πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 15 dokumen

USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)

Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Naswa Sany
🏷️ Keuangan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Kerja

TEMPA: PERANCANGAN PUSAT KOMUNITAS PENGRAJIN BESI MULTIFUNGSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DAN TEKNOLOGI BANGUNAN DI DESA MEKARMAJU

Penggunaan alat dan perkakas telah menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masa modern. Khususnya perkakas logam yang digunakan pada berbagai aplikasi, dan teknik tempa tradisional memegang peran penting dalam proses perkembangannya. Desa Mekarmaju merupakan salah satu tempat yang masih menjaga warisan tradisional ini hidup hingga saat ini. Banyak dari masyarakat di desa ini menggantungkan hidupnya pada usaha pembuatan alat dan perkakas secara tradisional, seperti cangkul, pisau dan golok. Akan tetapi, kelangsungan industri lokal ini berhadapan dengan masalah tata ruang, keselamatan kerja, dan kesehatan. Kondisi kerja yang mengharuskan pekerja berdekatan dengan tungku pembakaran yang menghasilkan gas buang berbahaya dan proses pengikisan yang menghasilkan debu halus yang bisa terhirup dapat berakibat buruk bagi kesehatan pengrajin. Selain itu gerakan berat berulang yang dilakukan para penempa apabila tidak dibarengi dengan ergonomi yang baik dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik pengrajin. Dari sisi Sosial-Ekonomi, banyak generasi muda yang enggan meneruskan profesi ini salah satunya karena lingkungan kerja yang kurang sehat. Ditambah lagi dengan menurunnya minat masyarakat luas pada kerajinan lokal. Menanggapi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah Pusat Komunitas Pengrajin Besi Multifungsi yang menyediakan ruang produksi yang lebih sehat dan menciptakan ruang pertunjukan kesenian pengrajin dan showcase serta fasilitas penunjang wisata guna mengenalkan dan meningkatkan minat masyarakat dan generasi muda pada kerajinan tempa. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui observasi langsung untuk memahami kebiasaan kerja dan permasalahan yang ada pada proses kerja yang ada di lapangan, dilengkapi dengan kajian literatur mengenai teknologi bangunan serta kesehatan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pengrajin sudah memiliki bentuk adaptasi lokal untuk memitigasi suhu tinggi yang dihasilkan dari proses pemanasan, yaitu menggunakan bilah bambu sebagai penutup dinding untuk memaksimalkan sirkulasi udara alami. Perancangan ini mengadaptasi kearifan lokal tersebut dan melengkapinya dengan sistem cerobong asap untuk mengarahkan aliran udara panas bersama dengan gas buang hasil pembakaran dengan lebih optimal. Untuk menangani permasalahan debu logam yang dihasilkan dari proses grinding, perancangan ini memperkenalkan elemen air di sekitar ruang produksi untuk meningkatkan kelembaban udara yang terbukti dapat menekan kadar partikel besi yang mengambang di udara ditambah efek mendinginkan udara sekitar. Perbaikan fasilitas kerja, ditambah dengan penambahan fasilitas wisata ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang profesional dan atraktif. Sebagai kesimpulan, perancangan Pusat Komunitas Pengrajin Besi Multifungsi ini dapat menjadi purwarupa bagi pengembangan ruang produksi yang lebih sehat di Desa Mekarmaju. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya memahami dan menghormati kearifan lokal yang ada dalam membuat pengembangan sebuah ruang yang berkelanjutan bagi komunitas pengrajin.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ananda Zahid Ziazan Sobandi
🏷️ Desain Komunikatif 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Kerja

ANALISIS PENGARUH FAKTOR INDIVIDU, BEBAN KERJA, DAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK TERHADAP KELELAHAN PEKERJA PERUSAHAAN FURNITUR PT X

Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh dari faktor individu, faktor lingkungan fisik, dan beban kerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja perusahaan furnitur PT X menggunakan metode cross-sectional dengan melibatkan 25 pekerja PT X. Variabel independen pada penelitian ini berupa faktor individu (usia, status pernikahan, riwayat pendidikan, masa kerja, durasi kerja, durasi tidur, kebiasaan merokok, dan riwayat penyakti), faktor lingkungan fisik (intensitas pencahayaan, kebisingan, kelembaban, debu, serta indeks suhu basah dan bola), dan beban kerja. Kelelahan kerja dinilai menggunakan metode subjective self-rating test (SSRT). Persebaran kelelahan kerja yang terjadi pada 25 pekerja PT X menunjukkan 60% mengalami tingkat kelelahan rendah dan 40% mengalami tingkat kelelahan sedang. Mayoritas pekerja mengalami pelemahan saat berkegiatan dan kelelahan fisik. Uji regresi pada penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh signifikan antara kelelahan kerja dengan durasi tidur (P-value=0,016) dan kebisingan (Pvalue=0,031), sedangkan usia (P-value=0,092), status pernikahan (P-value=0,538), masa kerja (P-value=0,884), durasi kerja (P-value=0,841, kebiasaan merokok (Pvalue=0,077), riwayat penyakit (P-value=0,090), intensitas pencahayaan (Pvalue=0,859), kelembaban (P-value=0,526), debu (P-value=0,798), indeks suhu basah dan bola (P-value=0,918), dan beban kerja (P-value=0,534) tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil uji regresi, dilakukan analisis regresi multivariat pada faktor yang memiliki p-value<0,25 (durasi tidur, kebisingan, usia, kebiasaan merokok, dan riwayat penyakit). Analisis regresi multivariat menunjukkan bahwa kebiasaan merokok menjadi faktor multivariat yang paling dominan dalam memengaruhi kelelahan (P-value=0,014).

2026
πŸ‘€ Penulis: Samuel H Aldo Sianipar
🏷️ Keuangan Dan Manajemen 🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Analisis Regresi

PERANCANGAN PANDUAN PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA DAN PENYAKIT AKIBAT KERJA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Perkebunan kelapa sawit Indonesia merupakan perkebunan terbesar di seluruh dunia. Sektor ini menyumbangkan produk domestik bruto (PDB) yang tinggi bagi Indonesia. Namun, sektor ini masih dihadapkan pada tantangan keselamatan dan kesehatan Kerja (K3). Tingkat kecelakaan kerja (KK) di sektor perkebunan mencapai 60,5% dari total kasus nasional. Penyakit akibat kerja (PAK) juga tidak luput dari perhatian walaupun terjadi underreporting di Indonesia. Kondisi ini juga disebabkan oleh pekerjaan di perkebunan yang masih padat karya dan minim penggunaan teknologi. Selain itu, tidak adanya panduan resmi terkait implementasi K3 di perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga berkontribusi pada hal ini. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko KK dan PAK yang dihadapi pekerja perkebunan kelapa sawit dan merancang panduan pencegahan yang relevan. Pada penelitian ini, data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur, job hazard analysis (JHA), dan focus group discussion (FGD) dengan berbagai pemangku kepentingan. Data FGD yang diperoleh selanjutnya diolah melalui analisis tematik untuk mengidentifikasi faktor risiko yang ada dan perumusan intervensi yang dibutuhkan. Perancangan panduan dilakukan dengan benchmark panduan terkait K3 yang relevan. Panduan kemudian divalidasi oleh stakeholder untuk memperoleh feedback sebagai perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan beragam faktor risiko yang dihadapi pekerja, meliputi safety hazard (misal: penggunaan alat tajam), ergonomic hazard (misal: postur janggal), psychosocial hazard (misal: tekanan manajerial), biological hazard (misal: gigitan serangga), chemical hazard (misal: pestisida), dan physical hazard (paparan suhu panas). Faktor risiko ini berpotensi menimbulkan gangguan muskuloskeletal, masalah pernapasan, hingga cedera langsung. Berdasarkan temuan dalam penelitian, dihasilkan panduan pencegahan KK dan PAK di perkebunan kelapa sawit dengan tujuh elemen utama program K3. Panduan ini telah mendapatkan respons positif dari stakeholder dan diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan KK dan PAK.

2026
πŸ‘€ Penulis: Hana Salsabila
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EVALUATION OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY (OHS) IMPLEMENTATION IN MICRO, SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES (MSME) BASED ON WORKERS' ASSESSMENT (CASE STUDY: MSME X FURNITURE)

Penelitian ini mengevaluasi penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berdasarkan penilaian pekerja. K3 penting untuk melindungi pekerja dan menjaga produktivitas, namun UMKM sering menghadapi tantangan karena keterbatasan sumber daya, manajemen informal, serta perilaku budaya yang menormalisasi praktik tidak aman. Tujuan penelitian ini adalah menilai kesadaran pekerja terkait K3 pada aspek persepsi, pemahaman, dan kemampuan memproyeksikan risiko; mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada kecelakaan kerja; serta memberikan rekomendasi yang selaras dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Penelitian dilakukan di UMKM X furniture dengan 28 responden dari divisi produksi, finishing, dan kantor. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup yang didukung wawancara dan referensi literatur. Analisis korelasi mengonfirmasi adanya hubungan negatif yang signifikan secara statistik antara kesadaran K3 dan kecelakaan kerja. Kesadaran yang lebih tinggi terkait dengan lebih sedikit insiden, mendukung pandangan teoritis bahwa kesadaran adalah faktor pencegahan. Hasil menunjukkan bahwa kesadaran K3 di kalangan pekerja umumnya berada pada tingkat sedang, didominasi oleh dimensi pemahaman, sementara faktor kecelakaan kerja juga berada pada tingkat sedang dengan faktor manusia paling berpengaruh. Hasil subkelompok menunjukkan pekerja produksi tetap pada kesadaran sedang meskipun risikonya lebih tinggi, sedangkan staf kantor melaporkan kesadaran lebih tinggi dan insiden lebih sedikit, serta karakteristik demografis seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, dan lama kerja juga memengaruhi hasil. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti tantangan bagi UMKM, termasuk keterbatasan finansial, lemahnya sistem manajemen, dan hambatan budaya terhadap penggunaan APD. Rekomendasi mencakup penguatan kesadaran melalui pelatihan partisipatif, peningkatan fasilitas dengan langkah berbiaya rendah, peningkatan komitmen manajerial, dan mencari dukungan eksternal, sementara adopsi pedoman ILO WISE by PAOT diusulkan untuk mendukung peningkatan teknis maupun partisipatif.

2025
πŸ‘€ Penulis: Patricia G E Sitohang
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

INFLUENCE OF WORK ENVIRONMENT CONDITIONS AND INDIVIDUAL FACTORS ON WORKER FATIGUE (CASE STUDY: MSME X FURNITURE)

Penelitian ini mengkaji pengaruh kondisi lingkungan kerja dan faktor individu terhadap kelelahan kerja pada UMKM X Furnitur dengan menggunakan desain cross-sectional yang melibatkan seluruh 25 pekerja UMKM tersebut. Variabel independen dalam penelitian ini terdiri atas kondisi lingkungan kerja (intensitas pencahayaan, tingkat kebisingan, suhu, kelembaban) dan faktor individu (usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan terakhir, kebiasaan merokok, masa kerja, jam kerja per hari, durasi tidur per hari, dan beban kerja). Kelelahan kerja dinilai menggunakan Subjective Self-Rating Test (SSRT). Distribusi kelelahan kerja menunjukkan bahwa 64% pekerja mengalami kelelahan rendah, dan 36% mengalami kelelahan sedang. Sebagian besar pekerja mengalami kelelahan dalam bentuk pelemahan aktivitas dan kelelahan fisik, sedangkan pelemahan motivasi hanya ditemukan pada sebagian kecil pekerja. Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelelahan kerja dengan tingkat kebisingan (Sig.=0,004) dan jam kerja per hari (Sig.=0,009), sedangkan intensitas pencahayaan (Sig.=0,426), suhu (Sig.=0,175), kelembaban (Sig.=0,175), usia (Sig.=0,646), jenis kelamin (Sig.=0,465), status pernikahan (Sig.=0,426), tingkat pendidikan (Sig.=0,189), kebiasaan merokok (Sig.=0,426), masa kerja (Sig.=0,175), durasi tidur per hari (Sig.=0,843), dan beban kerja (Sig.=0,567) tidak signifikan. Analisis regresi linier berganda mengonfirmasi bahwa tingkat kebisingan merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi kelelahan kerja (Sig.=0,013). Rekomendasi mencakup strategi pengendalian kebisingan, solusi pendinginan, serta pengaturan jam kerja yang optimal untuk mengurangi kelelahan dan meningkatkan produktivitas serta keselamatan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Najma Aileen Shadrina
🏷️ Keuangan Manajemen 🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

USULAN PERBAIKAN RANCANGAN EARPLUG DENGAN MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KENYAMANANNYA

Penggunaan alat pelindung telinga atau earplug di lingkungan kerja di Indonesia masih menunjukkan tingkat kepatuhan yang rendah. Kondisi ini mencerminkan belum optimalnya penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terutama dalam aspek perlindungan terhadap paparan kebisingan. Ketidaknyamanan pengguna menjadi salah satu alasan utama rendahnya penggunaan earplug di lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kenyamanan penggunaan earplug di Indonesia serta memberikan usulan rancangan desain earplug yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penilaian kenyamanan dilakukan menggunakan kuesioner COmfort of hearing PROtection Device (COPROD) yang mencakup empat dimensi: physical comfort, functional comfort, acoustical comfort, dan psychological comfort. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 458 pengguna earplug dan dianalisis menggunakan metode partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM). Hasil pengolahan menunjukkan setiap dimensi memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kenyamanan keseluruhan atau overall comfort penggunaan earplug. Selanjutnya, dilakukan penentuan atribut kenyamanan yang memiliki kepentingan tinggi dan performa yang kurang baik menggunakan importance- performance map analysis (IPMA). Berdasarkan analisis yang dilakukan, dimensi physical comfort merupakan dimensi dengan atribut-atribut yang memiliki kepentingan tinggi dalam meningkatkan kenyamanan keseluruhan penggunaan earplug dan pada saat ini, performanya masih perlu diperbaiki. Dimensi functional comfort juga memiliki performa yang belum optimal, tetapi kepentingannya cukup rendah sehingga memiliki prioritas perbaikan yang lebih rendah. Perancangan solusi dilakukan dengan menerjemahkan atribut terpilih tersebut menjadi kebutuhan fungsional dan kebutuhan teknis kemudian menentukan aspek perancangan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan performanya.

2025
πŸ‘€ Penulis: Aqila Fatima Pulungan
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Desain Alat Pelindung 🏷️ Analisis Kualitas Produk

MANAJEMEN RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI KECAMATAN SOLOKANJERUK KABUPATEN BANDUNG

UMKM di Indonesia berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional, namun aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada sektor ini masih sering diabaikan. Kecamatan Solokanjeruk, sebagai sentra UMKM, menghadapi potensi bahaya seperti kebisingan, pencahayaan di bawah standar, paparan debu berlebih, serta postur kerja yang buruk. Keterbatasan sumber daya membuat penerapan K3 yang komprehensif sulit dilakukan. Penelitian ini menganalisis manajemen risiko K3 pada tujuh UMKM dari sektor olahan makanan, budidaya, dan konveksi menggunakan metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control) untuk mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko, dan merumuskan strategi pengendalian berdasarkan hirarki pengendalian serta model justifikasi (Risk Score, Cost Factor, Degree of Correction). Hasil menunjukkan 11 bahaya dengan skor risiko 1 (low) hingga 6 (medium), di mana 28% strategi pengendalian termasuk prioritas tinggi dengan biaya rendah namun efektif, seperti good housekeeping, peregangan saat bekerja, pengaturan ulang waktu kerja, dan edukasi prosedur aman. Bahaya risiko sedang mencakup postur kerja tidak ergonomis, paparan debu halus, organisme hidup, penggunaan alat tajam, paparan minyak panas, kebisingan, dan getaran. Strategi prioritas tinggi umumnya mudah diterapkan dan berdampak signifikan meski dengan sumber daya terbatas. Rekomendasi mencakup penerapan APD sesuai bahaya, pelatihan prosedur aman, penataan lingkungan kerja, dan penyusunan SOP sederhana bagi UMKM, serta perluasan regulasi K3, program pelatihan, bantuan APD, dan pendampingan teknis oleh pemerintah untuk membangun budaya kerja aman yang efektif, efisien, dan terjangkau.

2025
πŸ‘€ Penulis: Talitha Ardilla Haryanto
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PENGARUH FAKTOR PENYEBAB KELELAHAN PEKERJA KONSTRUKSI TERHADAP KINERJA KESELAMATAN KERJA

Industri konstruksi di Indonesia menghadapi masalah serius terkait keselamatan dan kesehatan kerja (K3), dengan sektor konstruksi menyumbang 63,6% dari total kecelakaan kerja nasional menurut data BPJS Ketenagakerjaan pada tahun 2022. Kelelahan fisik pekerja, yang disebabkan oleh beban kerja berat serta faktor lingkungan seperti suhu ekstrem, pencahayaan, dan kebisingan berkontribusi signifikan terhadap tingginya angka kecelakaan. Oleh karena itu, pengelolaan kelelahan kerja menjadi kunci penting dalam menurunkan angka kecelakaan dan meningkatkan keselamatan pekerja di sektor konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor lingkungan kerja dan karakteristik individu terhadap tingkat kelelahan kerja pada pekerja konstruksi serta mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh dalam kelelahan kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 81 pekerja berusia antara 20 hingga 50 tahun. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor-faktor fisik lingkungan kerja yang diukur menggunakan Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) dan 4-in-1 Environment Meter, sementara variabel terikatnya adalah kelelahan kerja yang diukur melalui kuesioner International Fatigue Research Committee dan pengujian waktu reaksi. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik, beberapa variabel yang mempengaruhi kelelahan kerja dapat diidentifikasi baik pada kondisi outdoor maupun indoor. Pada pekerja outdoor, dua variabel yang berpengaruh signifikan adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan nilai p = 0,022 dan Temperatur dengan nilai p = 0,026. Sementara pada kondisi indoor, Intensitas Kebisingan menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai p = 0,039. Variabel lainnya seperti usia, lama kerja, intensitas cahaya, dan beban kerja tidak menunjukkan pengaruh signifikan pada kedua kondisi tersebut .

2025
πŸ‘€ Penulis: Charlos Malino
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Konstruksi 🏷️ Hidrologi Lingkungan

ANALISIS PENGARUH KESADARAN DAN PENGAWASAN TERHADAP KEPATUHAN K3 PADA PEKERJA PROYEK KONSTRUKSI (STUDI KASUS RUMAH SAKIT UNIT PELAKSANA TEKNIS KUPANG DI PROVINSI NTT)

Setiap penyelenggaraan pekerjaan dalam sektor konstruksi tidak lepas dari isu keselamatan dan kesehatan kerja dalam pelaksanaanya.Terutama dalam hal kesadaran dan pengawasan terhadap kepatuhan keselamatan dan kesehatan kerja.Hal ini ditunjukan dengan tingginya angka kecelakaan kerja dari seluruh sektor sebesar 7.35 % pada tahun 2020 berdasarkan data Badan Pusat Stastik (BPS) Nusa Tenggara Timur.Dan menyumbang sebesar 10.84 % dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2018 pada sektor konstruksi.Sektor jasa konstruksi adalah salah satu sektor yang paling berisiko terhadap kecelakaan kerja,oleh karena itu penulis ingin mengidentifikasi pengaruh kesadaran dan pengawasan terhadap kepatuhan K3 dan merumuskan strategi dalam meningkatkan kepatuhan K3 pada pekerja proyek rumah sakit unit pelaksana teknis kupang.Data yang diambil berdasarkan penyebaran kuisoner dan wawancara.Dari hasil deskriptif untuk masing-masing variabel berdasarkan hasil kuisoner yaitu kesadaran,pengawasan dan kepatuhan K3.Dengan masing-masing kriteria yang valid dan reliabel berjumlah 18 kriteria variabel kesadaran,12 kriteria variabel pengawasan dan 8 kriteria variable kepatuhan K3 secara mayoritas menjawab setuju dan sangat setuju.Maka dari itu pekerja secara sadar akan kepatuhan K3,serta adanya pengawasan kepada pekerja dalam penerapan kepatuhan K3.Dan para pekerja patuh terhadap penerpan K3 di proyek rumah sakit unit pelaksana teknis kupang.Sedangkan strategi yang dirumuskan menggunakan metode analisis SWOT untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kekuatan,kelemahan,peluang,dan ancaman dalam pelaksanaan K3.Dari hasil analisis SWOT dari pengabungan hasil eksiting dan hasil wawancara terhadap pihak HSE officer dan HSE supervisor.Maka didaptkan enam strategi alternatif yang tepat dan dapat digunakan untuk meningkatkan kepatuhan K3.

2025
πŸ‘€ Penulis: Hans Benedict Rifali Deno
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Risiko Keamanan 🏷️ Analisis Swot

PENINGKATAN PROGRAM REHABILITASI KERJA DI PT KALPRI

Program rehabilitative kerja merupakan salah satu upaya penting yang dilakukan perusahaan untuk membantu karyawan yang mengalami kondisi kesehatan yang menganggu produktivitas kerja agar dapat kembali bekerja secara optimal. Namun, di PT. KALPRI terjadi peningkatan jumlah karyawan yang menjalani program rehabilitasi kerja disertai dengan rendahnya tingkat keberhasilan dalam mengembalikan karyawan ke posisi semula setelah menjalani program tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan instrument kusioner kepada 71 responden dan melakukan wawancara mendalam 5 anggota komite rehabilitasi di PT. KALPRI. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi peningkatan jumlah karyawan yang direhabilitasi dan rendahnya tingkat keberhasilan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor internal yang menyebabkan peningkatan jumlah karyawan yang direhabilitasi adalah kebiasaan dan gaya hidup karyawan yang tidak sehat, seperti kebiasaan merokok, olahraga dan istirahat yang tidak teratur, sehingga memicu timbulnya berbagai penyakit seperti kardiovaskular, muskuloskeletal, dan obesitas. Secara eksternal, pandemi COVID-19 juga berkontribusi meningkatkan jumlah karyawan yang direhabilitasi akibat pembatasan aktivitas yang berdampak pada kesehatan karyawan. Sementara itu, faktor-faktor internal yang menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan program rehabilitasi adalah kebiasaan dan gaya hidup karyawan yang memperlambat proses penyembuhan, sehingga beberapa karyawan harus menjalani program "long sick" yang memperpanjang masa rehabilitasi. Secara eksternal, pembatasan aktivitas akibat pandemi COVID-19 juga berkontribusi besar terhadap rendahnya serapan kembali kerja karyawan setelah menjalani program rehabilitasi. Temuan penelitian ini menunjukkan perlunya peningkatan intervensi dan edukasi kesehatan yang lebih intensif untuk mengubah kebiasaan dan gaya hidup karyawan, serta perlunya koordinasi yang lebih kuat antara tim rehabilitasi dan manajemen dalam mengelola program rehabilitasi kerja, terutama di masa pandemi. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan keberhasilan program rehabilitasi kerja di PT. KALPRI.

2024
πŸ‘€ Penulis: Syamsul Bahri
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pandemi Covid-19

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI KUESIONER UNTUK IDENTIFIKASI AWAL PERMASALAHAN KESELAMATAN TRUK DI JALAN RAYA

Kepolisian Republik Indonesia mencatat truk menjadi kendaraan penyumbang angka kecelakaan lalu lintas terbesar ke-2 di Indonesia setelah sepeda motor selama tahun 2022 yang telah menyebabkan banyak kematian serta kerugian finansial yang besar. Namun demikian, belum banyak penelitian yang melakukan survei untuk mengidentifikasi faktor apa saja yang berkaitan dengan permasalahan keselamatan truk khususnya terkait kecelakaan truk. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah kuesioner untuk identifikasi awal permasalahan keselamatan truk di jalan raya dengan mempertimbangkan karakteristik operasional yang terjadi di Indonesia. Proses pengembangan kuesioner dilakukan dengan mengacu pada tahapan perancangan Macroergonomics Organizational Questionnaire Survey (MOQS) yaitu dimulai dari tahap konseptualisasi, perancangan kerangka konseptual kuesioner berdasarkan framework acuan, penyusunan item pertanyaan berdasarkan tinjauan pustaka, perancangan desain kuesioner, dan diakhiri dengan pengujian awal terhadap kuesioner. Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini berjumlah 40 orang yang berasal dari berbagai perusahaan. Hasil dari penelitian ini yaitu sebuah kuesioner yang berhasil dikembangkan sebanyak 75 pertanyaan yang terdiri dari 50 pertanyaan tertutup, 24 pertanyaan tertutup dengan jawaban skala Likert yang telah dinyatakan valid dan reliabel dengan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0.874, dan satu pertanyaan terbuka. Dengan demikian, hasil yang diperoleh dari kuesioner ini dapat diolah dan dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran awal terkait permasalahan keselamatan truk di Indonesia. Kuesioner ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk penelitian selanjutnya dalam mengidentifikasi faktor apa saja yang berkaitan dengan keselamatan truk khususnya kecelakaan truk di Indonesia secara lebih mendalam dengan sampel yang lebih besar dan mengakomodasi lebih banyak jenis truk.

2024
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Arif Palgunadi
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Keselamatan Transportasi

ANALISIS PENERAPAN KESELAMATAN KONSTRUKSI PADA MASA PASCA BERAKHIRNYA PANDEMI COVID-19: STUDI KASUS PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR PADA PROYEK KONSTRUKSI

Bencana pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada tahun 2019 telah merubah bagi masyarakat dari berbagai aspek dan menjadi tantangan baru untuk seluruh sektor industri. Pada Juni 2023, pemerintah telah menghapus aturan wajib protokol kesehatan, termasuk penggunaan masker dan pelaksanaan vaksinasi COVID-19. Kejadian ini menjadikan masa transisi menuju pasca pandemi. Upaya penanggulangan penyakit menular dalam sektor konstruksi harus difokuskan pada aspek promotif dan preventif, dengan tujuan menurunkan tingkat penyebaran penyakit menular di kalangan pekerja konstruksi. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas Analisis Penerapan Keselamatan Konstruksi Pada Masa Pasca Berakhirnya Pandemi COVID-19: Studi Kasus Pencegahan Penyakit Menular Pada Proyek Konstruksi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi penerapan protokol kesehatan pada proyek konstruksi pasca berakhirnya pandemi COVID-19, mengidentifikasi persiapan penanganan pencegahan penyakit menular pada proyek konstruksi, memberikan rekomendasi protokol kesehatan yang dapat disarankan pada proyek konstruksi selama masa pasca pandemi COVID-19. Pada penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan analisis taksonomi, data diperoleh dari hasil kuesioner pada proyek konstruksi terkait dengan penerapan protokol kesehatan pasca pandemi COVID-19. Dari hasil kuesioner didapatkan 29,41% proyek yang masih menerapkan protokol kesehatan pasca pandemi COVID-19. Persiapan-persiapan yang telah dilakukan oleh para penyedia jasa dari beberapa perusahaan BUMN sudah sesuai dengan protokol kesehatan pasca pandemi COVID-19 yang tercantum pada Surat Edaran Satuan Tugas Penanganan COVID-19 yaitu SE No. 1 Tahun 2023 tentang Protokol Kesehatan Pada Masa Transisi Endemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) tentang Protokol Kesehatan Pada Masa Transisi Endemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) menyatakan bahwa kegiatan skala besar dianjurkan untuk tetap melakukan perlindungan melalui upaya preventif dan promotif dan tetap melakukan pengawasan, pembinaan, penertiban, dan penindakan terhadap pelaksanaan protokol kesehatan. Kegiatan pengecekan kesehatan yang dilakukan beberapa proyek konstruksi juga sesuai dengan peraturan yang berlaku pada Permen PUPR No. 10 Tahun 2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi menyatakan bahwa dalam melakukan kegiatan untuk memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi tenaga kerja dan masyarakat di sekitar lokasi penyelenggaraan jasa konstruksi dengan melakukan pencegahan gangguan ii kesehatan dan penyakit akibat melalui cara pemeriksaan kesehatan dengan memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan kesehatan kerja mencakup: pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan khusus, pencegahan penyakit menular dan penyakit akibat kerja yang ditandatangani oleh ahli terkait dan kepala pelaksana pekerjaan konstruksi/wakil manajemen. Setelah itu dilakukannya analisis taksonomi untuk menghasilkan rekomendasi penanganan protokol kesehatan pada proyek konstruksi pasca pandemi COVID-19. Dari hasil analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa beberapa proyek konstruksi yang sedang berlangsung telah cukup baik dalam menerapkan protokol kesehatan pasca pandemi COVID-19 namun perlu ditingkatkan dan juga rekomendasi protokol kesehatan yang dapat disarankan pada proyek konstruksi selama masa pasca pandemi COVID-19 yaitu kepada pihak penyelenggara SMKK dengan memperkuat segi kesehatan bagi pekerja konstruksi serta perlunya menerapkan protokol kesehatan pada masa pasca pandemi COVID-19 sesuai dengan yang tercantum pada Surat Edaran Satuan Tugas Penanganan COVID-19 yaitu SE No. 1 Tahun 2023 tentang Protokol Kesehatan Pada Masa Transisi Endemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) tentang Protokol Kesehatan Pada Masa Transisi Endemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dengan mengontrol risiko penularan penyakit menular dan juga pada peraturan SMKK menambakan secara detail terkait kontrol terhadap penyakit menular pada Rencana Keselamatan Konstruksi.

2024
πŸ‘€ Penulis: Benediktus Wisnumurti
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Deskriptif Kualitatif

PERMASALAHAN PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA POTENSI PENGEMBANGANNYA PADA UMKM DI KECAMATAN SOLOKANJERUK

Dalam dunia kerja, tidak terlepas dari kemungkinan adanya risiko kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh sikap pekerja yang kurang peduli terhadap K3. Pada UMKM, tingkat risiko kecelakaan kerja lebih tinggi dikarenakan memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan keuangan sehingga penerapan K3 belum baik. Penerapan K3 menjadi satu hal yang penting untuk diterapkan, termasuk pada UMKM di Kecamatan Solokanjeruk. Namun, terdapat beberapa hambatan dalam penerapan K3, mulai dari pekerja hingga lingkungan kerjanya. Pada penelitian ini, dilakukan evaluasi kondisi lingkungan kerja di 9 UMKM dengan melakukan pengukuran parameter iklim kerja (ISBB), kebisingan, pencahayaan, PM2.5, dan PM10, serta dilakukan evaluasi penerapan K3 dan potensi pengembangan penerapan K3. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan penelitian kuantitatif untuk meneliti mengenai pelaksanaan K3 berdasarkan kondisi lingkungannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada permasalahan kondisi lingkungan kerja pada UMKM, yaitu kebisingan yang melebihi NAB pada UMKM Konveksi-2 dan Konveksi-3, konsentrasi debu yang melebihi NAB pada UMKM Olahan Makanan-1, Olahan Makanan-2, Konveksi-1, Konveksi-2, Konveksi-3, Telur Asin-2, dan Budidaya, serta tingkat pencahayaan yang kurang memadai pada UMKM Olahan Makanan-2, Olahan Makanan-3, Konveksi-1, Konveksi-3, dan Budidaya. Kemudian, terdapat permasalahan dalam penerapan K3 yang disebabkan oleh kurangnya informasi K3 serta keterbatasan sarana dan prasarana. Untuk itu, diperlukan pengembangan penerapan K3 berdasarkan potensi yang ada pada lingkungan kerja, dimulai dari penggunaan APD, kontrol administratif, dan kontrol teknik. Selain itu, metode manajemen tata letak dianjurkan untuk diterapkan di semua UMKM karena mudah dan ekonomis, guna menunjang kebersihan, kenyamanan, dan mengurangi risiko bahaya di tempat kerja.

2024
πŸ‘€ Penulis: Talitha Ardilla Haryanto
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Lingkungan

EVALUASI IMPLEMENTASI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PADA USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA BANDUNG

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan pilar perekonomian Indonesia yang telah berkontribusi terhadap PDB nasional sebesar 60,5% dan telah menyerap 96,9% tenaga kerja di Indonesia. Namun UMKM tidak luput dengan dihadapinya kendala dan tantangan salah satunya adalah mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sehingga perlu dilakukannya evaluasi dari penerapan K3 pada UMKM. Variabel yang digunakan dalam melakukan evaluasi adalah kesadaran K3, infrastruktur dan kondisi usaha, fasilitas K3, inspeksi serta insiden kecelakaan kerja dengan skala usaha sebagai variabel moderasi. Penelitian dilakukan dengan penyusunan dan penyebaran kuesioner kepada pemilik atau manajer dari UMKM dengan total sebesar 100 responden dari berbagai jenis usaha yaitu fashion, kuliner, jasa, perdagangan, konstruksi, kerajinan, hortikultura dan industri dari skala usaha mikro, kecil hingga menengah. Secara keseluruhan, berdasarkan dari variabel kesadaran K3, infrastruktur dan kondisi usaha, fasilitas K3, dan inspeksi didapati bahwa jenis usaha industri memiliki nilai rerata tertinggi dengan nilai sebesar 4,50-5,00 dari rentang 1,00-5,00 sedangkan pada jenis usaha hortikultura memiliki nilai terendah 2,55-4,75. Didapati bahwa variabel kesadaran K3, infrastruktur dan kondisi usaha, fasilitas K3, dan inspeksi tidak berpengaruh secara signifikan secara parsial dengan nilai signifikansi >0,05 terhadap insiden kecelakaan kerja. Namun jika dilakukan secara simultan atau bersama-sama maka berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan insiden kecelakaan kerja sebesar 21,6% dan dapat meningkat pengaruhnya sebesar 46,8% dengan adanya variabel moderasi yaitu skala usaha. Sisa dari persentase sebesar 78,4% berasal dari variabel lain yang belum diteliti seperti perilaku dan keterampilan tenaga kerja.

2024
πŸ‘€ Penulis: Putri Ramadini Mumpuni
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Risiko Kerja 🏷️ Pengendalian Kualitas Usaha
πŸ’¬