š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenFASILITAS MULTI-OLAHRAGA REHABILITASI UNTUK MENDUKUNG TERWUJUDNYA KOTA SEHAT
Topik utama dari tugas akhir ini adalah perancangan fasilitas olahraga perkotaan terpadu BARA (Bandung Active Recreation Arena) yang mengintegrasikan fungsi olahraga, rehabilitasi, dan ruang publik untuk mendukung terwujudnya Healthy City. Topik ini berkaitan dengan beberapa tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), serta SDG 13 (Climate Action). Keterkaitan tersebut diwujudkan melalui penyediaan fasilitas yang mendorong gaya hidup sehat, menghadirkan ruang publik yang inklusif dan aktif, serta menerapkan strategi perancangan yang responsif terhadap kondisi perkotaan dan lingkungan. Saat ini, Kota Bandung menghadapi berbagai tantangan dalam penyediaan fasilitas olahraga publik, di antaranya kepadatan kawasan urban, keterbatasan lahan, rendahnya aktivasi kawasan olahraga, serta meningkatnya minat masyarakat untuk berolahraga. Di sisi lain, kawasan GOR Pajajaran memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan olahraga terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai lokasi penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga sebagai destinasi olahraga, rekreasi, dan ruang interaksi masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya tipologi fasilitas olahraga yang mampu mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu kawasan secara lebih efisien, aktif, dan adaptif terhadap perkembangan kota. Menurut World Health Organization (WHO), Healthy City merupakan kota yang secara berkelanjutan menciptakan dan meningkatkan kondisi fisik maupun sosial untuk mendukung kesehatan, kesejahteraan, serta kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, perancangan BARA tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas olahraga dan rehabilitasi, tetapi juga sebagai ruang publik yang mampu meningkatkan aktivitas fisik, memperkuat interaksi sosial, serta menghidupkan kembali kawasan olahraga melalui integrasi berbagai fungsi dan aktivitas dalam satu lingkungan yang saling terhubung. Pendekatan arsitektur yang digunakan berorientasi pada pengalaman pengguna melalui penerapan fluid spatial integration, active vertical circulation, sensory-stimulating environments, serta ruang yang fleksibel dan multifungsi. Pendekatan ini didukung oleh konsep neuroplastisitas yang memandang bahwa lingkungan fisik dapat memengaruhi kemampuan manusia untuk beradaptasi, pulih, dan berkembang melalui pengalaman ruang yang positif. Metode perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis tapak, studi preseden, serta penyusunan program ruang berdasarkan karakter aktivitas, pola penggunaan, kapasitas, dan fleksibilitas ruang. Hasil analisis tersebut menjadi dasar dalam merumuskan konsep serta strategi perancangan kawasan olahraga yang terintegrasi. Tujuan utama dari perancangan ini yaitu menghadirkan fasilitas olahraga perkotaan yang mampu mengakomodasi berbagai cabang olahraga, fasilitas rehabilitasi, ruang publik aktif, serta fungsi pendukung dalam satu kawasan yang saling terhubung. Dengan demikian, luaran yang diharapkan bukan hanya berupa bangunan olahraga, melainkan sebuah kawasan yang mendorong gaya hidup aktif, meningkatkan kualitas interaksi sosial, mengoptimalkan pemanfaatan kawasan GOR Pajajaran, serta berkontribusi terhadap terwujudnya Healthy City di Kota Bandung.
EKSPLORASI KRITERIA LINGKUNGAN TERBANGUN YANG MENDORONG AKTIVITAS FISIK DI KOTA BANDUNG
Belakangan ini, menurunnya tingkat aktivitas fisik telah menjadi tantangan di berbagai negara di dunia terutama negara-negara berkembang. Sejumlah penelitian telah menunjukkan keterkaitan antara elemen lingkungan terbangun terhadap aktivitas fisik seperti berjalan kaki, berlari, dan bersepeda. Di Indonesia, penelitian terkait hubungan lingkungan terbangun yang mendorong aktivitas fisik masih sangat terbatas baik yang berfokus pada kesehatan maupun mobilitas aktif. Tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular di Kota Bandung memperkuat urgensi penelitian ini dengan tujuan mengeksplorasi dan menganalisis kriteria-kriteria lingkungan terbangun yang berpotensi mendorong aktivitas fisik di Kota Bandung berdasarkan kerangka ā5Dā dan akuisisi data dari Strava. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif bersifat eksploratif dengan model regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan yang cenderung lemah antara kriteria lingkungan terbangun dengan aktivitas fisik, dengan bentuk hubungan positif pada kriteria keberagaman aktivitas perkotaan dan hubungan negatif pada aksesibilitas menuju fasilitas transportasi umum. Namun, tiga kriteria lainnya yaitu kepadatan bangunan, kepadatan persimpangan, dan aksesibilitas menuju destinasi tidak berpengaruh signifikan terhadap intensitas aktivitas fisik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengembangan kebijakan perencanaan Kota Bandung menuju kota yang lebih ramah terhadap aktivitas fisik terutama berjalan kaki.