📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenASSESSING CULTURAL VALUE ORIENTATION THROUGH CORE VALUES,CASE STUDY: SBM -ITB
Masyarakat di Indonesia terdiri dari berbagai macam kelompok etnis yang berbasis pada daerah-daerah dan mitos yang berbeda-beda sebagai identitas mereka. Setiap kelompok etnis memiliki ideologi yang berbeda yang mengontrol perilaku mereka. Hal ini bisa disebut sebagai kebudayaan. Para anggota dari setiap komunitas yang ada di setiap daerah bekerja dan hidup bersama dalam perkumpulan dan organisasi yang sama dan mereka membutuhkan sebuah petunjuk sebagai kebudayaan mereka. Visi, misi, dan nilai inti adalah tiga pedoman krusial yang menjadi fondasi utama dari setiap organisasi. Nilai inti merupakan ideologi dari sebuah organisasi karena sangat mendasar bagi setiap anggotanya dalam menjalankan perannya di organisasi dan hal ini menciptakan kebudayaan organisasi. Ketika semua anggota dalam suatu organisasi menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka, misi dari organisasi tersebut akan berjalan sesuai dengan rencana dan visi dari organisasi juga akan terealisasi dengan baik. Meskipun demikian, dalam sebuah organisasi, tidak semua anggotanya menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka dalam bekerja. Masalah ini timbul pada salah satu organisasi edukaasi terbaik di Indonesia, yaitu Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor apa saja yang yang dapat mempengaruhi kebudayaan anggotanya sehingga tidak menjadikan nilai inti sebagai pedoman mereka. Pendekatan yang akan dilakukan oleh peneliti adalah menggunakan metode orientasi nilai yang sakan dihubungkan dengan nilai inti dari SBM melalui teknik projektif dan wawancara. Sebagai hasilnya, patokan abstrak dari nilai inti yang dirasakan oleh anggota SBM dan juga perbedaan latar belakang dan budaya dari setiap anggota menyebabkan perbedaan sudut pandang dalam hidup, karya, dan juga terhadap sesama manusia Sudut pandang dari setiap anggota dapat mempengaruhi persepsi mereka tentang pengertian mengenai nilai inti sehingga dapat mengakibatkan ketidakselarasan pada visi dan misi SBM. Untuk meyamakan persepi setiap anggotanya, SBM sebaiknya membuat patokan yang jelas dalam pengertian setiap nilai intinya dan mensosialisasikan hal tersebut kepada setiap anggotanya sehingga seluruh anggota dapat mengimplementasikan nilai inti dalam setiap tindakannya. Kata kunci: nilai inti, orientasi nilai budaya, visi
MENGIDENTIFIKASI DAN MENYELARASKAN BUDAYA ORGANISASI UNTUK PERTUMBUHAN BISNIS: STUDI PERBANDINGAN OCAI DARI AMUSPHERE, TENTANG KITA, DAN NEXPLUS
Seiring dengan meningkatnya ekosistem startup di Indonesia, terutama dalam sektor kreatif industri, startup menghadapi tantangan untuk bertahan dan berkembang. Sekitar 90% startup gagal menjadi perusahaan mapan. Karena tantangan eksternal sulit dikendalikan sepenuhnya, membangun fondasi internal yang kuat menjadi kunci. Salah satu caranya melalui budaya organisasi. Budaya yang selaras dengan strategi akan memperkuat motivasi dan efektivitas tim, sedangkan budaya yang tidak sesuai justru dapat menimbulkan demotivasi dan kebingungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendiagnosis budaya organisasi saat ini dan yang diharapkan di tiga startup kreatif, yaitu Amusphere, Tentang Kita, dan Nexplus. Selain itu, penelitian mengevaluasi sejauh mana keselarasan budaya terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap kinerja organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method dengan desain eksplanatori: kuantitatif melalui kuesioner Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI), dan kualitatif melalui wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi yang selaras mendukung pencapaian tujuan perusahaan dengan memperkuat motivasi dan kohesi tim. Sebaliknya, ketidaksesuaian budaya menimbulkan tantangan dalam kedisiplinan, akuntabilitas, dan arah kerja. Penelitian ini menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar pergeseran budaya, melainkan kesesuaian (kongruensi) antara nilai, praktik, dan struktur yang membentuk budaya organisasi.
ANALISIS BUDAYA ORGANISASI MELALUI ORGANIZATIONAL CULTURE ASSESSMENT INSTRUMENT & COMPETING VALUES FRAMEWORK: STUDI KASUS PT. SGM
Penelitian ini mengevaluasi budaya organisasi PT. SGM dengan menggunakan Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI) yang didasarkan pada Competing Values Framework (CVF). Penelitian ini membahas kebutuhan untuk mengidentifikasi budaya organisasi di PT. SGM untuk mengatasi masalah-masalah seperti kurangnya kohesi dan kesalahpahaman di antara para karyawan. Sejak 2019, SGM telah berkembang pesat namun mengalami kesulitan dalam penyelarasan budaya, sehingga memerlukan penilaian yang komprehensif. Data dari 30 karyawan dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner OCAI, yang mengukur enam dimensi budaya: karakteristik dominan, kepemimpinan organisasi, pengelolaan karyawan, perekat organisasi, penekanan strategis, dan kriteria keberhasilan. Hasil analisis menunjukkan budaya yang berorientasi pada Klan dengan elemen Hirarki yang signifikan. Karyawan lebih menyukai pergeseran ke arah budaya Pasar dan Adhokrasi, yang menekankan pada daya saing, pencapaian tujuan, inovasi, dan fleksibilitas. Temuan-temuan tersebut menunjukkan perlunya SGM mengurangi kontrol hirarkis dan mendorong lingkungan yang lebih inovatif dan kompetitif. Rekomendasi yang diberikan termasuk mengadopsi pendekatan pengambilan keputusan dari bawah ke atas, menerapkan kepemimpinan transformasional, dan melaksanakan coaching untuk pemimpin. Studi ini memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti untuk menyelaraskan budaya SGM sehingga dapat memperkuat posisinya di industri pemasaran digital.