dengan tujuan menciptakan wadah kolaborasi yang mendukung kesejahteraan petani melalui sistem pangan berkelanjutan, misi agar proyek ini tercapai adalah kolaborasi, edukasi, dan persuasif. Proyek ini menyediakan tempat produksi, pengolahan, pemasaran, hingga re-produksi pangan dengan konsep dari tanah kembali ke tanah yang akan bermitra dengan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Institut Pertanian Bogor, dan Javara Indonesia. Proyek akan berlokasi di Jalan Tanjakan Dramaga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor dengan pertimbangan aksesibilitas, keberadaan sungai, dan lahan yang sebelumnya merupakan lahan pertanian. Pengguna terdiri dari petani, sivitas akademika, pengunjung, dan pengguna lain. Persoalan pada perancangan arsitektur berupa wadah kolaborasi petani, penerapan arsitektur hijau dengan sistem berkelanjutan, tanaman sayur sebagai elemen lanskap, serta perancangan arsitektur dan lingkungan yang setara sehingga teori third place, arsitektur hijau, dan edible landscape digunakan untuk menanggapi persoalan yang ada.
SEKOLAH TINGGI ANIMASI BERBASIS RUANG STIMULATIF DAN EDUKASI PUBLIK DI JAKARTA BARAT
Industri animasi di Indonesia memiliki sejarah panjang sejak awal munculnya media visual hingga akhirnya mengalami kemajuan sejak awal tahun 2000-an dengan semakin banyak munculnya program dan film animasi dan semakin digemari oleh anak-anak Indonesia. Hal tersebut juga terlihat dari pertumbuhan revenue dan penghargaan yang semakin sering diterima oleh animator Indonesia. Namun dalam keberjalanannya, industri animasi Indonesia masih mengalami begitu banyak kendala yang menyebabkan sulitnya industri untuk maju dan menyaingi negara lain. Di tingkat global, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, bahkan Malaysia sekalipun memiliki industri animasi yang jauh lebih maju dibandingkan negara Indonesia. Salah satu penyebab dari kesulitan kemajuan ini tidak lain berasal dari kondisi internal masyarakat Indonesia sendiri yang masih kerap memandang animasi sebatas sebagai hiburan untuk anak-anak saja sehingga industri animasi terkadang dipandang sebagai industri yang kurang serius. Kurangnya dukungan dan apresiasi masyarakat terhadap nilai seni dan ekonomi animasi menjadikan perkembangan industri ini menjadi terbatas. Selain itu, kebutuhan industri animasi akan teknologi tinggi juga menjadi penghambat majunya industri animasi Indonesia. Adapun teknologi yang dibutuhkan mencakup perangkat lunak juga perangkat keras untuk menghasilkan animasi dengan kualitas tinggi. Hal tersebut semakin diperparah dengan kondisi kualitas sumber daya manusia di bidang animasi Indonesia yang masih kurang. Pendidikan formal dalam bidang animasi terbilang masih terbatas sehingga kualitas sumber daya manusia yang dimiliki juga sering kali tidak dapat memenuhi standar yang dibutuhkan. Untuk menjawab permasalahan tersebut dan mendukung kemajuan industri animasi di Indonesia, kontribusi arsitektur yang dapat dilakukan adalah dengan membangun fasilitas edukasi formal dengan pendekatan kolaboratif dan stimulatif, yakni dengan berkolaborasi bersama perusahaan -perusahaan animasi ternama di Indonesia untuk membangun fasilitas edukasi yang baik juga dengan penekanan konsep lingkungan yang stimulatif untuk memaksimalkan potensi kreativitas pengguna.
SEKOLAH TINGGI ANIMASI BERBASIS RUANG STIMULATIF DAN EDUKASI PUBLIK DI JAKARTA BARAT
Industri animasi di Indonesia memiliki sejarah panjang sejak awal munculnya media visual hingga akhirnya mengalami kemajuan sejak awal tahun 2000-an dengan semakin banyak munculnya program dan film animasi dan semakin digemari oleh anak-anak Indonesia. Hal tersebut juga terlihat dari pertumbuhan revenue dan penghargaan yang semakin sering diterima oleh animator Indonesia. Namun dalam keberjalanannya, industri animasi Indonesia masih mengalami begitu banyak kendala yang menyebabkan sulitnya industri untuk maju dan menyaingi negara lain. Di tingkat global, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, bahkan Malaysia sekalipun memiliki industri animasi yang jauh lebih maju dibandingkan negara Indonesia. Salah satu penyebab dari kesulitan kemajuan ini tidak lain berasal dari kondisi internal masyarakat Indonesia sendiri yang masih kerap memandang animasi sebatas sebagai hiburan untuk anak-anak saja sehingga industri animasi terkadang dipandang sebagai industri yang kurang serius. Kurangnya dukungan dan apresiasi masyarakat terhadap nilai seni dan ekonomi animasi menjadikan perkembangan industri ini menjadi terbatas. Selain itu, kebutuhan industri animasi akan teknologi tinggi juga menjadi penghambat majunya industri animasi Indonesia. Adapun teknologi yang dibutuhkan mencakup perangkat lunak juga perangkat keras untuk menghasilkan animasi dengan kualitas tinggi. Hal tersebut semakin diperparah dengan kondisi kualitas sumber daya manusia di bidang animasi Indonesia yang masih kurang. Pendidikan formal dalam bidang animasi terbilang masih terbatas sehingga kualitas sumber daya manusia yang dimiliki juga sering kali tidak dapat memenuhi standar yang dibutuhkan. Untuk menjawab permasalahan tersebut dan mendukung kemajuan industri animasi di Indonesia, kontribusi arsitektur yang dapat dilakukan adalah dengan membangun fasilitas edukasi formal dengan pendekatan kolaboratif dan stimulatif, yakni dengan berkolaborasi bersama perusahaan -perusahaan animasi ternama di Indonesia untuk membangun fasilitas edukasi yang baik juga dengan penekanan konsep lingkungan yang stimulatif untuk memaksimalkan potensi kreativitas pengguna.
MENJEMBATANI KESENJANGAN PARTISIPASI: SEBUAH STUDI MULTIDIMENSIONAL TENTANG KETERLIBATAN UMKM TERHADAP DUKUNGAN PEMERINTAH — STUDI KASUS DKI JAKARTA
UMKM Indonesia merupakan salah satu pillar dalam perekonomian nasional. Mengingat signifikansi ekonominya, pemerintah telah mengalokasikan inevestasi yang substansial untuk mendukung UMKM Indonesia, seperti melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan UMKM Level Up. Namun, Tingkat partisipasi masih tergolong rendah. Studi ini bertujuan untuk menganalisa factor factor mendasar yang memengaruhi keterlibatan UMKM terhadap program dukungan pemerintah, dengan fokus pada DKI Jakarta sebagai studi kasus. Studi ini menggunakan pendekatan teori Resource-Based View (RBV) dan Theory of Planned Behaviour (TPB) sebagai dasar teoritisnya. Melalui wawancara mendalam dengan 11 pelaku UMKM, dilakukan analisis tematik yang menghasilkan lima tema utama: (1) rendahnya kesadaran dan pengetahuan terhadap program pemerintah; (2) UMKM menghadapi tantangan serius dalam kapabilitas organisasi internal; (3) keterbatasan kapabilitas internal menjadi penghambat kesiapan dalam memanfaatkan program pemerintah; (4) kemauan untuk berpartisipasi bergantung pada sejumlah faktor, di mana persepsi juga memengaruhi keputusan; dan (5) rekomendasi kebijakan dan praktik. Temuan studi ini menunjukkan bahwa UMKM pada dasarnya terbuka terhadap dukungan eksternal, namun keterlibatan mereka masih terhambat oleh persepsi negatif dan berbagai permasalahan internal. Studi ini menyimpulkan bahwa intervensi pemerintah perlu melampaui penyediaan akses semata, dan harus mencakup penguatan kapabilitas yang lebih terarah, strategi diseminasi yang lebih baik, serta pembangunan mekanisme kepercayaan guna meningkatkan partisipasi dan efektivitas program. Selain itu, studi ini juga merekomendasikan inisiatif berbasis UMKM, seperti kolaborasi dengan lembaga vokasi dan kelompok pembelajaran sejawat, untuk mengisi kesenjangan kapabilitas internal.