📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 7 dokumen

USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)

Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.

2026
👤 Penulis: Sarah Fadlilah Sigit
🏷️ Keuangan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Tenaga Kerja

USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO

Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.

2026
👤 Penulis: Auralia Regina Putri
🏷️ Keuangan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Tenaga Kerja

USULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)

Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.

2026
👤 Penulis: Naswa Sany
🏷️ Keuangan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kesehatan Kerja

MENILAI KELAYAKAN FINANSIAL PEMBUKAAN CABANG BARU PITPET DI BANDUNG

Industri perawatan hewan peliharaan di Indonesia terus berkembang pesat, membuka peluang bagi bisnis seperti PitPet yang berencana membuka cabang baru di Bandung. Studi ini mengevaluasi kelayakan finansial ekspansi tersebut menggunakan proyeksi keuangan lima tahun, metode penganggaran modal (NPV, IRR, Payback Period), serta analisis risiko melalui Analisis Sensitivitas dan Simulasi Monte Carlo. Hasilnya menunjukkan NPV sebesar Rp1,1 miliar, IRR 29 persen, dan periode pengembalian 3,6 tahun, yang seluruhnya memenuhi kriteria investasi. Dengan probabilitas 85,9 persen untuk memperoleh NPV positif, proyek ini dinilai layak secara finansial. Untuk memitigasi risiko terkait harga dan volume penjualan, disarankan strategi seperti harga berbasis nilai, paket layanan bertingkat, program loyalitas, pemasaran terarah, serta inisiatif CSR guna memperkuat keterlibatan komunitas dan retensi pelanggan.

2025
👤 Penulis: Admiral Farrashidqi Muhammad
🏷️ Keuangan 🏷️ Analisis Keputusan Investasi 🏷️ Manajemen Risiko

KAJIAN TINGKAT KEPUASAN PENGGUNAAN JALAN TOL (STUDI KASUS: JALAN TOL CIPALI DAN JALAN TOL CIPULARANG)

Abstrak bisa dilihat di filenya

2025
👤 Penulis: Achmad Surian Nur
🏷️ Keuangan 🏷️ Analisis Pasar 🏷️ Transportasi

RISIKO KELELAHAN PADA MASINIS KERETA BARANG DAN PERANCANGAN STRATEGI MITIGASI

Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kecelakaan di perkeretaapian. Kajian mengenai kelelahan saat mengoperasikan kereta api di Indonesia masih sangat minim, terutama pada pengoperasian kereta barang. Kereta barang merupakan tulang punggung perkeretaapian di Indonesia karena pendapatannya yang sangat besar. Namun demikian, pemahaman tentang karakteristik pekerjaan dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan masih belum diketahui. Pemahaman yang baik mengenai sistem pengoperasian kereta barang dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat membantu dalam merancang strategi mitigasi yang efektif. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang mengakibatkan terjadinya kelelahan serta bagaimana strategi mitigasinya. Tujuan penelitian ini dicapai melalui tiga studi penelitian, yaitu studi pendahuluan, kajian lapangan, dan eksperimen laboratorium. Temuan dari ketiga studi akan digunakan untuk merancang strategi mitigasi. Studi pendahuluan dilakukan untuk memahami karakteristik operasional pengoperasian kereta barang dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan penyebaran kuesioner, kajian dokumen, dan observasi lapangan. Hasil ketiga kegiatan tersebut digunakan untuk studi ke-2 dan ke-3. Sejumlah temuan diketahui beririsan dengan temuan pada kegiatan lainnya, yaitu temuan terkait durasi kerja yang panjang, durasi istirahat kurang optimal, dan kenyamanan serta keamanan Griya Karya. Selain itu, pada studi ini juga ditemui adanya fenomena split sleep yang disebabkan karena irregularitas pekerjaan. Pengaruh dari split sleep ini dikaji pada studi ke-3. Studi ke-2 dilakukan untuk memahami profil kelelahan masinis selama mengoperasikan kereta barang, tingkat kelelahan selama mengoperasikan kereta barang, serta bagaimana korelasi antar indikator kelelahan saat pengukuran di lapangan. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran terhadap indikator okular (video kamera) dan pengisian kuesioner kelelahan (KSS dan VAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kelelahan saat mengoperasikan kereta barang adalah linier dan kubik. Shift kerja, waktu mengoperasikan kereta, serta jenis KA ditemui berhubungan signifikan dengan kelelahan. Selain itu, sejumlah parameter okular ditemui berkorelasi cukup kuat dengan indikator subjektif, yaitu blink duration (BD), closed phase (CDP), microsleep per minute (MPM), dan PERCLOS. ii Eksperimen laboratorium yang dilakukan pada studi ke-3 bertujuan untuk memahami bagaimana fenomena split-sleep mempengaruhi kelelahan. Studi ini dilatarbelakangi adanya temuan bahwa masinis memanfaatkan waktu tunggu keberangkatan di Griya Karya dengan tidur (temuan di alur dinas dan wawancara sub tema 1.3). Aktivitas ini masih perlu dikaji lebih jauh bagaimana dampaknya terhadap tingkat kelelahan. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran terhadap indikator okular, gelombang otak, performansi, serta kuesioner KSS dan VAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengoperasian kereta api bersifat kompleks dan irregular. Pada kajian eksperimen laboratorium diketahui bahwa split-sleep dan waktu ditemui mempengaruhi kelelahan secara signifikan. Selain itu, hasil uji korelasi menunjukkan bahwa perlunya kajian lanjutan yang membahas mengenai SAT.

2024
👤 Penulis: Sevty Auliani
🏷️ Keuangan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

FINANCIAL FEASIBILITY OF BUSINESS ON BEAUTY SALON STARTUP: A CASE OF NALA BEAUTY BAR SALON PROJECT

Sektor kecantikan di Indonesia saat ini sedang mengalami ekspansi yang pesat, didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen dan tren peningkatan kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengeluarkan uang untuk produk dan perawatan kecantikan. Wilayah Bandung Raya merupakan salah satu kota dengan pengeluaran tertinggi untuk industri kecantikan, hal ini menunjukkan adanya peluang pertumbuhan yang signifikan di sektor ini. Nala Beauty Bar, yang didirikan di Lampung pada tahun 2019, telah merelokasi tokonya ke Bandung, mencerminkan tren yang ada dengan menawarkan berbagai perawatan kosmetik semi permanen yang dirancang khusus untuk memberdayakan individu dan meningkatkan rasa percaya diri. Tujuan utama salon ini adalah untuk menantang standar kecantikan konvensional dan tekanan masyarakat dengan memprioritaskan pengembangan kepercayaan diri di antara para pelanggannya. Nala Beauty Bar sangat menekankan kelayakan dan keberlanjutan operasi keuangannya untuk memastikan kelangsungan jangka panjang. Hal ini dicapai melalui investasi strategis di bidang teknologi dan pasokan, serta perencanaan keuangan yang cermat. Studi ini mengevaluasi kelayakan finansial perluasan Nala Beauty Bar di Bandung dengan menggunakan analisis skenario untuk mengidentifikasi dan menganalisis iii potensi risiko. Metodologi penelitiannya adalah penelitian tindakan, yang melibatkan proses siklus perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi untuk terus meningkatkan model bisnis. Studi tersebut mengungkapkan periode pengembalian modal selama 2,2 tahun dan Tingkat Pengembalian Internal (IRR) yang mengesankan sebesar 46,94%, melampaui Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC) sebesar 9,48%. Selanjutnya Net Present Value (NPV) pada skenario dasar bernilai positif sebesar Rp 109.791.609,53 menunjukkan tingkat profitabilitas yang signifikan. Temuan ini menggarisbawahi peluang strategis bagi Nala Beauty Bar untuk meningkatkan kesejahteraan finansialnya dengan menyediakan perawatan kecantikan yang meningkatkan kepercayaan diri di Bandung.

2024
👤 Penulis: Ghifalda Annisa Desomsoni
🏷️ Keuangan 🏷️ Kecantikan 🏷️ Analisis Skenario
💬