📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)

Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.

2026
👤 Penulis: Sarah Fadlilah Sigit
🏷️ Keuangan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Tenaga Kerja

USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO

Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.

2026
👤 Penulis: Auralia Regina Putri
🏷️ Keuangan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Tenaga Kerja

PERANCANGAN WORKSTATION PADA SEPEDA GEROBAK PENJAHIT KELILING DI LENTENG AGUNG UNTUK MENGURANGI KELUHAN MUSKULOSKELETAL

Penjahit keliling di Lenteng Agung bekerja dalam posisi duduk statis lebih dari delapan jam sehari, dengan menggunakan workstation pada sepeda gerobak yang dirancang tanpa pertimbangan prinsip ergonomi, sehingga menimbulkan keluhan muskuloskeletal pada area leher, punggung, dan bokong. Penelitian ini bertujuan untuk merancang workstation pada sepeda gerobak penjahit keliling yang adaptif untuk mengurangi risiko keluhan muskuloskeletal. Metode yang digunakan adalah metode campuran kualitatif dan kuantitatif, meliputi observasi lapangan dengan pendekatan etnografi, wawancara semi-terstruktur, peta nyeri menggunakan Nordic Body Map (NBM), analisis postur kerja dengan Rapid Entire Body Assessment (REBA), serta evaluasi dan validasi prototipe menggunakan Motion Capture System Analysis (MoCap) dan The System Usability Scale (SUS). Hasil analisis menunjukkan skor REBA 9 hingga 11 yang mengindikasikan risiko sangat tinggi sehingga membutuhkan intervensi segera, serta persentase keluhan >70% pada tiga area otot utama. Hasil uji coba dengan MoCap menunjukkan desain yang telah diintervensi lebih baik dari segi postur dan gaya otot. Pada uji usabilitas prototipe menghasilkan skor rata-rata 76,67, mengonfirmasi bahwa desain intervensi dengan fitur sandaran dan sistem adjustable pada kursi, memiliki tingkat usabilitas yang baik dan berpotensi mengurangi keluhan muskuloskeletal, meskipun masih ada ruang untuk pengembangan lebih lanjut. Kebaruan pada kajian perancangan ini terletak pada pengembangan workstation berbasis konteks lokal yang sederhana dan aplikatif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perancangan workstation yang ergonomis, dan memperkaya diskursus desain yang responsif terhadap kebutuhan lokal, serta desain berbasis kesejahteraan pengguna.

2025
👤 Penulis: Naufal Arya Putra Nurjaman
🏷️ Kesehatan Tenaga Kerja 🏷️ Desain Ergonomi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Layanan

ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAPARAN DEBU RESPIRABLE TERHADAP PEKERJA DI LINGKUNGAN KERJA PENGOLAHAN BIJIH MINERAL PT. X.

Proses pengolahan bijih mineral merupakan bagian integral dari bisnis pertambangan yang di kelola PT. X. Pengolahan bijih mineral menghasilkan debu yang bersifat respirable. Debu ini mengandung berbagai bahan zat karsinogenik dan non-karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai risiko kesehatan yang disandang pekerja akibat pajanan debu respirable di lingkungan kerja pengolahan bijih mineral di PT. X. Penelitian epidemiologi ini menggunakan desain cross sectional terhadap 40 pekerja yang terbagi dua kelompok sampel: 30 pekerja yang terpapar debu (kelompok terpajan) dan 10 pekerja yang tidak terpapar debu (kelompok kontrol). Pompa sampel udara perseorangan digunakan untuk menilai paparan debu respirable yang dapat dihirup. Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES) digunakan untuk analisis karakterisasi logam dalam debu. Uji fungsi paru-paru diperoleh menggunakan spirometer Contec 100A. Keseluruhan data yang diperoleh diolah dengan perangkat lunak Minitab dengan analisis statistik deskriptif, bivariat (korelasi dan chi-square), multivariat (regresi linear berganda). Berdasarkan hasil pengukuran rata-rata konsentrasi paparan debu respirable dan logam mineral lainnya di area proses Crushing lebih besar dibandingkan Grinding, Flotasi, dan perkantoran (kontrol). Terdapat perbedaan signifikan rata-rata konsentrasi di area kerja proses pengolahan bijih mineral (p-value <0,05) untuk konsentrasi paparan debu respirable dan konsentrasi setiap logam mineral Al, Ca, Cu, dan Si. Namun tidak ada perbedaan signifikan rata-rata konsentrasi logam mineral Fe dan Zn (p-value >0,05). Dengan urutan besaran nilai rata-rata konsentrasi debu logam mineral dalam sampel debu respirable Fe > Ca > Si > Cu > Al > Zn. Penggunaan masker respirator dapat menurunkan paparan debu respirable hingga mencapai faktor perlindungan (APF), sehingga uji kesesuaian yang tepat menjadi penting dilakukan. Berdasarkan analisis regresi linear berganda variabel rerata dosis harian ter inhalasi debu respirable, kelembapan relatif, PM10, jenis rotasi bekerja, dan kebiasaan merokok secara signifikan mempengaruhi nilai FEV1.0. Serta nilai FCV, variabel yang berpengaruh signifikan adalah rerata dosis harian ter inhalasi debu respirable, PM10, dan jenis rotasi bekerja (p-value <0,05), tanpa penggunaan masker respirator. Penilaian risiko dihitung menggunakan risiko kanker seumur hidup (LCR) dan karakterisasi risiko kesehatan non-kanker sebagai indeks bahaya (HI). Risiko kesehatan nonkarsinogenik dan karsinogenik pada responden pekerja akibat paparan debu respirable di proses pengolahan bijih mineral masih di bawah nilai ambang batas HI <1 dan LCR ?1 x10-4 . Fungsi paru-paru terganggu dengan adanya penurunan parameter FEV1.0 dan FCV secara signifikan terkait dengan debu respirable yang terhirup di antara pekerja di lingkungan kerja pengolahan bijih mineral (OR = 3,27; CI 95% = 0,36-29,36).

2025
👤 Penulis: Muhamad Rizky Yudhiantara
🏷️ Debu Respirable 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Pertambangan 🏷️ Kesehatan Tenaga Kerja

ANALISIS RISIKO DAN PREVALENSI KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDS) PADA PEKERJA KASIR MENGGUNAKAN CMDQ DAN REBA

Musculoskeletal disorders (MSDs) atau gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan adalah salah satu penyebab utama cuti sakit dan kecacatan di berbagai negara. MSDs menjadi salah satu dari tiga alasan paling umum cuti sakit di Austria. MSDs menyebabkan kehilangan hari kerja sebesar 21,4% yaitu 15,8 hari dari total cuti sakit pada tahun 2016 di Austria sedangkan rata-rata cuti sakit di Austria adalah 9,8 hari. Data dari Lembaga Asuransi Sosial di Finlandia (KELA) menunjukkan pengeluaran untuk rehabilitasi MSDs mencapai EUR 41,5 juta. Data ini menjadikan pengeluaran untuk MSDs menjadi terbesar ketiga setelah pengeluaran rehabilitasi untuk gangguan mental/perilaku dan penyakit sistem saraf. Selain data tersebut, kasus MSDs terjadi dengan rata-rata 35 kasus untuk setiap 10.000 pekerja tetap dan menyumbang 29% dari total kasus kecelakaan kerja di industri. Pekerjaan kasir memiliki risiko tinggi terhadap MSDs akibat postur kerja statis dan gerakan berulang. Beberapa penelitian telah mengidentifikasi faktor risiko ergonomi pada pekerja kasir namun kajian menggunakan CMDQ dan REBA dalam menganalisis risiko MSDs pada pekerja masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi prevalensi dan faktor risiko penyebab MSDs pada pekerja kasir, mengidentifikasi hubungan faktor individu dan pekerjaan terhadap keluhan MSDs, serta mengidentifikasi faktor dominan yang mempengaruhi MSDs pada kasir. Studi ini merupakan studi cross sectional yang melibatkan 114 pekerja kasir swalayan dengan usia 18-60 tahun., tidak hamil, tidak mengkonsumsi obat-obatan, dan tidak memiliki riwayat cedera MSDs. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner demografis, formulir CMDQ dan analisis postur kerja menggunakan REBA. Data ini kemudian dianalisis menggunakan uji Kendall-Tau untuk menemukan korelasi antara variabel independen dan variabel dependen serta uji Mann Whitney U untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap keluhan sakit di bagian tubuh tertentu. Uji regresi linear berganda digunakan untuk mengidentifikasi faktor dominan penyebab MSDs. Hasil REBA menunjukkan bahwa sebanyak 1,8% pekerja memiliki risiko rendah, 77,2% pekerja memiliki postur kerja dengan tingkat risiko sedang, 18,4% pekerja memiliki risiko tinggi, dan 2,6% memiliki risiko sangat tinggi sehingga perlu investigasi lanjutan dan perubahan terhadap postur tubuh. Hasil dari CMDQ menunjukkan bahwa prevalensi nyeri tertinggi yaitu pada kaki kanan (86,8%), kaki kiri (84,2%), dan punggung bawah (76,3%). Faktor risiko signifikan yang mempengaruhi keluhan MSDs meliputi usia (p = 2,781 x 10-8 ), masa kerja (p = 6,66 x 10-11), indeks massa tubuh (p = 1,47 x 10-7 ), jenis kelamin (p = 0,005), dan postur kerja yang diukur menggunakan REBA (p = 2,2 x 10-16). Uji Kendall-Tau juga menunjukkan arah hubungan positif antara variabel-variabel tersebut dengan keluhan MSDs. Penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja kasir dengan risiko postur kerja tinggi memiliki prevalensi MSDs yang lebih besar. Uji regresi linear berganda menunjukkan bahwa faktor dominan yang menyebabkan keluhan MSDs pada pekerja kasir adalah postur tubuh tidak ergonomis. Nilai R2=0,6961 menunjukkan bahwa sebagian besar variasi dalam keluhan MSDs dapat dijelaskan oleh variabel independen seperti usia, masa kerja, kebiasaan olahraga, IMT, jenis kelamin, penggunaan hak tinggi, tinggi stasiun kerja, dan skor REBA. Penelitian ini menghasilkan beberapa rekomendasi untuk perbaikan risiko postur kerja kasir yaitu menerapkan postur berdiri dinamis dengan batas aman berdiri 40 menit, menyediakan tempat duduk untuk istirahat, melakukan peregangan ringan setiap 30 menit. Selain itu, perlu adanya penggunaan alas kaki yang nyaman serta matras anti-fatigue. Penggunaan konveyor dan pemindai gemggam direkomendasikan untuk mengurangi risiko cedera akibat membungkuk atau mengangkat beban. Panduan desain ergonomis dari OSHA, seperti ketinggian area kerja yang optimal dan orientasi meja kasir menghadap depan, juga disarankan untuk mendukung kenyamanan pekerja

2025
👤 Penulis: Sri Dewi Handayani
🏷️ Kesehatan Tenaga Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Ergonomi Kerja
💬