📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPERENCANAAN RUANG TERBUKA HIJAU BERBASIS NATURE-BASED SOLUTIONS PADA KORIDOR EKOLOGIS RIPARIAN CILIWUNG DI LANSKAP PERKOTAAN DKI JAKARTA
Perkembangan kawasan perkotaan di Provinsi DKI Jakarta telah menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, ditandai dengan dominasi lahan terbangun dan keterbatasan ruang terbuka hijau yang berdampak pada fragmentasi habitat serta menurunnya konektivitas ekologis. Kondisi ini berimplikasi pada terganggunya pergerakan spesies dan kualitas ekosistem perkotaan. Burung perkotaan sebagai bioindikator dapat merepresentasikan kondisi tersebut, sementara koridor DAS Ciliwung memiliki potensi sebagai ecological backbone yang belum optimal dimanfaatkan dalam perencanaan berbasis ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian habitat burung perkotaan dan menganalisis konektivitas ekologis sebagai dasar perumusan koridor ekologis berbasis NatureBased Solutions (NbS) di koridor DAS Ciliwung, DKI Jakarta. Pendekatan yang digunakan adalah pemodelan spasial dengan metode Maximum Entropy (MaxEnt), analisis fragmentasi habitat, serta konektivitas ekologis menggunakan Least-Cost Path (LCP), dengan data 131 titik kemunculan lima spesies dan variabel lingkungan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki akurasi baik hingga sangat baik (AUC 0,899-0,950). Tutupan lahan (LULC) menjadi faktor dominan (50-90,5%), diikuti intensitas kawasan terbangun (>30%), yang menegaskan bahwa struktur lanskap dan tekanan urbanisasi menentukan kesesuaian habitat. Secara spasial, habitat potensial terkonsentrasi pada koridor riparian dan area vegetasi tinggi, namun terfragmentasi menjadi patch kecil (threshold 0,102-0,247) dengan core habitat terbatas. Jalur konektivitas cenderung mengikuti koridor Sungai Ciliwung dan area resistansi rendah sebagai stepping-stone, sementara kawasan terbangun menghambat pergerakan spesies. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan hanya kehilangan habitat, tetapi keterputusan struktur ekologis dalam lanskap perkotaan. Berdasarkan hasil tersebut, dirumuskan koridor ekologis berbasis NbS melalui penguatan vegetasi riparian, optimalisasi ruang terbuka hijau sebagai jaringan habitat, serta integrasi elemen hijau pada kawasan terbangun untuk meningkatkan permeabilitas lanskap. Penelitian ini memberikan dasar spasial dalam perumusan koridor ekologis yang adaptif dan berkelanjutan.