📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenDETEKSI DAN KLASIFIKASI MANIFESTASI GEOTERMAL PERMUKAAN MENGGUNAKAN CITRA MULTISENSOR DI DAERAH SEMENDO, KABUPATEN MUARA ENIM, SUMATRA SELATAN
Pemetaan manifestasi geotermal di lapangan dengan kondisi topografi yang terjal dan tutupan vegetasi yang lebat dapat mengurangi efektivitas dalam eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan sebaran titik manifestasi meliputi fumarola, mata air panas, kaipohan serta menganalisis efektivitas citra Landsat-8, Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER) Thermal Infrared Radiometer (TIR), Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS), dan Advanced Land Observing Satellite (ALOS) Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar (PALSAR) di lapangan geotermal Rantau Dedap, Sumatra Selatan. Citra Landsat-8 dan ASTER TIR yang telah dilakukan pansharpening metode Local Mean and Variance Matching (LMVM), kemudian digunakan untuk menurunkan parameter Land Surface Temperature (LST), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), dan band ratio alterasi hidrotermal permukaan. Sedangkan citra ALOS PALSAR dengan metode speckle filtering digunakan untuk mendeteksi kelurusan struktur geologi dengan lebih jelas. Sebaran 94 data manifestasi eksisting dominan berada di dekat pusat erupsi gunung api, struktur orientasi NE-SW, dan dataran kaki gunung api. Sedangkan pada hasil analisis parameter, sebaran data manifestasi eksisting menunjukkan nilai NDVI pada vegetasi sedang, band ratio pada mineral alterasi, dan suhu LST sebesar 15?C. Hasil deteksi sebaran delineasi prospek manifestasi fumarola dan mata air panas menghasilkan sebaran ke arah barat laut dan prospek manifestasi kaipohan ke arah timur laut dari pusat erupsi Semendo. Klasifikasi delineasi prospek manifestasi menghasilkan tipe fumarola A dan B, mata air panas A dan B, serta kaipohan A dan B. Penggunaan metode Multi-Criteria Evaluation (MCE) pada data manifestasi permukaan di lapangan, dapat menghasilkan tingkat efektivitas dengan memperhatikan ambang batas dengan hasil untuk manifestasi kaipohan sebesar 28,6%, mata air panas sebesar 15,5%, dan fumarola sebesar 10,3%. Metode MCE juga digunakan untuk menganalisis tingkat sensitivitas sebesar 85,7% untuk band ratio, 69% untuk NDVI, dan 62% untuk LST. Kemudian, analisis titik manifestasi yang berada di dalam radius kurang dari atau sama dengan 200 meter dari kelurusan geologi membuktikan manifestasi dikontrol oleh struktur lokal berarah NE-SW dan N-S. Tingkat kesesuaian lokasi manifestasi fumarola terhadap struktur geologi sebesar 27,6% sedangkan mata air panas sebesar 20,7% terhadap data lapangan.