๐Ÿ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

PERANCANGAN WEBSITE NARATIF SEBAGAI MEDIA INFORMASI MENGENAI SENSORY PROCESSING ISSUES PADA ANAK UNTUK ORANG TUA

Sensory Processing Disorder (SPD) merupakan kondisi yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengolah informasi dari pancaindra dan dapat berdampak pada perkembangan motorik, kognitif, sosial, dan emosional jika tidak ditangani sejak dini. Pemahaman orang tua mengenai gangguan ini masih terbatas, sehingga dibutuhkan media edukasi yang mudah diakses dan dipahami. Perancangan ini bertujuan untuk mengedukasi orang tua mengenai SPD melalui website naratif โ€œA Very Sensory Day with Sellyโ€ dengan metode design thinking serta pengumpulan data melalui studi literatur, kuesioner, dan wawancara ahli. Media ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman orang tua terhadap pentingnya penanganan SPD

2026
๐Ÿ‘ค Penulis: Adia Dwiani Khairunnisa
๐Ÿท๏ธ Kesehatan Mental Anak ๐Ÿท๏ธ Pendidikan Orang Tua ๐Ÿท๏ธ Desain Thinking

PERANCANGAN WEBSITE NARATIF SEBAGAI MEDIA INFORMASI MENGENAI SENSORY PROCESSING ISSUES PADA ANAK UNTUK ORANG TUA

Sensory Processing Disorder (SPD) merupakan kondisi yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengolah informasi dari pancaindra dan dapat berdampak pada perkembangan motorik, kognitif, sosial, dan emosional jika tidak ditangani sejak dini. Pemahaman orang tua mengenai gangguan ini masih terbatas, sehingga dibutuhkan media edukasi yang mudah diakses dan dipahami. Perancangan ini bertujuan untuk mengedukasi orang tua mengenai SPD melalui website naratif โ€œA Very Sensory Day with Sellyโ€ dengan metode design thinking serta pengumpulan data melalui studi literatur, kuesioner, dan wawancara ahli. Media ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman orang tua terhadap pentingnya penanganan SPD

2026
๐Ÿ‘ค Penulis: Adia Dwiani Khairunnisa
๐Ÿท๏ธ Kesehatan Mental Anak ๐Ÿท๏ธ Pendidikan Orang Tua ๐Ÿท๏ธ Desain Thinking

PENGEMBANGAN ALAT BANTU JALAN ANAK CEREBRAL PALSY SPASTIK DIPLEGIA GMFCS II USIA 6-12 TAHUN

Keterbatasan fungsi ekstremitas bawah pada anak dengan cerebral palsy tipe spastik diplegia merupakan tantangan rehabilitasi yang kompleks. Kondisi ini ditandai oleh kerusakan white matter periventricular yang menyebabkan spastisitas, kelemahan otot, gangguan keseimbangan, dan pola berjalan yang tidak efisien pada kedua tungkai bawah. Di Indonesia, prevalensi cerebral palsy tercatat sekitar 9 per 1.000 anak usia 24-59 bulan, dengan tipe spastik diplegia sebagai subtipe yang paling sering ditemui. Anak dengan klasifikasi kemampuan motorik kasar GMFCS II memiliki potensi berjalan secara mandiri, namun menghadapi keterbatasan pada kondisi tertentu seperti berjalan jauh, menaiki tangga, atau bergerak di permukaan tidak rata. Upaya rehabilitasi di Indonesia masih terkendala oleh keterbatasan akses fasilitas, biaya terapi yang tinggi, cakupan jaminan kesehatan yang belum memadai, serta minimnya produk pendukung latihan yang ramah pengguna muda dan dapat digunakan secara mandiri di luar fasilitas formal. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan fisik, psikologis, dan lingkungan yang dialami anak cerebral palsy tipe spastik diplegia GMFCS II usia 6-12 tahun dalam menjalani program rehabilitasi medik, mengkaji kesesuaian produk pendukung latihan berjalan yang tersedia dengan kebutuhan nyata pengguna, serta mengembangkan konsep alat bantu jalan yang adaptif, inklusif, dan kontekstual. Pendekatan kualitatif eksploratif digunakan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam multi-pihak, dan studi literatur. Pengumpulan data dilakukan di Yayasan Anak Bunda Istimewa (YABI) dengan melibatkan fisioterapis, dokter spesialis rehabilitasi medik, serta orang tua atau pendamping anak sebagai sumber informasi. Proses perancangan menggunakan metode desain yang berpusat pada pengguna (user-centered design), mencakup analisis kebutuhan pengguna, studi ergonomi dan biomekanik, pengembangan konsep, pembuatan studi model, hingga purwa rupa (prototipe) berbasis 3D printing. Temuan penelitian menunjukkan adanya kesenjangan desain yang signifikan antara produk yang tersedia dengan kebutuhan nyata pengguna, khususnya dalam aspek keterjangkauan ekonomi, adaptabilitas terhadap lingkungan sehari-hari, dan daya tarik visual yang mendukung konsistensi latihan anak. Berbeda dari penelitian sejenis yang umumnya berfokus pada pengukuran efektivitas klinis intervensi, penelitian ini mengintegrasikan perspektif klinis, data lapangan multi sumber, dan pendekatan pengembangan produk dalam satu kerangka analisis yang komprehensif. Hasil penelitian ini berupa konsep alat bantu jalan ortosis pinggul-paha bilateral yang dirancang secara kustom sesuai antropometri pengguna. Produk terdiri dari rangka utama berbahan ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene) yang dicetak menggunakan 3D printing, compliant mechanism berbahan TPU 90A yang menghubungkan komponen pinggul dan paha untuk mengakomodasi gerak fleksibel secara berjalan, serta pengikat yang bisa diatur berbahan kain nylon webbing dengan sistem velcro. Desain produk mengutamakan tiga aspek utama: adaptive dalam mengikuti gerak fisiologis pengguna, targeted support pada area gluteus medius, rectus femoris, dan hamstring, serta child-friendly melalui pendekatan visual yang lembut dan tidak mengesankan alat medis. Produk ini diharapkan dapat mendukung latihan berjalan secara mandiri di luar fasilitas formal, meningkatkan motivasi anak, serta berkontribusi pada pengembangan solusi rehabilitasi yang kontekstual terhadap kontribusi pengguna di Indonesia.

2026
๐Ÿ‘ค Penulis: Rahma Jehan Aleiva
๐Ÿท๏ธ Kesehatan Mental Anak ๐Ÿท๏ธ Rehabilitasi Medik ๐Ÿท๏ธ Desain Produk Pendukung

PERANCANGAN PUSAT REHABILITASI SOSIAL BAGI KORBAN KEKERASAN PADA ANAK DENGAN PENDEKATAN THERAPEUTIC ENVIRONMENT

Anak adalah potensi paling berharga yang dimiliki oleh negara, calon penentu masa depan bangsa. Namun mirisnya, kasus kekerasan pada anak masih marak terjadi hingga saat ini. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia berhasil mengumpulkan data kasus kekerasan pada anak di Indonesia pada tahun 2023 yaitu sebanyak 18.175 kasus, dengan 71,5% korban adalah anak perempuan dan 28,5% korban adalah anak laki-laki. Faktor penyebab terjadinya kekerasan pada anak paling banyak berasal dari faktor individu / orang tua yang melakukan tindakan kekerasan tersebut. Tindakan kekerasan pada anak tersebut memberikan dampak yang negatif pada aspek kesehatan fisik, kesehatan psikis, perilaku, dan masa depan anak. Solusi yang diberikan untuk mengatasi dampak negatif tersebut yaitu dengan memberikan layanan rehabilitasi sosial yang berfokus pada penyembuhan kesehatan psikis dan perilaku anak yang akan memperbaiki masa depan anak korban kekerasan. Terdapat berbagai pelayanan yang diberikan untuk menghasilkan proses rehabilitasi sosial yang efektif. Proses identifikasi dan klasifikasi merupakan langkah awal untuk menentukan tindakan selanjutnya yang tepat bagi anak korban kekerasan. Berbagai jenis konseling, terapi, dan aktivitas sosial juga memegang peran penting dalam proses rehabilitasi sosial. Selain itu, proses rehabilitasi sosial tidak akan berhasil jika anak masih berada di lingkungan / tempat terjadinya tindakan kekerasan. Sehingga, akomodasi berupa penampungan sementara juga menentukan keberhasilan proses rehabilitasi sosial bagi anak korban kekerasan. Lingkungan fisik yang menjadi akomodasi dalam memberikan layanan rehabilitasi sosial mempunyai peran yang signifikan dalam proses penyembuhan kesehatan psikis dan perilaku anak korban kekerasan. Penerapan beberapa faktor pada lingkungan fisik untuk menciptakan sebuah lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan penghuninya merupakan definisi dari pendekatan Therapeutic Environment. Pendekatan tersebut tepat untuk diterapkan pada perancangan pusat rehabilitasi sosial bagi korban kekerasan pada anak. Berdasarkan beberapa kajian literatur dan studi preseden yang dilakukan, terbentuk kriteria perancangan yang akan menjadi standar dalam proses perancangan antara lain Integration with Nature, Eliminating Stressor, Positive Distraction, Safety and Security, dan Social Support. Kriteria-kriteria tersebut diimplementasikan dalam perancangan dengan tiga skala yaitu Perancangan Tapak, Perancangan Arsitektur, dan Perancangan Interior. Tesis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada perancangan arsitektur berbasis rehabilitasi sosial dengan pendekatan Therapeutic Environment.

2026
๐Ÿ‘ค Penulis: Ayang Amalia
๐Ÿท๏ธ Kesehatan Mental Anak ๐Ÿท๏ธ Manajemen Rantai Pasok Kecerdasan Buatan ๐Ÿท๏ธ Pendidikan Dan Pelatihan
๐Ÿ’ฌ