📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 14 dokumen

IDENTIFIKASI FAKTOR PEMICU FENOMENA KEMARAU BASAH AGUSTUS TAHUN 2025 DI BENUA MARITIM INDONESIA

Bulan Agustus di Benua Maritim Indonesia (BMI) secara klimatologis merupakan puncak defisit curah hujan akibat dominasi sirkulasi Monsun Australia. Namun, pada Agustus 2025 terjadi fenomena kemarau basah dengan anomali curah hujan yang meluas secara spasial, menampilkan pola yang berbeda dari kejadian historis pada tahun 2021. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan meluasnya anomali pemanasan sea surface temperature (SST) di perairan Indonesia yang diduga kuat bertindak sebagai penyuplai uap air lokal. Secara keseluruhan, kejadian anomali ini ditengarai dipicu oleh interaksi forcing lintas skala yang kompleks, mencakup skala dasar monsun, pengaruh iklim global, skala intraseasonal dan sinoptik, hingga termodinamika lautan lokal dan modifikasi siklus diurnal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi tingkat keekstreman anomali tersebut, mengidentifikasi faktor pemicu beserta mekanisme fisis lintas skalanya, dan mengkuantifikasi porsi kontribusi anomali SST lokal terhadap presipitasi menggunakan pemodelan numerik Weather Research and Forecasting (WRF). Data observasi menggunakan reanalisis ERA5, Outgoing Longwave Radiation (OLR), dan SST satelit untuk menganalisis dinamika atmosfer dari skala dasarian hingga diurnal. Eksperimen sensitivitas pemodelan WRF dilakukan untuk memvalidasi kontribusi termodinamika lautan terhadap presipitasi. Simulasi dijalankan dalam Skenario Aktual (SST 2025) dan Skenario Klimatologi (SST rata rata historis). Hasil analisis menunjukkan bahwa kemarau basah Agustus 2025 dipicu oleh terjadinya pelemahan monsun Australia yang bertepatan dengan fase Indian Ocean Dipole (IOD) negatif dalam kondisi ENSO netral. Kondisi ini memicu pemanasan SST di perairan barat Indonesia, bersamaan dengan pemanasan SST independen di Pasifik Utara. Gangguan Gelombang Kelvin, Equatorial Rossby, dan Madden Julian Oscillation (MJO) bertindak sebagai mekanisme pengangkatan. Interaksi dinamik ini mengubah siklus diurnal lokal, menggeser puncak presipitasi ke dini hari, dan memicu propagasi sistem konvektif dari laut ke daratan. Eksperimen WRF mengonfirmasi bahwa tanpa suplai energi laten tambahan dari anomali SST lokal tersebut, gangguan gelombang atmosfer tidak mampu menghasilkan curah hujan di periode kemarau.

2026
👤 Penulis: Nuran Dhiya Annafi
🏷️ Klimatologi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Meteorologi

IDENTIFIKASI INTENSITAS ARUS LINTAS INDONESIA (ARLINDO) PADA PERIODE MID HOLOCENE BERDASARKAN FORAMINIFERA PLANKTONIK DAN GRAIN SIZE DI PERAIRAN SANGATTA

Periode Mid Holocene merupakan fase transisi iklim yang memengaruhi dinamika sirkulasi laut wilayah tropis, termasuk jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Perubahan intensitas Arlindo ini berdampak langsung pada distribusi panas dan stratifikasi kolom air di perairan Indonesia. Namun, bukti dan rekaman detail mengenai fluktuasi intensitas Arlindo pada periode Mid Holocene di Selat Makassar masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi intensitas Arlindo serta hubungannya dengan suhu permukaan laut (SPL), suhu termoklin laut (STL), depth of thermocline (DOT), dan sortable silt di sekitar Selat Makassar, khususnya Perairan Sangatta. Metode yang digunakan yaitu analisis SPL dan STL, penentuan DOT, analisis kelimpahan relatif spesies foraminifera planktonik berdasarkan habitatnya, serta pengukuran grain size pada inti sedimen TR1926B. Hasil penelitian menunjukkan pada awal periode Mid Holocene sekitar 8.000 – 7.000 tahun lalu (thl), kondisi yang mengindikasikan intensitas Arlindo menguat ditandai dengan SPL yang menghangat hingga 29,11 °C dan STL 23,98 °C sehingga terjadi pendalaman DOT. Hal ini didukung dengan meningkatnya nilai sortable silt hingga 28,8 dan log Zr/Rb mencapai 0,24 yang merepresentasikan penguatan energi kinetik arus yang memicu proses winnowing. Ketika akhir periode Mid Holocene sekitar 6.000 – 5.000 thl, indikasi intensitas Arlindo melemah ditunjukkan dengan penurunan SPL hingga 28,30 °C dan STL sebesar 22,54 °C, terjadi pendangkalan DOT, serta penurunan nilai sortable silt yang mencapai 23,5 dan log Zr/Rb hingga 0,10. Fluktuasi ini juga didukung oleh jumlah kelimpahan relatif spesies foraminifera planktonik mixed layer dweller lebih dominan sekitar 61,9% dibandingkan thermocline dweller sekitar 38,1% yang menunjukkan kondisi Perairan Sangatta pada periode Mid Holocene didominasi oleh mixed layer depth yang tebal dan DOT yang dalam. Dapat disimpulkan bahwa intensitas Arlindo di Perairan Sangatta berfluktuasi yang berkaitan dengan perubahan monsun tenggara akibat perubahan parameter orbital insolasi selama periode Mid Holocene.

2026
👤 Penulis: Daffa Zettira Mazdhania
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi 🏷️ Geologi

ANALISIS PENGARUH PENINGKATAN CO2 TERHADAP CURAH HUJAN DI INDONESIA BERDASARKAN PROYEKSI CMIP6 1PCTCO2

Emisi CO2 diperkirakan mengalami peningkatan secara global, terutama di negara -negara berkembang seperti Asia dan Amerika Latin. Salah satu dampak peningkatan CO2 yaitu dapat memengaruhi pola sirkulasi atmosfer, termasuk melemahkan sirkulasi Walker dan Hadley yang berperan terhadap pola monsun. Berdasarkan kajian sebelumnya, meskipun ada peningkatan kelembapan, beberapa wilayah dapat mengalami penurunan curah hujan karena melemahnya angin monsun. Untuk itu, penelitian ini akan menganalisis pengaruh kenaikan CO2 di Indonesia terhadap curah hujan terutama yang dipengaruhi oleh angin monsun berdasarkan data proyeksi model iklim global. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan data proyeksi yang bersumber dari Climate Model Intercomparison Project Phase 6 (CMIP6) dengan skenario 1pctCO2 yang dirancang untuk mensimulasikan respon sistem iklim terhadap peningkatan PPM (Parts Per Million) CO2 secara bertahap sebesar satu persen per tahun dari konsentrasi awal pra-industri dengan periode pengamatan dari tahun 1979 – 2014. Data lain yang digunakan sebagai pembanding yaitu data reanalisis Fifth Generation of the European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ERA5) dengan periode pengamatan 1979 - 2014. Metode penelitian ini dilakukan perhitungan bias antara data model dengan data observasi dan dilakukan analisis korelasi pola spasial untuk menilai kesesuaian distribusi spasial curah hujan. Penelitian ini menunjukkan bahwa curah hujan pada model CMIP6 menunjukkan perubahan yang cukup signifikan di berbagai wilayah di Indonesia dibandingkan dengan data reanalisis ERA5. Pola spasial dan temporal curah hujan yang dihasilkan CMIP6 cenderung lebih bervariasi dan menunjukkan bias negatif di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya di kawasan barat seperti Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, sementara wilayah timur seperti Maluku dan Papua cenderung memperlihatkan bias positif. Nilai pattern correlation juga memiliki nilai yang rendah yaitu rentang 0,4 – 0,7 dan nilai koefisien korelasi yang berada di rentang 0,26 – 0,38 mengindikasikan bahwa skenario kenaikan CO2 sebesar 1% per tahun memberikan pengaruh terhadap jumlah presipitasi di wilayah tropis maritim.

2026
👤 Penulis: Bintang Putri Adi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi 🏷️ Model Iklim

ANALISIS PERSEBARAN KONSENTRASI PM2.5 BERDASARKAN TIPE PROPAGASI MADDEN-JULIAN OSCILLATION PADA MUSIM DJF DI BENUA MARITIM INDONESIA

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran ?2.5 mikrometer yang berisiko tinggi terhadap kesehatan manusia. Indonesia termasuk negara dengan tingkat polusi PM2.5 yang cukup tinggi, dan variabilitas konsentrasinya dipengaruhi oleh fenomena atmosfer skala intraseasonal seperti Madden–Julian Oscillation (MJO). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran konsentrasi PM2.5 berdasarkan kategori propagasi MJO, yakni slow, fast, stand, dan jump, pada musim DJF (Desember–Januari–Februari) di wilayah Benua Maritim Indonesia. Data yang digunakan meliputi kejadian MJO dari Istiqomah (2023) dan data reanalisis MERRA-2 periode 1980–2018. Konsentrasi PM2.5 dihitung dari parameter aerosol dengan satuan ?g m?³, kemudian dihitung klimatologi normal, klimatologi MJO, serta selisih dan anomali tiap kategori MJO terhadap kondisi normal. Hasil menunjukkan bahwa masing-masing kategori MJO memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola spasial konsentrasi PM2.5. Kategori slow cenderung diikuti peningkatan PM2.5 di wilayah barat dan tengah Indonesia, fast menunjukkan penurunan di beberapa wilayah barat, stand menunjukkan pola lokal yang bervariasi, dan jump tidak menunjukkan perubahan signifikan secara regional. Dengan demikian, klasifikasi propagasi MJO berperan dalam memengaruhi variasi spasial PM2.5 di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Widya Gusnatul Hijrah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi 🏷️ Manajemen Polusi Udara

STUDI VARIABILITAS MUSIMAN SUBSURFACE TEMPERATURE DI INDO-PACIFIC WARM POOL PADA MARINE ISOTOPE STAGE 11

Penelitian ini mengkaji variabilitas musiman suhu laut hingga kedalaman 100 m di wilayah Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) selama Marine Isotope Stage (MIS) 11 dan membandingkannya dengan periode Pra-Industri (PI) menggunakan hasil simulasi model komprehensif klimat. Hasil menunjukkan bahwa MIS 11 secara umum lebih hangat dari PI yaitu sebesar 0,58°C dengan anomali positif dominan di Samudra Hindia bagian barat selama DJF, JJA, dan SON. Variasi musiman pada MIS 11 lebih ekstrem, terlihat dari anomali negatif di permukaan pada MAM dan pola anomali suhu cenderung berlawanan antara lapisan permukaan (0 m) dan subsurface (50 m, 100 m), mengindikasikan dinamika baroklinik kuat hingga kedalaman 100 m. Lapisan air hangat MIS 11 secara signifikan lebih dalam dibandingkan PI di sebagian besar wilayah IPWP pada semua musim, menunjukkan distribusi panas yang lebih luas ke lapisan bawah. Siklus musiman volume IPWP pada MIS 11 menunjukkan penyusutan relatif yang lebih besar dari Januari-Juli dengan penyusutan terbesar pada April yaitu -1,49 dan ekspansi relatif yang lebih besar dari Agustus-Desember dengan ekspansi terbesar pada November yaitu 0,91 dibandingkan PI. Perubahan dalam siklus musiman Indian Ocean Warm Pool (IOWP) merupakan kontributor utama terhadap perubahan musiman volume IPWP secara keseluruhan pada MIS 11 dibandingkan PI dengan magnitudo perubahan musiman pada IOWP yang lebih besar dibandingkan Western Pacific Warm Pool (WPWP). Analisis skewness distribusi temperatur juga menegaskan adanya dinamika asimetri musiman dalam kapasitas ekspansi volume dimana musim MAM di MIS 11 memiliki kapasitas ekspansi yang sangat besar (nilai skewness paling negatif -4,26), sementara JJA dan SON di MIS 11 menunjukkan kapasitas yang lebih kecil (nilai skewness masing-masing -3,49 dan 3,03) kemungkinan karena IPWP sudah mendekati batas maksimum 28°C.

2025
👤 Penulis: Ali Akbar Rafsanjini
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi 🏷️ Marine Isotope Stage

PENENTUAN TANGGAL ONSET MONSUN DI SULAWESI BERDASARKAN ANALISIS CURAH HUJAN HARIAN DAN TRANSPOR KELEMBAPAN REGIONAL

Penentuan tanggal onset monsun sangat krusial dalam mendukung sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan mitigasi bencana di wilayah tropis seperti Sulawesi. Penelitian ini mengembangkan pendekatan penentuan onset berbasis harian dengan mengintegrasikan kriteria lokal dan regional, untuk mengatasi keterbatasan metode sebelumnya yang hanya menggunakan resolusi pentad atau dasarian. Kriteria lokal ditentukan dari titik minimum metode Cumulative Anomaly (CA) pada data curah hujan harian, sementara kriteria regional dihitung dari transpor kelembapan menggunakan model backward trajectory HYSPLIT untuk mendapatkan wilayah sumber kelembapan dominan saat monsun aktif. Kajian ini juga membagi Sulawesi ke dalam lima region berdasarkan hasil analisis harmonik untuk mengakomodasi variasi siklus annual dan semi-annual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan gabungan antara indikator lokal dan regional secara efektif mampu mengidentifikasi tanggal onset monsun di berbagai wilayah Sulawesi. Penentuan dilakukan secara paralel, dimulai dari penentuan tanggal minimum anomali kumulatif curah hujan CA sebagai indikasi peningkatan curah hujan, lalu dilanjutkan dengan analisis sumber kelembapan harian dalam rentang ±30 hari dari tanggal tersebut. Tanggal onset ditetapkan apabila kelembapan dominan berasal dari wilayah sumber yang sesuai dengan distribusi klimatologis pada fase puncak musim hujan. Pendekatan ini terbukti pada region dengan pola annual (A1–A4) dan semi-annual (S), khususnya yang menerima kontribusi kelembapan signifikan dari NM, TM, dan SM. Tanggal onset rata-rata di setiap region bervariasi, mulai dari 9 November 7 Desember di Region A1, 20 November hingga 14 Desember di Region A2, 4 hingga 10 Desember di Region A3, akhir 27 April hingga 7 Mei di A4, serta dua fase onset pada Region S yakni sekitar 25 April hingga 11 Mei dan 3 November hingga 8 Desember. Subregion seperti A4_4 dan S_3 menunjukkan ketidaksesuaian dengan indikator regional, yang mengindikasikan pengaruh kelembapan lokal yang lebih dominan dan perlunya pengembangan kriteria adaptif untuk wilayah tersebut. Selain itu, analisis komposit atmosfer menunjukkan kontras angin dan curah hujan yang signifikan sebelum dan sesudah onset, terutama di subregion yang memiliki angin dominan yang jelas saat monsun aktif.

2025
👤 Penulis: Rheinhart C H Hutauruk
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Sumber Daya Air 🏷️ Klimatologi

ANALISIS KONSUMSI LISTRIK RUMAH TANGGA BERDASARKAN COMFORT INDEX

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Temperature Humidity Index (THI) sebagai indikator kenyamanan termal dengan konsumsi listrik rumah tangga di wilayah Bandung dan Karawang selama periode 2012-2024. Data THI diperoleh dari reanalisis iklim ERA5, sedangkan data konsumsi listrik dikumpulkan dari sistem pelanggan rumah tangga PLN (AP2T). Metode korelasi Pearson dan Spearman digunakan untuk mengevaluasi hubungan statistik antara kedua variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Bandung, hubungan antara THI dan konsumsi listrik bersifat positif tetapi sangat lemah dan tidak signifikan secara statistik, baik secara tahunan maupun khusus pada musim kemarau (r = 0,102; p = 0,3921). Di Karawang, hubungan tersebut bahkan cenderung negatif (r = -0,041; p = 0,7301), dan tetap tidak signifikan meskipun dilakukan pemangkasan data pada THI di atas 24°C (r = 0,101; p = 0,2263). Analisis ini diperkuat dengan survei terhadap 267 responden yang menunjukkan bahwa ketidaknyamanan suhu dan kelembapan memang berkorelasi dengan kecenderungan penggunaan AC, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan konsumsi energi. Temuan ini mengindikasikan bahwa THI tidak dapat secara mandiri menjelaskan variasi konsumsi listrik rumah tangga, sehingga diperlukan pendekatan multidimensi yang mempertimbangkan faktor-faktor non-klimatis seperti kondisi sosial ekonomi, perilaku penggunaan alat elektronik, serta persepsi kenyamanan individu. Kajian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi perencanaan energi yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan berbasis pada realitas konsumsi masyarakat tropis.

2025
👤 Penulis: Wildan Arya Putra
🏷️ Klimatologi 🏷️ Manajemen Energi Rumah Tangga 🏷️ Analisis Data Statistik

DAMPAK ENSO TERHADAP PRODUKSI LISTRIK DI PLTA BAKARU SULAWESI DAN POTENSI MITIGASI KEKURANGAN LISTRIK SAAT EL NINO DENGAN PENGEMBANGAN PLTS

Sistem kelistrikan Sulawesi Selatan sangat terdampak akibat El Niño tahun 2023 yang lalu. Dimana penopang utama sistem kelistrikannya dipasok oleh PLTA. Akibatnya PLN harus melakukan pemadaman secara bergilir 1-5 jam per hari. Salah satu PLTA yang terdampak yaitu PLTA Bakaru dimana pada saat El Niño tahun 2023 daya mampu pasoknya turun sekitar 30%. Penelitian ini menganalisis terkait dengan dampak ENSO terhadap variabilitas produksi listrik yang ada di PLTA Bakaru dari tahun 1991-2023. Secara klimatologis, periode bulan kering terjadi pada bulan Juli-Oktober pada PLTA Bakaru. Dari analisis korelasi, ditemukan hubungan berbanding terbalik yang signifikan antara ENSO (ONI) dengan curah hujan di musim kemarau. Hubungan ini juga terlihat pada debit inflow, dan produksi listrik terutama pada bulan Juli-November. Dari analisis anomali komposit, dampak El Niño cenderung lebih besar jika dibandingkan dengan La Niña. bulan yang paling terdampak yaitu bulan Oktober. Dimana terjadi penurunan curah hujan sebesar 89,34 mm/bln, debit inflow -21,94 m3/s, dan produksi listrik -23,81 Gwh. Penurunan sebesar -23,81 Gwh (-44%) bisa dimitigasi dengan melakukan pengembangan PLTS Bakaru. Dikarenakan potensi radiasi matahari di wilayah Bakaru pada bulan Oktober sangat tinggi yaitu sebesar 238,51 Watt/m2. Dengan adanya El Niño akan meningkatkan potensi radiasi matahari sebesar 30,22 Watt/m2pada bulan Oktober. Adapun pembiayaan yang perlu dikeluarkan PLN didalam mengembangkan PLTS Bakaru 170 MW adalah sebesar Rp363.690.812.074,- (tahun 1-10) dan Rp198.376.805.586,- (tahun ke 11-20) sesuai dengan Perpres RI No.112 tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Secara komulatif selaha 20 tahun biaya pembelian tenaga listrik untuk PLTS Bakaru 170 MW adalah sebesar Rp5.620.676.186.600,-. Pemahaman yang lebih baik tentang dampak ENSO terhadap variabilitas produksi listrik dapat meningkatkan prediktabilitas pasokan listrik di masa depan dan dapat memberikan alternatif solusi penambahan pasokan listrik yang bisa dipakai disaat kejadian El Niño.

2025
👤 Penulis: Siti Khairani Permata Sari
🏷️ Klimatologi 🏷️ Manajemen Sistem Listrik 🏷️ Energi Terbarukan

INVENTARISASI KARBON BERBASIS KADASTER UNTUK ADAPTASI DAN MITIGASI PERUBAHAN IKLIM

Tidak ada deskripsi.

2025
👤 Penulis: Muhamad Ghafiqi Radiyansyah
🏷️ Klimatologi 🏷️ Analisis Data Geografis 🏷️ Manajemen Sumber Daya Alam

INVENTARISASI KARBON BERBASIS KADASTER UNTUK ADAPTASI DAN MITIGASI PERUBAHAN IKLIM

Tidak ada deskripsi.

2025
👤 Penulis: Audelia Wanna Nainggolan
🏷️ Klimatologi 🏷️ Inventarisasi Sumber Karbon 🏷️ Geodesi

DESIGN REVIEW KAWASAN BINTARO XCHANGE DENGAN PENDEKATAN CLIMATE-SENSITIVE URBAN DESIGN (CSUD)

Kota tak lagi sekadar ruang bermukim dan bekerja. Di tengah laju urbanisasi yang kian mengaburkan batas antara kebutuhan manusia dan ekspansi beton, kota-kota modern kini menjadi pusat peradaban sekaligus sumber ketidaknyamanan termal. Tangerang Selatan, salah satu kota dengan laju urbanisasi tertinggi di Jabodetabek, menghadapi kenyataan ini dengan peningkatan suhu, menyusutnya ruang hijau, dan terciptanya ruang luar yang kurang ramah bagi manusia. Kawasan Bintaro Xchange, yang seharusnya menjadi simpul kehidupan urban, perlahan berpotensi menjadi zona yang panas, padat, dan terputus dari sensitivitas iklim mikro yang mestinya dipertimbangkan sejak awal. Penelitian ini bertujuan melakukan design review terhadap kawasan Bintaro Xchange dengan menggunakan pendekatan Climate-Sensitive Urban Design dalam rangka mendukung peningkatan kenyamanan termal luar ruang. Dengan memadukan pendekatan normatif, teknik, dan simulasi mikroklimat berbasis ENVI-met, dilakukan analisis terhadap kinerja termal kawasan berdasarkan lima prinsip utama CSUD. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi termal kawasan belum sepenuhnya mendukung kenyamanan ruang luar. Suhu, kecepatan angin, dan radiasi permukaan menunjukkan fluktuasi ekstrem, terutama saat siang hari dan musim kemarau. Penelitian ini menghasilkan 38 standar perancangan kawasan tropis panas-lembab yang kemudian dirumuskan menjadi arahan intervensi yang aplikatif, sebuah kontribusi konseptual dan strategis bagi pengembangan desain kawasan perkotaan di masa mendatang. Dengan demikian, studi ini tidak hanya menjadi refleksi atas ruang yang dihuni, tetapi juga representasi dari upaya ilmiah untuk memulihkan kualitas esensial kota sebagai lingkungan hidup yang layak dan berkelanjutan, bukan sekadar ruang hunian yang terfragmentasi.

2025
👤 Penulis: Aprilia Ayu Rahmawati
🏷️ Klimatologi 🏷️ Desain Kota 🏷️ Manajemen Ruang Lingkungan

VARIABILITAS FLUKS CO2 ATMOSFER - LAUT DI PERAIRAN TROPIS SAMUDRA INDIA BAGIAN TENGGARA

Tugas akhir ini mengkaji tentang variabilitas spasial dan temporal fluks karbon dioksida (CO2) atmosfer – laut di pemukaan laut Samudra India Tropis bagian Tenggara (SITBT) yang dihubungkan dengan suhu permukaan laut (SPL) dan kecepatan angin selama 108 bulan (dari tahun 1996 - 2004). Data yang digunakan adalah data SPL, fluks CO2 atmosfer - laut, dan kecepatan angin pada ketinggian 10 m di atas permukaan laut. Analisis variasi ruang dan waktu terhadap data tersebut dilakukan dengan menggunakan metode analisis deret waktu (time series), analisis statistik dan diagram Hovm?ller. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum di perairan SITBT terjadi penurunan nilai fluks CO2 dengan rentang nilai sekitar 0,018 s/d 0,48 PgC/tahun, walaupun demikian di daerah lintang menengah hingga tinggi (16,50LS - 26,50LS dan 880BT - 1080BT) nilai trennya sedikit lebih besar (0,26 s/d 0,48 PgC/tahun) daripada lintang rendah (6,50LS - 8,50LS dan 880BT - 1080BT). Nilai tersebut masuk dalam rentang nilai fluks CO2 dari Wanninkhof (2013), yaitu sebesar 0,13 - 0,50 PgC/tahun. SPL di daerah penelitian pada umumnya menurun dengan nilai tren sebesar -0,008 hingga -0,08oC/tahun, kecuali pada daerah di sekitar 60LS 880BT dimana SPL-nya cenderung naik sekitar 0,03oC/tahun. Variasi fluks CO2 di daerah lintang menengah hingga tinggi dipengaruh lebih besar oleh Monsun Australia dibandingkan dengan Dipole Mode Index (DMI), sedangkan di sekitar daerah ekuator lebih besar dipengaruhi oleh DMI. Pengaruh angin terhadap fluks CO2 di daerah ekuator dan lintang rendah lebih besar dengan nilai korelasi r = 0,29 daripada pengaruh SPL (r = 0,12). Sementara di lintang menengah sampai lintang tinggi pengaruh SPL terhadap fluks CO2 lebih besar dengan nilai r = -0,63 daripada pengaruh angin (r = -0,33). Daerah di sekitar ekuator merupakan daerah pelepasan CO2 dari laut ke atmosfer atau disebut sebagai daerah sumber (source) sedangkan daerah lintang menengah hingga tinggi merupakan daerah penyerapan CO2 dari atmosfer ke laut (sink).

2025
👤 Penulis: BERLIANA PRADHITASARI (NIM : 12911001)
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi 🏷️ Meteorologi

MENGIDENTIFIKASI PERUBAHAN MOISTURE BUDGET DI BENUA MARITIM KETIKA MONSUN ASIA MUSIM DINGIN

Pemanasan global menjadi penyebab terjadinya perubahan kelembapan atmosfer dan sirkulasi monsun. Monsun merupakan sirkulasi angin dominan di wilayah Benua Maritim Indonesia. Secara global, sirkulasi monsun diindikasikan melemah dalam pemanasan global. Meskipun demikian, monsun secara regional menunjukkan perubahan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan moisture budget di Benua Maritim ketika monsun Asia musim dingin pada periode historis dan masa depan. Metode yang digunakan diantaranya menghitung transpor kelembapan, moisture budget, dan perubahan moisture budget di masa depan. Selain itu, penelitian ini juga melakukan konsensus model peningkatan transpor kelembapan. Data yang digunakan yakni ECMWF Reanalysis Version 5 (ERA5) dan model iklim dari Couple Model Intercomparison Project 6 (CMIP6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika monsun Asia musim dingin, terdapat dua jalur masuk kelembapan ke wilayah Indonesia dan hal itu menunjukkan kekonsistenan antara observasi dengan model historis. Pada periode masa depan, konsensus 2 dari 3 model menyatakan perubahan surplus kelembapan terbesar terjadi di wilayah B, D, dan E yang diindikasikan sebagai jalur masuk kelembapan. Pada periode near future, wilayah B mengalami peningkatan surplus kelembapan (+63,5 ??? ???), wilayah D mengalami pengurangan surplus kelembapan (-19,65 ??? ??? ), dan wilayah E mengalami peningkatan surplus kelembapan (+38,45 ??? ???). Sementara pada periode far future, wilayah B mengalami pengurangan surplus kelembapan (-48,35 ??? ???), wilayah D mengalami peningkatan surplus kelembapan (+50,2 ??? ??? ), dan wilayah E mengalami pengurangan surplus kelembapan (-55,15 ??? ???).

2024
👤 Penulis: Rekha Permata Sandi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi 🏷️ Analisis Perubahan Kelembapan

KONTRIBUSI PARAMETER METEOROLOGI TERHADAP TINGKAT KONSENTRASI PM2.5 SELAMA PERIODE KABUT ASAP DI WILAYAH PALANGKA RAYA (STUDI KASUS: SEPTEMBER 2019)

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Palangka Raya, telah mempengaruhi kualitas udara di daerah sekitarnya. Salah satu dampak dari kebakaran hutan dan lahan adalah timbulnya kabut asap yang kemudian mempengaruhi penurunan kualitas udara di Kota Palangka Raya menjadi status tidak sehat dan berbahaya. Tercatat bahwa polusi udara partikulat PM2.5 kota Palangkaraya, mencapai 20 kali ambang batas yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Parameter meteorologi, seperti suhu udara, kelembaban relatif, kecepatan angin, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap difusi cepat, pengenceran, dan akumulasi polusi PM2.5 di atmosfer Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi sebaran titik panas serta bagaimana kondisi parameter meteorologisnya saat terjadi kasus konsentrasi ekstrem PM2.5 di Palangka Raya pada September 2019. Data konsentrasi PM2.5 didapatkan dari data reanalisis MERRA-2, data titik panas sepanjang September 2019 didapatkan melalui FIRMS, parameter meteorologi yang digunakan pada penelitian ini adalah temperatur, kelembaban relatif, kecepatan angin, dan kestabilan atmosfer yang diwakilkan oleh profil vertikal temperature potensial virtual, periode dan tanggal sampel digunakan untuk mendapatkan kondisi kondisi prakonsentrasi ekstrem, konsentrasi ekstrem, dan pascakonsentrasi ekstrem. Periode konsentrasi ekstrem ditunjukkan dengan nilai peningkatan jumlah hotspot yang kemudian disertai dengan peningkatan konsentrasi partikulat PM2.5 yang mencapai titik konsentrasi puncak. Saat konsentrasi PM2.5 memuncak teramati kenaikan jumlah titik panas berturut-turut selama 4 hari, kondisi stabilitas atmosfer stabil sehingga partikel polutan PM2.5 sulit terdispersi dan berdampak pada naiknya konsentrasi PM2.5. Kecepatan angin menyentuh angka paling rendah pada saat periode konsentrasi ekstrem dibandingkan periode lainnya.

2024
👤 Penulis: Ni Wayan Yamuna Kanika
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Klimatologi
💬