📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 32 dokumenPERANCANGAN WELLNESS CENTER SEBAGAI PUSAT TERAPI DAN EDUKASI DENGAN PENDEKATAN MULTISENSORI UNTUK WANITA
Perancangan ini berangkat dari fenomena tingginya tingkat stres pada wanita urban di Indonesia yang dipengaruhi oleh tekanan beban ganda, tuntutan sosial, serta tantangan biologis yang seringkali kurang mendapat perhatian. Kondisi ini menunjukkan urgensi akan hadirnya fasilitas pemulihan non-medis yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat relaksasi, tetapi juga sebagai ruang terapi dan edukasi yang dirancang secara khusus untuk menjawab kebutuhan fisik, mental, dan emosional wanita secara berkelanjutan. Perancangan ini berfokus pada pengalaman pemulihan holistik melalui pendekatan multisensori, yaitu dengan mengoptimalkan stimulasi indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa sebagai media terapi. Pendekatan ini diterapkan melalui pengolahan elemen interior seperti warna, material, tekstur, pencahayaan, aroma, suara, serta pengalaman konsumsi herbal yang dirancang untuk mendukung relaksasi tubuh, edukasi, dan peningkatan kepercayaan diri.
PERANCANGAN PUSAT KESEHATAN DAN RELAKSASI DENGAN PENDEKATAN MULTISENSORI SEBAGAI REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL NUSANTARA
Perkembangan modern yang berlangsung cepat, disertai tekanan pekerjaan, kemacetan lalu lintas, penurunan kualitas lingkungan, serta tingginya paparan teknologi digital, berkontribusi terhadap meningkatnya tingkat stres dan kelelahan mental masyarakat urban, terutama pekerja kantoran. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan akan ruang yang mampu memulihkan keseimbangan fisik dan psikis secara menyeluruh. Perancangan Wellness Center menjadi salah satu solusi yang menawarkan pengalaman relaksasi dan penyembuhan diri melalui penciptaan ruang dengan atmosfer yang menenangkan. Pendekatan multisensori dalam desain Wellness Center berperan penting dalam membangun pengalaman ruang yang mendukung proses pemulihan, melalui aktivasi pancaindra seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa. Metode perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, serta analisis terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan konteks budaya Indonesia. Hasil perancangan menghasilkan konsep ruang yang memadukan nilai tradisional dengan prinsip desain modern untuk menciptakan suasana relaksasi yang imersif. Integrasi antara stimulus multisensori dan kearifan lokal diharapkan mampu menghadirkan pengalaman penyembuhan sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan budaya dalam kehidupan masyarakat modern.
PUSAT REHABILITASI SOSIAL GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU BERBASIS RUMAH SINGGAH DI PARONGPONG, JAWA BARAT
Proses pemulihan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam fase pasca-rawat di Rumah Sakit Jiwa, keluarga sering kali memiliki resiliensi yang rendah dalam menerima kembali anggota keluarganya. Kondisi ini dapat menyebabkan ODGJ kambuh akibat lingkungan yang tidak mendukung serta lemahnya pengawasan keluarga. Menanggapi hal tersebut, tugas akhir ini mengangkat topik perancangan rumah singgah bagi ODGJ sebagai fasilitas transisi yang berfungsi menjembatani proses pemulihan dari RSJ menuju kehidupan bermasyarakat. Keberadaan rumah singgah menjadi penting sebagai wadah antara yang mampu memberikan pengawasan, pendampingan, dan penguatan fungsi sosial sebelum ODGJ kembali hidup mandiri. Topik ini dipilih karena relevansinya dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya panel design for inclusivity, yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas kesehatan mental masyarakat sekaligus mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap kelompok marjinal melalui penyediaan infrastruktur sosial yang inklusif. Hal tersebut berkaitan dengan pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Permasalahan yang diidentifikasi mencakup ODGJ pasca-rawat yang memerlukan rehabilitasi sosial serta pengawasan konsumsi obat, ODGJ korban pasung yang membutuhkan penanganan manusiawi, serta ODGJ terlantar yang belum memperoleh fasilitas penampungan layak. Selain itu, isu terkait praktik pasung di beberapa panti ODGJ juga menjadi pertimbangan dalam perancangan. Dengan demikian, rumah singgah dipilih sebagai tipologi bangunan karena dapat mengakomodasi fungsi rehabilitasi, pengasuhan, dan reintegrasi sosial dalam satu kesatuan. Perancangan menggunakan pendekatan healing environment dan therapeutic architecture, dengan prinsip menciptakan ruang yang menenangkan, aman, dan mendukung pemulihan psikologis pengguna. Tapak yang dipilih berlokasi di Jl. Pasirsereh, Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, dengan pertimbangan kebutuhan pengguna, prinsip humanis, serta jaraknya yang relatif dekat dengan RSJ Cisarua. Kerangka desain yang digunakan adalah force-based framework, yang menekankan identifikasi isu sosial sebagai dasar perancangan. Metode yang diterapkan meliputi studi literatur, observasi lapangan untuk memahami konteks kasus di Jawa Barat, serta analisis studi kasus sejenis di dalam maupun luar negeri sebagai acuan standar perancangan. Hasil yang diharapkan dari tugas akhir ini adalah rancangan rumah singgah yang adaptif dan inklusif yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah penampungan, tetapi juga sebagai sarana rehabilitasi sosial dan pemberdayaan.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER BERUPA FASILITAS OLAHRAGA REKREATIF SEBAGAI PUSAT GAYA HIDUP SEHAT KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN DESAIN RAMAH LINGKUNGAN
Peningkatan minat masyarakat urban terhadap gaya hidup sehat di Kota Bandung terjadi bersamaan dengan meningkatnya permasalahan kesehatan mental, khususnya pada kelompok usia produktif. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan akan ruang yang dapat berperan sebagai sarana pemulihan mental dan sosial yang inklusif. Fasilitas olahraga konvensional maupun ruang publik yang tersedia saat ini dinilai belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut secara terintegrasi dan berkelanjutan. Oleh karena itu, perancangan wellness center berbasis olahraga rekreatif sebagai pusat gaya hidup sehat menjadi relevan untuk menjawab tantangan kesehatan masyarakat urban. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan fasilitas olahraga rekreatif yang mendukung kesejahteraan holistik melalui pendekatan desain ramah lingkungan. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, analisis kebutuhan pengguna, analisis konteks tapak, serta penerapan konsep desain sebagai dasar pengambilan keputusan desain interior. Konsep utama yang diterapkan adalah Breathable, yang menekankan keterbukaan ruang, kualitas sirkulasi udara, dan pemanfaatan pencahayaan alami untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman. Konsep bentuk flowing lines diterapkan untuk membentuk alur ruang yang mengalir secara alami dan mendukung pengalaman ruang yang tenang serta tidak kaku. Hasil perancangan diharapkan mampu menghadirkan wellness center yang dapat menjadi ruang pemulihan fisik, mental, dan sosial yang berkelanjutan. Dengan pendekatan desain yang berorientasi pada manusia dan lingkungan, perancangan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mendukung kualitas hidup masyarakat urban Kota Bandung.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER SEBAGAI FASILITAS PENUNJANG KESEHATAN MENTAL DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN HEALING ARCHITECTURE
Permasalahan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi ringan pada remaja dan dewasa muda di Kota Bandung semakin meningkat dan berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, dan kemampuan komunikasi seseorang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, 7,8% diantara masyarakat Jawa Barat merupakan masyarakat berusia diatas 15 tahun yang menderita depresi, Menginjak peringkat ke-9 prevelansi depresi tertinggi di Indonesia. Salah satu penyebab tingginya gangguan kesehatan mental ini, dikarenakan fase-fase transisi dan fase burnout yang dialami oleh masyarakat. Stigma masyarakata terhadap pengecekan ke psikolog saat ini cukup buruk, oleh karena itu, kebanyakan masyarakat saat ini memilih melakukan aktivitas pemulihanseperti jalan-jalan ataupun olahraga sebagai solusi atas kondisi stres ataupun depresi mereka. Oleh karena itu diperlukan sebuah wadah sebagai tempat pemulihan yang dapat sekaligus melibatkan proses penyembuhan psikologi didalamnya. Dalam dunia psikologi, terdapat sebuah terapi yang disebut mind body spirit. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang melibatkan interaksi antara otak, pikiran, tubuh, serta perilaku dan faktor emosional. Pusat Kebugaran ini menawarkan Solusi Kesehatan mental melalui keterlibatan antara tubuh dan pikiran. Kedua faktor itu diterapkan dengan terapi yang memperlambat ritme Gerak dan melibatkan alam dalam aktivitas-aktivitas pemulihan seperti meditasi, yoga, ataupun terapi pijat dan spa yangbersifat ramah, interaktif, dan inklusif. Dalam kondisi gangguan mental, seseorang akan takut dan ragu dalam mengekspresikan diri mereka. Namun, dengan keberadaan pusat kebugaran, seseorang akan diberikan kebebasan dalam bertindak dan mendapatkan pemulihan mental di lingkungan yang tidak terasa seperti klinik. Dengan begitu, Pusat Kebugaran ini akan menjadi solusi untuk design for inclusivity yang menekankan desain yang berkontribusi dalam mengatasi isu aksesibilitas layanan bagi Masyarakat untuk memiliki akses ke ruang aman untuk mengekspresikan diri. Desain ini juga sejalan dengan SDGs 3: Good Health and Well-being dan SDGs 4: Quality Education, Pusat Kebugaran ini berkontribusi dalam Kesehatan mental dan berperan sebagai ruang edukasi non-formal untuk mengajarkan keterampilan kesedaran diri, ketangguhan Masyarakat, dan coping. Perancangan Pusat kebugaran ini melibatkan beberapa metode, yaitu studi literatur dan observasi lapangan untuk mengumpulkan data, metode desain trendspotting yang menyesuaikan bangunan dengan tren terkini supaya relevan dengan target pengguna, dan sintesis desain untuk merumuskan konsep ruang yang mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu bangunan.
PUSAT REHABILITASI BERBASIS TERAPI UNTUK PASIEN PENDERITA GANGGUAN MENTAL DENGAN PENDEKATAN ‘ARSITEKTUR PENYEMBUHAN‘ DI KOTA BANDUNG
Isu kesehatan mental di Indonesia masih menghadapi tantangan dari segi keterbatasan fasilitas dan stigma sosial yang buruk. Persentase generasi Z pengidap gangguan mental di Indonesia ditemukan sebanyak 57% pengidap gangguan pascatrauma, 39% pengidap gangguan neurotik, dan 30,5% pengidap gangguan psikotik (Saputra, dkk, 2025). Di Provinsi Jawa Barat, jumlah penderita gangguan mental mengalami peningkatan dari 9,3% menjadi 12,1% pada tahun 2018 (Khairunnisa, A., dkk, 2021) dan kerap meningkat hingga saat ini. Maka Kota Bandung menjadi lokasi fokus untuk rancangan ini. Semua orang di dalam komunitas pengidap gangguan mental mengalami isu ketidaksetaraan hak yang sama. Fasilitas kesehatan mental yang ada masih terbatas pada layanan dasar rumah sakit jiwa dan puskesmas sehingga pasien yang membutuhkan pemulihan jangka menengah kesulitan untuk bertransisi dan reintegrasi ke dalam masyarakat. Kondisi ini melatarbelakangi gagasan tugas akhir ini yang mengangkat topik arsitektur bernarasi penyembuhan dalam perancangan tipologi pusat rehabilitasi pasien gangguan mental di Bandung. Rancangan pusat rehabilitasi ini merupakan bangunan non-institusional yang berfokus pada aspek psikososial, edukasi, dan inklusi. Topik ini relevan dengan panel SDG 3 (Good Health and Wellbeing), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 10 (Reduced Inequalities) karena proyek ini bertujuan untuk menghadirkan pusat rehabilitasi yang mampu mendukung pemulihan mental dan mengurangi stigma sosial dengan menyediakan ruang publik inklusif beserta edukasi. Gagasan utama yang mendasari tugas ini adalah bagaimana arsitektur dapat berfungsi sebagai narasi penyembuhan sekaligus jembatan transisi sosial bagi pasien dengan gangguan mental. Framework yang digunakan adalah concept-based approach dengan integrasi healing architecture sebagai pendekatan utama, arsitektur yang berfokus mewadahi kebutuhan psikologi manusia sebagai pendukung landasan desain. Arsitektur diposisikan sebagai narasi pemulihan, dimana bentuk bangunan dan ruang dirancang untuk merepresentasikan perjalanan pasien dari fase rawan menuju reintegrasi sosial. Konsep healing architecture memiliki enam kriteria utama yang diterapkan dan semua merujuk kepada arsitektur penyembuhan, desain inklusif, psikologi lingkungan, dan narasi arsitektur sebagai instrumen penyembuhan. Metodologi perancangannya meliputi studi literatur mengenai teori dan preseden tipologi pusat rehabilitasi, observasi lapangan pada tapak dan institusi kejiwaan yang ada di Bandung, analisis kebutuhan pasien yang dibagi dalam tiga kategori (pascatrauma, gangguan neurotik, dan gangguan psikotik), dan kemudian mengeksplorasi desain iteratif berbasis konsep hingga tercapai skema yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Hasil perancangan berupa pusat rehabilitasi dengan tipologi paviliun dua lantai yang memungkinkan pemisahan zona sesuai kebutuhan pasien. Narasi arsitektur diwujudkan melalui perjalanan spasial, dimana pasien memulai dari area yang privat dan aman, kemudian bergerak ke area semi-privat, hingga akhirnya berinteraksi di ruang publik terbuka. Skema ini merefleksikan proses pemulihan psikologis yang bertahap. Proyek ini menawarkan model pusat rehabilitasi mental yang tidak berwajah institusional. Kontribusi yang dihasilkan mencakup penciptaan lingkungan yang mendukung pemulihan dan menyiapkan reintegrasi sosial bagi pasien, menciptakan ruang publik inklusif dan mendorong interaksi positif antara masyarakat dan penyintas gangguan mental, dan secara arsitektural menawarkan pusat rehabilitasi dengan penerapan concept-based approach yang dapat menjadi acuan untuk proyek serupa di kota lain.
PUSAT REHABILITASI BAGI PENYANDANG GANGGUAN PERKEMBANGAN SARAF DI KOTA BANDUNG
Gangguan perkembangan saraf—meliputi Gangguan Spektrum Autisme (GSA), ADHD, Disabilitas Intelektual, dan Cerebral Palsy—merupakan kondisi persisten yang memengaruhi fungsi personal, sosial, akademik, dan okupasional anak sejak masa awal perkembangan. Melalui tugas akhir ini, perancang berupaya menghadirkan sebuah pusat rehabilitasi yang layak dan terintegrasi bagi penyandang gangguan perkembangan saraf di Kota Bandung, sejalan dengan SDGs 3 Good Health and Well-Being, SDGs 10 Reduced Inequalities, dan SDGs 11 Sustainable Cities and Communities. Isu yang diangkat dalam Tugas Akhir ini adalah fragmentasi layanan rehabilitasi, dimana fasilitas medis, terapi, dan dukungan sosial beroperasi secara terpisah dan tidak terintegrasi, diperparah dengan ketidakmerataan distribusi layanan ditengah tingginya prevalensi kasus di Jawa Barat. Kondisi ini menimbulkan isolasi sosial, perundungan, hambatan kemandirian bagi penyandang, serta parenting stress bagi keluarga akibat beban ekonomi dan kesulitan mengelola kebutuhan terapi anak secara berkelanjutan. Tipologi arsitektur yang dipilih adalah pusat rehabilitasi medik terpadu yang mengintegrasikan layanan fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, hingga pelatihan vokasional dalam satu ekosistem terapeutik. Pemilihan tipologi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah medis, tetapi juga sebagai lingkungan binaan yang aktif mendukung proses penyembuhan. Perancangan ini menggunakan pendekatan salutogenik (Aaron Antonovsky) yang diterjemahkan melalui indeks ASPECTSS™—comprehensibility, manageability, dan meaningfulness—dipadukan dengan pendekatan multisensori dan biofilik untuk menghadirkan konsep Healing Saturacy. Metode yang ditempuh meliputi analisis pengguna dan tapak, studi preseden terhadap bangunan kesehatan dan pendidikan inklusif, pemrograman ruang berdasarkan zonasi publik-privat-aktif-tenang, serta transformasi gubahan massa yang responsif terhadap iklim, kebisingan, dan potensi lingkungan sekitar tapak. Perancangan ini bertujuan menyediakan akses rehabilitasi bagi anak dengan gangguan perkembangan saraf melalui lingkungan binaan yang bebas hambatan, terapeutik, dan memenuhi standar aksesibilitas universal sesuai Permen PU No. 30/2006. Luaran yang dihasilkan berupa rancangan bangunan tiga lantai dan basement dengan struktur kayu fabrikasi (glulam) berjejak karbon rendah, dilengkapi taman multisensori dan roof garden yang saling terhubung, sehingga tidak hanya melindungi dan memulihkan penyandang, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi keluarga dan masyarakat guna mengurangi stigma terhadap gangguan perkembangan saraf.
PENGARUH ALOKASI WAKTU SERTA KELUHAN FISIK-BEBAN KOGNITIF TERHADAP KESEJAHTERAAN GENERASI SANDWICH DI INDONESIA
Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia menyebabkan bertambahnya jumlah individu usia produktif yang tergolong sebagai generasi sandwich, yaitu individu yang memiliki tanggung jawab merawat anak dan orang tua secara bersamaan. Tanggung jawab ganda yang dimiliki generasi sandwich berpotensi menimbulkan berbagai bentuk beban yang dapat mempengaruhi kesejahteraan hidup. Meskipun demikian, dalam konteks masyarakat Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh nilai budaya berbakti (filial piety), tanggung jawab ganda tidak selalu dipersepsikan sebagai beban. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara alokasi waktu, dampak tanggung jawab ganda yang meliputi beban mental, beban waktu dan keluhan fisik, serta kesejahteraan subjektif pada generasi sandwich di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan konstruk-konstruk yang dibangun berdasarkan instrumen Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) dan Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ), serta pengukuran alokasi waktu berdasarkan aktivitas harian responden. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan snowball sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antar variabel dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alokasi waktu berpengaruh signifikan terhadap beban waktu. Keluhan fisik berpengaruh negatif signifikan terhadap kesejahteraan subjektif, sementara beban waktu dan beban mental tidak berpengaruh signifikan. Selain itu, tidak ditemukan bukti adanya hubungan mediasi antara alokasi waktu dan kesejahteraan subjektif. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun tanggung jawab merawat keluarga tidak selalu dipersepsikan sebagai beban, dampak fisik akibat akumultasi tanggung jawab ganda terbukti berperan dalam mempengaruhi kesejahteraan hidup generasi sandwich di Indonesia.
ANALISIS BIAYA STARTEGIK DAN PENILAIAN FINANCIAL VIABILITY ATAS STRATEGI MARKETING PADA PERUSAHAAN PERINTIS DI SEKTOR MENTAL HEALTH
Perubahan pada basis digital sebagai solusi layanan kesehatan mental yang telah meningkatkan kesadaran publik dan permintaan terhadap layanan psikologis yang terjangkau telah mendorong startup di bidang kesehatan mental mengalami pertumbuhan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun demikian, meskipun peluang pasar tersebut cukup menjanjikan terhadap keberlangsungan keuangan pada sektor ini, ternyata masih menghadapi ketidakpastian yang signifikan, terutama akibat tingginya biaya akuisisi klien, keterbatasan pendanaan, serta tantangan dalam menjaga profitabilitas jangka panjang. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji kelayakan finansial (financial viability) dari strategi pemasaran pada startup kesehatan mental melalui kerangka analisis biaya strategis, dengan mengintegrasikan konsep analisis breakeven, evaluasi struktur biaya, serta penilaian dengan biaya ekuitas (cost of equity). Tujuan penelitian ini menganalisa bagaimana berbagai pendekatan pemasaran mempengaruhi keberlanjutan finansial baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Penelitian ini juga melihat terkait pertimbangan antara strategi pertumbuhan agresif berbasis biaya tinggi dengan pendekatan organik yang lebih efisien dengan memodelkan berbagai skenario biaya tetap dan variabel, serta metrik akuisisi klien. Profitabilitas menjadi indikator utama kinerja untuk menilai bagaimana keputusan investasi pemasaran dari pemilik (founders) dihasilkan, dengan melihat tingkat pengembalian yang disyaratkan, yang kemudian didenotasikan dengan biaya ekuitas. Hasil penelitian diharapkan dapat menunjukkan bahwa strategi pemasaran yang terlalu bergantung pada iklan berbayar memang dapat mempercepat pertumbuhan kasadaran (awareness) klien, namun berisiko menurunkan keuntungan jika strategi yang diterapkan menjadi tidak efisien, serta menguntungkan. Sebaliknya, strategi yang menekankan pada jangkauan organik cenderung menawarkan profitabilitas yang lebih lambat namun berkelanjutan. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi pada literatur manajemen keuangan startup dengan memberikan kerangka berbasis bukti untuk mengevaluasi strategi pemasaran di sektor kesehatan mental. Penelitian ini juga menyajikan wawasan praktis bagi pemilik usaha, atau investor dalam menyeimbangkan tujuan pertumbuhan dengan kinerja finansial yang berkelanjutan pada industri yang memiliki dampak sosial tinggi.
SEROPREVALENSI DAN RISIKO TOKSOPLASMOSIS PADA KOMUNITAS ITB KAMPUS GANESHA SERTA KAITANNYA DENGAN KESEHATAN MENTAL
Toksoplasmosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan prevalensi tertinggi dilaporkan di Pulau Jawa (53,2%). Keberadaan dan kepadatan populasi kucing sebagai inang definitif Toxoplasma gondii di berbagai lingkungan, termasuk kawasan kampus, perlu mendapat perhatian karena berpotensi meningkatkan paparan terhadap parasit ini. Selain itu, toksoplasmosis dalam beberapa tahun terakhir juga banyak dikaitkan dengan dampak neurologis dan kesehatan mental. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi toksoplasmosis pada komunitas Institut Teknologi Bandung (ITB) kampus Ganesha, mengidentifikasi faktor risiko terkait, serta mengevaluasi hubungan antara seropositivitas toksoplasmosis dengan status kesehatan mental menggunakan instrumen Self-Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20). Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang pada 262 subjek (ukuran sampel dihitung menggunakan Epi Info TM dari CDC), dan analisis dilakukan menggunakan uji Chisquare serta regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan seroprevalensi toksoplasmosis di ITB kampus Ganesha sebesar 41,6%. Peluang seropositivitas meningkat seiring bertambahnya usia (OR = 1,04; 95% CI: 1,01–1,08; p = 0,025), lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan (OR = 2,18; 95% CI: 1,10– 4,32; p = 0,026), serta paling tinggi dan sangat bermakna pada pekerja luar ruangan dibandingkan pekerja di dalam ruangan (OR 4,05; 95% CI: 2,29–7,18; p < 0,001). Hasil analisis SRQ-20 menunjukkan subjek yang cenderung mengalami masalah kesehatan mental (skor ?6) sebesar 26,7% dan 28,6% diantaranya mengalami seropositif IgG toksoplasma. Tidak ditemukan hubungan bermakna secara statistik antara faktor perilaku yang diteliti maupun status kesehatan mental berdasarkan SRQ-20 dengan seropositivitas IgG T. gondii. Temuan ini menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran warga ITB dan upaya pencegahan toksoplasmosis yang berfokus pada pengendalian paparan lingkungan serta perlindungan kelompok pekerja berisiko.
EVALUASI KESELAMATAN PEJALAN KAKI SAAT MENGGUNAKAN PONSEL DI TROTOAR PUBLIK
Penggunaan ponsel saat berjalan di trotoar publik semakin umum dan dapat menimbulkan risiko keselamatan akibat terganggunya perhatian pejalan kaki terhadap lingkungan sekitar. Fenomena ini perlu dikaji lebih lanjut untuk memahami besarnya ancaman terhadap keselamatan pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat risiko keselamatan pejalan kaki yang menggunakan ponsel saat berjalan di trotoar publik. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuesioner dengan instrumen smombie scale yang disebarkan kepada 394 responden untuk mengidentifikasi tingkat risiko akibat penggunaan ponsel saat berjalan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji beda, dan CB-SEM. Hasil dari penelitian ini akan digunakan sebagai dasar dalam perancangan intervensi yang bertujuan mengurangi potensi bahaya bagi pejalan kaki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 81% responden tergolong memiliki risiko tinggi mengalami kecelakaan atau gangguan keselamatan saat menggunakan ponsel di trotoar publik. Risiko yang paling sering dialami cenderung bersifat ringan, seperti tidak mendengar saat orang lain berbicara, melewatkan sinyal penyeberangan, atau menabrak pejalan kaki lain. Meskipun demikian, risiko-risiko tersebut tetap berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti kecelakaan lalu lintas. Tingginya tingkat risiko ini didorong oleh tingginya ketergantungan responden terhadap ponsel yang digunakan tidak hanya saat keadaan statis tetapi juga dinamis. Beberapa aktivitas seperti membalas pesan, mendengarkan musik, dan menggunakan fitur navigasi terbukti berkontribusi terhadap peningkatan risiko, sedangkan aktivitas menelepon dan melihat media sosial tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan temuan tersebut, intervensi dikembangkan dalam bentuk poster edukatif yang menghasilkan 3 poster dengan tone yang berbeda, yaitu netral, fokus pada dampak negatif, dan fokus pada manfaat.
EVALUASI KESELAMATAN PEJALAN KAKI SAAT MENGGUNAKAN PONSEL DI TROTOAR PUBLIK
Penggunaan ponsel saat berjalan di trotoar publik semakin umum dan dapat menimbulkan risiko keselamatan akibat terganggunya perhatian pejalan kaki terhadap lingkungan sekitar. Fenomena ini perlu dikaji lebih lanjut untuk memahami besarnya ancaman terhadap keselamatan pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis tingkat risiko keselamatan pejalan kaki yang menggunakan ponsel saat berjalan di trotoar publik. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuesioner dengan instrumen smombie scale yang disebarkan kepada 394 responden untuk mengidentifikasi tingkat risiko akibat penggunaan ponsel saat berjalan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji beda, dan CB-SEM. Hasil dari penelitian ini akan digunakan sebagai dasar dalam perancangan intervensi yang bertujuan mengurangi potensi bahaya bagi pejalan kaki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 81% responden tergolong memiliki risiko tinggi mengalami kecelakaan atau gangguan keselamatan saat menggunakan ponsel di trotoar publik. Risiko yang paling sering dialami cenderung bersifat ringan, seperti tidak mendengar saat orang lain berbicara, melewatkan sinyal penyeberangan, atau menabrak pejalan kaki lain. Meskipun demikian, risiko-risiko tersebut tetap berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti kecelakaan lalu lintas. Tingginya tingkat risiko ini didorong oleh tingginya ketergantungan responden terhadap ponsel yang digunakan tidak hanya saat keadaan statis tetapi juga dinamis. Beberapa aktivitas seperti membalas pesan, mendengarkan musik, dan menggunakan fitur navigasi terbukti berkontribusi terhadap peningkatan risiko, sedangkan aktivitas menelepon dan melihat media sosial tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan temuan tersebut, intervensi dikembangkan dalam bentuk poster edukatif yang menghasilkan 3 poster dengan tone yang berbeda, yaitu netral, fokus pada dampak negatif, dan fokus pada manfaat.
PERANCANGAN PRODUK REKREASI UNTUK MENURUNKAN STRES PADA PEKERJA KREATIF FREELANCE
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh burn out yang umum dialami oleh pekerja kreatif freelance, dengan salah satu penyebabnya yaitu stres. Stres dapat berakar dari kerentanan pekerja terhadap eksploitasi tanpa adanya perlindungan serta jaminan, yang disebabkan dari pola pekerjaan yang tidak teratur oleh kontrak. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa karakter serta kebutuhan pekerja kreatif freelance, mengidentifikasi faktor-faktor yang menimbulkan kerentanan pekerja kreatif freelance terhadap stres dan burn out, dan pencarian solusi serta peluang inovasi untuk menyediakan fasilitas rekreasi bagi pekerja kreatif freelance untuk menurunkan stres. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan studi literatur, observasi serta survei/wawancara, yang kemudian datanya diolah dengan metode kualitatif. Studi literatur dilakukan dengan mencari data melalui sumber sumber literatur. Kegiatan observasi dilakukan di BT17 Studio yang merupakan sebuah studio berisikan pekerja kreatif freelance di Kota Bandung, dan survei dilakukan menggunakan Google Forms. Dari hasil pengumpulan dan pengolahan data, ditemukan bahwa pola aktivitas yang cenderung mengarah pada overwork menjadi salah satu masalah utama. Oleh karena itu, dirancang produk rekreasi sebagai pengalih sementara dari beban pekerjaan. Produk dirancang dengan sistem bongkar pasang yang dapat disusun sesuai keinginan serta kreativitas pengguna, sehingga mereka memiliki kebebasan dalam proses penyelesaian. Produk juga dapat memiliki fungsi sebagai alat pendukung pekerjaan kreatif. Diharapkan produk ini dapat menjadi salah satu media rekreasi untuk menurunkan kadar stres penggunanya.
EKSPLORASI HEAT-TEXTURED FABRIC DENGAN VISUALISASI FASE PENYAKIT BIPOLAR SEBAGAI TEMA PRODUK KRIYA INTERIOR WALL-HANGING
Penelitian ini dimaksudkan untuk merespons fenomena stigma yang ada di masyarakat terhadap penyakit bipolar. Penyakit bipolar merupakan salah satu dari penyakit yang mengganggu kesehatan mental. Tujuan dari penelitian ini adalah mengajak Masyarakat untuk menghilangkan stigma soal penyakit mental, khususnya penyakit bipolar. Metode penelitian ini mencangkup studi literatur dan observasi lapangan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik dalam melawan stigma terhadap penyakit bipolar lewat ragam kriya tekstil.
PERANCANGAN HEALTH AND WELLNESS CENTRE KHUSUS WANITA DENGAN KONSEP SANCTUARY FOR WOMAN DI UBUD BALI
Perancangan Health and Wellness Centre khusus wanita dengan konsep Sanctuary for Women di Ubud, Bali bertujuan untuk menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan holistik bagi perempuan dalam menjaga kesehatan fisik dan mental. Perancangan ini merespons tingginya prevalensi gangguan mental pada perempuan yang dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, dan budaya. Konsep sanctuary diterapkan dengan menjadikan perempuan sebagai pusat perhatian melalui desain yang mengintegrasikan nilai spiritual, budaya lokal Bali, dan pengalaman multisensorik, seperti penggunaan warna-warna lembut, pencahayaan hangat, serta suasana yang mendukung relaksasi. Bunga lotus diangkat sebagai simbol utama yang merepresentasikan kekuatan, ketenangan, dan keanggunan perempuan, yang diwujudkan melalui bentuk ruang yang melengkung dan organik. Implementasi program mencakup layanan seperti yoga, pilates, terapi relaksasi, konseling psikologis, serta aktivitas budaya dan sosial yang dirancang untuk mendukung proses penyembuhan dan pemberdayaan perempuan secara menyeluruh.