📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenEVALUASI EKSPERIMENTAL KOROSI BAJA API 5L X80 PADA KONDISI ALIRAN STRATIFIED SMOOTH DAN SLUG DALAM LARUTAN BRINE JENUH CO2 YANG DISIMULASIKAN SECARA KIMIAWI MENGGUNAKAN METODE KEHILANGAN BERAT DAN FOTOMETRI
This study evaluated the corrosion of API 5L X80 steel under stratified smooth and slug flow in chemically mimicked CO?-saturated brine. The test electrolyte was 1 mol/kg NaCl solution at pH 3.99. Static immersion for 3 days was used as a baseline condition, while dynamic exposures of 1 to 2 hours were performed in a horizontal gas-liquid flow loop. Flow mapping identified six major horizontal flow patterns, from which stratified smooth and slug flow were selected for corrosion testing. The corrosion rates were calculated by coupon weight loss and total-iron concentrations measured with Hanna HI97721 Photometer based on the 1,10-phenanthroline method. The weight-loss corrosion rate under static conditions ranged from 0.033 to 0.041 mm/y and was classified as moderate. Under dynamic conditions, the corrosion rate increased to 4.7–5.0 mm/y under stratified smooth flow and 6.2–8.3 mm/y under slug flow, both classified as severe. The higher corrosion rate under slug flow indicates that stronger hydrodynamic conditions were associated with increased corrosion in the tested system. Photometric results agreed with weight-loss results within ±10% for 80% of static, 57% of stratified smooth, and 64% of slug-flow measurements. Applying weight-loss and photometric methods side by side across three flow conditions offers a practical framework for evaluating total dissolved iron as a complementary corrosion monitoring approach.
STUDI PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI KULIT RAMBUTAN DENGAN TEKNIK MASERASI DAN ULTRASONIK UNTUK INHIBITOR KOROSI BAJA DALAM LARUTAN ASAM KLORIDA
Korosi merupakan degradasi logam maupun paduan secara spontan yang disebabkan oleh reaksi kimia, biokimia, dan interaksi elektrokimia antara logam dan paduan dengan lingkungan. Peristiwa korosi dapat terjadi pada seluruh logam maupun paduan, termasuk baja. Korosi yang terjadi pada baja tidak dapat dihentikan namun dapat dikendalikan dengan beberapa metode salah satunya adalah dengan penambahan inhibitor. Saat ini inhibitor yang sedang banyak dikembangkan adalah inhibitor ramah lingkungan atau Green Corrosion Inhibitor (GCI) yang salah satunya berasal dari tanaman. Rambutan merupakan salah satu tanaman yang dikembangkan sebagai GCI karena mengandung senyawa tanin dan flavonoid yang terbukti dapat menghambat laju korosi. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh metode ekstraksi kulit rambutan, tipe pelarut, durasi waktu ekstraksi, dan persen solid sebagai inhibitor korosi terhadap efisiensi inhibisinya pada baja API 5L Grade X52M pada larutan HCl 1 M. Ekstrak kulit rambutan dibuat dengan 2 metode, yaitu metode maserasi dengan variasi pelarut, yaitu etanol, aseton, dan akuades, durasi maserasi, yaitu 18 jam, 24 jam, dan 48 jam, dan variasi persen solid, yaitu 10% dan 5%. Untuk metode Ultrasonic-Assisted Extraction dilakukan pada suhu 50???? dan persen solidnya 5% dengan variasi waktu ekstraksi 20 menit, 40 menit, dan 60 menit. Uji perendaman dilakukan selama 24 jam pada suhu 25????????untuk mengetahui laju korosi dan efisiensi tiap inhibitor yang diuji. Uji elektrokimia yang dilakukan antara lain uji open circuit potential (OCP), electrochemical impedance spectroscopy (EIS), dan potentiodynamic polarization (PDP). Kemudian dilakukan uji karakterisasi permukaan yang terdiri atas optical microscope (OM) dan scanning electron microscope (SEM) dan karakterisasi senyawa organik menggunakan fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) dan ultraviolet-visible spectroscopy (UVVis). Hasil uji perendaman menunjukkan perbedaan metode, tipe pelarut, durasi waktu ekstraksi, dan persen solid pada ekstraksi kulit rambutan dapat mempengaruhi efisiensi inhibisinya. Dari hasil uji perendaman diperoleh efisiensi inhibitor tertinggi pada inhibitor yang diekstrak dengan metode maserasi selama 18 jam dengan persen solid 5%, yaitu sebesar 92,57%. Dari hasil uji elektrokimia, diketahui inhibitor merupakan mixed type inhibitor dengan model rangkaian lisrik ekuivalennya Rs-L-(CPEi(Ri(CPEdl/Rp)). Pada uji karakterisasi permukaan diketahui sampel yang direndam pada larutan blank permukaannya lebih kasar dibandingkan dengan sampel yang direndam pada larutan yang mengandung inhibitor. Dari hasil uji karakterisasi produk korosi disimpulkan terdapat senyawa organik dari ekstrak kulit rambutan yang terabsorpsi pada permukaan baja.
IDENTIFIKASI KOROSI AKIBAT PENETRASI KLORIDA PADA ELEMEN BETON BERTULANG DENGAN THERMAL IMAGE PROCESSING INFRAMERAH
Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi tingkat korosi baja tulangan beton akibat induksi klorida secara objektif berdasarkan hasil analisis Principle Component Thermography (PCT) data image hasil pengujian thermography aktif. Guna memprediksi tingkat korosi baja tulangan dengan metode thermography maka beton uji mutu 20 MPa dipanaskan pada jarak (dobJ) 30 cm - 50 cm menggunakan lampu halogen 500watt selama 30 menit. Akuisisi data thermogram menggunakan kecepatan Sframe per second (fps) dengan variasijarak kamera ke benda uji (dcam) adalah 60 cm, 70 cm dan 80 cm. Penelitian ini tidak mempertimbangkan laju perubahan image terhadap waktu. Koreksi kesalahan thermogram dilakukan saat image preprocessing dengan cara memasukkan nilai reflected temperature (Tref/) pada persamaan object temperature (TobJ). Tingkat kesulitan identifikasi pada metode thermal contrast dan faktor subyektifitas pada analisis metode signal noise ratio (SNR) atau region of interest (ROI) serta kelebihan pada metode PCT, menjadi dasar usulan keterbaruan pada penelitian ini. Pada penelitian ini image processing menggunakan metode PCT dengan input data sequence thermogram yang sudah terkoreksi. PCT merupakan metode Empirical Orthogonal Function (EOF) yang berbasiskan Eigen Value Problem (EVP). Perbedaan nilai thermal properties antar kedua material mengakibatkan adanya anomaly distribusi spatial thermal di dalam beton. EOF merupakan pola spasial dari principal component yang menunjukkan distribusi variasi-variasi temperature permukaan beton. Vektor eigen tiap mode EOF merupakan variabilitas temporal EOF yang menunjukkan variabilitas spasial data dalam dimensi ruang. Pada variasi spasial eigenvector yang berkorelasi dengan nilai eigen terbesar kedua hasil analisis PCT terlihat adanya anomaly thermal pattern yang menunjukkan perbedaan tingkat e.ffusivity pada area tersebut. Variasi spasial ini tersusun dalam set data yang dikenal dengan EOF2. Ketajaman kontras anomaly tersebut tergantung dari tingkat korosi baja tulangan di dalam beton. secara teori menunjukkan deviasi terhadap pola pemanasan yang seragam di seluruh beton. EOF2 sensitif terhadap penyimpangan ini karena menekankan pada area dimana respon thermal menyimpang dari pola yang ditetapkan oleh EOF1. Penggunaan analisis SNR pada mode EOF2 untuk menentukan nilai kontur eigenvector threshold (EOF2r1i). Nilai Indek Korosi (IK) yang merupakan perbandingan antara luas kontur EOF2r1i dengan variasi spasial maksimum mode EOF2 (EOF2mCDC) hasil analisis PCT dapat digunakan untuk mendeteksi anomaly thermal ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya relasi antara nilai Indek Korosi dengan tingkat korosi baja tulangan (Thcor). Peningkatan korosi tulangan cenderung memperbesar nilai Indek Korosi ini. Hasil uji eksperimental menunjukkan prediksi tingkat korosi tulangan yang cukup bagus saai saat dcam sebesar 60 cm.