📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 27 dokumen

PERANCANGAN LIBING MUSEUM TATO : EDUKASI DAN PELESTARIAN TATO NUSANTARA

Tato tradisional Nusantara merupakan warisan budaya yang mengandung nilai identitas, spiritualitas, dan sejarah pada berbagai masyarakat adat di Indonesia, seperti Mentawai, Dayak, dan Papua. Namun, modernisasi dan stigma sosial terhadap tato menyebabkan berkurangnya pemahaman masyarakat terhadap makna budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan sebuah wadah yang mampu mengedukasi sekaligus mendukung pelestarian tato Nusantara. Perancangan ini bertujuan menghadirkan Living Museum Tato sebagai sarana edukasi dan pelestarian budaya melalui pengalaman ruang yang interaktif dan imersif. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi, wawancara, dan analisis kebutuhan ruang. Konsep living museum diterapkan untuk menampilkan dokumentasi, sejarah, proses, dan perkembangan tato Nusantara secara kontekstual sehingga pengunjung dapat memahami tato sebagai praktik budaya yang hidup. Hasil perancangan menghadirkan Living Museum Tato sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya yang dirancang untuk memfasilitasi masyarakat dalam memahami sejarah, nilai budaya, serta perkembangan tato Nusantara melalui pengalaman ruang yang interaktif dan imersif.

2026
👤 Penulis: Lintang Ardhi Nugroho
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Edukasi Budaya 🏷️ Pelestarian Warisan Budaya

MENYAMAR BAYANG: AMBIGUITAS MANUSIA MELALUI EKSPRESI SENI LUKIS

Karya tugas akhir ini berangkat dari kegelisahan personal penulis terhadap praktik pengotakan dan pelabelan yang mereduksi kompleksitas manusia menjadi kategori kategori absolut. Pola pikir ini, yang berakar dari lingkungan keluarga yang kaku, sempat membentuk identitas konkret dalam diri penulis dan membatasi eksplorasi terhadap kemungkinan baru. Namun, perjumpaan penulis dengan seni budaya, khususnya Wayang, memicu intervensi yang mengaburkan batasan tersebut. Muncul konflik batin dan ambiguitas identitas; di satu sisi penulis merasa sebagai orang kota yang asing terhadap tradisi, namun di sisi lain memiliki ketertarikan mendalam untuk melukis dan menjadi bagian darinya. Ambiguitas ini kemudian dipandang sebagai ruang transisi yang produktif. Penulis menemukan analogi pengalaman personalnya dalam sosok Semar dan fenomena bayangan pada pertunjukan wayang. Karakter Semar yang merangkul oposisi biner serta sifat bayangan yang dinamis dan tidak konkret menjadi instrumen bagi penulis untuk masuk ke dalam ruang tradisi tanpa merasa terasing. Secara visual, gagasan ini diwujudkan melalui teknik pengaburan—mentransformasi bayangan dari bentuk konkret menjadi bentuk yang samar dengan percampuran warna yang saling berselingan. Melalui tindakan pengaburan ini, karya ini menjadi manifestasi dari proses pemulihan batin sekaligus upaya untuk menerima eksistensi manusia yang tidak pernah bersifat tunggal.

2026
👤 Penulis: Fedy Putri Kurniawan
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Manajemen Identitas 🏷️ Seni Lukis

“REKONTEKSTUALISASI PENGALAMAN KETIDAKNYAMANAN RUANG MELALUI SENI LUKIS”

Pengalaman hidup manusia tidak terlepas dari ruang. Setiap detik manusia masuk dan keluar ruangan, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, memasuki atmosfer, dunia, dan waktu yang berbeda. Ruang menjadi tempat dimana bukan hanya barang bermateri saja yang hadir di dalamnya tetapi juga ‘intangible objects’ seperti pengalaman. Ruangan menjadi sebuah saluran untuk memberikan ketegasan berupa batasan pada ruang yang dapat merangkum pengalaman dan melalui itu, ruang pun dapat membentuk ataupun dibentuk oleh manusia itu sendiri. Fenomena subjektif ini menjadi dasar eksplorasi dalam penciptaan karya seri ini, khususnya dalam menanggapi ketidakpastian dan kecemasan yang dialami individu. Keinginan untuk mengeksplorasikan tema ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis yang sering berpindah-pindah rumah selama 20 tahun terakhir yang menimbulkan pertanyaan mengenai ruang, hubungannya dengan durasi dan keberlanjutan hidup. Seri kekaryaan ini bertujuan untuk melakukan peralihan pengalaman ruang— mengalihkan makna ruang yang memicu ketidaknyamanan menjadi makna lain, serta berupaya membiasakan diri dengan ketidakpastian. Subjek lukisan berfokus pada struktur ruangan dari rumah-rumah yang pernah dihuni penulis karena ikatan personal yang kuat. proses penciptaan karya menggunakan perpaduan teknik kolase untuk mengacaukan persepsi ruang konvensional dan teknik Grattage (menggores cat basah pada permukaan bertekstur) untuk merefleksikan kesan-kesan dari tempat-tempat yang pernah dihuni. Penggabungan dua teknik ini menjadi aksi simbolis untuk membangun ulang ruang dan memaknakan kembali pengalaman tidak nyaman terhadap ruang. Karya ini berupaya menjawab pertanyaan mengenai bagaimana subjektivitas individu mempengaruhi pembangunan ulang ruang melalui seni lukis dan bagaimana ruang digambarkan dalam proses peralihan pengalaman ruang menggunakan medium seni lukis. Hasil dari kekaryaan ini diharapkan dapat memberikan penerangan mengenai sifat paradoksikal pengalaman ruang yang relatif dan personal.

2026
👤 Penulis: Ruby Putri Kurniawan
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Seni Lukis 🏷️ Hidup Manusia

MENEMUKAN KESEIMBANGAN ANTARA KETERLIBATAN DAN KEASLIAN: STRATEGI PHYGITAL DALAM ORGANISASI SENI PERTUJUNKAN

The Integrasi teknologi digital yang semakin berkembang dalam pertunjukan langsung telah mendorong organisasi seni pertunjukan untuk mengadopsi strategi phygital yang menggabungkan pengalaman fisik dan digital. Meskipun pendekatan ini menawarkan peluang baru dalam hal keterlibatan audiens, aksesibilitas, dan penciptaan pendapatan, strategi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait pelestarian keaslian artistik dan esensi kehadiran langsung (liveness). Ketegangan ini menyoroti kebutuhan penting untuk memahami bagaimana inovasi digital dapat diintegrasikan secara strategis tanpa menggerus nilai-nilai artistik inti dalam seni pertunjukan. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana organisasi seni pertunjukan menyeimbangkan keterlibatan dan keaslian melalui strategi phygital, dengan fokus pada balet, opera, dan tari kontemporer. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan komparatif, studi ini menganalisis kasus-kasus dari Eropa dan Asia Tenggara melalui wawancara dan data sekunder. Hasil penelitian mengungkapkan dua pendekatan dominan: digital extension, yang mempertahankan pertunjukan panggung tradisional, dan digital creation, yang mendefinisikan ulang pertunjukan melalui teknologi imersif. Konteks budaya muncul sebagai faktor kunci yang membentuk strategi institusional maupun persepsi audiens terhadap keaslian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi phygital yang berhasil memerlukan kompromi yang disadari, di mana keterlibatan dan keaslian dinegosiasikan, bukan dimaksimalkan secara bersamaan. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyediaan kerangka kerja yang berlandaskan konteks budaya untuk memahami strategi phygital dalam seni pertunjukan, serta menunjukkan bagaimana organisasi dapat membuat pilihan strategis yang tepat antara digital extensiondan digital creation guna menyeimbangkan keterlibatan dan keaslian. Dengan menyoroti peran konteks budaya dalam pengambilan keputusan tersebut, penelitian ini memberikan wawasan praktis bagi organisasi seni pertunjukan yang ingin mengintegrasikan inovasi digital tanpa mengorbankan integritas artistik.

2025
👤 Penulis: Marie Reine Geneviève Pilon
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

TRANSFORMASI ESTETIKA DAN MATERIAL PADA PERHIASAN LOGAM PADA PAKAIANPENGANTIN ADAT DI INDONESIA: KAJIAN BAHASA VISUAL PERIODE TAHUN 1900-

Dalam upacara pernikahan, penggunaan perhiasan merupakan suatu hal yang krusial. Perhiasan dalam upacara pernikahan digunakan sebagai sebuah bentuk manifestasi dan representasi dari suatu kebudayaan. Hal ini juga terdapat pada kebudayaan di wilayah Sunda Priangan yang merupakan pusat dari Tatar Sunda. Perhiasan pengantin umumnya digunakan hampir di seluruh bagian tubuh pengantin salah satunya pada bagian kepala. Perhiasan yang digunakan pada bagian kepala pengantin baik laki-laki maupun perempuan memiliki suatu peran yang penting dan selalu ditemukan digunakan oleh pengantin dari tiap periode. Hal ini mengindikasikan bahwa perhiasan pengantin Sunda Priangan telah melewati rangkaian proses transformasi yang melibatkan berbagai elemen visual dan material hingga memengaruhi nilai fungsi dan nilai budayanya pula. Transformasi yang terjadi dapat diidentifikasikan secara historikal karena prosesnya merupakan suatu rangkaian panjang yang terjadi sejak periode dimana kebudayaan Sunda Kuno diidentifikasikan pada Kerajaan Sunda dengan corak Hindu-Buddha. Identifikasi pada periode tersebut memengaruhi bagaimana kemudian pada wilayah Sunda Priangan, perhiasan pengantinnya mulai mengalami pengerucutan karakteristik. Kemudian, masuknya pengaruh agama Islam yang dibawa oleh pedagang dan memengaruhi perubahan corak budaya kerajaan serta masuknya kolonialisme yang utamanya dibawa oleh Belanda dan VOC juga memberikan pengaruh pada transformasi yang terjadi. Intergrasi dari nilai-nilai kebudayaan yang baru memengaruhi karakteristik perhiasan pengantin tersebut. Hingga akhirnya dipengaruhi oleh modernisasi yang mengintegrasikan gaya kontemporer pada perhiasannya. Transformasi yang terjadi diidentifikasikan melalui perhiasan pengantin yang digunakan pada bagian kepala seperti penggunaan mahkota yang kemudian bertransformasi menjadi bendo dan siger. Transformasi ditekankan pada elemen visual dan materialnya yang dapat dilihat secara kasat mata dari perubahan yang terjadi. Hal tersebut juga memengaruhi nilai fungsi dan nilai kebudayaannya yang mengalami pergeseran yang berada secara implisit dalam perhiasan pengantin tersebut. Transformasi yang dapat diidentifikasikan menghasilkan suatu penggabungan antara elemen kebudayaan tradisional dan modern yang menciptakan suatu estetika baru yang banyak digunakan pada upacara pernikahan modern.

2025
👤 Penulis: Mahogany Ramla Lubis
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Perhiasan Pengantin

PERANCANGAN FURNITUR BERBASIS BUDAYA DUDUK RENDAH MASYARAKAT JAWA

Praktik duduk rendah dalam keseharian masyarakat Jawa, khususnya di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, merupakan warisan tradisi yang terlihat, terasa, dan tercipta melalui postur tubuh, sebagai cerminan nilai-nilai sosial yang terbentuk dan terjaga dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Melalui observasi partisipatif dan wawancara semi-terstruktur, ditemukan beragam praktik postur—mulai dari ndhodhok, jegang, silå, timpuh, hingga slonjor— yang masing-masing merepresentasikan kebiasaan tubuh, konteks sosial, serta relasi kuasa dalam ruang lingkup aktivitas domestik, komunal hingga publik yang didukung oleh artefak seperti dingklik, lincak, dan klåså sebagai fasilitas praktik duduk rendah. Studi ini juga memfasilitasi perancangan medium pengarsipan nilai-nilai sosio-kultural berbasis partisipasi masyarakat, sebagai bentuk diseminasi publik melalui diskursus praktik duduk rendah, baik dalam bentuk digital melalui media sosial Instagram maupun melalui eksperimen perancangan furnitur. Hasil sintesis dan refleksi temuan diterapkan dalam konsep perancangan furnitur yang mengakomodasi nilai-nilai yang terkandung dalam keseharian masyarakat, dengan mengintegrasikan sintesis triadik yang menghubungkan perilaku (postur tubuh sosial), prasarana (ruang dan artefak fisik), dan pakem (kaidah nilai dan norma kultural) sebagai karakteristik desain. Furnitur dirancang untuk mengakomodasi beragam temuan postur duduk rendah, dengan mengadopsi fungsi dan fitur fasilitas duduk yang digunakan dalam keseharian masyarakat. Proses desain dilakukan melalui pendekatan penelitian tindakan, dimulai dengan desain pra-riset, diikuti dengan pembuatan prototipe pertama dan kedua, serta evaluasi berkelanjutan yang melibatkan umpan balik dari pengguna. Proses transisi antar prototipe ini mempertimbangkan data antropometrik mengenai postur duduk rendah yang didefinisikan dalam penelitian ini, untuk menghasilkan desain yang paling sesuai dengan kebutuhan dan konteks budaya masyarakat lokal.

2025
👤 Penulis: Lucky Akbar Raditya Wardhana
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Desain Interiornya 🏷️ Anthropometri

AKU (DALAM) WAKTU: METAFORA HUBUNGAN EKSISTENSI DENGAN WAKTU MELALUI SENI LUKIS

Eksistensi manusia terjalin erat dengan waktu. Berangkat dari pertanyaan pertanyaan seputar konsep tersebut, karya “Aku (dalam) Waktu” muncul sebagai upaya menerjemahkan filosofi eksistensial-waktu ke dalam bentuk seni lukis. Dengan pemikiran Heidegger sebagai kerangka teoritis, pemindahan konsep menjadi bentuk dijembatani oleh pendefinisian waktu dalam tiga jenis: waktu temporal, waktu vulgar, dan waktu dunia. Elemen visual representasional muncul dalam bentuk simbol dengan pendekatan metaforis, dituangkan ke dalam ranah persegi sebagai wadah netral untuk menampung gabungan seni potret dan lanskap. Wajah manusia hadir sebagai representasi waktu temporal sebagai pembentuk keadaan “ada-di-dunia”, ritme pergerakan matahari berperan sebagai representasi bagi waktu vulgar, dan pembagian kurun-kurun waktu dalam hari sebagai pemaknaan peristiwa menjadi representasi bagi waktu dunia. Karya ini digarap menggunakan medium cat minyak di atas lima kanvas berukuran identik. Hasil akhir berupa paduan wajah dan langit dalam kurun waktu yang bergeser pada setiap kanvas. Secara bersama, seri lukis ini membentuk satu karya yang menyampaikan bagaimana eksistensi manusia secara konstan “mengada dalam waktu”.

2025
👤 Penulis: Bening Nurani
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Filosofi Eksistensial 🏷️ Seni Lukis

REPRESENTASI PELURUHAN MEMORI MASA KECIL MELALUI MEDIUM CETAK SARING

Memori menjadikan manusia makhluk sejarah, memungkinkan manusia secara aktif merekam pengalaman dalam otak dan menghubungkan diri secara mendalam dengan masa lalu. Karya seni ini hadir sebagai representasi simbolik, menghadirkan dinosaurus sebagai memori masa kecil dan pengalaman universal tentang kehilangan, mengeksplorasi sifat sementara dari memori dalam trace decay theory. Karya ini menggunakan medium cetak saring, memberikan ruang untuk mengeksplorasi tema kompleks dalam ketidakkekalan seperti memori. Proses pencetakan (imprint) masa lalu, masa kini, dan masa depan dilakukan secara berulang hingga akhirnya menghilang secara progresif, menghasilkan metafora bagi proses dalam pemahaman luruhnya memori secara bertahap. Selanjutnya, visual yang menghilang pada hasil cetakan tiga dimensi temporal disusun menimbun, menciptakan kerapatan dan keterikatan sebuah memori yang dicetak di satu wadah yang sama berulang kali. Karya ini merupakan bentuk afirmatif untuk mengundang pengamat merenungkan hingga menerima kehilangan detail memori sebagai bagian intrinsik dari pengalaman hidup yang tak terelakkan.

2025
👤 Penulis: Kenhana Kirana Hartono
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Memori Manusia 🏷️ Hidrologi

MILKFED: REPESENTASI POLA ASUH DAN KONSUMSI MELALUI MEDIA CETAK SARING DAN OBJEK KEMASAN SUSU

Laporan ini berangkat dari pertanyaan reflektif penulis mengenai alasan di balik kebiasaan mengonsumsi susu: apakah semata-mata karena kebutuhan gizi, atau karena muatan sentimental dan pengalaman personal yang melekat pada praktik tersebut. Konsumsi susu dibaca sebagai hasil dari konstruksi sosial yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak melalui pola asuh keluarga dan lingkungan, serta bagaimana konsumsi tersebut pada akhirnya turut membentuk identitas. Instalasi karya berbentuk etalase toko yang terdiri dari 132 kotak susu berbagai ukuran dan visual menjadi medium penulis dalam merepresentasikan perjalanan hidupnya bersama susu. Melalui pendekatan seni cetak saring (sablon) dan perakitan objek menggunakan kertas, karya ini merefleksikan bagaimana pilihan konsumsi tidak pernah netral, melainkan dipengaruhi oleh otoritas pengasuhan, lingkungan sosial, serta narasi pasar. Puncaknya, satu kemasan susu besar yang menampilkan figur diri menjadi simbol kesadaran penuh penulis atas seluruh perjalanan konsumsi yang telah dialaminya. Karya ini menjadi ruang perenungan terhadap bagaimana konsumsi membentuk serta merepresentasikan siapa kita.

2025
👤 Penulis: Nadja Adia Saffa
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Seni Cetak Saring 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Susu

FABEL DAN SISI TERPENDAM MANUSIA MELALUI KARYA SENI SEBAGAI SIMBOL

Secara historis, manusia selalu memiliki hubungan yang erat dengan hewan. Dari zaman prasejarah yang dibuktikan dari lukisan-lukisan gua, hingga pengagungan hewan-hewan tertentu sebagai dewa dalam beberapa kepercayaan. Ketertarikan manusia terhadap hewan dapat didorong oleh beberapa hal, seperti keingintahuan, ketakutan, dan kekaguman. Dari ketertarikan tersebut, muncullah gaya penceritaan yang disebut sebagai fabel. Fabel merupakan kisah-kisah di mana hewan muncul sebagai tokoh utama, yang memiliki karakteristik manusia dan seringkali digunakan sebagai personifikasi dari kualitas-kualitas manusia. Fabel seringkali menyorotkan kebaikan dan keburukan yang dimiliki oleh manusia. Penulis memiliki ketertarikan pribadi terhadap aspek psikologis yang berkaitan dengan kebaikan dan keburukan manusia. Digabungkan dengan ketertarikan penulis terhadap fabel, proyek tugas akhir ini berupaya untuk menggambarkan sisi terpendam dalam kepribadian manusia melalui penggambaran fabel. Pengerjaan proyek tugas akhir ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan ekspresi visual dalam penggambaran fabel, dengan tahapan awal melakukan riset dan kaji pustaka. Penulis menggunakan teori seni sebagai simbol, beserta teori penunjang archetype the shadow oleh Jung dan teori fabel. Karya-karya tugas akhir menggunakan pendekatan seni lukis simbolik, di mana penulis menggunakan nilai simbolik hewan untuk menghadirkan beberapa sisi terpendam yang ada dalam kepribadian manusia. Tujuan kekaryaan dalam tugas akhir ini (1) untuk menjelaskan makna simbolik hewan sebagai simbolisasi fabel bagi manusia; dan (2) berkarya seni lukis menggunakan unsur-unsur rupa seperti garis, bentuk, warna, dan komposisi untuk menggambarkan simbolisasi fabel dalam karya seni. Hasil capaiannya berupa karya lukisan yang menghadirkan rusa sebagai sosok utama karya di tengah hewan lainnya, sebagai simbol juxtaposisi antara persona manusia yang ideal dan sisi terpendam manusia. Rusa biasa hadir dalam fabel dan berbagai macam kebudayaan sebagai makhluk yang memiliki signifikansi positif, sehingga cocok digunakan sebagai simbol persona ideal manusia yang serba baik.

2025
👤 Penulis: Kiara Shafira Soeriaatmadja
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Psikologi Kepribadian 🏷️ Seni Lukis Simbolik

AMBANG: PENGEJAWANTAHAN KEKABURAN MELALUI PRAKTIK SENI LUKIS

Karya Tugas Akhir “Ambang: Pengejawantahan Kekaburan melalui Praktik Seni Lukis” berangkat dari keprihatinan terhadap dikotomi representasional–non-representasional dalam seni lukis kontemporer. Kecenderungan menuntut kejelasan visual dianggap menutup ruang bagi pengalaman estetis dalam ketidakpastian. Penelitian ini memosisikan kekaburan sebagai ruang produktif untuk membuka makna cair, membebaskan interpretasi, dan menegosiasi ambiguitas secara estetis dan eksistensial. Lingkup permasalahan dalam pembuatan karya Tugas Akhir ini mencakup bagaimana praktik melukis menjelmakan “ruang ambang” yang memperlambat proses pengenalan bentuk, dan apa makna eksistensial dari posisi “di antara” kejelasan yang seringkali bersifat dikotomis. Pengkajian teori mencakup pemikiran Sudjoko dalam Menuju Nirada (1992), Jakob Sumardjo dalam Estetika Paradoks (2014), fenomenologi Heidegger, Merleau Ponty, dan Gadamer. Hasil akhir karya terdiri dari enam lukisan berukuran 150×100 cm, diselesaikan dalam enam jam per lukisan agar cat tetap lentur. Tahapan mencakup pengumpulan arsip visual banal, penerapan strategi panglingan (pengaburan citra), penggunaan warna kelabu dari campuran warna primer, serta format kanvas memanjang sepanjang sembilan meter untuk memperpanjang durasi melihat. Pendekatan fenomenologi proses memungkinkan cat dan tubuh berinteraksi dalam ritme waktu yang cair. Hasil karya memperlihatkan bentuk bentuk samar yang muncul dan lenyap, menciptakan pengalaman visual yang tertunda dan terbuka. Kekaburan dalam karya ini bukanlah efek pasif, melainkan strategi untuk menolak narasi tunggal dan menghadirkan realitas kedua, sebuah ruang reflektif yang merawat keraguan, menegaskan kejujuran material, dan menawarkan pengalaman estetika yang lentur terhadap kompleksitas dunia kontemporer.

2025
👤 Penulis: Tamara Maharani Alamsyah
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Seni Lukis Kontemporer 🏷️ Pengaruh Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN BUSANA FORMAL GENDERLESS DENGAN INSPIRASI BESKAP TRADISIONAL KHAS SOLO

Penelitian ini berfokus pada perancangan busana formal genderless yang terinspirasi dari beskap tradisional khas Solo. Dalam perkembangan tren mode kontemporer yang semakin inklusif, fashion menjadi medium penting untuk mengekspresikan identitas tanpa batasan gender. Busana genderless hadir sebagai representasi dari kesetaraan, kebebasan berekspresi, serta respon terhadap norma sosial yang semakin cair. Sementara itu, beskap Solo sebagai pakaian adat memiliki nilai filosofis yang mendalam, merepresentasikan kesopanan, keteraturan, dan kehormatan dalam budaya Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi elemen visual dan nilai simbolik dari beskap ke dalam desain busana formal yang bersifat netral gender, tanpa menghilangkan identitas budayanya. Proses perancangan dimulai dengan studi literatur, observasi visual terhadap bentuk dan struktur beskap, serta analisis elemen desain seperti siluet, detail, bahan, warna, dan potongan. Setelah itu dilakukan pengembangan sketsa yang menggabungkan karakter formal beskap dengan prinsip desain genderless, seperti potongan longgar, netral secara visual, dan tidak menonjolkan bentuk tubuh. Teknik reka latar seperti pleats, embroidery, emboss, rouleaux trim, payet, dan distressing diaplikasikan untuk memperkuat ekspresi visual karya. Pemilihan warna merah dan hitam dipilih untuk mempertahankan kesan elegan dan simbolik. Hasil akhir dari perancangan ini diharapkan dapat menjadi bentuk kontribusi dalam menghadirkan busana formal yang inklusif, kontekstual secara budaya, dan responsif terhadap tren sosial. Karya ini juga mendorong pelestarian budaya lokal melalui interpretasi visual yang segar, fungsional, dan relevan dengan kebutuhan fashion masa kini.

2025
👤 Penulis: Aleta Zafira Shafiq
🏷️ Mode 🏷️ Desain Busana 🏷️ Kebudayaan

PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI INTERAKTIF TARI GAMBYONG SEBAGAI MEDIA PENGENALAN BUDAYA TERHADAP ANAK USIA 7-10 TAHUN

Indonesia memliki kekayaan budaya tari yang berakena ragam di tiap daerahnya, salah satunya tari Gambyong dari Jawa Tengah. Tari Gambyong merupakan salah satu tarian tradisional yang kaya akan nilai dan filosofi. Namun, seiring waktu budaya dapat tergerus dan hilang apabila tidak dilestarikan dan tidak dikenalkan kepada generasi muda. Oleh karena itu, diperlukan media yang menarik untuk memperkenalkan tari Gambyong kepada anak. Perancangan ini bertujuan untuk membuat buku ilustrasi interaktif yang mampu menjadi media pengenalan budaya dengan pendekatan yang edukatif dan menyenangkan, terutama untuk anak usia 7-10 tahun. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi studi literatur, observasi, dan wawancara dengan praktisi dan akademisi tari. Buku ini dirancang untuk mendukung pembelajaran budaya dengan memanfaatkan daya tarik visual dan aktivitas partisipatif. Diharapkan buku ilustrasi interaktif ini dapat menjadi alternatif media edukasi dan pengenalan budaya bagi anak-anak serta dapat berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Indonesia.

2025
👤 Penulis: Qonita Mumtaz Gantari
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Pendidikan Budaya 🏷️ Buku Ilustrasi Interaktif

BANDUNG PERFORMANCE CENTER AS A NEW ICON FOR CREATIVE COMMUNITY

Kota Bandung memiliki potensi yang tinggi akan kebudayaan. Hal tersebut dapat diidentifikasi dari terdapat lebih dari 800 komunitas seni di Kota Bandung dengan 30 diantaranya merupakan komunitas teater yang masih eksis hingga saat ini. Komunitas memiliki kaitan erat terhadap kesenian pertunjukan terutama teater. Teater adalah karya seni kolaboratif yang muncul akibat adanya komunitas sehingga memunculkan konsep community based art. Community based art menjadi salah satu elemen penting untuk menghasilkan kota yang kreatif dan berkesenian. Kota Bandung juga merupakan kota kreatif dunia yang diakui oleh UNESCO sejak tahun 2015. Sudah sepatutnya pengakuan tersebut menjadi sebuah city branding bagi Kota Bandung yang terus mendorong adanya perkembangan kebudayaan. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa seluruh potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan baik karena berbagai permasalahan yang muncul dari kondisi fasilitas dan komunitas. Saat ini keberadaan fasilitas seni pertunjukan berupa bangunan teater di Kota Bandung belum optimal sehingga komunitas tidak memiliki tempat untuk memproduksi pertunjukan teater. Terdapat fasilitas yang tidak sesuai standar, kurangnya fasilitas dari segi kuantitas, perubahan fungsi fasilitas dan terbengkalainya fasilitas karena tidak ada yang menggunakan fasilitas tersebut. Kedua hal ini menjadi umpan balik sehingga saling mempengaruhi satu sama lain. Permasalahan ini membuat kurangnya kesadaran masyarakat kota akan kesenian sehingga kebudayaan Kota Bandung tidak berkembang secara optimal. Melalui masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi adanya kebutuhan pengadaan fasilitas kesenian baru yang mampu menjadi wadah untuk community based art. Fasilitas tersebut ditujukan untuk mewadahi komunitas teater dalam memproduksi dan menampilkan pertunjukan berkualitas kepada masyarakat kota. Melalui penampilan teater yang berkualitas diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kebudayaan dan kesenian di dalam kota. Adapun fasilitas yang akan dikembangkan berupa non-profit performing art center untuk mendorong kemajuan kebudayaan kota. Melalui isu dan tipologi yang akan dikembangkan terdapat beberapa isu terkait kesesuaian fasilitas dengan standar bangunan, kebutuhan akan iconic building sebagai city branding dan keterlibatan fasilitas komunitas di dalam fasilitas. Mengingat ini merupakan fasilitas skala kota, maka diperlukan tapak yang memiliki konektivitas yang baik dari seluruh wilayah kota, maka dipilihlah tapak di Summarecon Bandung. Summarecon Bandung terletak di Sub Wilayah Kota (SWK) Gedebage yang akan dikembangkan menjadi Pusat Pelayanan Kota 2. Sub Wilayah Kota (SWK) Gedebage akan dikembangkan dengan konsep Bandung Teknopolis dengan melalui pembangunan kawasan yang mensinergikan pusat pendidikan tinggi, ekonomi kreatif, niaga, dan pemerintahan. Sebagai sebuah pengembang kawasan swasta, Summarecon Bandung juga memiliki visi “Summarecon Bandung as a new creative city” sehingga terdapat potensi kerjasama pemerintah dan swasta. Kerjasama antara Pemerintah Kota Bandung dan Summarecon Bandung akan terjadi dalam segi pengelolaan, pendanaan dan publikasi. Untuk mengembangkan fasilitas bangunan teater sebagai wadah untuk Community Based Art dilakukan pendekatan terhadap beberapa pendekatan. Pendekatan utama merupakan pendekatan melalui eksplorasi desain dalam iconic building, kemudian terdapat placemaking dalam menjadikannya ruang bagi Community Based Theatre dan masyarakat kota, serta desain keberlanjutan untuk membuat keberhasilan tujuan terus berjalan. Eksplorasi dalam iconic building mampu memunculkan city branding yang nantinya akan berdampak pada peningkatan kebudayaan di dalam kota. Berikutnya untuk menghidupkan tempat tersebut akan memerlukan relasi yang menyeluruh antara komunitas teater sebagai performer, penonton sebagai apresiator seni dan fasilitas teater sebagai wadah kegiatan sehingga placemaking merupakan Langkah yang tepat. Untuk membuat visi tercapai juga diperlukan keberlanjutan dari segi pengelolaan dan pemeliharaan pada bangunan. Ketiga pendekatan memiliki kaitan erat yang saling mempengaruhi satu sama lain. Terdapat sebuah kriteria tambahan berupa kesesuaian fasilitas dengan standar bangunan teater agar dapat menunjang seluruh pengguna dalam bangunan dan menjamin keamanan. Secara umum kegiatan komunitas teater dalam produksi pertunjukan terbagi menjadi proses inisiasi, produksi, pertunjukan dan evaluasi. Setiap tahap memiliki kebutuhan ruang masing-masing sesuai dengan aktivitasnya. Artinya, terdapat fasilitas berupa ruang-ruang diskusi, ruang latihan dan ruang film sebagai tempat menonton video pertunjukan. Kemudian juga terdapat implementasi persyaratan teknis dari desain bangunan teater untuk memberikan kenyamanan bagi pengguna dan keamanan di dalam bangunan. Fasilitas ini juga berfungsi untuk menjadi elemen city branding Kota Bandung dalam kebudayaan sehingga akan dibuat iconic building dengan pendekatan desain kepada elemen-elemen kebudayaan yang merepresentasikan Kota Bandung.

2025
👤 Penulis: Abigail Nethania Siahainenia
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Komunitas Teater 🏷️ Desain Iconic Building

KONSEP PANCER JALMA DALAM PERANCANGAN SISTEM TANDA WATU PAYUNG HUTAN TURUNAN DI KAWASAN GUNUNG SEWU UNESCO GLOBAL GEOPARK KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Realisasi sikap kepedulian terhadap pelestarian bumi diwujudkan oleh kawasan Gunung Sewu dengan menjadi anggota UNESCO Global Geoparks. Satu dari beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota organisasi dunia tersebut adalah syarat memiliki visibilitas teritorial yang terdiri dari enam jenis penanda serta mencantumkan slogan dan logo geopark. Pembuatan sistem tanda harus mengacu pula pada himbauan freedom of landscape yang mengarahkan agar pemandangan alam spesifik dan mengagumkan dijauhkan dari penempatan panel informasi yang berlebihan. Syarat tersebut harus dipenuhi oleh obyek wisata Watu Payung yang menghadirkan hamparan awan saat dini hari dan jalur jelajah dari hutan lindung pohon jati hingga berakhir di Sungai Oya. Obyek wisata ini terletak di dalam Hutan Turunan, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul wilayah barat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Watu Payung Hutan Turunan dengan keragaman geologi, keragaman hayati dan keragaman budaya yang khas merupakan bagian dari 32 geosite dan geoforest di kawasan karst Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Permasalahan timbul saat sistem tanda terpasang di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark bertolak belakang dari peran yang seharusnya mampu membangun suasana khas kawasan konservasi. Tampilan sistem tanda terpasang lebih tepat ditempatkan di kawasan atau bangunan komersial dan korporasi. Penggunaan material industri berbiaya tinggi pada sistem tanda terpasang bertentangan dengan butir-butir pasal pada Tujuan Pembangunan yang Berkelanjutan. Hal ini timbul karena belum ada konsep dan perancangan sistem tanda yang dapat dijadikan panduan oleh sebagian masyarakat setempat sebagai pengelola atraksi alam dalam wilayah konservasi. Pola empat pada falsafah budaya Jawa sedulur papat kalima pancer, kiblat papat kalima pancer sebagai pedoman orientasi ruang dari Keraton Yogyakarta dan jalma limpat seprapat tamat merupakan bagian dari keseharian masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Pola ini menjadi sumber gagasan perumusan konteks kritis ii bagian terpenting dari Metode Practice-led Research. Metode penelitian performatif dengan mengeksplorasi rancangan sebagai alternatif dari metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif yang menghasilkan teori baru disertai suatu karya. Konteks kritis penelitian ini menghasilkan tiga kelompok rumusan. Pertama, rumusan menggunakan gagasan sedulur papat berisi empat kriteria pada sistem tanda nuansa keragaman budaya (1) jenama dengan komponen warisan seni budaya dan kriya lokal, (2) teknik menulis manual dan spontan pada jenama dan judul penanda, (3) benda warisan seni, budaya dan kriya lokal sebagai bagian penanda, (4) warisan seni, budaya dan kriya lokal tak benda. Kedua, rumusan gagasan kiblat papat berisi empat nuansa keragaman geologi dan hayati sebagai kriteria fisik dan lokasi sistem tanda (1) wilayah pengelolaan (2) peletakan terintegrasi jenis - jenis penanda dengan mendekatkan atau menggabungkan, (3) strategi jangkauan pengelola mempertimbangkan karakteristik kontur alam, jarak dan lokasi penempatan sistem tanda, (4) mengoptimalkan pemanfaatan material alam dan memanfaatkan sumber cahaya alami di bawah tanah, alam terbuka dan pesisir pantai. Seluruh komponen melebur pada sistem tanda sebagai kalima pancer. Penggunaan sistem tanda virtual imaterial sebagai gagasan jalma limpat sprapat tamat dipergunakan sebagai media yang mengakomodasi kompleksitas dan dinamika materi edukasi dikemas dalam perangkat kompak, ringkas dan interaktif berbasis teknologi digital. Sepuluh kriteria pada gagasan konsep merancang sistem tanda ini dinamakan Pancer Jalma. Irisan Model Metode Piramida Penanda sebagai teori sistem tanda pendahulu dengan konsep ini didominasi oleh kriteria-kriteria yang sejalan. Model Teori Semiotika digunakan untuk menganalisis makna dari sistem tanda terpasang dan luaran karya dari praktik. Uji luaran karya terhadap respons masyarakat dilakukan dengan cara diskusi kelompok terfokus, menyebarkan angket dan pameran. Penanda terpasang dari zona publik dan di dalam Watu Payung Hutan turunan dibandingkan dengan luaran karya dilakukan analisa menggunakan sepuluh kriteria pada Konsep Pancer Jalma. Hasilnya, sepuluh kriteria dari Konsep Pancer Jalma berkurang secara bertahap mengikuti pergeseran yang dimulai dari zona geoforest/geosite bergerak ke zona transisi hingga zona publik. Dengan demikian Konsep Pancer Jalma terbukti menjawab permasalahan dan dapat dipakai sebagai konsep pedoman perancangan sistem tanda di kawasan geopark. Selain memenuhi syarat fungsi, sistem tanda memiliki konotasi konsisten dengan keragaman khas geopark dan lebih dalam lagi menyiratkan nilai sejarah serta penggunaan material terbarukan.

2024
👤 Penulis: Diah Natarina
🏷️ Geologi 🏷️ Kebudayaan 🏷️ Pendidikan Lingkungan
Halaman 1 dari 2
💬