📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI BERKELANJUTAN KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA) DENGAN INOVASI FERMENTASI L.PLANTARUM DAN PENGERINGAN SCREEN HOUSE,

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dengan nilai ekonomi tinggi, baik di pasar domestik maupun internasional, dan menempatkan Indonesia pada posisi ke-4 sebagai produsen kopi terbesar dunia (USDA, 2024). Produksi kopi nasional bahkan mengalami kenaikan sebesar 6,44% menjadi 807.580 ton pada tahun 2024, jumlah tertinggi selama sepuluh tahun terakhir menurut Badan Pusat Statistik. Di antara berbagai jenis kopi, kopi arabika (Coffea arabica) kategori specialty, menjadi komoditas unggulan yang sangat diminati pasar global dengan pertumbuhan nilai jual dan konsumsi yang tinggi. Namun, metode pascapanen natural process yang umum digunakan masih mengandalkan fermentasi spontan selama pengeringan, sehingga mutunya cenderung tidak seragam dan tidak stabil antar kelompok pengeringan. Tahap pengeringan terbuka di bawah sinar matahari secara langsung juga sangat bergantung pada cuaca serta rentan terhadap pertumbuhan jamur, kontaminasi debu, dan serangan hama yang menurunkan mutu produk akhir. Selain itu, pengolahan buah kopi menghasilkan produk samping berupa kulit dan daging buah (cascara) dalam jumlah besar yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Oleh karena itu, PT MAS Jaya merancang industri pengolahan kopi arabika dengan inovasi kultur starter bakteri L.plantarum pada proses fermentasi dan penggunaan screen house pada proses pengeringan. Inovasi kultur starter bakteri L.plantarum bertujuan mengendalikan proses fermentasi, menstabilkan komunitas mikroba, menekan kontaminan, dan meningkatkan pembentukan senyawa volatil aromatik. Pengeringan dengan screen house dapat menghasilkan pengeringan kopi yang lebih seragam, higienis, dan terlindung dari paparan debu, serangga, dan curah hujan. Dengan inovasi tersebut, produk yang dihasilkan memiliki keunggulan berupa mutu specialty yang konsisten, profil sensori yang kompleks, tingkat higienitas dan keamanan yang lebih tinggi serta nilai tambah dan keberlanjutan melalui pemanfaatan cascara. Perancangan industri produk roasted bean dan teh cascara kopi arabika memiliki kapasitas produksi sebesar 1.000 kg ceri per batch. Produk yang dihasilkan berupa 172,58 kg roasted bean sebagai produk utama dan 69,22 kg cascara sebagai produk samping bernilai tambah. Tahap produksi kopi arabika roasted bean terdiri dari penerimaan, sortasi, pulping, fermentasi, pengeringan, hulling, penyimpanan green bean, roasting, dan penyimpanan produk akhir. Tahap 3 produksi teh cascara terdiri dari penerimaan, sortasi, pulping, pengeringan cascara, sortasi cascara, dan penyimpanan produk akhir. Perusahaan dirancang memenuhi sertifikasi SNI, Sertifikat Halal, Good Manufacturing Practices (GMP), ISO 9001, ISO 22000, ISO 17025:2017, dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Perancangan industri ini layak dijalankan karena hasil analisis kelayakan usaha yang didapatkan menunjukan nilai Net Profit Margin (NPM) sebesar 30,334%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp1.212.283.722, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 36%, dengan waktu pengembalian modal yaitu 2,17 tahun. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha ini layak untuk dilakukan.

2026
👤 Penulis: Sellya
🏷️ Kopi Arabika 🏷️ Inovasi Pengolahan Kopi 🏷️ Produksi Berkelanjutan

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI BERKELANJUTAN KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA) DENGAN INOVASI FERMENTASI L.PLANTARUM DAN PENGERINGAN SCREEN HOUSE

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia dengan nilai ekonomi tinggi, baik di pasar domestik maupun internasional, dan menempatkan Indonesia pada posisi ke-4 sebagai produsen kopi terbesar dunia (USDA, 2024). Produksi kopi nasional bahkan mengalami kenaikan sebesar 6,44% menjadi 807.580 ton pada tahun 2024, jumlah tertinggi selama sepuluh tahun terakhir menurut Badan Pusat Statistik. Di antara berbagai jenis kopi, kopi arabika (Coffea arabica) kategori specialty, menjadi komoditas unggulan yang sangat diminati pasar global dengan pertumbuhan nilai jual dan konsumsi yang tinggi. Namun, metode pascapanen natural process yang umum digunakan masih mengandalkan fermentasi spontan selama pengeringan, sehingga mutunya cenderung tidak seragam dan tidak stabil antar kelompok pengeringan. Tahap pengeringan terbuka di bawah sinar matahari secara langsung juga sangat bergantung pada cuaca serta rentan terhadap pertumbuhan jamur, kontaminasi debu, dan serangan hama yang menurunkan mutu produk akhir. Selain itu, pengolahan buah kopi menghasilkan produk samping berupa kulit dan daging buah (cascara) dalam jumlah besar yang berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Oleh karena itu, PT MAS Jaya merancang industri pengolahan kopi arabika dengan inovasi kultur starter bakteri L.plantarum pada proses fermentasi dan penggunaan screen house pada proses pengeringan. Inovasi kultur starter bakteri L.plantarum bertujuan mengendalikan proses fermentasi, menstabilkan komunitas mikroba, menekan kontaminan, dan meningkatkan pembentukan senyawa volatil aromatik. Pengeringan dengan screen house dapat menghasilkan pengeringan kopi yang lebih seragam, higienis, dan terlindung dari paparan debu, serangga, dan curah hujan. Dengan inovasi tersebut, produk yang dihasilkan memiliki keunggulan berupa mutu specialty yang konsisten, profil sensori yang kompleks, tingkat higienitas dan keamanan yang lebih tinggi serta nilai tambah dan keberlanjutan melalui pemanfaatan cascara. Perancangan industri produk roasted bean dan teh cascara kopi arabika memiliki kapasitas produksi sebesar 1.000 kg ceri per batch. Produk yang dihasilkan berupa 172,58 kg roasted bean sebagai produk utama dan 69,22 kg cascara sebagai produk samping bernilai tambah. Tahap produksi kopi arabika roasted bean terdiri dari penerimaan, sortasi, pulping, fermentasi, pengeringan, hulling, penyimpanan green bean, roasting, dan penyimpanan produk akhir. Tahap 3 produksi teh cascara terdiri dari penerimaan, sortasi, pulping, pengeringan cascara, sortasi cascara, dan penyimpanan produk akhir. Perusahaan dirancang memenuhi sertifikasi SNI, Sertifikat Halal, Good Manufacturing Practices (GMP), ISO 9001, ISO 22000, ISO 17025:2017, dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Perancangan industri ini layak dijalankan karena hasil analisis kelayakan usaha yang didapatkan menunjukan nilai Net Profit Margin (NPM) sebesar 30,334%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp1.212.283.722, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 36%, dengan waktu pengembalian modal yaitu 2,17 tahun. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa usaha ini layak untuk dilakukan.

2026
👤 Penulis: Maurelya Jayanti
🏷️ Kopi Arabika 🏷️ Inovasi Pengolahan Kopi 🏷️ Produksi Berkelanjutan

PENGARUH METODE HONEY PROCESS DAN TINGKAT ROASTING TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIK SERBUK DAN FISIK KOPI ARABIKA (COFFEA ARABICA) DAN LIBERIKA (COFFEA LIBERICA)

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode pengolahan Honey Process dan tingkat roasting terhadap karakteristik sensorik serbuk dan fisik kopi arabika (Coffea arabica) dan liberika (Coffea liberica). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor dengan empat ulangan, faktor pertama adalah jenis kopi (arabika dan liberika) dan faktor kedua adalah tingkat roasting (light, medium, dan dark). Pengujian dilakukan terhadap susut bobot, kadar air, warna (L*, a*, b*), pH, dan sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kopi dan variasi tingkat roasting tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada parameter yang diuji dengan p-value lebih besar dari 0.05 pada semua parameter yang diuji, yaitu susut bobot (0.503), kadar air (0.720), warna L* (0.733), warna a* (0.953), warna b* (0.744), dan pH (0.749). Uji sensorik menunjukkan bahwa kopi arabika dengan tingkat roasting light memperoleh nilai sensori warna 2.4 (agak keruh dan pucat), aroma 2.6 (cukup kuat), rasa 3 (cukup seimbang antara pahit, asam, dan manis), dan after-taste 2.4 (lemah). Sebaliknya, kopi liberika dengan tingkat roasting medium memperoleh skor maksimum 4.0 pada seluruh parameter sensori, yaitu warna jernih pekat, aroma sangat kuat (khas dan kompleks), rasa seimbang dan kompleks, serta after-taste yang sangat kuat. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tidak terdapat perbedaan signifikan pada interaksi jenis kopi dan variasi roasting terhadap parameter fisik, perbedaan karakteristik sensorik antara jenis kopi dan tingkat roasting tetap menunjukkan variasi yang dapat digunakan untuk optimasi proses produksi kopi.

2026
👤 Penulis: Salma Puteri Indriani
🏷️ Kopi Arabika 🏷️ Kopi Liberika 🏷️ Analisis Sensorik Kualitas Kopi

STRUKTUR DAN KOMPOSISI FLORISTIK POHON PENAUNG PADA AGROFORESTRI KOPI ARABIKA DI JAWA BARAT

Penelitian ini mengkaji struktur dan komposisi floristik pohon penaung pada sistem agroforestri kopi Arabika (Coffea arabica) di Jawa Barat serta hubungannya dengan produksi biomassa kopi. Penelitian dilakukan pada empat lokasi agroforestri dataran tinggi RPH Genteng (Manglayang Timur, Sumedang), Gunung Geulis (Sumedang), Gunung Puntang (Bandung), dan RPH Cibatu (Garut) yang merepresentasikan variasi elevasi, mikroklimat, dan komposisi pohon penaung. Data vegetasi dikumpulkan menggunakan plot berukuran 20 × 20 m untuk pohon penaung dan subplot 5 × 5 m untuk tanaman kopi, sedangkan keterbukaan kanopi diukur menggunakan fotografi hemisferis. Komposisi floristik dianalisis dengan indeks keanekaragaman Shannon–Wiener, indeks kemerataan, dan Indeks Nilai Penting (INP), sementara biomassa kopi diestimasi menggunakan persamaan alometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa kopi optimal diperoleh pada tingkat keterbukaan kanopi sedang (0,20–0,43) yang mampu menyeimbangkan ketersediaan cahaya dan kestabilan mikroklimat. Meskipun secara keseluruhan keanekaragaman spesies tidak menunjukkan adanya hubungan yang kuat dengan biomassa kopi, komposisi jenis penaung tertentu terutama yang didominasi Pinus merkusii dan spesies pendamping yang tidak memiliki perakaran luas dan bersaing kuat terhadap tanaman kopi, berkaitan dengan biomassa kopi yang lebih tinggi. Lokasi dengan kondisi kanopi ekstrem (terlalu rapat atau terlalu terbuka) menunjukkan produksi biomassa yang lebih rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya pemilihan spesies penaung yang kompatibel secara ekologis dan pengelolaan struktur kanopi yang seimbang untuk mengoptimalkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan ekologi dalam sistem agroforestri kopi Arabika.

2025
👤 Penulis: Annisa Dwi Amalliah Ramadhani
🏷️ Agroforestri 🏷️ Kopi Arabika 🏷️ Hidrologi
💬