📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenPERANCANGAN KONSEP GAME SIMULASI TENTANG PROSES BISNIS UMKM WARUNG MAKAN UNTUK DEWASA MUDA USIA 20–25 TAHUN
Keragaman budaya di Indonesia melimpahkan kekayaan kuliner bagi masyarakatnya. Berbagai rempah diolah menjadi bumbu masakan khas dari setiap daerah yang dapat dinikmati. Hal ini membuka peluang besar bagi masyarakat Indonesia untuk memiliki usaha kuliner. Ragam jenis dan rasa khas yang berbeda-beda dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan. Selain itu, makanan merupakan kebutuhan pokok manusia yang membuatnya selalu dibutuhkan dan dicari oleh orang. UMKM kuliner sebagai salah satu jenis UMKM yang paling banyak jumlahnya di Indonesia menjadi bukti dari peluang ini. Warung makan termasuk dalam UMKM kuliner tersebut. Terlebih lagi, masyarakat Indonesia dapat dengan mudah menemukan warung makan di sekitar tempat tinggalnya. Menu yang beragam memberikan variasi bagi pembelinya. Tetapi, proses berjalannya usaha ini belum sepenuhnya diketahui masyarakat luas, terutama dewasa muda, sebagai generasi yang mungkin akan melanjutkan usaha ini. Perancangan ini dibuat sebagai sebuah cara membagikan informasi kepada dewasa muda akan proses berjalannya UMKM berupa warung makan. Game simulasi menjadi pilihan media karena keakraban dewasa muda yang terdiri dari generasi Z akan media game. Diharapkan dengan perancangan ini, para dewasa muda dapat mengetahui proses berjalannya UMKM warung makan di Indonesia
PENGALAMAN KULINER SEBAGAI PRAKTIK KULTURAL: SPASIALISASI PRAKTIK KULINER SUNDA MELALUI PUSAT PENGALAMAN BUDAYA KULINER DI BANDUNG
Bandung telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata utama di Indonesia dan memiliki identitas yang kuat sebagai kota kuliner. Budaya kuliner kota ini berkaitan erat dengan ekonomi kreatifnya, di mana makanan tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi, tetapi juga sebagai pengalaman sosial dan budaya. Topik ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, yang menempatkan arsitektur sebagai media dalam melestarikan warisan budaya takbenda melalui ruang publik yang inklusif sekaligus memperkuat identitas lokal dan pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata kuliner semakin bergeser menuju aktivitas yang berorientasi pada pengalaman, di mana pengunjung mencari suasana, keterlibatan budaya, dan pengalaman spasial yang berkesan. Masjid Al-Jabbar merupakan salah satu destinasi wisata utama di Bandung. Meskipun memiliki peran penting sebagai salah satu ikon wisata utama Kota Bandung, Masjid Al-Jabbar mengalami penurunan jumlah kunjungan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir akibat terbatasnya ragam aktivitas di luar fungsi keagamaan serta belum adanya atraksi pendukung yang merepresentasikan identitas budaya lokal. Selain itu, meskipun kawasan sekitarnya menunjukkan permintaan yang tinggi terhadap aktivitas kuliner, fasilitas yang terorganisasi untuk mengakomodasi dan merayakan budaya kuliner Sunda masih terbatas. Sebagai alternatif, proyek ini mengusulkan sebuah Culinary Culture Experience Center yang berlokasi di kawasan sekitar Masjid Al-Jabbar. Tipologi ini dipilih karena mampu mengintegrasikan aktivitas kuliner, interpretasi budaya, dan interaksi publik dalam sebuah destinasi berbasis pengalaman yang menempatkan pengalaman kuliner sebagai praktik budaya yang hidup. Proyek ini dikembangkan melalui metode perancangan kualitatif yang meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis kontekstual, dan studi komparatif preseden untuk merumuskan strategi arsitektur yang responsif terhadap kondisi budaya, spasial, dan lingkungan tapak. Dengan menerapkan pendekatan Experiential Architecture dan Critical Regionalism, proyek ini menerjemahkan praktik kuliner Sunda ke dalam rangkaian pengalaman sensorik, sosial, dan spasial melalui program kuliner yang terkurasi, ruang terbuka publik, serta sirkulasi yang terintegrasi dengan lanskap. Rancangan mengadopsi komposisi paviliun bertingkat rendah yang dicirikan oleh pola pergerakan organik, pengalaman tepi perairan, reinterpretasi kontemporer arsitektur Sunda, serta penggunaan material kayu dan vegetasi secara ekstensif untuk menciptakan lingkungan yang imersif secara kultural. Proyek ini bertujuan mewujudkan sebuah destinasi kuliner Sunda yang melengkapi keberadaan Masjid Al-Jabbar, memperkuat identitas budaya lokal, serta mengakomodasi aktivitas kuliner dalam suatu tatanan ruang publik yang terorganisasi. Melampaui proposisi arsitekturalnya, proyek ini menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menspasialisasikan praktik budaya dan mentransformasikan aktivitas kuliner menjadi media yang inklusif bagi pelestarian budaya, keterlibatan publik, dan pengembangan pariwisata di Kota Bandung.
PERANCANGAN INDONESIA GASTRONOMI CENTER BERBASIS PENGALAMAN RUANG
Indonesia memiliki kuliner dengan warisan budaya dengan nilai sejarah, sosial, dan ekonomi yang tinggi , namun di tengah tengah gempuran makanan modern minat anak-anak terhadap makanan khas Indonesia jadi menurun. Diperlukannya media edukasi yang inovatif dan menarik untuk memperkenalkan serta melestarikannya kepada generasi muda sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah Gastronomi Center berbasis pengalaman ruang untuk mentransformasi paradigma museum dari ruang observasi menjadi ruang interaktif dan partisipatif. Konsep pengalaman ruang dipilih sebagai strategi utama perancangan untuk mengubah pengalaman berkunjung museum dari sekedar hanya melihat saja menjadi berinteraksi, bereksplorasi dan berkreasi. Pengunjung akan diajak untuk melakukan berbagai macam aktivitas seperti eksplorasi tekstur dari bahan-bahan masak lokal, storytelling interaktif tentang sejarah makanan, permainan edukatif berbasis teknologi, dan simulasi memasak. Metode perancangan yang digunakan meliputi studi literatur mengenai museum, gastronomi dan kuliner Indonesia, observasi perilaku masyarakat, serta analisis kebutuhan dan fasilitas pendukung. Diharapkan Indonesia Gastronomi Center ini dapat meningkatkan minat masyarakat terutama generasi muda terhadap makanan lokal. Dengan desain yang interaktif dan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu meningkatkan indera anak-anak dan meningkatkan rasa ingin tahu mereka. Dan perancangan gastronomi center kuliner khas Indonesia ini dapat menjadi sarana edukasi dan rekreasi yang efektif, sehingga dapat menanamkan rasa cinta dan kesadaran terhadap pelestarian kuliner Indonesia pada generasi penerus.
PERANCANGAN PUSAT WISATA GASTRONOMI PALEMBANG SEBAGAI IKON KOTA DAN DESTINASI WISATA
Di tengah potensi besar sektor pariwisata dan kuliner, Kota Palembang, Sumatera Selatan, menarik perhatian dengan kekayaan warisan budaya dan kuliner lokalnya. Namun, kurangnya eksposur serta fasilitas yang memadai menyebabkan keunggulan ini kurang dikenal. Untuk mengatasi permasalahan ini, direncanakan sebuah Pusat Wisata Gastronomi yang bertujuan untuk mengintegrasikan edukasi, rekreasi, dan kewirausahaan. Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai ikon kota yang menawarkan pengalaman unik. Dengan mengadopsi prinsip desain interior yang mengutamakan pengalaman pengguna, ruang-ruang di dalam pusat ini dirancang untuk menciptakan perjalanan yang mendalam. Area pameran menyajikan narasi budaya dan sejarah kuliner Palembang melalui instalasi interaktif, sementara zona kuliner yang terintegrasi, termasuk restoran dan kios makanan, dirancang untuk mendorong eksplorasi. Dilengkapi juga dengan kebun urban yang berperan sebagai elemen edukasi dan penyeimbang visual, menciptakan suasana yang menyegarkan. Ruang kolaborasi berupa studio dan auditorium di pusat ini menyediakan wadah bagi para ahli gastronomi dan pelaku kuliner untuk berinteraksi dan berinovasi. Melalui pemilihan material yang mencerminkan tradisi Palembang, desain interior fasilitas ini menginterpretasikan budaya lokal dalam konteks yang modern. Pusat ini bertujuan untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat dan gastronomi Palembang secara menarik dan edukatif, serta menjadi penggerak pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi lokal.
PERANCANGAN TABLEWARE DAUN JATI SEBAGAI REVITALISASI NILAI SIMBOLIS KULINER SEGA JAMBLANG DALAM BUDAYA KONTEMPORER
Nasi Jamblang, sebagai salah satu warisan kuliner khas Cirebon, telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbudristek pada tahun 2023. Ciri khas dari penyajian Nasi Jamblang adalah penggunaan daun jati sebagai alas dan pembungkus yang tidak hanya memberikan cita rasa unik, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai lokal yang sarat makna. Namun, perkembangan modernisasi membawa tantangan terhadap keberlanjutan tradisi ini, dengan degradasi nilai-nilai simbolis yang melekat pada penggunaan daun jati. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain tableware yang terinspirasi dari bentuk dan esensi daun jati sebagai upaya melestarikan simbol budaya Nasi Jamblang dalam era kontemporer. Dengan pendekatan Metode desain berupa ATUMICS yang menggabungkan unsur tradisional dan modern, penelitian ini berupaya untuk menjaga nilai-nilai budaya lokal sambil memenuhi kebutuhan estetika dan fungsionalitas modern. Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya menciptakan produk tableware yang inovatif, tetapi juga berkontribusi dalam konservasi budaya dan identitas lokal Cirebon di tengah tantangan globalisasi.
PERANCANGAN ZINE MENGENAI KULINER TIONGHOA INDONESIA SEBAGAI MEDIA ARSIP KOMUNITAS UNTUK DEWASA MUDA
Indonesia kaya akan keberagaman budaya, termasuk dalam aspek kuliner yang dapat mencerminkan nilai dan identitas masyarakatnya. Salah satu budaya yang turut berperan dalam kekayaan kuliner Indonesia adalah budaya Tionghoa yang telah berinteraksi dan beradaptasi dengan budaya lokal selama berabad-abad. Namun, pelestarian kuliner Tionghoa masih kurang, utamanya akibat kurangnya pengarsipan resep tradisional, dampak diskriminasi sejarah yang membatasi ekspresi budaya Tionghoa, serta minat generasi muda terhadap budaya Tionghoa semakin menurun. Sebagai solusi, zine dapat menjadi media pengarsipan yang efektif untuk meneruskan pengetahuan kuliner Tionghoa kepada generasi muda. Zine, sebagai media cetak kecil yang personal, dapat menarik minat generasi muda dan memperkenalkan kembali keunikan kuliner Tionghoa. Perancangan ini bertujuan untuk merancang seri zine yang berisi informasi kuliner Tionghoa, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan minat generasi muda terhadap kuliner budaya Tionghoa.
DESAIN REKRUTMEN, PENILAIAN KINERJA, DAN KOMPENSASI YANG DIUSULKAN UNTUK RUMAH MAKAN OMA QUEEN
Penelitian ini meneliti tantangan sumber daya manusia (SDM) dalam usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor kuliner, dengan fokus pada Rumah Makan (RM) Oma Queen sebagai studi kasus. Penelitian terdahulu menyoroti beberapa masalah dalam penanganan SDM UKM, seperti perencanaan tenaga kerja yang tidak memadai, tidak adanya penilaian kinerja formal, dan kesulitan dalam rekrutmen. Keberhasilan restoran terkait dengan kualitas sumber daya manusia mereka dan kemampuan mereka untuk memberikan layanan pelanggan yang berkualitas tinggi. RM Oma Queen, meskipun mengalami pertumbuhan dan rebranding baru-baru ini, memiliki tantangan ini dengan kurangnya proses SDM yang terformalisasi dan ketergantungan pada manajer saat ini. RM Oma Queen mengalami tantangan signifikan terkait rekrutmen, penilaian kinerja, dan kompensasi. Tingginya turnover karyawan, terutama setelah liburan Lebaran, membuat rekrutmen menjadi proses yang memakan waktu karena bergantung pada referensi informal dari karyawan. Hal ini diperburuk oleh gaji yang di bawah standar pasar, menghambat kemampuan restoran untuk menarik dan mempertahankan staf yang berkualitas. Ketidakadaan struktur organisasi formal, deskripsi pekerjaan yang jelas, dan sistem penilaian kinerja yang terstruktur semakin memperburuk masalah ini, yang mengarah pada inkonsistensi dalam evaluasi karyawan dan kurangnya metrik kinerja yang objektif. Ketergantungan berat restoran pada manajer saat ini menyoroti kebutuhan kritis akan rencana suksesi formal. Masalah ini terlihat dalam kegagalan upaya ekspansi cabang pada tahun 2020, yang disebabkan oleh kurangnya prosedur operasional yang terstandarisasi dan ketidakmampuan untuk mereplikasi keahlian manajer saat ini. Studi kualitatif ini menggunakan wawancara semi-terstruktur dan observasi untuk mengumpulkan data dari dua belas peserta, termasuk pemilik, manajer, dan karyawan di RM Oma Queen. Instrumen pengumpulan data diinformasikan oleh literatur yang ada tentang rekrutmen eksternal dan internal, penilaian kinerja (khususnya Skala Penilaian Berbasis Perilaku), dan strategi kompensasi (pemetaan gaji). Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk menganalisis praktik SDM saat ini di RM Oma Queen, dan 2) untuk mengembangkan dan mengusulkan rekomendasi yang disesuaikan untuk meningkatkan strategi rekrutmen, penilaian kinerja, dan kompensasi. Penelitian ini menghipotesiskan bahwa penerapan praktik SDM yang terstruktur akan secara signifikan meningkatkan retensi karyawan, kinerja, dan efisiensi operasional secara keseluruhan. Temuan awal mengungkapkan proses rekrutmen yang sangat informal, kurangnya analisis pekerjaan yang terstruktur, dan bergantung pada referensi dari mulut ke mulut. Penilaian kinerja bersifat subjektif dan berdasarkan pengamatan manajerial, yang berpotensi menyebabkan bias dan inkonsistensi. Kompensasi berada di bawah standar pasar, yang berkontribusi pada turnover yang konsisten. Rekomendasi yang diusulkan mencakup diversifikasi saluran rekrutmen, pengembangan deskripsi pekerjaan yang jelas melalui analisis pekerjaan, penerapan wawancara terstruktur, dan pembentukan rencana suksesi formal. Untuk penilaian kinerja, diusulkan adopsi sistem BARS untuk memastikan keadilan dan objektivitas. Akhirnya, pemetaan gaji akan digunakan untuk mengembangkan struktur kompensasi yang sesuai dengan standar pasar, mengatasi masalah gaji yang saat ini di bawah upah minimum. Penelitian ini berkontribusi pada literatur yang ada dengan memberikan studi kasus yang mendetail tentang tantangan SDM dalam bisnis kuliner UKM dan menawarkan rekomendasi praktis berbasis bukti untuk perbaikan. Temuan ini akan memberikan wawasan berharga bagi bisnis serupa yang ingin meningkatkan praktik SDM mereka dan pada akhirnya meningkatkan efisiensi operasional dan keberlanjutan jangka panjang. Implementasi yang sukses dari rekomendasi ini di RM Oma Queen akan menjadi model bagi UKM lain di sektor kuliner yang menghadapi tantangan SDM serupa.
STRATEGI PEMASARAN ZARA CAFE UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MEREK
Era globalisasi yang berkembang saat ini mempengaruhi semua sektor ekonomi termasuk industri kuliner. Di Indonesia, industri kuliner mengalami perkembangan yang sangat pesat sehingga ditunjuk sebagai salah satu sektor unggulan negara. Hal ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah dan upaya untuk pengembangan di sektor regional. Zara Cafe, sebagai salah satu bisnis yang fokus di industri kuliner di Sukabumi, menghadapi tantangan adanya penurunan pendapatan yang terjadi selama satu tahun ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi tantangan tersebut dengan mengusulkan strategi pemasaran yang komprehensif dalam rangka meningkatkan eksposur kesadaran brand untuk peningkatan pendapatan terhadap Zara Cafe. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Studi dimulai dengan menganalisis karakteristik konsumen dengan menggunakan alat segmentasi, penargetan, dan positioning (STP) untuk menentukan segmen konsumen utama perusahaan. Analisis selanjutnya mengidentifikasi lingkungan eksternal dan internal untuk menilai faktor-faktor mana yang mempengaruhi keberlangsungan Zara Cafe, termasuk peluang dan ancaman dari lingkungan umum dan industri terkait, serta kekuatan dan kelemahan yang berasal dari sumber daya perusahaan. Analisis SWOT dilakukan identifikasi terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari Zara Cafe dilanjutkan pengembangan ke matriks TOWS dimana pilihan strategi dikembangkan berdasarkan penggabungan antara kekuatan dan kelemahan internal dengan peluang dan ancaman eksternal. Temuan penelitian ini menekankan pada diversifikasi produk, keterjangkauan harga, kelengkapan fasilitas, dan promosi yang ditergetkan dalam meningkatkan hubungan dan kepercayaan dengan konsumen.Sebagai hasil, strategi bisnis yang diterapkan terdiri atas peningkatan pengalaman konsumen, diversifikasi pemasok bahan baku, penggunaan teknologi untuk personalisasi konsumen, efisiensi pengeluaran, pelatihan keberlanjutan, dan kemitraan dengan komunitas lokal untuk memenuhi kebetuhan spesifik generasi milenial dan Gen Z. Dalam hal ini, strategi pemasaran yang diusulkan melalui marketing mix 4PS yaitu produk, harga, tempat, dan promosi mencakup pengembangan produk, efisiensi operasional, manajemen biaya, peningkatan pengalaman pelanggan, kampanye pemasaran, pelatihan dan pengembangan staf, serta keterlibatan komunitas dalam masyarakat. Strategi ini dirancang untuk memposisikan Zara Cafe sebagai alat dalam meningkatkan kesadaran atas brand Zara Cafe sehingga dapat mencapai tujuan perusahaan yaitu salah satu fokus intinya adalah peningkatan pendapatan.
EKSPLORASI KEMASAN JAJANAN PASAR SEBAGAI MEDIA EDUKASI GASTRONOMI JAJANAN PASAR UNTUK GENERASI Z BANDUNG
Bandung dikenal akan kekayaan kuliner khas Jawa Barat salah satunya jajanan pasar. Meski disukai banyak orang, tidak banyak yang mengetahui latar belakang jajanan pasar. Padahal, mempelajari latar belakang jajanan pasar dapat memperluas wawasan sejarah budaya bangsa. Generasi Z berperan penting dalam pewarisan budaya ke generasi berikutnya sehingga Generasi Z perlu mempelajari latar belakang jajanan pasar. Maka, dirancang kemasan sebagai media edukasi jajanan pasar Jawa Barat bagi Generasi Z Bandung. Kemasan sebagai media yang melekat pada produk dipilih karena fungsinya untuk menyampaikan informasi pada konsumen mengenai produk yang dikemasnya. Melalui perancangan ini, diharapkan Generasi Z dapat mempelajari latar belakang gastronomi jajanan pasar Jawa Barat.