📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 12 dokumenANALISIS PERKUATAN MINIPILE SEBAGAI RIGID INCLUSION UNTUK TIMBUNAN AREA HOPPER DI ATAS TANAH LUNAK PADA PROYEK PERTAMBANGAN BATUBARA DI KALIMANTAN
Area Hopper pada proyek pertambangan batubara berfungsi sebagai titik transfer material batubara menuju struktur hopper, yang mensyaratkan jalan akses dengan elevasi lebih tinggi agar muatan dapat dituang secara gravitasi. Konstruksi timbunan tersebut perlu dibangun di atas lapisan tanah lunak setebal 5 meter yang berpotensi mengalami masalah stabilitas dan penurunan berlebih. Penelitian ini menganalisis sistem perkuatan berupa minipile sebagai rigid inclusion yang dikombinasikan dengan LTP dan MSE Wall untuk mengatasi permasalahan tersebut. Analisis dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu perhitungan analitik menggunakan metode Adapted Terzaghi dan Hewlett & Randolph, serta pemodelan numerik menggunakan PLAXIS 2D dengan model konstitutif Hardening Soil dan Soft Soil, yang dikalibrasi melalui pendekatan aksisimetri sebelum diterapkan pada model plane strain aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkuatan minipile–LTP meningkatkan faktor keamanan stabilitas global timbunan dari kondisi tidak aman (SF<1) menjadi SF=1,201 pada fase operasional dan SF=1,843 pasca konsolidasi jangka panjang, disertai reduksi penurunan diferensial secara signifikan dibandingkan zona tanpa perkuatan. Fenomena soil arching effect pada LTP berhasil dibuktikan melalui nilai SRR yang berada di bawah 1 pada ketiga pendekatan (PLAXIS2D dan Hewlett & Randolph = 0,20; Adapted Terzaghi = 0,17), didukung visualisasi trajektori tegangan utama yang melengkung menuju kepala tiang. Distribusi gaya aksial pada minipile juga mengonfirmasi mekanisme transfer beban tersebut, ditandai oleh peralihan negative skin friction menjadi positive skin friction pada neutral point yang letaknya bervariasi mengikuti kekakuan lapisan tanah di sekitar tiang. Penelitian ini juga membuktikan bahwa peningkatan ?' LTP dan pengurangan spasi minipile akan menurunkan tegangan yang dialami tanah di antara tiang, serta membuktikan bahwa keberadaan lapisan stiff clay alami di atas soft clay dapat mereduksi kebutuhan tebal & ?' LTP yang disyaratkan. Selain itu, penggunaan geotekstil spesifikasi standar dapat diterapkan tanpa perlu menggunakan spesifikasi tinggi.
VALIDASI EKSPERIMENTAL PERILAKU KONSOLIDASI KO TANAH TAKJENUH TERHADAP MODEL PERMUKAAN KONSTITUTIF MENGGUNAKAN APPARATUS KHUSUS PADA BERBAGAI TINGKAT ISAPAN MATRIC
Penelitian ini memvalidasi Model Permukaan Konstitutif pada clay shale Cisomang terkompaksi menggunakan apparatus konsolidasi ????0 khusus. Inovasi prosedur suction-assisted saturation berhasil meningkatkan efisiensi persiapan sampel sebesar 45%, memangkas durasi dari 25 menjadi 14 hari. Pengujian dilakukan pada rentang isapan matric 15 hingga 90 kPa serta kondisi jenuh sebagai basis validasi. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa peningkatan isapan matric memperluas zona elastis dengan menaikkan tegangan yield (?????????) hingga mencapai 500 kPa pada isapan 90 kPa. Pada fase Normally Consolidated (NC), ditemukan tren penurunan indeks kompresi (????????) seiring meningkatnya isapan matric akibat penguatan matriks tanah oleh tegangan kapiler. Simulasi penurunan (settlement) stratigrafi campuran sedalam 10 meter menunjukkan bahwa pengabaian parameter takjenuh mengakibatkan underestimated settlement sebesar 185.48 mm (76% lebih rendah dari prediksi komprehensif sebesar 245.5 mm). Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi parameter takjenuh krusial untuk menjamin keamanan desain infrastruktur pada formasi clay shale.
ANALISIS KORELASI FENOMENA PENURUNAN MUKA TANAH DAN BENCANA BANJIR DI CEKUNGAN BANDUNG
Cekungan Bandung adalah suatu wilayah dataran tinggi Bandung yang merupakan sebuah zona depresi antar pegunungan yang cukup luas. Cekungan Bandung memiliki luas sekitar 2.300 km2 dan dikelilingi oleh pegunungan dengan ketinggian mencapai lebih dari 2000 m. Berdasarkan pengamatan penurunan muka tanah di Cekungan Bandung dengan pengamatan GPS dari tahun 2000-2012, kecepatan penurunan muka tanah rata-rata dari tahun berkisar 6,3 cm/tahun dan dapat mencapai 19 cm/tahun di beberapa lokasi. Sedangkan total penurunan muka tanah di titik pengamatan sepanjang tahun 2000-2012, dapat mencapai hingga 229 cm. Penurunan muka tanah yang terjadi di Cekungan Bandung diduga disebabkan oleh pengambilan airtanah, pembangunan bangunan dan infrastruktur, konsolidasi dari tanah berjenis alluvial, dan juga penurunan tanah akibat proses geotektonik. Fenomena penurunan muka tanah ini diduga dapat berakibat memperparah kondisi banjir yang seringkali terjadi di beberapa wilayah sekitar Sungai Citarum yang terdapat pada Cekungan Bandung. Tulisan ini membahas tentang keterkaitan fenomena penurunan muka tanah dengan bencana banjir di Cekungan Bandung.
OPTIMASI PENGENDALIAN LAJU DEFORMASI PADA UJI KONSOLIDASI TANAH MENGGUNAKAN DEEP REINFORCEMENT LEARNING
Pengujian konsolidasi Constant Rate of Deformation (CRD) mampu memperpendek durasi pengujian dari sekitar 20 hari menjadi 48 jam dibandingkan metode pembebanan inkremental konvensional, namun validitas hasilnya sangat bergantung pada kemampuan menjaga rasio tekanan pori berlebih (excess pore pressure ratio, Ru) dalam rentang 3 ? 15% sebagaimana ditetapkan dalam ASTM D4186. Pendekatan laju regangan statis menghadapi trilema fundamental: tidak terdapat satu laju tunggal yang secara simultan mampu meminimalkan durasi pengujian, memenuhi batasan Ru, dan menghasilkan estimasi indeks kompresi (Cc) yang akurat, karena laju optimal bergantung pada sifat tanah yang tidak diketahui sebelumnya dan berevolusi selama proses konsolidasi. Penelitian ini memformulasikan pengujian CRD sebagai Constrained Markov Decision Process dan mengembangkan strategi kendali adaptif berbasis deep reinforcement learning dengan ruang aksi kontinu. Tiga algoritma actor–critic, yaitu Soft Actor-Critic (SAC), Twin Delayed Deep Deterministic Policy Gradient (TD3), dan Proximal Policy Optimization (PPO), dilatih untuk menyesuaikan laju regangan secara dinamis berdasarkan observasi sensor waktu nyata tanpa memerlukan pengetahuan eksplisit mengenai parameter tanah. Proses pelatihan dilakukan menggunakan digital twin berketelitian tinggi yang didasarkan pada teori konsolidasi regangan hingga, dengan domain randomization yang mencakup variasi sifat tanah, derau sensor, dan keterlambatan aktuator guna menjamin kekokohan kebijakan. Fungsi reward dirancang menggunakan single-sided logarithmic barrier dengan pusat pada target #! yang dipilih berdasarkan analisis pengujian laju statis, sehingga durasi pengujian diminimalkan secara implisit sekaligus penegakan batasan dilakukan secara eksplisit. Hasil evaluasi pada kondisi nominal (tanah lempung Bandung) menunjukkan bahwa PPO memberikan kinerja terbaik dengan durasi pengujian 31,1 jam (reduksi 29.3% dibandingkan laju statis 44,4 jam), Ru maksimal = 0,353 yang berada di bawah ambang 0,50, serta galat estimasi CC sebesar 0,1%. Evaluasi kekokohan menunjukkan bahwa SAC mempertahankan tingkat keberhasilan 73,3% di bawah ketidakpastian parameter, sementara PPO mencapai 85% dengan stabilitas tertinggi. Formulasi aksi kontinu berhasil mengeliminasi discretization loss dan menghasilkan perilaku adaptif yang cerdas.
EVALUASI AWAL PROSEDUR KONSOLIDASI KO TANAH TAKJENUH DENGAN PENDEKATAN EKSPERIMENTAL MENGGUNAKAN APPARATUS KONSOLIDASI PADA ISAPAN MATRIC 50, 35 DAN 25 KPA
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menyempurnakan prosedur persiapan serta pengujian konsolidasi K? pada tanah takjenuh menggunakan apparatus konsolidasi hasil modifikasi di Laboratorium Mekanika Tanah ITB. Variasi isapan matric yang diuji adalah 50, 35, dan 25 kPa dengan spesimen clay shale terhancurkan terkompaksi. Fokus utama adalah mencapai kadar air target sesuai kurva SWCC referensi sebelum pengujian konsolidasi berlangsung, sehingga kestabilan kondisi awal (K?) dapat dipertahankan. Hasil menunjukkan bahwa pada isapan 25 kPa, kadar air aktual mendekati target (32,1%) dan kurva e–log ? mendekati kurva konsolidasi jenuh referensi. Sebaliknya, pada 50 dan 35 kPa terjadi deviasi signifikan akibat distribusi isapan dan energi pemadatan yang tidak seragam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan mencapai kadar air target berpengaruh langsung terhadap kesesuaian kurva konsolidasi takjenuh terhadap prediksi, serta merekomendasikan penyempurnaan sistem kontrol isapan dan prosedur pemadatan untuk hasil yang lebih representatif.
STUDI PERBANDINGAN PENURUNAN KONSOLIDASI TANAH LUNAK DENGAN PERBAIKAN KOMBINASI PREFABRICATED VERTICAL DRAIN (PVD) DAN PRELOADING MENGGUNAKAN METODE ANALITIS, METODE ELEMEN HINGGA DAN PENGAMATAN LAPANGAN PADA RUAS TOL TRANS SUMATERA DI PROVINSI SUMATERA UTARA
Permasalahan yang sering terjadi saat dilakukan konstruksi timbunan infrastruktur jalan tol di atas tanah berbutir halus dengan konsistensi lunak yang cukup tebal adalah besarnya penurunan dan lama waktu konsolidasi. Salah satu metode perbaikan tanah yang sering digunakan untuk mempercepat proses konsolidasi adalah dengan perbaikan menggunakan kombinasi Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan Preloading. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil penurunan konsolidasi menggunakan metode analitis, metode elemen hingga dan pengamatan lapangan pada ruas Jalan Tol Trans Sumatera ruas Inderapura - Kuala Tanjung. Pemodelan elemen hingga dilakukan dengan tiga model tanah, yaitu Hardening Soil, Soft Soil, dan Mohr-Coulomb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah lunak tanpa perbaikan membutuhkan waktu 5,56 tahun untuk mencapai derajat konsolidasi 90%. Perbaikan tanah kombinasi PVD dan Preloading efektif dalam mempercepat proses konsolidasi hingga 11 kali lipat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa metode elemen hingga menggunakan model Hardening Soil dan Soft Soil memberikan hasil yang paling mendekati data lapangan. Selain itu, pada penelitian ini dilakukan analisis sensitivitas pada tanah N SPT 8-15 dengan nilai Cc antara 0,05 - 0,1 dengan dampak hanya 2% atau 1,22 cm terhadap penurunan menggunakan model soft soil pada elemen hingga.
STUDI PERBANDINGAN NILAI PENURUNAN (SETTLEMENT) DENGAN METODE ANALITIK, NUMERIK, SERTA PENGAMATAN LAPANGAN PADA PROYEK PLTGU SEMARANG
Tanah lunak memiliki daya dukung yang rendah sehingga memerlukan perbaikan untuk menghindari penurunan yang berlebihan. Penelitian ini membandingkan nilai penurunan tanah pada proyek PLTGU Semarang menggunakan metode analitik, numerik dengan PLAXIS 2D, serta pengamatan lapangan. Perbaikan tanah dilakukan dengan kombinasi prefabricated vertical drain (PVD) dan preloading untuk mempercepat proses konsolidasi. Metode penelitian terdiri dari tiga pendekatan utama: perhitungan analitik menggunakan metode Terzaghi, simulasi numerik dengan PLAXIS 2D, dan monitoring pengamatan lapangan dengan settlement plate serta piezometer. Simulasi dilakukan dengan variasi spasi pemasangan PVD, yaitu 100 cm, 110 cm, 120 cm, 150 cm, dan 200 cm, serta perbandingan dengan kondisi tanpa PVD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode analitik menghasilkan nilai penurunan sebesar 1,12 m, metode numerik PLAXIS 2D sebesar 1,64 m, dan hasil pengamatan lapangan sebesar 1,67 m. Perhitungan dengan metode Asaoka memprediksi nilai penurunan akhir sebesar 1,74 m. Analisis porewater pressure menunjukkan bahwa nilai dari PLAXIS 2D sebesar 50,68 kPa pada elevasi -5 m dan 150 kPa pada elevasi -15 m, yang dibandingkan dengan data pengamatan lapangan. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa penggunaan PVD dengan spasi lebih rapat mempercepat waktu konsolidasi hingga 95%. Simulasi menunjukkan bahwa tanpa PVD, waktu konsolidasi mencapai 380 bulan, sedangkan dengan PVD pada spasi 100 cm hanya membutuhkan 2-3 bulan. Perbandingan antara metode analitik, numerik, dan pengamatan lapangan menunjukkan bahwa PLAXIS 2D dapat memberikan hasil yang lebih mendekati kenyataan dibandingkan metode analitik konvensional. Penelitian ini menegaskan bahwa kombinasi preloading dan PVD merupakan metode yang efektif dalam meningkatkan stabilitas tanah lunak dan mengurangi waktu konsolidasi. Hasil penelitian dapat menjadi referensi dalam desain perbaikan tanah dengan mempertimbangkan parameter geoteknik yang lebih akurat.
PEMBELAJARAN PENGUATAN BEBAS MODEL YANG DIDORONG DATA UNTUK KONSOLIDOMETER TANAH
Peningkatan kebutuhan akan infrastruktur akibat industrialisasi dan urbanisasi menuntut adanya solusi bidang teknik dan infrastruktur untuk mengatasi masalah stabilitas tanah, khususnya terkait konsolidasi tanah yang dapat berdampak langsung pada kerusakan infrastruktur. Penelitian terkait konsolidasi tanah telah berkembang sejak teori Terzaghi (1925) hingga penggunaan metode Constant Rate of Strain (CRS), yang lebih efisien dibanding metode Incremental Load (IL). Namun, pengembangan instrumentasi konsolidometer modern masih menghadapi tantangan dalam akurasi pengendalian dan waktu pengujian. Penggunaan kendali bebas model dalam sistem konsolidometer ini didasarkan pada kesulitan untuk menentukan model matematis yang tepat. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas perilaku tanah yang tidak hanya bergantung pada satu parameter fisik, tetapi juga mencakup ketidakpastian yang inheren dalam sifat material, stratifikasi tanah, dan batasan geometri. Ketidakpastian ini diperburuk oleh kurangnya data yang representatif dan variasi spasial yang sering kali tidak dapat diukur secara akurat dengan metode tradisional. Penelitian ini berhasil merancang konsolidometer CRS yang diintegrasikan dengan Arduino dan LabVIEW untuk akuisisi data secara real- time. Sistem ini memanfaatkan sensor seperti load cell, dial indicator dan Pressure transmitter untuk mengontrol motor stepper. Penelitian ini menggunakan sistem kendali bebas model Q-Learning dan membandingkannya dengan kendali On/Off dan penambahan beban (metode tradisional). Q-Learning dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu Hybrid Q-Learning dan Online Q-Learning. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan didapatkan bahwa performa kendali Q-Learning Online yang paling baik, yaitu ESS terendah untuk tekanan dan jarak (masing- masing 1,94% dan 0,40%), rise time tercepat untuk deformasi (8160 detik), dan overshoot terendah yaitu 0,94% untuk tekanan dan 0% untuk deformasi.
ANALISIS PENURUNAN KONSOLIDASI DENGAN METODE ANALITIK, NUMERIK, DAN PENGAMATAN LAPANGAN . STUDI KASUS : PELAKSANAAN PEMBANGUNAN RUAS TOL INDRAPURA - KISARAN SEKSI 1 STA 111+505 S/D 112+300
Salah satu tantangan yang sering dijumpai pada pekerjaan infrastruktur jalan tol adalah desain struktur timbunan di atas tanah lunak, dengan permasalahan yang timbul meliputi penurunan jangka panjang yang besar, lereng timbunan yang kurang stabil, dan daya dukung tanah dasar yang rendah. Perbaikan tanah yang tepat dan sesuai kondisi aktual di lapangan diperlukan untuk memitigasi permasalahan tersebut. Tesis ini menyajikan hasil kajian penurunan konsolidasi pada Proyek Pembangunan Ruas Jalan Tol Indrapura-Kisaran berdasarkan metode analitis, numerik, dan pengamatan lapangan. Besarnya dan durasi penurunan diestimasi secara analitis menggunakan teori 1-D Konsolidasi Terzaghi dan secara numerik menggunakan Metode Elemen Hingga, untuk kemudian dibandingkan dengan hasil pengamatan penurunan di lapangan menggunakan metode Asaoka. Analisis konsolidasi juga dilakukan dengan membandingkan kecepatan penurunan tanpa Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan kecepatan penurunan dengan PVD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode analitis menghasilkan penurunan yang paling besar, dan metode Asaoka menghasilkan penurunan yang paling kecil. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan PVD menghasilkan durasi penurunan 2-5 hari untuk mencapai derajat konsolidasi 90%, lebih cepat jika dibandingkan tanpa menggunakan PVD yang membutuhkan waktu 47 hari.
ANALISIS DAN EVALUASI KONSOLIDASI PRIMER DB-001-DB010 PADA TOL SEMARANG-DEMAK DI PROVINSI JAWA TENGAH
Amblesan tanah adalah masalah serius di banyak kota besar, termasuk Semarang, yang mengalami dampak signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur dan perubahan lingkungan, dengan laju amblesan mencapai 1 hingga 10 cm per tahun sejak 1980-an. Amblesan tanah dapat dikategorikan menjadi dua jenis: endogenik dan eksogenik. Penelitian ini menganalisis konsolidasi alami dan akibat beban menggunakan teori konsolidasi Terzaghi dan mengacu pada Penambahan beban yang mengacu pada SNI 03-6861.1-2002 Lapisan Drainase (Drainage Layer), SNI 2847:2013 Lapisan Lean Concrete (Beton Mutu Rendah), SNI 2847:2013 Perkerasan Beton (Rigid Pavement), SNI 03-1737-1989 - Metode Pengujian Berat Jenis Campuran Beraspal Panas (Hot Mix Asphalt) dan SNI 8394:2017 - Tata cara perencanaan campuran beraspal panas (Hot Mix Asphalt) Perkerasan Aspal (Asphalt Pavement). Data fisik dan mekanik tanah serta log bor digunakan untuk mendukung analisis. Konsolidasi akibat beban ditinjau melalui parameter geoteknik yang mempertimbangkan faktor-faktor seperti kompresibilitas tanah, koefisien konsolidasi (cv), dan tekanan air pori. Proses konsolidasi ini merupakan respons tanah terhadap beban eksternal, yang menyebabkan perpindahan air pori dan pemadatan partikel tanah Hasil penelitian menunjukkan faktor penurunan alami tanah di titik DB001-DB010 berkisar antara 1,17 – 1,728 meter dengan waktu T90 tercapai dengan rentang waktu 93 – 1114 Tahun. Pengaruh faktor beban berupa beban pemabngunan tol diatas permukaan tanah sebesar 36,576 kN/m2 terjadi peningkatan sebesar 20 – 40,17 % sehingga meningkat menjadi 70 – 836 Tahun. Beban tersebut juga mempengaruhi percepatan laju konsolidasi alami dengan rentang 0,127 – 1,336 cm/tahun. Meningkat menjadi 0,169 – 2,214 cm/tahun. Penelitian ini mengungkapkan bahwa meskipun amblesan tanah terjadi perlahan, dampaknya dapat menghambat pembangunan berkelanjutan dan memerlukan pendekatan mitigasi yang efektif. Upaya untuk memahami dan mengelola konsolidasi tanah sangat penting untuk mengurangi risiko dan melindungi infrastruktur di wilayah terdampak.
ANALISIS KESTABILAN TIMBUNAN JALAN DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL DAN PVD MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA DUA DIMENSIANALISIS KESTABILAN TIMBUNAN JALAN DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL DAN PVD MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA DUA DIMENSI
Jalan Trans Papua Selatan merupakan proyek strategis yang menghubungkan Kabupaten Merauke, Kabupaten Tanah Merah, dan Provinsi Papua Pegunungan sepanjang ±533,06 km. Kondisi tanah di lokasi didominasi oleh tanah lunak dengan ketebalan dapat mencapai 20 m, yang menyebabkan permasalahan daya dukung rendah dan ketidakstabilan lereng galian serta timbunan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kestabilan lereng dan mempercepat proses konsolidasi pada km 168+770 ruas Merauke-Tanah Merah. Metode perbaikan yang digunakan adalah kombinasi geotekstil untuk meningkatkan faktor keamanan, Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan preloading untuk mempercepat proses penurunan. Pemodelan tanah menggunakan model Mohr-Coulomb dengan metode analisis elemen hingga dua dimensi. PVD dipasang dengan konfigurasi segitiga dengan spasi 1 m dan panjang 10 m. Tahapan konstruksi dioptimalkan untuk mencapai kestabilan dan penurunan yang memenuhi syarat jalan kelas I. Hasil menunjukkan peningkatan faktor keamanan dari 1,3 menjadi 1,7 pada kondisi statis, dan percepatan waktu konsolidasi 90% dari 21,5 tahun menjadi 204 hari. Penelitian ini juga menemukan bahwa efek smear, yaitu gangguan pada tanah di sekitar PVD akibat instalasi, memiliki pengaruh yang relatif kecil terhadap besaran dan durasi penurunan. Perbedaan penurunan dengan dan tanpa mempertimbangkan efek smear hanya sebesar 5% dalam durasi konsolidasi. Kombinasi geotekstil dan PVD terbukti efektif dalam meningkatkan kestabilan lereng timbunan dan mempercepat proses disipasi air pori.
PEMBUATAN APARATUS KONSOLIDASI KO TANAH TAKJENUH DAN PENENTUAN METODE REGRESI PERSAMAAN KURVA KARAKTERISTIK TANAH-AIR BROOKS DAN COREY
Mekanika tanah takjenuh dapat dibilang sebagai sebuah terobosan baru dalam ilmu geoteknik. Kerangka teori mekanika tanah takjenuh sudah disusun dan sedang dikembangkan. Namun, perkembangan teorinya tidak disamai oleh perkembangan eksperimen verifikasinya. Suatu aparatus konsolidasi khusus tanah takjenuh sudah dikembangkan dan dibuat oleh Rahardjo dan Fredlund (1995; 1996; 2003), dan suatu bentuk perancangan ulang terhadap aparatus tersebut sudah dilakukan oleh Budiarto (2023) dengan maksud penyederhanaan. Aparatus yang sudah disederhanakan tersebut dikembangkan dan dibuat menjadi suatu aparatus konsolidasi tanah takjenuh yang dapat digunakan untuk pengujian konsolidasi takjenuh terhadap sampel clay shale terhancurkan terkompaksi. Selain itu, suatu metode regresi untuk model SWCC Brooks dan Corey (1964) juga dikembangkan menjadi suatu algoritma pemrograman menggunakan bantuan metode steepest descent, berdasarkan penurunan persamaan regresi untuk model yang sama oleh Budiarto (2023).