📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenKUANTIFIKASI SERAPAN AIR DAN NERACA ENERGI BUDIDAYA SELADA MERAH (LACTUCA SATIVA L.) PADA BERBAGAI SPEKTRUM CAHAYA BUATAN
Pencahayaan buatan berbasis light-emitting diode (LED) merupakan inovasi pertanian modern dengan potensi tinggi dalam sistem controlled environment agriculture yang memungkinkan pengaturan informasi pencahayaan spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spektrum pencahayaan buatan paling ideal dalam proses konversi energi foton dan listrik menjadi energi biomassa selada merah (Lactuca sativa L.) serta menentukan spektrum pencahayaan buatan paling ideal dalam akumulasi biomassa selada merah (Lactuca sativa L.) per serapan air. Penelitian membandingkan pengaruh perlakuan pencahayaan buatan berbasis high power LED P1 (warm white 3000 K), P2 (pure white 6000 K), P3 (cool white 8000 K), P4 (monokromatik 1R:1B), dan P5 (monokromatik 3R:1B) terhadap karakterisasi rangkaian pencahayaan buatan, kandungan energi biomassa, neraca konversi energi, dan serapan air budidaya. Setiap perlakuan diulang dalam empat ruang pertumbuhan dengan posisi yang diacak menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Analisis statistika dilakukan menggunakan uji one-way ANOVA dan Tukey HSD, Welch’s ANOVA dan Games-Howell, serta Kruskal-Wallis dan Dunn. Karakterisasi rangkaian pencahayaan buatan mengukur daya foton pencahayaan (PAR), total konsumsi energi listrik (TEEC), dan efikasi produksi foton (PPE) melalui pengukuran daya listrik dan spektroradiometri. PAR mencapai nilai tertinggi pada P3 sebesar 0.221 + 0.009 MJ?m?2?h?1. TEEC tertinggi terdapat pada P1 sebesar 28.63 + 0.00 kWh. PPE mencapai nilai tertinggi pada P4 sebesar 0.680 + 0.008 ?mol?J-1. Kandungan energi biomassa dianalisis melalui pengukuran nilai kalor (HHV) melalui kalorimetri dan perhitungan akumulasi energi kimia (CEY) biomassa kering. Tidak terdapat perbedaan nyata perlakuan pencahayaan terhadap nilai HHV dengan rata-rata total sebesar 15.07 + 0.48 MJ?kg-1. CEY mencapai nilai tertinggi pada P1 sebesar 0.251 + 0.045 MJ. Neraca konversi energi meninjau efisiensi konversi energi foton (LUE) dan listrik (ECE) menjadi energi kimia dalam biomassa serta akumulasi biomassa segar (EUE, fresh) dan kering (EUE, dry) per konsumsi energi listrik. LUE mencapai nilai tertinggi pada P1 sebesar 1.61 + 0.07%. ECE mencapai nilai tertinggi pada P5 sebesar 0.29 + 0.08%. EUE, fresh mencapai nilai tertinggi pada P5 sebesar 9.91 + 2.61 g?kWh-1. EUE, dry mencapai nilai tertinggi pada P5 sebesar 0.69 + 0.18 g?kWh-1. Serapan air dikuantifikasi dengan menghitung akumulasi biomassa segar (WUE, fresh) dan kering (WUE, dry) per serapan air tanaman. WUE, fresh mencapai nilai tertinggi pada P1 sebesar 49.29 + 7.62 g?L-1. WUE, dry mencapai nilai tertinggi pada P1 sebesar 3.53 + 0.69 g?L-1. Dari penelitian ini, didapatkan bahwa P1 memiliki efisiensi tertinggi dalam mengonversi energi foton menjadi energi kimia biomassa serta mengakumulasi biomassa per volume penyerapan air, sedangkan P5 memiliki efisiensi tertinggi dalam mengonversi energi listrik menjadi energi kimia biomassa.
STUDI EVALUASI DESAIN BUKAAN DAN RUANG DALAM TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI DAN VISUAL WELL-BEING PENGHUNI UNIT APARTEMEN
Unit vertikal seperti apartemen semakin berkembang di lingkungan perkotaan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Akan tetapi, desain apartemen sebagai unit vertikal tentunya berbeda dengan desain unit tapak. Tata letak ruang dalam tidak sepenuhnya mendapatkan pencahayaan alami optimal yang merata akibat dari bukaan fasad tunggal. Apartemen sebagai lingkungan fisik menjadi faktor eksternal yang menciptakan lingkungan cahaya yang dapat memengaruhi well-being penghuni. Pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan menjadi stimulus persepsi visual dan respon biologis melaui jalur image forming (IF) dan non-image forming (NIF). Tidak optimalnya pencahayaan alami di dalam ruang dapat disebabkan oleh proporsi jendela yang kurang tepat atau orientasi ruang yang kurang optimal sehingga dapat memengaruhi well-being penghuni. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif terhadap 32 unit dan 37 responden pengukuran lapangan iluminansi horizontal (Eh), iluminansi vertikal (Ev), dan equivalent melanopic lux (EML), simulasi data pencahayaan tahunan (sDA dan ASE), serta survei kesejahteraan (SPANE-B) dan persepsi kenyamanan visual. Hasil menunjukkan bahwa kondisi pencahayaan alami di dalam ruang merupakan kombinasi simultan dari posisi terhadap obstruksi, desain selubung bangunan, orientasi dan layout ruang. EML berhubungan positif dengan keseimbangan SPANE-B, dengan 200 melanopic lux sebagai ambang minimum. Kontribusi penelitian ini adalah pada hubungan stimulus cahaya dengan kesejahteraan penghuni di dalam konteks hunian serta pada perumusan kombinasi parameter desain.
APLIKASI TERRESTRIAL LASER SCANNER DALAM BIDANG KEHUTANAN (PENENTUAN 12 PARAMETER BIOMASSA)
Manajemen hutan merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan hutan secara bijaksana. Manajemen hutan dilakukan terhadap berbagai aspek, salah satunya adalah pemantauan terhadap kompetisi intraspesifik yang merupakan salah satu faktor kunci pertumbuhan pohon di dalam hutan. Pohon dapat merespon tekanan kompetitif dari pohon tetangganya melalui pola pertumbuhan batang dan tajuk untuk menghindari kompetisi. Banyak metode pengukuran di bidang kehutanan yang digunakan untuk mengambarkan kompetisi yang terjadi di dalam hutan. Salah satu metode baru yang sedang dikembangkan dalam bidang kehutanan adalah Terrestrial Laser Scanner (TLS). Penelitian ini mengaplikasikan (TLS) untuk mengukur 12 parameter biomassa tumbuhan yang berkaitan dengan interaksi antar pohon. Parameter-parameter itu berupa parameter pada batang, parameter pada tajuk, dan parameter antar pohon Metodologi yang digunakan adalah studi literatur, membuat rencana pengukuran, melaksanakan pengambilan data, mengolah data TLS, mencari besaran parameter yang diinginkan dan melakukan validasi hasil pengukuran TLS dengan membandingkan hasil pengukuran menggunakan pita ukur. Hasil penelitian ini berupa hasil ukuran 12 parameter biomassa yang berkaitan dengan kompetisi antar pohon. Hasil pengukuran menggunakan TLS dapat dinyatakan valid, karena selisih hasil pengukuran dengan hasil pengukuran menggunakan pita ukur sebesar 1 mm – 7.73 cm. TLS dapat diaplikasikan pada bidang kehutanan dan mampu menganalisis bentuk komplek 3-Dimensi dari pohon, terutama plastisitas pertumbuhan dari tajuk pohon, sehingga dapat digunakan untuk memprediksi kompetisi yang terjadi. Namun pengukuran menggunakan TLS mempunyai kendala pada daerah dengan intensitas hembusan angin yang sering karena dapat membuat bentuk objek menjadi tidak konsisten.
POTENSI PERDAGANGAN KARBON BERBASIS CO-BENEFITS DI BKPH MANGLAYANG BARAT
Sektor kehutanan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon. Indonesia menargetkan net sink 140 juta ton CO?e pada 2030 melalui strategi FOLU Net Sink 2030 (KLHK, 2022). BKPH Manglayang Barat memiliki potensi implementasi perdagangan karbon, didukung oleh pendapatan yang didominasi hasil hutan bukan kayu dan ekowisata. Namun, proyek konservasi yang hanya menghitung karbon memiliki keterbatasan. Co-benefits yang mencakup layanan ekosistem, kesejahteraan sosial, dan pembangunan berkelanjutan dapat menjadi solusi lengkap dalam perdagangan karbon. Penelitian ini menganalisis kondisi perubahan karbon, profil co-benefits (biodiversitas, hidrologi, sosial-ekonomi), zonasi prioritas implementasi, dan proyeksi pendapatan dari penjualan kredit karbon di BKPH Manglayang Barat. Analisis karbon menggunakan Framework Comprehensive Assessment dan Land Use Land Cover approach. Co-benefits dianalisis melalui species richness (biodiversitas), Annual Water Yield (hidrologi), dan luas-kepadatan penduduk desa (sosial-ekonomi). Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) membobotkan ketiga co-benefits untuk integrasi dengan zonasi prioritas karbon. Proyeksi pendapatan dihitung dari kredit karbon dengan berbagai skenario harga. Hasil menunjukkan perubahan karbon BKPH Manglayang Barat stabil dengan laju sekuestrasi 0,75 tC/ha/tahun dan total kredit karbon 2.305-11.110 tCO?/tahun. Berdasarkan distribusi species richness, kawasan ini direkomendasikan menjadi empat zona pengelolaan, yaitu Zona Konservasi Prioritas I, Zona Konservasi Prioritas II, Zona Restorasi, dan Zona Investigasi. Zonasi ini bertujuan untuk mengarahkan perlindungan ketat, pemanfaatan terbatas, upaya pemulihan habitat, serta kebutuhan studi lanjutan. Dari jasa hidrologi, BKPH Manglayang Barat menghasilkan aliran air tahunan rata-rata 126,81 mm/tahun atau 5,24 juta m3/tahun yang berperan dalam stabilitas aliran, pengendalian banjir, dan ketersediaan air musim kering. Berdasarkan variasi kategori aliran air, kawasan ini dibagi menjadi Zona Konservasi, Zona Pemanfaatan Berkelanjutan, dan Zona Restorasi. Ketiga zona tersebut mengarahkan strategi perlindungan, pemanfaatan, dan pemulihan aliran serta fungsi hidrologi jangka panjang. Integrasi data persentase luas desa dalam BKPH Manglayang Barat dan kepadatan penduduk menghasilkan skor prioritas sosial-ekonomi yang menggambarkan tingkat ketergantungan dan tekanan potensial masyarakat terhadap kawasan BKPH. Dari 19 desa terdapat lima desa yang memiliki luas dalam BKPH yang signifikan dan kepadatan penduduk tinggi, sedangkan yang lainnya termasuk kategori sedang dan rendah. Masing-masing kategori diarahkan pada strategi pengelolaan yang berbeda, mulai dari pemberdayaan ekonomi, penguatan kesadaran, sampai monitoring lingkungan. Skema implementasi perdagangan karbon dibagi ke dalam empat zona prioritas yang membedakan fokus intervensi, mulai dari perlindungan kawasan dengan stok karbon tinggi, peningkatan stok melalui restorasi dan agroforestri, pengembangan zona riset dan pilot metodologi, hingga penguatan kapasitas sosial masyarakat. Proyeksi pendapatan karbon dasar mencapai Rp207.360.000-Rp999.900.000/tahun, sementara itu dengan co-benefits mencapai Rp10.824.870-Rp1.559.309.400/tahun.
FAKTOR-FAKTOR PENCAHAYAAN YANG MEMENGARUHI KEJELASAN VISUAL, KENYAMANAN VISUAL, DAN PENGALAMAN VISUAL PENGGUNA PADA RUANG SAKRAL GEREJA KATOLIK
Tata cahaya (baik alami maupun artifisial) berpotensi menjadi elemen desain penting yang dapat mendukung kesakralan gereja Katolik. Dampak Konsili Vatikan II menyebabkan perubahan pada karakter arsitektur gereja Katolik dan memunculkan isu memudarnya kesakralan pada gereja modern. Penelitian ini mengeksplorasi peran faktor-faktor pencahayaan di ruang ibadah gereja Katolik, dengan membandingkan dua karakteristik gereja klasik (Katedral St. Petrus, Bandung) dan kontemporer (St. Laurentius, Bandung) pada tiga skenario cahaya (pagi-cahaya alami, sore-cahaya gabungan, dan malam-cahaya buatan). Pendekatan kuantitatif-korelasional dan eksperimental digunakan untuk mengumpulkan data persepsi visual melalui kuesioner dan data fisiologis (perekaman detak jantung dan sinyal otak) yang dilengkapi dengan pengukuran fotometrik cahaya. Total 38 responden berpartisipasi dalam pengambilan data di ruang nyata dan ruang realitas virtual (VR) menggunakan foto HDR 3600. Analisis data dilakukan dengan metode statistik menggunakan JMP Pro 14 dan Structural Equation Modeling (SEM) yang diolah melalui SmartPLS 4 untuk mengungkap perbedaan persepsi antar skenario ruang dan cahaya serta mengidentifikasi hubungan antar faktor pencahayaan dan berbagai persepsi kejelasan visual, kenyamanan visual, dan pengalaman visual yang meliputi impresi ruang dan emosi spiritual. Secara umum, VR memiliki keunggulan dalam eksperimen terkontrol karena memungkinkan reproduksi yang lebih cepat dan efisiensi yang tinggi. Penelitian menegaskan teknologi VR dapat mereplikasi fotometrik pencahayaan buatan lebih akurat, tetapi masih terbatas dalam meniru spektrum warna dan intensitas cahaya alami karena keterbatasan spesifikasi perangkat VR. Foto 3600 yang ditampilkan dalam VR efektif mereplikasi skala ruang dan pengalaman emosional ruang sakral. Namun, sifat dinamis pencahayaan alami di ruang nyata, penggunaan gambar HDR, serta tampilan layar OLED dalam VR dapat menyebabkan perbedaan persepsi kejelasan dan kenyamanan visual di kedua lokasi. Penelitian ini memberikan referensi dasar untuk mengevaluasi persepsi kesakralan di ruang-ruang sakral. Pengalaman sakral dalam ruang gereja merupakan hasil interaksi antara dimensi emosional umat dengan suasana ruang yang dibentuk oleh arsitektur dan pencahayaan. Faktor kejelasan dan kenyamanan visual memengaruhi pengalaman visual yang dipersepsikan umat. Gereja klasik, dengan karakter monumental dan pencahayaan yang lebih redup, berwarna, dan kontras membangkitkan kekuatan spiritual meliputi kekaguman, harapan, dan kegembiraan sekaligus membuka ruang bagi penderitaan batin, seperti rasa takut, sedih, dan cemas. Sebaliknya, gereja kontemporer menawarkan pendekatan arsitektural yang lebih proporsional dan sederhana, dengan pencahayaan alami yang lembut dan merata, yang mendorong suasana nyaman, reflektif, dan penuh ketenangan batin. Temuan fisiologis menunjukkan bahwa cahaya berperan signifikan dalam memicu reaksi otak yang berkaitan dengan emosi spiritual. Selain untuk menarik perhatian, aksentuasi cahaya pada elemen simbol dapat mendukung fungsi devosi pada ruang ibadah yang ditandai dengan peningkatan frekuensi detak jantung. Peningkatan gelombang beta dan gamma di gereja klasik pada malam hari mengindikasikan ketidaknyamanan visual akibat silau, sementara rasio theta/beta dan theta/alpha meningkat pada pagi hari, mengarah pada pengalaman spiritual negatif. Hal ini tidak ditemukan di gereja kontemporer, yang pencahayaannya lebih mendukung kenyamanan visual. Metode neurofisiologis ini berpotensi untuk mendukung eksplorasi yang lebih mendalam terhadap pengalaman kesakralan. Penelitian menegaskan bahwa cahaya merupakan elemen kunci dalam membentuk atmosfer sakral yang khas pada masing-masing pendekatan arsitektur. Penelitian memberikan wawasan praktis bagi perancang dan pemangku kepentingan dalam merancang pencahayaan yang mendukung kesakralan ruang. Pengetahuan ini tidak hanya relevan untuk pengembangan desain pencahayaan ruang ibadah, tetapi juga berpotensi diterapkan pada ruang publik yang membutuhkan pengalaman emosional-spiritual serupa. Pendekatan ini dapat diperluas untuk mengeksplorasi peran cahaya dalam membentuk pengalaman kesakralan lintas budaya dan agama.
KARAKTERISASI ANATOMI KAYU TREMBESI (SAMANEA SAMAN JACQ. MERR ) DAN KAYU CEMPAKA(MAGNOLIA CHAMPACA L. BAILL. EX PIERRE) SECARA RADIAL
Karakterisasi anatomi kayu merupakan studi komprehensif mengenai struktur internal kayu secara makroskopis dan mikroskopis. Identifikasi kayu dilakukan secara radial sebab cincin pertumbuhan jelas teramati sehingga ciri-ciri kayu dapat dianalisis secara representatif. Dalam karakterisasi anatomi kayu, identifikasi dapat dilakukan melalui analisis karakteristik dan dimensi pembuluh, serat, dan trakeid. Identifikasi anatomi kayu pada parameter panjang serat dapat digunakan dalam menentukan titik kayu peralihan sebagai batas antara kayu juvenil dan dewasa. Pada penelitian ini, kayu trembesi dan kayu cempaka dipilih sebab bervariasi dalam diameter dan jumlah cincin pertumbuhan pada bagian batang utama. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik dan dimensi anatomi kayu yakni pembuluh dan serat serta menentukan batas kayu juvenil dan kayu dewasa. Karakteristik serat dan pembuluh diidentifikasi melalui hasil sayatan pada tiga bidang, penampang batang, dan hasil maserasi. Sementara itu, dimensi serat dan pembuluh diukur melalui penambahan diameter kayu per cincin pertumbuhan, analisis korelasi dimensi serat, dan analisis statistik terkait panjang serat antar area pendewasaan kayu pada 16 cincin pertumbuhan kayu trembesi dan 27 cincin pertumbuhan kayu cempaka. Dimensi serat diukur tiap cincin pertumbuhan sebanyak 50 kali pengulangan, panjang dan diameter pembuluh sebanyak 15 kali ulangan, dan frekuensi pembuluh sebanyak 3 kali ulangan. Batas kayu juvenil dan dewasa ditentukan melalui tren panjang serat dengan model regresi tersegmentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pembuluh kayu trembesi dan kayu cempaka yakni menyebar (diffuse porous) dan terdapat pembuluh tunggal maupun berganda. Pembuluh kayu trembesi terdapat deposit berwarna merah kecoklatan, tipe perforasi sederhana, intervessel pit tersusun secara alternate, batas noktah antara jari-jari dan pembuluh jelas. Sementara itu, karakteristik pembuluh kayu cempaka yakni tipe perforasi scalariform, intervessel pit tersusun secara opposite dan scalariform, batas noktah antara jari-jari dan pembuluh tereduksi hingga berbentuk sederhana, terdapat tilosis. Karakteristik serat kedua kayu yakni berdinding tipis, tidak bersekat (nonseptate), dan tidak terdapat noktah. Perbedaan kedua kayu yakni serat kayu trembesi terdapat struktur kristal prismatik. Rerata panjang pembuluh trembesi sebesar 277,37±71,97 ?m sedangkan kayu cempaka sebesar 768,85±133,99 ?m; diameter pembuluh kayu trembesi sebesar 313,35±82,42 ?m sementara kayu cempaka sebesar 126,97±30,40 ?m, frekuensi pembuluh trembesi sebesar 2,88±0,45 pembuluh/mm2 dan kayu cempaka sebesar 15,31±30,40 pembuluh/mm2. Rerata penambahan diameter kayu trembesi sebesar 1,76±0,63 cm/periode pertumbuhan sementara kayu cempaka sebesar 0,69±0,36 cm/periode pertumbuhan; panjang serat kayu trembesi sebesar 1.090±107,99 ?m sedangkan cempaka sebesar 1.674±318,89 ?m; diameter serat kayu trembesi sebesar 21,9±3,42 ?m sementara kayu cempaka sebesar 23,33±3,13 ?m; diameter lumen serat kayu trembesi sebesar 15,7±3,51 ?m sedangkan kayu cempaka sebesar 14,86±3,51 ?m; tebal dinding serat kayu trembesi sebesar 3,08±0,82 ?m sementara kayu cempaka sebesar 4,24±0,82 ?m; dan titik pendewasaan kayu trembesi dimulai pada cincin pertumbuhan ke-14 sedangkan kayu cempaka pada cincin pertumbuhan ke-21. Korelasi dimensi serat menunjukkan bahwa panjang serat kedua kayu berkorelasi positif dengan tebal dinding serat sementara itu diameter dan diameter lumen serat berkorelasi negatif. Hasil uji signifikansi menunjukkan bahwa antar area pendewasaan kayu menunjukkan perbedaan panjang serat yang signifikan pada kayu juvenil dan peralihan. Kesimpulan hasil penelitian yakni karakteristik, dimensi serat dan pembuluh, serta batas kayu juvenil dan kayu dewasa antara kedua kayu tergolong bervariasi secara radial.