π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenREDEFINISI PERPUSTAKAAN UMUM SUKABUMI: PERANCANGAN RUANG LITERASI PUBLIK YANG INKLUSIF DENGAN PENDEKATAN BUDAYA SUNDA
Perpustakaan umum berperan penting dalam peningkatan literasi masyarakat, namun tingkat literasi Indonesia masih rendah dan menghadapi kesenjangan antarwilayah, termasuk di Jawa Barat. Kabupaten Sukabumi sebagai wilayah terluas di Jawa Barat memiliki skor Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat yang jauh tertinggal dari Kota Sukabumi. Kondisi ini diperparah oleh stigma perpustakaan sebagai ruang kaku dan minim keterlibatan masyarakat, serta budaya Sunda yang belum terintegrasi ke dalam struktur aktivitas maupun pengelolaan ruang. Perancangan ini bertujuan meredefinisi Perpustakaan Umum Sukabumi sebagai ruang literasi publik yang inklusif dan berakar pada budaya Sunda. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan pemetaan kebutuhan pengguna, dengan pendekatan Community-Led Library serta Local Identity Approach yang menggali falsafah Sunda seperti Lemah Cai, Tritangtu, dan Leuit Si Jimat. Hasil identifikasi menunjukkan perpustakaan eksisting belum mewadahi aktivitas belajar, interaksi, dan kolaborasi secara optimal. Konsep desain dirumuskan melalui falsafah Sareundeuk Saigel, Sabobot Sapihanean, diterjemahkan ke dalam prinsip Engagement, Flexibility, Transparency, dan Informality. Program ruang disusun berdasarkan tahapan perkembangan literasi manusia, sementara zonasi mengadaptasi kosmologi Tritangtu dan pola Kampung Sunda melalui Leuit, BalΓ© Baca, dan Saung Talu, didukung material alami yang merepresentasikan kedekatan dengan alam. Perancangan ini diharapkan memperkuat fungsi sosial perpustakaan dan memperluas keterlibatan masyarakat Sukabumi dalam literasi.
PERANCANGAN PERPUSTAKAAN DAERAH KOTA MAGELANG SEBAGAI JEMBATAN SOSIAL DI ERA DIGITAL
Perpustakaan berperan sebagai pusat pembelajaran, penyedia informasi, serta ruang publik yang mendukung perkembangan intelektual masyarakat. Dalam konteks masyarakat kontemporer, perpustakaan tidak lagi dipahami semata sebagai tempat membaca, melainkan sebagai ruang yang mewadahi aktivitas belajar, interaksi sosial, dan pertukaran pengetahuan secara inklusif bagi pengguna lintas usia dan latar belakang. Transformasi ini menuntut perpustakaan untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan pengguna, khususnya di era digital yang menekankan fleksibilitas ruang dan keberagaman aktivitas. Permasalahan literasi yang masih rendah sering kali diposisikan sebagai keterbatasan kemampuan individu atau minimnya minat baca masyarakat. Namun, pendekatan tersebut cenderung mengabaikan faktor lingkungan belajar yang berperan besar dalam membentuk pengalaman literasi. Kualitas ruang, ketersediaan fasilitas, kenyamanan, serta relevansi layanan perpustakaan menjadi aspek penting yang mempengaruhi sejauh mana masyarakat terdorong untuk memanfaatkan perpustakaan secara berkelanjutan. Dengan demikian, persoalan literasi tidak dapat dilepaskan dari kualitas dan kesiapan fasilitas perpustakaan sebagai sarana pendukung utama. Kesenjangan dalam pemenuhan fasilitas perpustakaan berpotensi menurunkan efektivitas fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar dan ruang publik. Ketidaksesuaian antara kebutuhan pengguna dengan fasilitas yang tersedia dapat membatasi ragam aktivitas literasi, kolaborasi, dan interaksi sosial yang seharusnya dapat difasilitasi oleh perpustakaan modern. Kondisi ini menegaskan bahwa peningkatan literasi masyarakat perlu diawali dengan perbaikan kualitas ruang dan fasilitas perpustakaan, bukan semata-mata berfokus pada perubahan perilaku pengguna. Dalam konteks tersebut, Perpustakaan Kota Magelang menjadi contoh kasus yang relevan untuk dikaji, mengingat tingginya jumlah pengguna yang memanfaatkan perpustakaan ini belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan dan kualitas fasilitas yang memadai. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara kondisi fasilitas perpustakaan dengan pengalaman pengguna serta efektivitas fungsi perpustakaan dalam mendukung kegiatan literasi. Diharapkan kajian ini dapat memberikan landasan pemikiran bagi pengembangan dan peningkatan kualitas fasilitas Perpustakaan Kota Magelang agar mampu berfungsi secara optimal sebagai ruang literasi dan ruang publik yang inklusif.
PERANCANGAN FASILITAS INTERAKTIF DI PERPUSTAKAAN GUNA MENDORONG KEGIATAN LITERASI PENGUNJUNG SECARA AKTIF
Kemampuan literasi merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh masyarakat suatu negara. Literasi merupakan kemampuan dalam membaca dan menulis serta menambah pengetahuan, keterampilan, dan juga mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks dengan pemikiran kritis sehingga seseorang bisa mengembangkan potensi dan berpartisipasi secara aktif di masyarakat (Alberta, 2009). Salah satu cakupan dari kegiatan literasi adalah membaca. Perpustakaan merupakan sebuah fasilitas yang diadakan untuk mendorong kegiatan membaca, akan tetapi, perpustakaan belum secara aktif mendorong kegiatan literasi untuk masyarakat. Maka dari itu, penelitian ini ditujukan untuk mencari peluang desain fasilitas interaktif yang dapat mendorong kegiatan literasi masyarakat secara aktif sehingga dapat membangun pengalaman dan persepsi yang baru di masyarakat terhadap kegiatan membaca. Produk yang dirancang merupakan sebuah interactive reading booth yang memiliki dua fitur, pertama fitur untuk membantu pengguna memilih buku yang sesuai dengan minatnya dengan sistem interaktif, lalu fitur yang mengajak pengguna untuk bisa membaca dengan fokus dan nyaman setelah memilih buku dengan komponen audio
PERANCANGAN LITERARY CENTER DI YOGYAKARTA SEBAGAI WADAH UNTUK TEMPAT MEMBACA, BEKERJA, DAN BERKOMUNITAS DENGAN PENDEKATAN LOCAL DESIGN
Laporan Tugas Akhir ini mengkaji tentang sebuah tempat yang menunjang kebutuhan masyarakat akan literasi dan bekerja. Laporan ini berlokasi di Jl. Jend. Sudirman No.38, Kotabaru, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Perancangan ini bertujuan untuk menjawab permasalahan kurangnya tempat terbuka untuk belajar, bekerja, dan membaca, yang dapat memberikan mereka tempat berkegiatan produktif di luar tempat tinggal. Tempat ini juga dapat memberikan wadah bagi para penggiat literasi dan komunitas untuk dapat melaksanakan kegiatan yang dapat mendukung literasi. Pemilihan kota Yogyakarta sebagai tempat perancangan juga karena dilihat dari tingkat literasi yang paling tinggi dibanding kota-kota lain di Indonesia, sehingga tempat ini nantinya dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh penggiat literasi ataupun masyarakat umum. Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu berupa studi literatur serta survei ke masyarakat melalui form. Selain itu, dilakukan juga survey lapangan dengan melihat tempat-tempat literasi dan mengikuti kegiatan literasi guna melihat kebiasaan yang dilakukan oleh para penggiat literasi dan apa yang sekiaranya mereka butuhkan. Setelah memeproleh data, langkah selanjutnya adalah mengkategorikannya sesuai dengan fungsinya masing-masing, lalu diolah dan dibuat dalam bentuk laporan deskriptif kualitatif. Data-data tersebut kemudian dipaparkan dalam bentuk kalimat ataupun dalam bentuk tabel. Data dan laporan yang didapat akan digunakkan sebagai landasan dalam perancangan fasilitas publik berupa pusat literasi yang berada di Kota Yogyakarta, dengan menggunakkan konsep interior A Warm Harmony: A Space for Productivity, yang mengadaptasi tiga kata kunci, yaitu gayam, kepel, dan alir. Kemudian konsep tersebut akan diimplementasikan ke dalam perancangan dengan mempertimbangkan desain lokal dan prinsip-prinsip lain yang dapat menunjang kebutuhan masyarakat.
GARDEN LIBRARY UNTUK PENINGKATAN MINAT BACA DAN PEMULIHAN DARI URBAN STRESS DI BSD CITY
Perkembangan zaman abad ke-21 meliputi berbagai aspek, di antaranya perkembangan kota dan budaya di dalamnya serta perkembangan teknologi dan sosial media. Perkembangan yang cepat menimbulkan gaya hidup fast-paced bagi masyarakat kota. Kesulitan masyarakat kota untuk mengikuti alur hidup cepat di perkotaan dapat menimbulkan tekanan mental kepada masyarakat kota; fenomena ini di perkotaan sering disebut juga sebagai urban stress. Ditambah dengan kehadiran teknologi dan sosial media pada kehidupan kota, fenomena urban stress dapat menjadi lebih parah dan menyebabkan gangguan jiwa pada masyarakat yang mengalami karena penyalahgunaan teknologi oleh oknum untuk merugikan pihak lain. Fenomena ini mungkin terjadi karena pengguna teknologi kurang edukasi dan literasi untuk dapat menggunakan teknologi dan sosial media dengan cara yang positif. Pemulihan dari urban stress dan peningkatan literasi dan minat membaca dapat memperbaiki lingkungan sosial kehidupan kota di masa mendatang, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari segi edukasi dan literasi. Dalam merespons isu literasi dan urban stress, dapat diciptakan sebuah tipologi arsitektur yang mengintegrasikan fasilitas akses pembelajaran dengan area hijau. Selain menyelesaikan isu yang ada, integrasi ini bertujuan memicu ketertarikan masyarakat dan memulai pembentukan pengunjung rutin. Dalam jangka yang panjang, rutinitas merupakan salah satu kunci penyelesaian isu literasi dan minat baca, serta menurunkan tingkat stres secara bertahap. Proyek ini bertujuan menciptakan ruang dengan fungsi yang mampu meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat setempat, sekaligus mengurangi tingkat stres pengguna yang berada di dalamnya. Melalui proyek ini, diharapkan bahwa pengunjung dapat memperoleh pengalaman membaca yang menyenangkan dan menenangkan sehingga tergerak untuk kembali secara rutin, kemudian dalam prosesnya turut menumbuhkan minat membaca yang lebih tinggi. Pengunjung juga diharapkan bisa beristirahat sejenak di area hijau yang disediakan untuk mengurangi tingkat stres pengunjung. Dalam cakupan yang lebih luas dan jangka waktu yang panjang, tujuan proyek ini ialah menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas lebih baik dengan meningkatkan literasi dan produktivitas masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan dan fungsi tersebut, terdapat 3 persoalan perancangan utama yang diangkat, yakni perpustakaan sebagai wadah pembelajaran dan aktivitas literasi, tempat ketiga, dan desain biofilik untuk pemulihan stres.