📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 31 dokumen

ANALISIS PERSEPSI RISIKO KESEHATAN MASYARAKAT DAN FAKTOR PENENTUNYA TERHADAP AKTIVITAS PERTAMBANGAN NIKEL DI KECAMATAN BAHODOPI, KABUPATEN MOROWALI

Ekspansi industri nikel global yang didorong oleh transisi energi telah mempercepat intensifikasi aktivitas pertambangan di Indonesia, khususnya di Morowali. Meskipun memberikan kontribusi ekonomi signifikan, aktivitas ini menimbulkan dampak kesehatan dan lingkungan yang kompleks, sementara kajian mengenai persepsi risiko masyarakat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi risiko kesehatan dan lingkungan masyarakat, variasinya secara spasial dan demografis, serta faktor-faktor yang membentuk persepsi dan respons masyarakat di kawasan industri nikel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis survei terhadap 384 responden di Kecamatan Bahodopi, Morowali. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert yang dikembangkan dari integrasi place attachment theory, classical risk perception theory, dan political ecology of health, serta dianalisis menggunakan CB-SEM, uji t, dan ANOVA. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat memiliki persepsi risiko yang relatif tinggi, terutama terhadap paparan debu dan penurunan kualitas udara. Persepsi risiko bervariasi signifikan berdasarkan kedekatan spasial terhadap sumber industri, lama tinggal, status lokalitas, dan pengalaman kesehatan, namun tidak dipengaruhi secara signifikan oleh karakteristik demografis umum. Secara struktural, kepercayaan terhadap institusi terbukti menurunkan persepsi risiko dan meredam respons masyarakat, sementara keterikatan tempat meningkatkan persepsi risiko dan mendorong respons yang lebih aktif. Ketergantungan ekonomi tidak berpengaruh signifikan, sedangkan ekologi politik kesehatan berperan secara tidak langsung melalui mekanisme struktural. Persepsi risiko juga berfungsi sebagai mediator utama yang mendorong respons psikososial dan perilaku masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa persepsi risiko di kawasan industri ekstraktif bersifat multidimensional dan tidak dapat dijelaskan oleh pendekatan ekonomi semata. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis melalui integrasi perspektif psikologis, sosial, dan politik dalam memahami persepsi risiko.

2026
👤 Penulis: Shintya Firna Ningsih
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SIMULASI PERTOLONGAN PERTAMA BERBASIS VIRTUAL REALITY UNTUK DEWASA USIA 20 – 24 TAHUN

Kecelakaan, baik yang disebabkan oleh faktor eksternal atau internal dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, hal tersebut dapat berakibat fatal terhadap kondisi kesehatan terutama pada korban henti jantung dan tersedak yang menutup jalur nafas yang dapat menyebabkan kematian seseorang sehingga perlu dilakukan pertolongan secepat mungkin agar dapat menambah taraf hidup korban kecelakaan tersebut. Prosedur pertolongan pertama sangatlah penting untuk dipelajari oleh masyarakat terutama pada usia dewasa 20 – 24 tahun yang merupakan kriteria paling mampu untuk melakukan pertolongan pertama baik bagi dirinya sendiri atau untuk orang lain. Salah satu media pembelajaran yang cocok untuk mempelajari pertolongan pertama adalah virtual reality yang menawarkan kesan imersif sehingga pembelajaran dapat menjadi menyenangkan dan lebih berkesan sehingga efektif untuk mempelajari hal baru. Melalui virtual reality, pembelajaran pertolongan pertama dapat dilakukan dengan risiko yang minim dan bisa dilakukan kapan saja, dimana saja. Dengan desain yang berfokus pada kenyamanan pengguna, virtual reality yang dirancang akan menarik minat orang-orang sehingga dapat memperbanyak pelaku pertolongan pertama di kemudian hari.

2026
👤 Penulis: Rafli Gebi Rusli Alrizky
🏷️ Virtual Reality 🏷️ Pertolongan Pertama 🏷️ Kesehatan Masyarakat

PERANCANGAN SIMULASI PERTOLONGAN PERTAMA BERBASIS VIRTUAL REALITY UNTUK DEWASA USIA 20 – 24 TAHUN

Kecelakaan, baik yang disebabkan oleh faktor eksternal atau internal dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, hal tersebut dapat berakibat fatal terhadap kondisi kesehatan terutama pada korban henti jantung dan tersedak yang menutup jalur nafas yang dapat menyebabkan kematian seseorang sehingga perlu dilakukan pertolongan secepat mungkin agar dapat menambah taraf hidup korban kecelakaan tersebut. Prosedur pertolongan pertama sangatlah penting untuk dipelajari oleh masyarakat terutama pada usia dewasa 20 – 24 tahun yang merupakan kriteria paling mampu untuk melakukan pertolongan pertama baik bagi dirinya sendiri atau untuk orang lain. Salah satu media pembelajaran yang cocok untuk mempelajari pertolongan pertama adalah virtual reality yang menawarkan kesan imersif sehingga pembelajaran dapat menjadi menyenangkan dan lebih berkesan sehingga efektif untuk mempelajari hal baru. Melalui virtual reality, pembelajaran pertolongan pertama dapat dilakukan dengan risiko yang minim dan bisa dilakukan kapan saja, dimana saja. Dengan desain yang berfokus pada kenyamanan pengguna, virtual reality yang dirancang akan menarik minat orang-orang sehingga dapat memperbanyak pelaku pertolongan pertama di kemudian hari.

2026
👤 Penulis: Rafli Gebi Rusli Alrizky
🏷️ Virtual Reality 🏷️ Pertolongan Pertama 🏷️ Kesehatan Masyarakat

DAMPAK KEBIJAKAN PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN KUMUH TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT DI JAWA BARAT

Kawasan permukiman kumuh merupakan permasalahan struktural yang dihadapi oleh sebagian besar kota-kota di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berdampak langsung terhadap degradasi kualitas lingkungan permukiman dan derajat kesehatan masyarakat. Kondisi infrastruktur dasar yang tidak memadai di kawasan kumuh, seperti keterbatasan akses air bersih, sanitasi yang buruk, dan pengelolaan limbah yang tidak layak, diketahui berkontribusi signifikan terhadap tingginya prevalensi penyakit berbasis lingkungan di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan kebijakan peningkatan kualitas permukiman kumuh melalui berbagai program, termasuk Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), yang mencakup perbaikan infrastruktur dasar permukiman secara terpadu di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak program peningkatan kualitas permukiman kumuh terhadap dua dimensi, yaitu kondisi lingkungan permukiman dan kesehatan masyarakat di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menganalisis perubahan pada delapan indikator lingkungan permukiman yang meliputi ketersediaan tempat buang sampah, bank sampah, Tempat Pembuangan Sementara (TPS), sumber air minum layak, sumber air bersih layak, tempat pembuangan akhir tinja layak, fasilitas buang air besar layak, dan indeks lingkungan permukiman sebagai variabel komposit. Pada dimensi kesehatan masyarakat, penelitian ini menganalisis enam variabel meliputi jumlah kasus diare, Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, hepatitis E, difteri, dan total kasus penyakit sebagai variabel agregat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Difference-in-Differences (DiD) untuk mengidentifikasi dampak kausal program secara empiris. Kelompok perlakuan (treatment group) terdiri dari 123 kawasan kumuh setingkat desa dan kelurahan yang telah menerima intervensi program dari tahun 2020 hingga tahun 2022, sementara kelompok pembanding (control group) terdiri dari 965 kawasan kumuh yang belum menerima intervensi sepenuhnya, sehingga total unit analisis berjumlah 1.088 desa dan kelurahan di Provinsi Jawa Barat. Data yang digunakan bersumber dari Pendataan Potensi Desa (Podes) yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) pada tahun 2019 dan 2020 sebagai data kondisi before, serta tahun 2024 sebagai data kondisi after intervensi program. Data intervensi diperoleh dari Dinas Perumahan dan Permukiman Provinsi Jawa Barat. Estimasi dampak terhadap indikator lingkungan permukiman dilakukan menggunakan model regresi Ordinary Least Squares (OLS) dengan robust standard error, sementara indikator kesehatan masyarakat diestimasi menggunakan model Zero-Inflated Negative Binomial (ZINB) yang dipilih berdasarkan karakteristik data kesehatan yang berbentuk count data dengan dominasi nilai nol (excess zeros) dan kecenderungan overdispersion. Validitas internal model DiD diverifikasi melalui uji parallel trends pada data sebelum intervensi menggunakan spesifikasi dengan dan tanpa variabel kontrol, serta melakukan verifikasi ketahanan hasil estimasi DiD melalui pendekatan Clustered Standard Error pada tingkat kecamatan dan Propensity Score Matching (PSM) sebagai metode tambahan dalam kerangka robustness check untuk mengatasi potensi selection bias yang timbul akibat perbedaan karakteristik awal antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program peningkatan kualitas permukiman kumuh belum terbukti memberikan dampak yang signifikan secara statistik terhadap seluruh indikator lingkungan permukiman yang dianalisis dalam periode pengamatan penelitian ini. Koefisien DiD pada seluruh indikator fasilitas persampahan, fasilitas sumber air, fasilitas pembuangan limbah, maupun indeks lingkungan permukiman secara agregat tidak signifikan secara statistik (p-value > 0.05), mengindikasikan bahwa perubahan kondisi infrastruktur lingkungan permukiman memerlukan rentang waktu yang lebih panjang untuk dapat terdeteksi secara empiris. Sementara itu, pada dimensi kesehatan masyarakat, hasil estimasi DiD+ZINB menunjukkan bahwa program terbukti secara signifikan berkontribusi pada penurunan kasus diare (? = ?3.376, p-value = 0.001) sebagai representasi waterborne disease yang paling erat kaitannya dengan perbaikan infrastruktur sanitasi dan air bersih. Berdasarkan nilai Incidence Rate Ratio (IRR) yang diperoleh dari exp(?3.376) = 0.034, program peningkatan kualitas permukiman kumuh menurunkan rate kasus diare pada kelompok perlakuan menjadi sekitar 3.4% dari rate yang diperkirakan terjadi tanpa adanya program. Temuan ini konsisten dan robust lintas seluruh spesifikasi model yang digunakan, termasuk estimasi DiD dengan robust standard error, Clustered Standard Error pada tingkat kecamatan, maupun pendekatan Propensity Score Matching (PSM-DiD). Namun demikian, program intervensi belum terbukti berpengaruh signifikan terhadap kasus DBD (p-value = 0.393) dan total kasus penyakit (p-value = 0.405), sementara kasus malaria, hepatitis E, dan difteri tidak dapat diestimasi secara reliabel akibat keterbatasan data. Hasil uji parallel trends mengonfirmasi bahwa asumsi tren paralel terpenuhi secara penuh pada indikator DBD dan total kasus penyakit, sementara untuk indikator diare asumsi tersebut hanya terpenuhi secara kondisional ketika variabel kontrol diikutsertakan dalam model. Secara umum, penelitian ini menunjukkan bahwa dampak program peningkatan kualitas permukiman kumuh di Jawa Barat masih bersifat terbatas dan selektif, dengan pengaruh signifikan terutama pada indikator kesehatan yang berkaitan langsung dengan sanitasi dan air bersih. Oleh karena itu, diperlukan penguatan intervensi pada aspek sanitasi dan air bersih, integrasi dengan pemberdayaan masyarakat, peningkatan koordinasi lintas sektor, serta evaluasi jangka panjang yang lebih komprehensif.

2026
👤 Penulis: Vlaradhia Sakura Annisa G.
🏷️ Kawasan Permukiman Kumuh 🏷️ Peningkatan Kualitas Lingkungan 🏷️ Kesehatan Masyarakat

PERAN TAMAN SUPRATMAN SEBAGAI RUANG PUBLIK DALAM MENDUKUNG AKTIVITAS FISIK DAN INDIKATOR KOTA SEHAT DI KOTA BANDUNG

Meningkatnya kesadaran masyarakat perkotaan terhadap gaya hidup sehat, khususnya melalui aktivitas fisik, menjadi perhatian dalam pembangunan kota berkelanjutan. Konsep Kota Sehat menekankan integrasi antara lingkungan fisik, sosial, dan perilaku masyarakat. Bandung sebagai salah satu kota yang mengadopsi konsep ini terus mengembangkan ruang publik, seperti Taman Supratman, meskipun pemanfaatannya belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran ruang publik dan aktivitas fisik masyarakat di Taman Supratman sebagai indikator Kota Sehat. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dengan metode campuran melalui observasi, kuesioner IPAQ, dan data sekunder. Hasilnya menunjukkan bahwa taman ini cukup mendukung aktivitas fisik dan interaksi sosial, dengan dominasi aktivitas intensitas sedang (cukup aktif), meskipun belum optimal untuk intensitas tinggi. Secara keseluruhan, Taman Supratman berkontribusi dalam mendukung kesehatan masyarakat, terutama pada aspek kehidupan sehat mandiri dan fasilitas umum. Namun, masih diperlukan peningkatan pada pemerataan fasilitas, aksesibilitas, dan penguatan peran ruang publik agar lebih efektif dalam mendorong aktivitas fisik dan gaya hidup sehat.

2026
👤 Penulis: Nayla Putri Salma
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Ruang Publik 🏷️ Konsep Kota Sehat

KAJIAN ASUPAN NATRIUM MELALUI POLA KONSUMSI HARIAN PADA MAHASISWA DI KOTA BANDUNG

Asupan natrium yang berlebih dapat meningkatkan risiko kesehatan, terutama hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Di berbagai negara, asupan natrium secara umum telah melebihi batas rekomendasi dari World Health Organization (WHO). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data asupan natrium harian pada mahasiswa di Kota Bandung dibandingkan terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG) sesuai kelompok usia dan jenis kelamin serta batas asupan harian natrium menurut WHO. Pada penelitian ini, 436 responden mahasiswa dari 23 perguruan tinggi di Kota Bandung ikut berperan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode food recall 24 jam yang disampaikan secara online. Konversi asupan makanan menjadi satuan gram dilakukan menggunakan acuan literatur. Kuantifikasi natrium dalam sampel mengacu pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) dan website Fat Secret. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata 62,4% responden mengalami kelebihan asupan natrium. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden belum memiliki pola asupan natrium yang sesuai AKG sehingga perlu dipertimbangkan upaya korektif, misalnya reformulasi produk pangan tinggi natrium, pemberian edukasi, serta rekomendasi perbaikan pola makan sebagai upaya mitigasi risiko kesehatan akibat asupan natrium berlebih.

2025
👤 Penulis: Nabila Putri Syahirani
🏷️ Nutrisi 🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Analisis Data Kualitatif

ANALISIS DESKRIPTIF KECUKUPAN ASUPAN NATRIUM DAN KALIUM PADA USIA 40 TAHUN KE ATAS DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN METODE FOOD RECALL 24 JAM

Latar Belakang: Asupan natrium dan kalium yang tidak seimbang dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan, khususnya pada populasi dewasa. Ketidakcukupan asupan kalium dan kelebihan asupan natrium seringkali menjadi masalah gizi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data asupan natrium dan kalium pada kelompok usia 40 tahun ke atas di Kota Bandung untuk penilaian kecukupan asupan kedua mineral tersebut. Metode: Penelitian deskriptif observasional menggunakan pendekatan potong lintang yang melibatkan penduduk Kota Bandung berusia ?40 tahun serta besaran ukuran sampel menggunakan rumus Slovin. Data asupan makanan dikumpulkan melalui wawancara food recall 24 jam menggunakan pendekatan multi-tahap. Kuantifikasi natrium dan kalium dalam masing-masing sampel mengacu pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) dan website Fat Secret. Tingkat kecukupan gizi dikaji dari perbandingan asupan individu terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG). Analisis data menggunakan statistik deskriptif untuk asupan natrium dan kalium, serta pola makan tertentu. Hasil: Rata-rata total asupan harian natrium adalah 1874,67 ± 887,65 mg/hari pada hari kerja dan 1937,88 ± 880,42 mg/hari pada akhir pekan. Rata-rata total asupan harian kalium adalah 1918,32 ± 733,26 mg/hari pada hari kerja dan 2009,22 ± 769,16 mg/hari pada akhir pekan. Pada hari kerja, proporsi pemenuhan natrium berlebih (?120 %AKG) 54,59 %, cukup (90–119 %AKG) 19,27 %, defisit ringan (80–89 %AKG) 6,42 %, defisit sedang (70–79 %AKG) 6,65 %, dan defisit berat (<70 %AKG) 13,07 %; sedangkan pada akhir pekan masingmasing 55,40 %, 23,22 %, 6,21 %, 7,13 %, dan 8,05 %. Sementara itu, seluruh responden (baik hari kerja maupun akhir pekan) tidak ada yang memenuhi kecukupan %AKG kalium yang direkomendasikan. Pola makan memengaruhi asupan natrium dan kalium; responden yang tidak makan pagi memiliki asupan natrium dan kalium paling rendah. Kesimpulan: Lebih dari 50% responden usia 40 tahun ke atas di Kota Bandung mengalami kelebihan asupan natrium, sedangkan yang mengalami defisit sedang dan berat, kurang dari 20%. Hal tersebut, dapat menjadi indikasi awal perlunya upaya pengendalian asupan natrium, mengingat kelebihan asupan natrium merupakan salah satu faktor risiko penyebab hipertensi. Sebaliknya, inikasi defisiensi kalium yang dialami oleh seluruh responden, perlu menjadi perhatian dan ada upaya korektif, misalnya melalui suplementasi.

2025
👤 Penulis: Haristika Chresna Pamungkas
🏷️ Nutrisi 🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Analisis Data Kualitatif

ANALISIS BEBAN EKONOMI DAN KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT TNI AL D. MINTOHARDJO

Tingginya prevalensi Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia dan karakteristik unik populasi pasien Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Mintohardjo, Jakarta, yang terdiri dari personel militer, pegawai negeri sipil, pensiunan, dan keluarga mereka, menuntut pemahaman yang mendalam tentang dampak ekonomi dan psikososial penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengukur biaya medis langsung, menganalisis pola penggunaan obat, serta mengukur kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan (HRQoL) menggunakan instrumen EQ-5D-5L. Desain cross-sectional digunakan, menggabungkan data retrospektif dari 100 pasien yang dirawat inap pada tahun 2024 dan data prospektif dari 16 pasien yang dirawat inap pada awal tahun 2025. Pengambilan sampel total digunakan untuk data retrospektif, sementara purposive sampling digunakan untuk pengumpulan data prospektif. Analisis data mencakup statistik deskriptif, uji inferensial, bootstrapping, dan analisis sensitivitas satu arah. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antara biaya klaim INA-CBGs dan tarif rumah sakit, dengan biaya transportasi menjadi komponen terbesar OOP. Terapi insulin mendominasi pola penggunaan obat, mencerminkan kebutuhan pengendalian glikemik intensif. Penilaian HRQoL dengan EQ-5D-5L menunjukkan gangguan pada mobilitas, perawatan diri, dan aktivitas harian. Analisis regresi mengungkap bahwa usia, lama terdiagnosis, dan lama rawat inap berpengaruh negatif signifikan terhadap HRQoL, sedangkan OOP tidak berpengaruh signifikan setelah bootstrapping. Temuan ini menegaskan peran dominan faktor klinis dibanding beban biaya langsung, sehingga intervensi peningkatan kualitas hidup perlu difokuskan pada manajemen klinis, pencegahan komplikasi, dan pengelolaan lama rawat inap.

2025
👤 Penulis: Yoza Hudiatma Octaviar
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Kesehatan 🏷️ Analisis Biaya Kesehatan

ANALISIS PENGARUH TIPE DAN PERSEPSI AKSES AIR MINUM, SANITASI, DAN HIGIENE TERHADAP KESEHATAN DAN ASPEK PSIKOSOSIAL MASYARAKAT DI DESA MEKARMANIK, KECAMATAN CIMENYAN

Akses terhadap air minum, sanitasi, dan higiene, selanjutnya disebut WASH (Water, Sanitation, and Hygiene), merupakan aspek yang krusial bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Setiap masyarakat membutuhkan air minum dan sanitasi aman, serta fasilitas higiene memadai untuk tetap sehat. Namun, tidak semua orang mempunyai akses WASH yang memenuhi syarat kesehatan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi akses WASH dan persepsi kualitas air serta menentukan pengaruhnya terhadap angka diare dan Individual Water Insecurity Experiences (IWISE) masyarakat di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah penyebaran kuesioner kepada 171 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling dengan analisis data berupa statistik deskriptif, regresi linier, dan uji nonparametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki akses air minum dasar (99%), sanitasi layak sendiri (81%), dan higiene dasar (92%). Persepsi terhadap kualitas air memiliki nilai rata - rata 1,62 dari skala 1 sampai 4. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara akses air minum, sanitasi, dan higiene terhadap angka diare (p > 0,05). Namun,terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kualitas air (p < 0,05; r = 0,188) dan IWISE (p < 0,05; r = 0,280).

2025
👤 Penulis: Fauziah Khoirunisa
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air Minum Dan Sanitasi 🏷️ Analisis Psikososial

KOTA RAMAH PELARI: KORIDOR KOTA YANG RAMAH UNTUK AKTIVITAS OLAHRAGA BERLARI DENGAN PENDEKATAN WALKABILITY (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)

Kesehatan masyarakat di kawasan perkotaan semakin menjadi perhatian global seiring meningkatnya urbanisasi dan tuntutan gaya hidup aktif. Aktivitas berlari yang populer di daerah perkotaan telah terbukti memberikan manfaat signifikan baik untuk kesehatan fisik maupun mental. Di Kota Bandung, aktivitas berlari menjadi populer karena kondisi lingkungan yang sejuk dan adanya komunitas lari berskala besar sehingga Kota Bandung berpotensi menjadi kota yang ramah bagi pelari. Namun, berbagai kendala seperti kualitas trotoar yang buruk, penggunaan trotoar yang tidak semestinya, dan pencahayaan jalan yang gelap masih menghambat optimalisasi pengalaman berlari di kota ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kriteria prinsip desain koridor di Kota Bandung berdasarkan teori walkability, yang mencakup aspek keamanan, kenyamanan, daya tarik lingkungan, dan aspek – aspek lainnya. Penelitian dilakukan kepada koridor-koridor favorit di Kota Bandung yang diidentifikasi berdasarkan banyaknya pelari yang melintas di rute tersebut melalui aplikasi Strava. Data yang dianalisis adalah hasil observasi di koridor-koridor favorit dan juga hasil jawaban kuesioner dari responden yang pernah berlari di Kota Bandung. Dengan menganalisis hubungan dari teori walkability sebagai prinsip dasar perancangan koridor dengan data primer yang dianalisis, penelitian ini memberikan panduan bagi pengambil kebijakan dan perencana kota dalam merancang koridor perkotaan yang mendukung aktivitas berlari secara inklusif.

2025
👤 Penulis: Muhammad Farhan Fairuz
🏷️ Walkability 🏷️ Desain Koridor 🏷️ Kesehatan Masyarakat

TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTIK APOTEKER TERKAIT PELAYANAN KEFARMASIAN PADA FASE TANGGAP BENCANA GEMPA DI PULAU JAWA

Apoteker merupakan salah satu tenaga kesehatan yang melayani masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan obat. Pelayanan diberikan tdak hanya di kondisi normal, tetapi juga mencakup kondisi kedaruratan akibat terjadinya bencana, yang memerlukan feksibilitas dan kemampuan apoteker di luar tugas tradisional. Indonesia secara geografs terletak pada pertemuan tga lempeng tektonik aktf yang menyebabkan sering terjadinya bencana gempa, oleh karena itu kesiapsiagaan apoteker menjadi salah satu hal pentng yang perlu dicermat dan aspek ini belum ditelit. Pada penelitan ini dilakukan survei kesiapsiagaan apoteker yang bekerja di pusat layanan kesehatan di Pulau Jawa dengan tujuan mengukur tngkat kesiapsiagaan yang terdiri dari pengetahuan, sikap, dan praktk serta mengidentfkasi hubungan antara karakteristk sosiodemograf dengan tngkat pengetahuan, sikap, dan praktk apoteker dalam pemberian pelayanan kefarmasian selama fase tanggap darurat bencana. Studi ini menggunakan desain eksploratf dengan metode purposive sampling, data dikumpulkan melalui kuesioner. Sekitar 67 responden mengisi kuesioner secara lengkap untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil menunjukkan 86,57% responden memiliki tngkat kesiapsiagaan pada level sedang dan 13,43% pada level tnggi. Namun demikian, hasil menunjukkan 23,13% dalam tngkat ketepatan responden dalam menjawab pertanyaan terkait bantuan hidup dasar dan triase. Untuk itu peningkatan level kesiapsiagaan bencana, terutama pada aspek pengetahuan dan praktk masih diperlukan.

2025
👤 Penulis: Shafira Navra Darmawan
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Pelayanan Kefarmasian 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

EVALUASI PENGETAHUAN, PRAKTIK, DAN PERSEPSI TERHADAP PENGGUNAAN PROBIOTIK DAN ANTIBIOTIK PETERNAKAN AYAM DI KABUPATEN CIAMIS DAN KABUPATEN TASIKMALAYA BERBASIS KUESIONER

Penggunaan antibiotik sebagai promotor pertumbuhan dan profilaksis pada unggas telah dilarang, akan tetapi bakteri resisten antibiotik masih ditemukan pada produk daging ayam dan telur. Kondisi ini berisiko meningkatkan resiko resistensi antibiotik pada manusia. Sebagai alternatif, probiotik dan suplemen mulai digunakan di peternakan.Konsumsi produk hewan ternak yang mengandung gen mikroba resistendapat memicu kasus resistensi antibiotik di manusia. Penggunaan antibiotik sebagai promotor pertumbuhan dan profilaksis pada ungags telah dilarang oleh Undang-Undang, sehingga, probiotik dan suplemen mulai digunakan sebagai alternatif. Hasil pengujian pada daging ayam dan telur masih ditemukan adanya resistensi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengetahuan, praktik, dan persepsi peternak ayam di Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya yang merupakan produsen unggas terbesar kedua dan ketujuh di Jawa Barat. Studi kuantitatif ini menggunakan desain potong lintang dan dilakukan secara daring terhadap 194 peternak.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengetahuan, praktik, dan persepsi peternak ayam di Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya sebagai produsen ungags terbesar ke dua dan tujuh di Jawa Barat. Penelitian dilakukan secara kuanitatif dengan desain potong lintang melalui secara daring terhadap 194 peternak. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar peternak ayam pedaging dan petelur memiliki tingkat pengetahuan sedang (70.103%, n=136). Sebanyak 65.46% peternak (n=127) berada dalam kategori praktik penggunaan antibiotik yang tepat. Hampir seluruh peternak memiliki persepsi yang positif terkait dengan pembatasan antibiotik dan penggunaan probiotik dan suplemen sebagai alternatif (90.21%, n=175). Namun, penggunaan probiotik masih sangat rendah, (34.54%, n=67). Dimensi persepsi tidak memiliki korelasi terhadap tingkat praktik namun tidak dengan Ddimensi pengetahuan yang memilikimenunjukan korelasi berbanding lurus terhadap dimensi praktik dengan nilai p-value 0.000 dan hubungan korelasi sedang (r= 0.418)), sehingga memiliki hubungan yang berbanding lurus. Tingkat pengetahuan yang peternak pada kategori sedang dapat ditingkatkan untuk mengoptimalkan tingkat praktik peternak.

2025
👤 Penulis: Octaviani Kasila Mahanaim
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Biofarmasi

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING DALAM CAPAIAN SDGS DI KABUPATEN KARAWANG

Penurunan angka stunting merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia yang selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan percepatan penurunan stunting di Kabupaten Karawang sebagai dari strategi nasional serta mengevaluasi kontribusinya terhadap pencapaian target SDGs di tingkat lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi terhadap kebijakan dan program lintas sektor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan di Kabupaten Karawang telah mencakup intervensi spesifik dan sensitif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta masyarakat. Namun demikian, terdapat tantangan dalam hal koordinasi lintas sektor, ketersediaan data yang valid, dan keberlanjutan pendanaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun telah terjadi progres signifikan, optimalisasi pelaksanaan program percepatan penurunan stunting masih diperlukan agar target SDGs 2030 dapat tercapai. Rekomendasi yang diajukan meliputi penguatan kapasitas kelembagaan, integrasi data lintas sektor, dan peningkatan partisipasi masyarakat secara berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Hafidh Fadhlurrohman
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Kesehatan 🏷️ Sustainable Development Goals

PERANCANGAN BUKU INTERAKTIF BAHAYA GULA BERLEBIH UNTUK MENCEGAH DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA SISWA SMA

Prevalensi pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan, dengan pergeseran demografis yang signifikan ke arah usia yang lebih muda. Fenomena ini sangat erat kaitannya dengan gaya hidup modern, pola konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta kurangnya paparan terhadap media edukasi kesehatan yang relevan dan menarik. Media edukasi konvensional seringkali gagal membangun keterlibatan dan kesadaran karena pendekatannya yang cenderung formal dan kurang interaktif. Menjawab permasalahan tersebut, diperlukan sebuah solusi media yang mampu menjembatani kesenjangan antara informasi kesehatan yang krusial dengan preferensi audiens remaja. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan buku interaktif sebagai media edukasi alternatif yang efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa SMA mengenai bahaya konsumsi gula berlebih serta pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah diabetes melitus tipe 2. Melalui pendekatan yang berpusat pada pengguna ini, diharapkan karya tidak hanya mampu meningkatkan literasi kesehatan siswa secara efektif, tetapi juga dapat mendorong perubahan perilaku positif secara internal kepada siswa SMA.

2025
👤 Penulis: Carla Abigail William
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Edukasi Kesehatan Remaja 🏷️ Interaksi Digital Dalam Media Edukasi

PENDEKATAN SYSTEMS THINKING UNTUK MENGATASI STUNTING: KAJIAN KESIAPAN ORANG TUA DAN KETAHANAN PANGAN

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang krusial di Indonesia, khususnya pada anak usia di bawah lima tahun. Meskipun berbagai program nasional telah diluncurkan untuk menurunkan angka stunting, prevalensinya tetap tinggi akibat intervensi yang bersifat parsial dan kurang terkoordinasi secara sistemik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan sistemik antara kesiapan orang tua dan ketahanan pangan dalam memengaruhi status gizi anak dengan menggunakan pendekatan systems thinking. Penelitian difokuskan pada delapan sub-lingkaran kausal yang dikelompokkan ke dalam dua domain utama: kesiapan orang tua (meliputi dinamika keluarga, pengetahuan orang tua, sikap dan perilaku, serta kondisi sosial ekonomi) dan ketahanan pangan (meliputi keterjangkauan, pemanfaatan, aksesibilitas, dan ketersediaan pangan). Data dikumpulkan melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion) dengan berbagai pemangku kepentingan seperti tenaga kesehatan, ahli gizi, dan pejabat pemerintah. Hasil diskusi dianalisis secara tematik dan divisualisasikan dalam bentuk Causal Loop Diagram (CLD), yang kemudian disintesis menjadi satu Grand CLD untuk mengidentifikasi titik ungkit dalam sistem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stunting merupakan akibat dari interaksi dinamis antara perilaku kesehatan, pendidikan, kondisi ekonomi rumah tangga, dan ketahanan sistem pangan. Program nasional cenderung berjalan secara sektoral tanpa sinergi antarsektor yang memadai. Studi ini merekomendasikan integrasi lintas sektor dan fokus intervensi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), khususnya pada ibu hamil dan balita. Pendekatan systems thinking dalam penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman holistik terhadap masalah stunting serta menghasilkan rekomendasi strategis bagi kebijakan nasional yang lebih efektif dan berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Auliya Nurul Arsy
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Sistem Informasi Kesehatan
Halaman 1 dari 3
💬