📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

ARCHITECTURE AS AN IMMUNE SYSTEM: PERANCANGAN HEALING ENVIRONMENT BAGI PENDERITA PENYAKIT AUTOIMUN

Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit kronis yang terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Diperkirakan terdapat 80 hingga 150 jenis penyakit autoimun, termasuk systemic lupus erythematosus (SLE), juvenile idiopathic arthritis, dan rheumatoid arthritis, yang seba gian besar bersifat melemahkan, harus dikelola seumur hidup, dan belum memiliki terapi kuratif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan prevalensi penyakit autoimun sebesar 40% yang menyerang kelompok usia produktif maupun lanjut usia. Fenomena ini menciptakan tantangan medis dan sosial dikarenakan pasien sering menghadapi beban psikologis, skeptisisme publik, dan keterbatasan dukungan non-medis. Sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Barat, Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menyediakan layanan subspesialis dengan kuota terbatas, termasuk untuk kasus autoimun. Keterbatasan ini membuat banyak pasien dari luar pusat kota harus datang jauh lebih awal untuk mendapatkan nomor antrean. Di sisi lain, tidak terdapat akomodasi khusus yang dapat meringankan pasien. Situasi ini menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga pada lingkungan pendukung yang terintegrasi. Untuk itu, arsitektur diposisikan sebagai immune system eksternal, sebuah pendekatan holistik yang memandang ruang tidak hanya sebagai wadah fisik, melainkan sebagai mekanisme yang melindungi tubuh, mendukung proses pemulihan, serta memperkuat inklusivitas sosial. Sejalan dengan pendekatan tersebut, riset dalam bidang architectural neuroimmunology menunjukkan bahwa desain biophilic, seperti penggunaan cahaya alami, material, vegetasi, dan kualitas akustik dapat menurunkan aktivitas neuroinflammation atau indikator stres fisik pasien. Hal ini mendasari perumusan proyek sebagai sebuah healing environment yang menghubungkan pasien, masyarakat, dan lingkungan melalui integrasi fungsi rumah singgah dan fasilitas pemulihan privat sebagai recovery spaces; serta ruang eksibisi interaktif dan plaza makanan sehat (healthy food hub) sebagai sarana edukasi publik, promosi gaya hidup sehat, dan interaksi sosial. Berlokasi strategis di lingkungan RSHS Bandung, rancangan ini menjadi perpanjangan tangan layanan medis sekaligus wadah edukasi dan advokasi publik mengenai penyakit autoimun. Metode perancangan dimulai dengan studi literatur tentang arsitektur kesehatan dan healing environment, observasi lapangan untuk memahami kebutuhan aktual pasien, serta analisis preseden global untuk mengidentifikasi aspek arsitektur terbaik yang mendukung. Proyek ini menghasilkan rancangan arsitektur yang berperan sebagai mekanisme perlindungan sekaligus penguatan resiliensi. Lebih dari sekadar fasilitas, rancangan ini menjadi medium edukasi dan advokasi sosial yang membangun lingkungan inklusif bagi penderita autoimun, sejalan dengan tujuan SDGs 3 (Good Health and Well-Being), 10 (Reduced Inequalities), dan 11 (Sustainable Cities and Communities).

2026
👤 Penulis: Ceccy Noveliana Suherlim
🏷️ Kesehatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN ALAT PELINDUNG DIRI LATIHAN KYORUGI BELA DIRI TAEKWONDO UNTUK ATLET WANITA

Bias data adalah fenomena di dunia modern di mana misrepresentasi data mempengaruhi pengambilan keputusan di berbagai aspek, tak terkecuali desain. Ketidakakuratan representasi terhadap hal-hal yang harusnya diperuntukkan untuk penggunaan umum, justru abai dalam mendengarkan kebutuhan kaum tertentu. Dalam hal ini, perempuan, walau mencakup setengah populasi dunia, seringkali tidak dipertimbangkan dalam proses perancangan dunia modern. Fenomena ini tidak luput dari berbagai bidang, baik itu kesehatan, teknologi, hingga olahraga. Melalui penelitian ini, desain produk mengintervensi sesuatu yang diperuntukkan untuk wanita menggunakan pertimbangan yang memenuhi kebutuhan tersebut.

2025
👤 Penulis: Kayla Nadda Octamary
🏷️ Desain Produk 🏷️ Kesehatan 🏷️ Teknologi

SUCCESSFUL AGING: BANGUNAN APARTEMEN DAN FASILITAS PENUNJANGNYA UNTUK LANSIA DI KOTA BANDUNG

Peningkatan jumlah lansia di Indonesia akibat peningkatan Angka Harapan Hidup (AHH) menyebabkan Indonesia sejak tahun 2019 telah masuk struktur penduduk tua (ageing population). Hal ini menunjukkan 10% penduduk Indonesia adalah penduduk lansia. Penduduk lansia adalah penduduk yang berusia di atas 60 tahun. Peningkatan ini menyebabkan Indonesia mengalami bonus demografi ke-2. Bonus demografi kedua adalah keadaan ketika lansia ikut berkontribusi kepada ekonomi. Agar bonus demografi ke-2 di Indonesia dapat tercapai, lansia di Indonesia harus melalui proses penuaan yang baik atau disebut successful aging. Successful aging adalah kondisi ketika lansia terhindar dari segala penyakit, memiliki fungsi kognitif dan fisik yang baik, serta memiliki rasa ingin dan keterlibatan dalam hidup yang tinggi. Akan tetapi, dalam menghadapi bonus demografi dan successful aging ini terdapat tiga permasalahan utama pada lansia yang menyebabkan lansia masuk ke dalam kategori penduduk rentan, yaitu masalah kesehatan (penghalang untuk indikator terbebas dari segala penyakit dan kemampuan kognitif dan fisik), lansia yang sudah tidak produktif secara ekonomi (penghalang untuk indikator lansia memiliki rasa ingin dan keterlibatan dalam hidup yang tinggi), dan membutuhkan pendamping atau caregiver (penghalang untuk indikator kemampuan kognitif dan fisik yang baik pada lansia). Ketiga masalah ini sebenarnya bersimpul pada satu isu permasalahan, yaitu kesehatan. Sebab lansia yang sehat akan mampu berkegiatan, bersosial, dan berkontribusi kepada perekonomian, dan tingkat ketergantungan kepada orang lain akan berkurang. Sehingga dibutuhkan perencanaan baik berupa preventif maupun korektif yang dapat membuat lansia merasakan successful aging sehingga bonus demografi ke-2 di Indonesia dapat terjadi secara maksimal. Salah satu perencanaan tersebut adalah menyediakan hunian beserta lingkungan yang ramah lansia dan mendukung lansia untuk melakukan berbagai kegiatan. Disebabkan meningkatnya jumlah penduduk maka kebutuhan terhadap lahan untuk membuat tempat tinggal semakin meningkat. Hal ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan yang semakin terbatas. Kemudian, isu selanjutnya adalah jumlah lansia yang semakin bertambah maka kebutuhan hunian dan lingkungan yang mendukung untuk lansia akan terus meningkat. Oleh karena itu, dalam proyek ini akan dirancang sebuah bangunan mixed-use dengan fungsi utama adalah hunian, yaitu apartemen, dan fasilitas kesehatan berupa klinik utama yang menitik beratkan kepada spesialis geriatri dengan pendekatan well-being architecture. Tujuan perancangan mendesain apartemen mixed-use dengan kriteria aging-friendly dan mendukung terjadinya successful aging dijawab dengan merancang fasilitas penunjang di dalam komplek apartemen untuk lansia dilengkapi dengan desain yang mempertimbangkan kenyamanan lansia. Tujuan perancangan mendesain apartemen mixed-use yang mendorong lansia agar sehat, mandiri, produktif secara ekonomi, dan bersosial agar mencapai successful aging dijawab dengan menyediakan ruang-ruang fan fasilits yang penunjang lansia untuk beraktivitas sehari-hari secara nyaman. Kemudian, tujuan perancangan mendesain apartemen mixed-use untuk lansia dengan pendekatan desain yang inovatif, adaptif, dan rekreatif dijawab dengan mendesain ruang yang memiliki tingkat kolaboratif tinggi sehingga dapat digunakan untuk berbagai acara dan membuat unit-unit yang dapat menyesuaikan kebutuhan lansia.

2024
👤 Penulis: Dewi Asriani Nurlaila
🏷️ Kesehatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Lingkungan
💬