πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

APAKAH PENGGUNAAN KEUANGAN DIGITAL MEMPENGARUHI AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN DAN KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA?

Inklusi keuangan digital telah muncul sebagai instrumen yang dapat memperkuat ketahanan pangan rumah tangga di negara-negara berkembang, namun bukti pada tingkat mikro masih terbatas di Indonesia. Penelitian ini dapat menganalisis hubungan antara penggunaan transaksi digital dan ketahanan pangan rumah tangga di Indonesia, menggunakan analisis regresi untuk menilai dampak perilaku keuangan terhadap nutrisi rumah tangga. Dengan menggunakan data survei rumah tangga yang diperoleh dari World Bank dan menerapkan regresi Ordinary Least Squares (OLS), penelitian ini mengungkapkan bahwa penggunaan transaksi digital memiliki efek positif secara statistik signifikan terhadap ketahanan pangan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa rumah tangga yang lebih banyak menggunakan keuangan digital cenderung memiliki akses pangan yang lebih baik. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara Keuangan Digital dan Akses Rumah Tangga terhadap Pangan & Ketahanan Pangan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan keuangan digital memiliki efek positif terhadap ketahanan pangan rumah tangga di Indonesia, sambil juga menyoroti bahwa keuangan digital sebagai nilai atau faktor tunggal tidak dapat sepenuhnya menjelaskan kompleksitas ketahanan pangan di Indonesia. Keywords: Akses Rumah Tangga terhadap Pangan & Ketahanan Pangan; Keuangan Digital; Indonesia; Data Survei Rumah Tangga

2026
πŸ‘€ Penulis: William Hugo Ravindra Putra
🏷️ Keuangan Digital 🏷️ Ketahanan Pangan 🏷️ Analisis Regresi

MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN MELALUI PERDAGANGAN DAN GLOBALISASI: STUDI DATA PANEL DENGAN IMPLIKASI STRATEGIS BAGI RANTAI PASOK PERTANIAN INDONESIA

Walaupun memiliki sektor pertanian yang cukup besar, Indonesia masih terus-menerus menghadapi tantangan dalam mencapai swasembada pangan. Ketergantungan terhadap impor beras mencerminkan kerentanan yang lebih luas dalam sistem ketahanan pangan nasional, sekaligus menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas komoditas pangan penting lainnya. Dalam konteks globalisasi, kerentanan ini semakin diperparah oleh meningkatnya keterkaitan antar negara dalam rantai pasok internasional. Penelitian ini mengeksplorasi dampak globalisasi terhadap ketahanan pangan dengan menganalisis data panel dari sejumlah negara yang dipilih berdasarkan tingkat globalisasi mereka, menurut KOF Globalization Index. Analisis difokuskan pada dua indikator utama ketahanan pangan: Kecukupan Energi Pangan (ADESA) dan rata-rata ketersediaan protein. Indonesia menjadi titik acuan utama di antara negara-negara dalam dataset ini. Dengan menggunakan pendekatan teori ketergantungan sumber daya (Resource Dependence Theory/RDT), penelitian ini menyoroti bagaimana ketergantungan terhadap sumber pangan eksternal dapat meningkatkan risiko sistemik jika tidak diimbangi dengan strategi ketahanan domestik. RDT menekankan pentingnya menyeimbangkan integrasi eksternal dengan pengembangan pertanian nasional dan penguatan kelembagaan. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan wawasan empiris mengenai dinamika struktural antara globalisasi dan ketahanan pangan. Bagi Indonesia, temuan ini dapat menjadi dasar kebijakan strategis untuk meningkatkan keberlanjutan sektor pertanian, diversifikasi sumber pangan, dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar pangan global.

2025
πŸ‘€ Penulis: Puteri Assyira Anggun Barqi Fikriyah
🏷️ Ketahanan Pangan 🏷️ Globalisasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PRINSIP PERANCANGAN 'FOOD SENSITIVE URBAN DESIGN' PADA COASTAL AREA INDONESIA (KASUS STUDI: PESISIR PANTAI KENJERAN, SURABAYA)

pembangunan perkotaan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, yang menghadapi ketidakstabilan pangan dan pertumbuhan penduduk pesat. Berbagai konsep ketahanan pangan, seperti Food Resilient, Food Security, dan Food Sensitive Planning and Urban Design (FSPUD), telah diterapkan di negara maju dan menawarkan solusi inovatif untuk perencanaan kota yang mendukung sistem pangan berkelanjutan. FSPUD, yang pertama kali dikembangkan di Australia, mengintegrasikan aspek ketahanan pangan dalam desain kota, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya pangan, akses, dan interaksi sosial yang dapat memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Namun, tantangan besar di Indonesia adalah dualisme tatanan kota, dengan kawasan perkotaan yang terbagi antara kawasan formal dan informal, yang berdampak pada infrastruktur dan akses pangan. Perubahan iklim, termasuk kenaikan permukaan laut yang mengancam wilayah pesisir, memperburuk kondisi ini, sehingga diperlukan penyesuaian standar FSPUD, khususnya di kawasan permukiman informal atau kampung kota yang terletak di wilayah pesisir, untuk meningkatkan ketahanan pangan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan kepada perancangan kampung kota wilayah pesisir di Indonesia dengan menerapkan prinsip Food Sensitive Urban Design demi meningkatkan ketahanan pangan Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dan preskriptif yang bertujuan untuk menguji dan menjelaskan hubungan antara variabel yang diteliti serta memberikan saran terkait masalah yang muncul. Dengan pendekatan post-positivisme, yang merupakan penyempurnaan dari positivisme, penelitian ini menguji teori melalui observasi dan menghubungkannya dengan teori-teori sebelumnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik evaluasi, survei, wawancara, dan observasi, untuk mengumpulkan data subjektif dan menggambarkan kondisi wilayah studi. Pendekatan deduktif diterapkan untuk mengkaji masalah di lapangan berdasarkan teori yang ada. Dalam hasil temuan pada penelitian ini dapat dilihat bahwa terdapat empat kriteria utama dalam arahan konsep FSUD pada pesisir pantai Kenjeran, yaitu aksesibilitas, ruang terbuka, komunitas dan aktivitas, serta lingkungan dan sumber daya. Pada setiap kriterianya terdiri atas beberapa elemen dan prinsip yang menghasilkan integrasi konsep aquaculture dan agriculture pada setiap prinsip. Selain arahan, terdapat beberapa kebutuhan intervensi desain yang muncul seperti rekomendasi simulasi desain β€œgreen alley”, adaptasi bentuk bangunan, perencanaan program dan aktivitas oleh komunitas, inovasi konsep food sharing, inovasi rain garden serta pengembangan komunitas bank sampah. Contoh simulasi desain adalah arahan alternatif desain pada lorong/gang kampung kota yang terbagi atas lima tipe lorong, dimana tiap tipe alternatif memiliki kriteria/indikator tersendiri untuk dapat diaplikasikan pada kondisi eksisting. Kawasan Kenjeran di Surabaya adalah area pesisir yang ideal untuk wisata dan rekreasi, namun menghadapi tantangan seperti erosi, perubahan iklim, dan pencemaran yang mengancam biota laut dan kehidupan nelayan. Permukiman permanen membutuhkan pembangunan infrastruktur dan adaptasi bangunan, seperti rumah panggung untuk mengatasi banjir. Komunitas di wilayah studi ingin mempertahankan identitas budaya, namun banyak generasi muda beralih profesi akibat urbanisasi. Ekonomi Kenjeran tumbuh, terutama di sektor pariwisata dan UMKM, tetapi ada keluhan mengenai dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan dan ekonomi lokal. Untuk mencapai integrasi pangan dengan sektor lain seperti pariwisata, infrastruktur, dan pelestarian lingkungan, diperlukan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pendekatan urban farming dengan food sensitive urban design (FSUD) akan diterapkan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan sosial-ekonomi, sekaligus mitigasi dampak perubahan iklim. Dengan fokus pada teknik pertanian ramah lingkungan, Kampung kota di Kenjeran diharapkan dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi komunitas.

2024
πŸ‘€ Penulis: Annisa Sukma Ningrati
🏷️ Desain Kota 🏷️ Ketahanan Pangan 🏷️ Perubahan Iklim
πŸ’¬