📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPENGARUH KOKRISTALISASI TICAGRELOR DENGAN KOFORMER ASAM 2,4-DIHIDROKSIBENZOAT TERHADAP PROFIL FARMASETIKA TABLET
Ticagrelor merupakan obat antiplatelet yang termasuk ke dalam biopharmaceutical classification system (BCS) kelas IV yang memiliki kelarutan dan permeabilitas rendah. Penelitan sebelumnya berhasil melakukan kokristalisasi ticagrelor dengan koformer 2,4-Dihidroksibenzoat (DHBA) menghasilkan peningkatan pada kelarutan, tabletabilitas, dan laju disolusi intrinsik hingga ±1,7 kali lipat dibandingkan serbuk murninya. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menganalisis upaya kokristalisasi ticagrelor menjadi ticagrelor-DHBA terhadap profil farmasetikanya ketika kokristal ticagrelor-DHBA dibuat menjadi sediaan tablet. Kokristal ticagrelor-DHBA dibuat dengan metode liquid assisted grinding (LAG) dan selanjutnya dikarakterisasi dengan PXRD, TGA, DSC, serta uji disolusi serbuk untuk mengonfirmasi pembentukan kokristal. Ticagrelor-DHBA juga dilakukan pengujian terkait sifat alir. Pembuatan tablet ticagrelor dan ticagrelor-DHBA dilakukan dengan metode granulasi basah (GB). Granul yang terbentuk selanjutnya dilakukan evaluasi. Selanjutnya, granul dikempa menjadi tablet dan dilakukan evaluasi. Dari penelitan ini, diperoleh kokristal memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang lebih baik dibandingkan dengan zat aktif murninya saja. Profil disolusi serbuk ticagrelor-DHBA secara signifikan lebih buruk dibandingkan dengan ticagrelor (p value < 0,05). Namun, profil disolusi tablet ticagrelor-DHBA lebih baik dibandingkan dengan ticagrelor, tetapi keduanya tidak berbeda secara signifikan (p value > 0,05). Sementara itu, hasil uji disolusi terbanding menunjukkan profil disolusi yang similar pada ketiga medium (f2 ? 50).
SKRINING DAN EVALUASI KRISTAL MULTIKOMPONEN TICAGRELOR DENGAN KOFORMER ASAM DIHIDROKSIBENZOAT MELALUI METODE LIQUID ASSISTED GRINDING
Ticagrelor (TICA) adalah obat antiplatelet poten yang direkomendasikan untuk terapi standar Non ST Elevation-Acute Coronary Syndrome (NSTE-ACS), namun performa biofarmasinya terbatas oleh rendahnya kelarutan dalam air dan permeabilitas. Penelitian terbaru mengenai kokristalisasi TICA dengan koformer 3,4-DHBA hanya melaporkan penemuan struktur kokristal baru, tanpa meneliti pengaruh kokristalisasi terhadap kelarutan dan disolusi. Berdasarkan potensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melakukan skrining kristal multikomponen antara TICA dengan enam isomer asam dihidroksibenzoat (DHBA): 2,3-DHBA; 2,4-DHBA; 2,5-DHBA; 2,6-DHBA; 3,4-DHBA; dan 3,5-DHBA, melalui metode Liquid Assisted Grinding (LAG). Powder X-ray Diffraction (PXRD) digunakan sebagai alat skrining untuk mendeteksi pembentukan kristal multikomponen. Hasil PXRD menunjukkan pembentukan empat kristal multikomponen yang memiliki kecenderungan membentuk kokristal pada TICA–2,3 DHBA, TICA–2,4 DHBA, TICA–2,5 DHBA, dan TICA–3,4 DHBA. Kokristal yang terbentuk dikarakterisasi menggunakan Thermogravimetric-Differential Thermal Analysis (TG-DTA) dan Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FT-IR) untuk menentukan profil termal dan interaksi intermolekuler. Analisis TG-DTA dan FT-IR mengonfirmasi adanya pembentukan fase kristal baru pada kokristal. Uji kelarutan pada 24 jam menunjukkan peningkatan signifikan pada semua kokristal dibandingkan dengan TICA tunggal (p-value <0,05), kecuali pada TICA–2,5 DHBA. Peningkatan laju disolusi dihasilkan oleh kokristal TICA-3,4 DHBA sebesar 1,77 kali (Q 78.36 ± 5.58%) dan TICA-2,5 DHBA sebesar 1,12 kali (Q 49,44 ± 12,68%). Namun, kokristal TICA-2,3 DHBA dan TICA-2,4 DHBA justru menghasilkan penurunan disolusi. Penelitian ini memberikan solusi potensial untuk tantangan kelarutan dan disolusi TICA. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menilai stabilitas kokristal, sifat tabletabilitas, higroskopistas, dan kompatibilitas kokristal dalam formulasi.
FORMULASI KOKRISTAL NAPROKSEN DAN L-TRIPTOFAN SERTA EVALUASINYA
Kelarutan yang buruk dan bioavailabilitas oral yang rendah dari bahan aktif farmasi merupakan kendala dalam pengembangan produk terutama pada obat yang termasuk BCS (Biopharmaceutic Classification System) kelas II. Berbagai upaya dilakukan dalam memperbaiki sifat fisikokimia yang buruk dari bahan aktif farmasi, salah satunya dengan pembentukan kokristal. Kokristalisasi memberikan peluang dalam perbaikan sifat fisikokimia produk obat seperti bioavailabilitas, kompaktibilitas, dan stabilitas tanpa merubah sifat farmakologi bahan aktif farmasi. Naproksen merupakan obat antiinflamasi golongan NSAID (Nonstereoidal Anti-inflammatory Drug) yang termasuk ke dalam BCS kelas II. Selain itu, naproksen memiliki profil kompaktibilitas yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk membuat kokristal naproksen (NPX) dengan koformer L-triptofan (TRY) serta mengevaluasi sifat fisikokimianya. Kokristal dibuat dengan metode slurry pada rasio molar 1:1 menggunakan air atau etanol. Kokristal yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan Powder X-Ray Diffraction (PXRD), Scanning Electron Microscope (SEM), Fourier Transform Infrared (FTIR), dan Differential Scanning Calorimetry (DSC). Kokristal juga dievaluasi profil kelarutan, disolusi, dan kompaktibilitasnya kemudian dibandingkan terhadap naproksen murni. Hasil PXRD menunjukkan pola difraktogram kokristal berbeda dengan komponennya. Termogram DSC menunjukkan kokristal NPX-TRY slurry air meleleh pada suhu 204,96°C dan kokristal NPX-TRY slurry etanol meleleh pada suhu 201,99°C. Sementara itu, kelarutan meningkat sebesar 9,52 dan 3,06 kali secara berurutan untuk kokristal NPX-TRY slurry etanol dan NPX-TRY slurry air. Hasil uji disolusi intrinsik dalam medium dapar pH 7,4 menunjukkan laju disolusi kokristal setelah 45 menit adalah 0,77 mg cm-2 min-1 pada kokristal air dan 0,59 mg cm-2 min-1 pada kokristal etanol. Di sisi lain, profil kompaktibilitas kedua kokristal lebih tinggi daripada naproksen murni.
PENGARUH KOKRISTALISASI METOKLOPRAMID HIDROKLORIDA DENGAN KOFORMER ASAM OKSALAT TERHADAP PROFIL DISOLUSI TABLET
Metoklopramid hidroklorida (MCPHCl) dapat berubah menjadi anhidrat pada suhu 70°C dan kembali menjadi monohidrat pada kelembapan RH 65%-75%. Penelitian sebelumnya berhasil melakukan kokristalisasi MCPHCl dengan asam oksalat (OXA), menghasilkan bentuk dengan stabilitas termodinamika lebih tinggi dan laju disolusi intrinsik lebih rendah. Laju disolusi intrinsik yang rendah diduga mempengaruhi profil laju disolusi tablet. Namun, belum terdapat penelitian lebih lanjut mengenai laju disolusi tablet dengan kokristal MCPHCl-OXA. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh upaya kokristalisasi MCPHCl menjadi MCPHCl-OXA terhadap profil laju disolusi ketika kokristal MCPHCl-OXA dibuat menjadi sediaan tablet. Kokristal MCPHCl-OXA akan dibentuk dengan metode slurry menggunakan metanol pro-analisis selama 1,5 jam di suhu ruang untuk selanjutnya dikarakterisasi dengan PXRD, TG-DTA, dan SEM agar dapat diketahui kemurniannya. MCPHCl-OXA juga dilakukan pengujian terkait sifat alir, kompresibilitas, dan laju disolusi intrinsik. Pembuatan tablet MCPHCl-OXA dan MCPHCl dilakukan dengan metode granulasi basah (GB) dan metode kempa langsung (KL). Granul GB, massa cetak KL, dan tablet akan selanjutnya dilakukan evaluasi. Berdasarkan hasil, diperoleh bahwa MCPHCl-OXA memiliki penurunan laju disolusi intrinsik yang signifikan (p-value < 0,05) terhadap MCPHCl namun menunjukkan similaritas profil disolusi tablet dengan MCPHCl. Disimpulkan bahwa upaya kokristalisasi MCPHCl menjadi MCPHCl-OXA tidak menghasilkan perubahan signifikan pada disolusi tablet. MCPHCl-OXA yang bersifat stabil secara termodinamika dan memiliki profil disolusi mirip dengan MCPHCl dapat dijadikan solusi terhadap permasalahan preformulasi MCPHCl. Selain itu, MCPHCl-OXA juga memiliki sifat alir dan kompresibilitas yang lebih baik daripada MCPHCl. Dengan demikian, MCPHCl-OXA dapat dipertimbangkan pemanfaatannya dalam produksi sediaan tablet.