📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenPEMODELAN GEOMEKANIKA SATU DIMENSI UNTUK KESTABILAN LUBANG BOR DI LAPANGAN RGL, CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA
Lapangan RGL merupakan salah satu lapangan penghasil hidrokarbon di Cekungan Jawa Timur Utara dengan potensi yang menjanjikan. Namun, kegiatan pengeboran di lapangan ini sering mengalami permasalahan kestabilan lubang bor seperti tight spot/stall, partial loss/total loss, connection gas, dan packoff/caving. Penelitian ini menggunakan pendekatan model geomekanika satu dimensi berdasarkan data log sumur, laporan pengeboran, laporan uji tekanan formasi, dan uji laboratorium mekanika batuan untuk menentukan tekanan pori, orientasi tegasan horizontal, sifat mekanika batuan, serta besaran tegasan in-situ yang meliputi tegasan vertikal (Sv), tegasan horizontal minimum (Shmin), dan tegasan horizontal maksimum (SHmax). Hasil pemodelan geomekanika ini digunakan untuk mengoptimalkan parameter kestabilan lubang bor, seperti jendela berat lumpur dan arah trajektori pengeboran sumur yang optimal. Berdasarkan model geomekanika satu dimensi pada sumur AD-1 dan AD-3, rezim tegasan in-situ di Lapangan RGL merupakan rezim sesar normal (Sv > SHmax > Shmin) dengan orientasi SHmax timur laut-barat daya. Hasil pemodelan tersebut menunjukkan bahwa Lapangan RGL memiliki satu tren tegasan utama yaitu kondisi tekanan hidrostatik. Pada kondisi tersebut, rata-rata gradien tekanan pori sebesar 0.44 psi/ft, tegasan vertikal sebesar 1.01 psi/ft, tegasan horizontal maksimum sebesar 0.975 psi/ft, dan tegasan horizontal minimum sebesar 0.925 psi/ft. Oleh karena itu, kestabilan lubang bor dapat ditingkatkan dengan menaikkan berat lumpur. Rekomendasi berat lumpur diawali 9.4–10 ppg pada Formasi Lidah; 9.3–9.7 ppg pada Formasi Wonocolo, Ngrayong, dan Tawun; 10.3–11 ppg pada Formasi Rancak dan Tuban; 9.5–10.5 ppg pada Formasi Kujung I, Kujung II, Kujung III, CD Carbonate, dan Basement; serta 10.9–11.5 ppg pada Formasi CD Clastic untuk pengeboran sumur berikutnya. Selain itu, kestabilan lubang bor dapat dioptimalkan dengan menentukan trajektori pengeboran sumur searah orientasi Shmin, yaitu barat laut–tenggara, karena membutuhkan berat lumpur yang lebih rendah dibandingkan arah lainnya.
PEMODELAN GEOMEKANIKA UNTUK KESTABILAN LUBANG BOR LAPANGAN BAKUL, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH, RIAU
Lapangan Bakul merupakan salah satu lapangan migas yang terletak di Cekungan Sumatra Tengah, Provinsi Riau. Lapangan ini menunjukkan adanya indikasi permasalahan kestabilan lubang bor akibat penggunaan berat lumpur yang cenderung terlalu tinggi, sehingga berisiko menyebabkan kerusakan pada formasi. Oleh karena itu, analisis kestabilan lubang bor dan pemodelan geomekanika diperlukan untuk memahami distribusi tegasan in-situ dan menentukan strategi pengeboran yang optimal. Penelitian ini dilakukan dengan mengestimasi nilai geomekanika menggunakan data log. Estimasi nilai geomekanika yang dilakukan antara lain tegasan vertikal (Sv) dari log densitas, tegasan horizontal minimum (Shmin) dari data leak off test, dan tegasan horizontal maksimum (SHmax) dari observasi kegagalan pada lubang bor. Selain itu, persamaan empiris juga banyak digunakan berdasarkan berbagai data log untuk mengisi nilai geomekanika yang tidak tersedia dan untuk menyusun properti mekanika batuan. Hasil pemodelan digunakan untuk mengevaluasi kestabilan lubang bor serta berat lumpur yang sesuai dengan kondisi bawah permukaan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa Lapangan Bakul berada pada rezim sesar geser (SHmax > SV > Shmin) dengan arah SHmax sebesar N30°E. Gradien nilai geomekanika pada kondisi tekanan normal yaitu SHmax sebesar 1,41 psi/ft, Sv sebesar 0,95 psi/ft, Shmin sebesar 0,82 psi/ft. Zona underpressure teridentifikasi pada Formasi Lakat akibat proses uplift, sementara zona overpressure ditemukan pada Formasi Binio akibat mekanisme loading. Berdasarkan hasil analisis kestabilan lubang bor, disarankan agar berat lumpur disesuaikan secara bertahap mengikuti perubahan kondisi tegasan dan tekanan pori. Arah pengeboran yang ideal untuk meminimalkan risiko ketidakstabilan adalah sejajar dengan arah tegasan horizontal maksimum. Oleh karena itu, perencanaan arah pengeboran dan berat lumpur perlu disesuaikan dengan kondisi tegasan in-situ agar lubang bor tetap stabil selama operasi pemboran.