📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 8 dokumen

PERANCANGAN KIT PEMBELAJARAN INTERAKTIF SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL UNTUK GENERASI ALPHA USIA 8-11 TAHUN

Kecerdasan emosional merupakan kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi yang menjadi dasar ketahanan mental, empati, dan keterampilan sosial anak. Pada anak Generasi Alpha usia 8-11 tahun, kemampuan ini menghadapi tantangan baru: paparan perangkat digital yang tinggi berpotensi mengurangi interaksi langsung yang bermakna dengan orang tua dan lingkungan, sementara anak pada tahap operasional konkret membutuhkan media belajar yang nyata, visual, dan interaktif. Perancangan ini bertujuan menghasilkan media pembelajaran kecerdasan emosional yang sesuai dengan karakteristik tersebut. Metode perancangan menggunakan pendekatan Double Diamond (Discover, Define, Develop, Deliver) dengan pengumpulan data melalui studi pustaka, kuesioner terhadap 68 siswa sekolah dasar di Kota Bandung, serta wawancara dengan psikolog dan guru sekolah dasar. Hasil analisis data dirumuskan menjadi kit pembelajaran interaktif analog bernama Nara Rasa, yang terdiri dari Peta Dunia Rasa, buku interaktif Pustaka Dunia Rasa, Jurnal Ruang Rasa, Kartu Tantangan Rasa, dan lembar Misi Jejak Pulang. Seluruh komponen dibingkai narasi petualangan tokoh Nara di Dunia RASA dengan pendekatan storytelling dan sistem progress untuk membangun pemahaman emosi secara bertahap, dari kesadaran diri, regulasi emosi, hingga empati, sekaligus mendorong interaksi berkualitas antara anak dan orang tua. Kit ini diharapkan menjadi media alternatif pembelajaran kecerdasan emosional yang menyenangkan dan bermakna bagi Generasi Alpha.

2026
👤 Penulis: Gladys Febrianti Atmadja
🏷️ Kecerdasan Emosional 🏷️ Media Pembelajaran Interaktif 🏷️ Pendidikan Digital

PERANCANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR BERTEMA FRIENDSHIP QUALITY SEBAGAI MEDIA EDUKASI SOSIAL-EMOSIONAL ANAK USIA 7–11 TAHUN

Perkembangan sosial-emosional anak usia 7–11 tahun berperan penting dalam pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan kesejahteraan emosional. Salah satu aspek penting dalam perkembangan tersebut adalah friendship quality, yaitu kualitas pertemanan yang ditandai oleh rasa nyaman, dukungan, penerimaan, dan hubungan timbal balik yang positif. Namun, konsep ini masih jarang diangkat secara eksplisit dalam media edukasi anak di Indonesia. Perancangan ini bertujuan merancang buku cerita bergambar bertema friendship quality sebagai media edukasi sosial-emosional bagi anak usia 7–11 tahun. Metode pengambilan data yang digunakan meliputi studi pustaka, wawancara dengan psikolog anak, guru bimbingan konseling, wali kelas, pustakawan, serta wawancara dan kuesioner kepada anak. Berdasarkan hasil analisis, dirancang buku cerita bergambar Mencari Cahaya yang dilengkapi dengan buku pendamping Ruang Cerita sebagai panduan diskusi antara anak dan orang tua. Hasil uji coba menunjukkan bahwa media yang dirancang membantu anak memahami konsep pertemanan yang sehat, mengenali teman yang membuat mereka merasa nyaman, serta menghubungkan pesan cerita dengan pengalaman pribadi. Sementara itu, buku pendamping dinilai efektif mendukung kegiatan membaca bersama dan refleksi antara anak dan orang tua.

2026
👤 Penulis: Dzakiyya 'Athifah Faza
🏷️ Kecerdasan Emosional 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Media Edukasi 🏷️ Pendidikan Anak Usia 7-11 Tahun

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL PARENTING TENTANG BATASAN DIRI SEBAGAI FONDASI PEMBENTUKAN RELASI SEHAT BAGI ANAK PEREMPUAN UNTUK ORANG TUA DI INDONESIA

Minimnya edukasi mengenai batasan diri (boundaries) dan relasi sehat pada anak perempuan usia sekolah dasar menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam mengenali, menyampaikan, dan mempertahankan batasan diri di kemudian hari. Permasalahan tersebut diperparah oleh pola komunikasi keluarga yang masih sering mengabaikan perasaan, pendapat, dan kebutuhan anak. Perancangan kampanye sosial parenting “Dengar Aku, Boleh?” bertujuan meningkatkan kesadaran orang tua mengenai pentingnya komunikasi yang sehat sebagai fondasi pembentukan batasan diri dan relasi yang sehat pada anak perempuan. Metode perancangan yang digunakan adalah Double Diamond yang terdiri atas tahap Discover, Define, Develop, dan Deliver. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, wawancara dengan psikolog anak, serta wawancara dengan target audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam membangun batasan diri berawal dari pengalaman mereka ketika didengar, dihargai, dan diberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan maupun pendapat. Temuan tersebut melahirkan insight bahwa perilaku yang sering dianggap sebagai pembangkangan atau kenakalan anak sesungguhnya merupakan upaya mereka untuk menyampaikan kebutuhan dan membangun batasan diri. Berdasarkan insight tersebut, dirancang kampanye sosial dengan big idea “Dengar Aku, Boleh?” yang menggunakan sudut pandang anak sebagai narasi utama untuk membangun kedekatan emosional dan mendorong refleksi orang tua. Strategi komunikasi kampanye menggunakan model AISAS yang diterjemahkan ke dalam tiga tahapan, yaitu conditioning, informing, dan reminding. Pesan kampanye disampaikan melalui media digital dan media luar ruang yang saling terintegrasi sehingga mampu menjangkau audiens secara efektif. Melalui perancangan ini diharapkan orang tua dapat lebih memahami pentingnya mendengarkan anak sebagai langkah awal dalam mendukung perkembangan batasan diri dan relasi yang sehat.

2026
👤 Penulis: Valezska A. Theophilus
🏷️ Komunikasi Keluarga 🏷️ Pendidikan Anak Perempuan 🏷️ Kecerdasan Emosional

DESAIN INTERAKSI GAMIFIKASI UNTUK PEMBELAJARAN DAN PENGUJIAN EMOTIONAL, SOCIAL, SERTA ADVERSITY QUOTIENT

Emotional Quotient (EQ), Social Quotient (SQ), dan Adversity Quotient (AQ) merupakan bagian dari domain kecerdasan yang esensial dalam kehidupan sehari-hari, tetapi belum didukung oleh adanya aplikasi atau website pembelajaran dan pengujian yang terintegrasi. Sebagian besar fasilitas belajar hanya cenderung berfokus kepada satu domain kecerdasan saja dengan pengalaman pembelajaran dan pengujian yang kurang menarik, minim variasi media, hingga desain antarmuka yang belum mendukung kemudahan serta keterlibatan pengguna. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengembangkan solusi desain interaksi yang melibatkan komponen gamifikasi untuk mendukung proses pembelajaran EQ, SQ, dan AQ. Pengembangan dilakukan dengan menggunakan metodologi user-centered design (UCD) sesuai dengan standar internasional ISO 9241-210:2010. UCD dipilih karena desain interaksi yang dikembangkan perlu melibatkan karakterstik, permasalahan, hingga kebutuhan pengguna untuk memastikan solusi desain telah mencapai user experience goals dan usability goals. Hasil akhir dari tugas akhir ini berupa prototipe high-fidelity dari aplikasi pembelajar dan pengujian domain kecerdasan EQ, SQ, dan AQ yang telah diuji selama dua kali iterasi oleh lima partisipan. Berdasarkan evaluasi akhir, solusi desain dinyatakan dapat memenuhi user experience goals dan usability goals dengan Task Completion Rate bernilai 100%, Number of Errors bernilai 0 (tidak ada error), Time on Task sebesar 74,98 detik, Single Ease Question (SEQ) mencapai 6,95 dari 7, System Usability Scale (SUS) bernilai 90 dari 100, User Experience Scale mencapai 4,7 dari 5, IMI: Value/Usefulness sebesar 6,77 dari 7, serta Net Promoter Scale mencapai 9,8 dari 10. Pengukuran kuantitatif tersebut menunjukkan bahwa solusi desain berhasil menciptakan pengalaman pengguna yang efektif, efisien, menarik dan menyenangkan, relevan, dan mendukung keterlibatan pengguna dalam proses pembelajaran dan pengujian EQ, SQ, dan AQ secara menyeluruh. Dengan demikian, hasil perancangan ini diharapkan dapat menciptakan pengalaman interaksi yang intuitif, memuaskan, dan mendorong keterlibatan secara optimal.

2025
👤 Penulis: Gracia Theophilia
🏷️ Gamifikasi 🏷️ Kecerdasan Emosional 🏷️ Manajemen Pengguna

SEEING-FEELING: REPRESENTASI KEUTUHAN DIRI MELALUI SENI LUKIS

‘Seeing-Feeling’ merupakan proyek tugas akhir yang mengeksplorasi keinginan penulis dalam mencari keutuhan diri yang definit dan autentik. Upaya pencarian ini melibatkan proses konstruksi diri yang disebut sebagai self-model. Self-model dibangun dari kesadaran atas apa yang ingin ditampilkan oleh penulis melalui dirinya; identitas, tubuh, dan perasaan. ‘Seeing-Feeling’ dimaknai sebagai melihat dan juga merasakan apa yang ada di dalam diri. Self-model yang dikonstruksikan secara internal dalam diri penulis diperagakan secara gestural di depan kamera. Kemudian, kamera menangkap pergerakan tubuh penulis menggunakan metode long-exposure yang menghasilkan foto diri penulis dengan gestur yang menumpuk. Penumpukan gestur yang kian menyatu diibaratkan sebagai proses penyatuan dalam mencapai keutuhan diri penulis. Hasil foto yang telah terkumpul kemudian dilukis menjadi enam karya potret diri. Terdapat penyesuaian ketika melukis figur yang menumpuk, dengan pertimbangan bagian-bagian tubuh yang sengaja diperjelas dan sengaja dikaburkan. Potret diri dilukis menggunakan metode seni lukis representasional. Proyek ini ditujukan untuk mencari keutuhan diri yang mengantarkan penulis pada penerimaan diri dan identitasnya sebagai seorang perempuan.

2025
👤 Penulis: Yasmin Shafira
🏷️ Seni Lukis 🏷️ Kecerdasan Emosional 🏷️ Penelitian Kreatif

MEMAHAMI PERILAKU KEUANGAN DI KALANGAN PEMUDA: PERAN SELF-ESTEEM, KECERDASAN EMOSIONAL, DAN TOLERANSI RISIKO

Para pemuda Indonesia semakin rentan terhadap perilaku keuangan yang buruk akibat ketidakpastian ekonomi, pengaruh media sosial, dan tekanan budaya. Berbagai tekanan ini seringkali mendorong terbentuknya kebiasaan keuangan yang tidak sehat, menurunnya rasa percaya diri, serta rendahnya kecerdasan emosional. Kemudahan dalam mengakses pinjaman online, ditambah dengan rendahnya literasi keuangan, stigma terhadap kesehatan mental, dan gaya hidup konsumtif, semakin menghambat kemampuan mereka dalam mengambil keputusan keuangan yang bijak, membangun kepercayaan diri, dan mengelola emosi secara efektif. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor psikologis yang memengaruhi perilaku keuangan di kalangan anak muda Indonesia, yang saat ini sedang berada dalam fase transisi menuju kemandirian dan awal karier. Menghadapi tantangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tiga faktor psikologis (toleransi risiko, kecerdasan emosional, dan harga diri) memengaruhi pengambilan keputusan dan perilaku keuangan di kalangan anak muda Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif statistik, data dikumpulkan dari 306 responden berusia 18 hingga 30 tahun yang berdomisili di Jabodetabek melalui survei online yang mewakili populasi ini. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk mengetahui hubungan antar variabel. Studi ini menunjukkan bahwa self-esteem, kecerdasan emosional, dan toleransi risiko masing-masing berpengaruh langsung dan positif terhadap perilaku keuangan di kalangan generasi muda Indonesia. Self-esteem dan kecerdasan emosional meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan mengendalikan emosi dalam mengelola keuangan, sementara toleransi risiko mendorong tindakan keuangan yang lebih proaktif. Namun, toleransi risiko tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan antara variabel lainnya dan perilaku keuangan, yang berarti bahwa masing-masing faktor memberikan kontribusi secara mandiri dalam membentuk keputusan keuangan yang bertanggung jawab.

2025
👤 Penulis: Rini Triani
🏷️ Psikologi Keuangan 🏷️ Manajemen Risiko 🏷️ Kecerdasan Emosional

RUANG KOSONG YANG RAMAI, PIKIRAN MEDITATIF

Latar belakang penciptaan karya ini adalah mindfulness yaitu berkesadaran untuk menciptakan kesehatan, ketenangan, pandangan terang dan kebahagiaan. Rumusan masalah dari penciptaan karya adalah, “Bagaimana mewujudkan berkesadaran melalui karya?” Judul karya penulis adalah Ruang Kosong yang Ramai, dalam Pikiran Meditatif. Ruang Kosong yang Ramai dalam pengertian penulis adalah adanya kesadaran dan pikiran. Ruang adalah kesadaran manusia, tempat hilir mudik banyaknya pikiran yang lewat setiap harinya. Kosong adalah keadaan dimana manusia sering kali tidak sadar dengan kesadarannya, sehingga pikiran yang terus bermunculan itu tidak ada artinya karena nampak kosong. Keramaian yang penulis gambarkan di sini adalah hal positif, yang merupakan arti dari ‘Utuh’ itu sendiri, dimana manusia tidak dikendalikan oleh pikirannya, namun sebaliknya manusia yang mengendalikan pikirannya. Ruang Kosong yang Ramai menggambarkan keseharian penulis dimana melalui proyek ini penulis menemukan titik – titik meditatif tenang (samatha) dan terang (vipassana) yaitu teori berkesadaran diri sejati dari Buddha yang diaplikasikan pada metode terapeutik seni, dan autotelik seni. Pengkaryaan ini menerapkan 3 teori seni yaitu seni sebagai simbol, seni sebagai tanda, dan Surealisme. Metode yang digunakan secara sistematis adalah metode dari alur proses kreasi Hawkins, dimana terdapat 3 tahap yaitu mendapatkan inspirasi (ide), lalu perancangan dan terakhir perwujudan karya seni. Kesimpulan dari proses berkarya dan karya ini adalah berkarya dengan kedalaman diri, lewat pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan, memperoleh pesan dari semua momen yang terjadi. Kondisi meditatif menghadirkan ketenangan dan pikiran terang, sehingga semakin mengenal diri lebih dalam lagi dan bahagia setelah berkarya. Hasil akhir karya, diharapkan mampu mengajak penikmat karya untuk, merasakan mindfulness dengan mengamati dan berpikir, maksud dari mindfulness disini, orang dapat mengapresiasi karya, tetapi masih memiliki kebebasan untuk membuat penafsiran sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya, yang terpenting adalah mendapatkan inside, bahwa selalu ada makna dibalik hal-hal kecil, keseharian.

2024
👤 Penulis: Veronika Dheta Kristami
🏷️ Pikir Manajemen 🏷️ Kecerdasan Emosional 🏷️ Mindfulness

PERANCANGAN INTERIOR SEKOLAH DASAR DENGAN PENDEKATAN KECERDASAN EMOSIONAL DI BANDUNG

Pendidikan merupakan pilar penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Namun, kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk banyaknya anak yang mengalami tantrum di sekolah, kesulitan fokus saat pembelajaran, interaksi sosial yang kurang baik antar siswa, dan pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan anak. Masalah-masalah ini diperparah oleh beban kerja guru yang berat dan dampak negatif pandemi COVID-19 terhadap pendidikan. Kecerdasan emosional dipandang sebagai solusi yang tepat untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, karena dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengontrol emosi, bertanggung jawab, dan fokus terhadap pendidikan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk merancang interior sekolah dasar di Bandung dengan pendekatan kecerdasan emosional. Desain interior yang diusulkan bertujuan untuk mendukung perkembangan kecerdasan emosional anak dan meningkatkan interaksi positif antara siswa dan guru, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan suportif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi survei, observasi, wawancara, dan kajian literatur untuk memahami kebutuhan dan tantangan yang ada. Diharapkan, hasil perancangan ini dapat memberikan panduan praktis dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih positif dan mendukung seluruh proses kegiatan belajar mengajar secara maksimal.

2024
👤 Penulis: Erica Bridgette
🏷️ Interior Sekolah 🏷️ Kecerdasan Emosional 🏷️ Pendidikan Dasar
💬