📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenUSULAN KEBIJAKAN JEDA ANTARDINASAN MASINIS: KAJIAN DI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Kelelahan merupakan salah satu faktor risiko utama yang mengancam keselamatan operasional perkeretaapian yang dapat dikendalikan melalui penentuan durasi jeda antardinasan yang tepat. Namun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga saat ini belum memiliki kebijakan jeda antardinasan yang didasarkan pada bukti empiris memadai. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kelelahan masinis, menentukan rekomendasi durasi jeda antardinasan yang optimal, serta mengusulkan strategi mitigasi risiko kelelahan masinis PT KAI. Pendekatan campuran (mixed methods) digunakan, meliputi pengukuran kuantitatif menggunakan instrumen objektif untuk mengukur kecepatan reaksi dan durasi kedipan mata (Psychomotor Vigilance Task/PVT dan Blink Duration) dan subjektif untuk mengukur tingkat kantuk dan kelelahan, serta beban mental yang dirasakan masinis selama dinasan (KSS, VAS, NASA-TLX, dan RSME) pada kru kedudukan dan kru tamu dengan jeda ?12 jam dan >12 jam, serta Focus Group Discussion (FGD) yang dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan seluruh instrumen konsisten mengindikasikan peningkatan kelelahan yang bermakna setelah dinasan pada kedua kru, dengan kelompok jeda ?12 jam mencatatkan akumulasi kelelahan yang lebih tinggi; durasi jeda berkorelasi negatif signifikan dengan Blink Duration. Temuan kualitatif mengidentifikasi enam tema penyebab kelelahan, meliputi ketidakcukupan jeda antardinasan, pola dinasan, fasilitas istirahat, kondisi kabin, faktor organisasional, serta dukungan manajemen. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan jeda antardinasan minimal >12 jam sebagai kebijakan baku, dengan rentang 10–12 jam untuk kru tamu dan 12–14 jam untuk kru kedudukan. Rekomendasi ini telah disepakati bersama PT KAI dan bersifat adaptif selama tidur efektif minimal 7 jam dan fasilitas istirahat kondusif terpenuhi. Implementasi rekomendasi ini didukung oleh strategi mitigasi berbasis model Fatigue Risk Control (Williamson) yang disusun secara berjenjang: pencegahan kelelahan sebelum dinasan melalui standardisasi jeda dan fasilitas istirahat, pengelolaan performa selama dinasan melalui perbaikan ergonomi kabin dan protokol pelaporan kelelahan, hingga mitigasi insiden sebagai jaring pengaman terakhir melalui kalibrasi sistem pemantauan dan optimalisasi perangkat keselamatan. Kajian lanjutan disarankan dilakukan secara longitudinal untuk memantau perubahan tingkat kelelahan masinis seiring implementasi kebijakan.
INFLUENCE OF WORK ENVIRONMENT CONDITIONS AND INDIVIDUAL FACTORS ON WORKER FATIGUE (CASE STUDY: MSME X FURNITURE)
Penelitian ini mengkaji pengaruh kondisi lingkungan kerja dan faktor individu terhadap kelelahan kerja pada UMKM X Furnitur dengan menggunakan desain cross-sectional yang melibatkan seluruh 25 pekerja UMKM tersebut. Variabel independen dalam penelitian ini terdiri atas kondisi lingkungan kerja (intensitas pencahayaan, tingkat kebisingan, suhu, kelembaban) dan faktor individu (usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan terakhir, kebiasaan merokok, masa kerja, jam kerja per hari, durasi tidur per hari, dan beban kerja). Kelelahan kerja dinilai menggunakan Subjective Self-Rating Test (SSRT). Distribusi kelelahan kerja menunjukkan bahwa 64% pekerja mengalami kelelahan rendah, dan 36% mengalami kelelahan sedang. Sebagian besar pekerja mengalami kelelahan dalam bentuk pelemahan aktivitas dan kelelahan fisik, sedangkan pelemahan motivasi hanya ditemukan pada sebagian kecil pekerja. Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelelahan kerja dengan tingkat kebisingan (Sig.=0,004) dan jam kerja per hari (Sig.=0,009), sedangkan intensitas pencahayaan (Sig.=0,426), suhu (Sig.=0,175), kelembaban (Sig.=0,175), usia (Sig.=0,646), jenis kelamin (Sig.=0,465), status pernikahan (Sig.=0,426), tingkat pendidikan (Sig.=0,189), kebiasaan merokok (Sig.=0,426), masa kerja (Sig.=0,175), durasi tidur per hari (Sig.=0,843), dan beban kerja (Sig.=0,567) tidak signifikan. Analisis regresi linier berganda mengonfirmasi bahwa tingkat kebisingan merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi kelelahan kerja (Sig.=0,013). Rekomendasi mencakup strategi pengendalian kebisingan, solusi pendinginan, serta pengaturan jam kerja yang optimal untuk mengurangi kelelahan dan meningkatkan produktivitas serta keselamatan.