📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 24 dokumenPENENTUAN RUTE PENGIRIMAN LAST MILE UNTUK MEMINIMASI BIAYA TRANSPORTASI MENGGUNAKAN MODEL THREE-DIMENSIONAL LOADING SPLIT DELIVERY HETEROGENEOUS VEHICLE ROUTING PROBLEM WITH TIME WINDOWS AND SERVICE LEVEL CONSTRAINTS PADA DEPOT CAKUNG PT X
Industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) menuntut efisiensi tinggi dalam sistem distribusi last mile. PT X, sebuah perusahaan FMCG, menghadapi tantangan di Depot Cakung berupa tingginya tingkat penundaan pengiriman harian (rata-rata 16,7%) dan rendahnya utilisasi armada (rata-rata 57,8%), akibat penentuan rute manual yang tidak mempertimbangkan time windows, split delivery, dan dimensi fisik produk sehingga menimbulkan biaya penalti sewa kendaraan hingga Rp135.000.000 per bulan. Penelitian ini mengembangkan model Three-Dimensional Loading Split Delivery Heterogeneous Vehicle Routing Problem with Time Windows and Service Level Constraints (3L-SDHVRPTW-SL) untuk meminimalkan total biaya transportasi dengan mempertimbangkan kendaraan heterogen, split delivery, time windows, pemuatan tiga dimensi, dan service level sebagai hard constraint. Karena kompleksitas model menyebabkan metode eksak (Gurobi) hanya mampu menyelesaikan persoalan hingga 7 pelanggan, penyelesaian dilakukan dengan dua metode metaheuristik, yaitu Adaptive Large Neighborhood Search (ALNS) dan Genetic Algorithm (GA), yang pada pengujian data kecil menghasilkan solusi identik dengan solusi optimal (gap 0,00%) untuk 2 sampai 6 pelanggan, serta gap 0,00% (ALNS) dan 1,12% (GA) pada 7 pelanggan. Pada studi kasus 82 pelanggan tanggal 14 Desember 2023, solusi rute usulan ALNS dan GA masing-masing menekan total biaya transportasi menjadi Rp4.632.432 dan Rp4.804.646, atau penghematan sebesar 48,82% dan 46,92% dibandingkan biaya rute existing sebesar Rp9.051.829. Kedua solusi menggunakan 7 dari 12 kendaraan yang tersedia, memenuhi seluruh permintaan pelanggan dengan service level 100%, serta mengeliminasi seluruh pelanggaran time windows dan biaya pending kirim yang sebelumnya terjadi pada rute existing.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN LOGISTIK BERBASIS DJANGO DENGAN PELACAKAN GNSS REAL-TIME DAN PEMBUATAN SHIPPING INSTRUCTION OTOMATIS
Industri logistik kargo berperan penting dalam perdagangan global, di mana efisiensi operasional dan visibilitas pengiriman menjadi faktor utama kualitas layanan. Namun, operasi logistik masih menghadapi tantangan berupa kurangnya pemantauan pengiriman secara real-time serta proses pembuatan dokumen Shipping Instruction (SI) yang masih manual, sehingga meningkatkan ketidakpastian operasional dan risiko human error. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan aplikasi manajemen logistik berbasis web yang mengintegrasikan sistem pelacakan real-time dan generator dokumen SI otomatis. Sistem dikembangkan menggunakan framework Django pada backend dan Vue.js pada frontend untuk antarmuka yang responsif. Subsistem pelacakan memanfaatkan perangkat berbasis GNSS yang terhubung dengan mikrokontroler Arduino Uno untuk memperoleh data lokasi, yang kemudian divisualisasikan melalui peta interaktif berbasis Leaflet. Sementara itu, subsistem generator otomatis mengubah data pengiriman menjadi dokumen PDF siap ekspor menggunakan ReportLab. Evaluasi sistem dilakukan melalui pengujian fungsional dan performa untuk mengukur waktu respons, latensi, serta stabilitas di bawah akses pengguna simultan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa aplikasi mampu menangani beberapa jalur pelacakan secara bersamaan dengan latensi yang aman serta performa pembuatan dokumen yang cepat. Sistem yang diusulkan terbukti mampu mengurangi beban administrasi manual, meminimalkan kesalahan dokumen, serta meningkatkan transparansi pemantauan untuk mengoptimalkan efisiensi operasional perusahaan logistik.
ANALISIS KONEKTIVITAS HINTERLAND PELABUHAN UTAMA DI PULAU JAWA DAN ESTIMASI DEMAND TERMINAL PETI KEMAS DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK DAN PELABUHAN PATIMBAN
Konektivitas hinterland merupakan faktor penting yang memengaruhi wilayah layan dan daya saing antar pelabuhan. Cakupan hinterland tidak hanya ditentukan oleh kedekatan geografis, tetapi juga oleh aksesibilitas jaringan, waktu tempuh, dan generalised cost dari wilayah produksi atau konsumsi menuju pelabuhan. Di Pulau Jawa, kehadiran Pelabuhan Patimban sebagai entry port di wilayah utara Jawa Barat berpotensi mengubah struktur hinterland dan pembagian demand peti kemas, khususnya pada wilayah yang sebelumnya bergantung pada Pelabuhan Tanjung Priok. Penelitian ini menggabungkan analisis konektivitas hinterland pelabuhan utama di Pulau Jawa dengan identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap estimasi demand Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok untuk mengestimasi demand Terminal Peti Kemas Pelabuhan Patimban. Analisis dilakukan terhadap Pelabuhan Tanjung Priok, Patimban, Tanjung Emas, dan Tanjung Perak dengan unit analisis kabupaten/kota melalui pendekatan deterministik dan probabilistik. Pendekatan deterministik digunakan untuk menentukan pelabuhan dengan nilai generalised cost minimum, sedangkan pendekatan probabilistik digunakan untuk menggambarkan kecenderungan pemilihan pelabuhan dan tingkat kompetisi antar pelabuhan. Estimasi demand Tanjung Priok dilakukan menggunakan regresi multilinear dengan metode stepwise berdasarkan variabel ekonomi, demografi, industri, perdagangan, nilai tukar, dan aktivitas logistik. Hasil analisis deterministik menunjukkan bahwa setelah Pelabuhan Patimban dipertimbangkan, jumlah hinterland dominan Tanjung Priok menurun dari 35 menjadi 23 kabupaten/kota. Berdasarkan perubahan tersebut, diperoleh spatial hinterland share Tanjung Priok sebesar 65,71% dan Patimban sebesar 34,29%. Di sisi lain, hasil probabilistik menunjukkan bahwa batas hinterland antar pelabuhan tidak bersifat kaku, melainkan membentuk zona kompetitif pada beberapa wilayah dengan probabilitas pemilihan pelabuhan yang relatif terbagi. Selanjutnya, Nilai share tersebut digunakan untuk mengestimasi demand Terminal Peti Kemas Pelabuhan Patimban. Hasil estimasi menunjukkan bahwa demand Terminal Peti Kemas Patimban diperkirakan mencapai sekitar 3.11 juta TEU pada tahun 2027 dan 3.79 juta TEU pada tahun 2037. Dengan demikian, Pelabuhan Patimban berpotensi memiliki peran sebagai pelabuhan pendukung Tanjung Priok dalam sistem pelabuhan utama di Pulau Jawa.
PENGKAJIAN TANTANGAN DAN MANFAAT ADOPSI TRUK LISTRIK DALAM LOGISTIK ANGKUTAN TRUK: STUDI KASUS PERUSAHAAN LOGISTIK ANGKUTAN TRUK DI INDONESIA
Seiring dunia mulai melihat potensi truk listrik dalam industri logistik, semakin jelas pula betapa sulitnya transisi tersebut bagi para penyedia jasa logistik. Di pasar logistik yang baru dan berkembang, seperti Indonesia, keterbatasan infrastruktur pendukung, kebijakan, serta sumber daya finansial menjadi hambatan utama dalam peralihan dari truk konvensional berbahan bakar diesel ke truk listrik. Melalui penggunaan metodologi kualitatif dengan wawancara semi-terstruktur terhadap jajaran manajemen senior di PT Seino Indomobil Logistics, penulis penelitian ini mengidentifikasi berbagai keunggulan dan kelemahan dalam penerapan truk listrik pada operasi logistik perusahaan. Penulis menggunakan kerangka Technology-Organization-Environment (TOE) untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi proses pengambilan keputusan dalam adopsi truk listrik. Selanjutnya, kerangka PESTEL dan SWOT digunakan untuk memperdalam pemahaman terhadap proses adopsi truk listrik tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi truk listrik memberikan manfaat berupa penurunan biaya operasional, peningkatan keberlanjutan lingkungan, peningkatan nilai bagi pelanggan yang berkomitmen terhadap ESG, serta peningkatan prediktabilitas operasional. Namun, implementasi truk listrik masih menghadapi sejumlah kendala utama, yaitu keterbatasan infrastruktur pengisian daya, tingginya biaya investasi awal, kompleksitas operasional dalam integrasi truk listrik ke dalam armada eksisting, ketidakpastian teknis terkait siklus hidup baterai, serta lingkungan kebijakan yang kurang mendukung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan adopsi truk listrik memerlukan keselarasan strategis antara kesiapan teknologi, kapabilitas organisasi, dan kondisi lingkungan eksternal. Rekomendasi penelitian meliputi penerapan proyek percontohan secara bertahap, pengembangan infrastruktur pengisian daya berbasis depo, penerapan analisis total cost of ownership, penguatan kapabilitas organisasi, serta keterlibatan aktif dalam advokasi kebijakan guna mendukung transisi menuju transportasi logistik yang berkelanjutan di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dan praktis bagi perusahaan logistik, pembuat kebijakan, dan kepentingan industri lainnya dalam mendukung transisi menuju sistem transportasi angkutan barang yang berkelanjutan di Indonesia.
PENENTUAN RUTE OPTIMAL PERMASALAHAN DISTRIBUSI BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DARI DEPOT KE LEMBAGA PENYALUR MENGGUNAKAN MODA TRANSPORTASI MULTI-COMPARTMENT DISKRIT DAN PENGALOKASIAN KENDARAAN KE LOADING BAY
Distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan permasalahan logistik kompleks yang melibatkan rute multi-kompartemen, pengangkutan multi-produk, penugasan kendaraan ke loading bay, serta keterbatasan fasilitas dan waktu operasi. Penelitian ini mengembangkan model Mixed-Integer Linear Programming (MILP) untuk menyelesaikan Multi-Compartment Vehicle Routing Problem (MCVRP) dengan mengintegrasikan keputusan routing, penugasan kompartemen dan produk, penjadwalan multi-trip, serta sequencing kendaraan pada loading bay dalam satu kerangka optimasi terpadu. Model mempertimbangkan biaya perjalanan, biaya tetap kendaraan, dan waktu menganggur (idle time) akibat antrean loading, sehingga mampu merepresentasikan proses distribusi BBM secara lebih realistis dalam horizon operasi 24 jam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model MILP menghasilkan solusi optimal untuk dataset kecil, namun mengalami keterbatasan komputasi pada skala besar. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan algoritma greedy konstruktif yang membangun solusi secara bertahap berdasarkan prioritas pelanggan, produk, kompartemen, dan loading bay. Algoritma greedy mampu menghasilkan solusi dengan kualitas mendekati optimal (optimality gap 0–7%) dengan waktu komputasi yang jauh lebih singkat, serta tetap feasible pada skala besar ketika MILP tidak dapat diselesaikan secara eksak. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi penugasan dan sequencing loading bay berperan penting dalam mengendalikan waktu tunggu kendaraan dan meningkatkan efisiensi operasional depot. Model MILP direkomendasikan sebagai alat perencanaan strategis dan benchmark optimalitas, sedangkan algoritma greedy sangat sesuai untuk implementasi operasional harian. Pendekatan yang diusulkan memberikan kontribusi pada pengembangan MCVRP berbasis biaya dan waktu serta menjadi dasar bagi penelitian lanjutan yang mempertimbangkan ketidakpastian dan perencanaan distribusi multi-periode.
FORMULASI STRATEGI BISNIS UNTUK LAYANAN NON-BAHAN BAKAR DI SPBU: MEMANFAATKAN PERTUMBUHAN KENDARAAN BERAT DARI PROGRAM BIOSOLAR
Studi ini menganalisis stagnasi kinerja SPBU 24.345.135 dalam skema PSO Biosolar di Indonesia, di mana harga yang terregulasi, margin tetap, dan penurunan alokasi sebesar 6,48% pada tahun 2025 meningkatkan risiko perpindahan pelanggan di koridor Trans-Sumatra. Dengan menggunakan bukti kasus campuran (catatan operasional, data regulasi/alokasi, observasi aliran layanan, survei pengemudi N = 243, serta wawancara pemangku kepentingan), studi ini: (1) menyusun STP berbasis kebutuhan untuk pengguna kendaraan berat, (2) mengidentifikasi faktor internal–eksternal yang membentuk layanan non- bahan bakar (NFS), dan (3) merumuskan strategi terintegrasi untuk pertumbuhan dan daya saing NFS. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed-method. Data kuantitatif dikumpulkan melalui survei pengemudi (N = 243), yang mencakup penilaian kinerja layanan berbasis SERVPERF, evaluasi komparatif terhadap SPBU alternatif, pengukuran kepuasan, serta indikator kebutuhan fasilitas. Klasterisasi K-means berbasis kebutuhan digunakan untuk membentuk segmen dan mengarahkan STP. Bukti kualitatif dari wawancara pengemudi dan internal, disertai observasi lapangan serta pemetaan pesaing, digunakan untuk memvalidasi mekanisme perilaku, menjelaskan pola perpindahan pelanggan, dan mendukung analisis internal–eksternal (sumber daya/kapabilitas, logika penciptaan nilai, serta perumusan berbasis SWOT/TOWS). Dua akar masalah utama teridentifikasi: ketidaksesuaian segmen–layanan (aset stopover belum dioptimalkan untuk pelanggan logistik kendaraan berat yang mencakup 57% basis pelanggan) dan asimetri operasional (kesiapan layanan tidak selaras dengan jendela permintaan kunci, termasuk pukul 03.00–07.00). Preferensi pengemudi mengikuti logika dua tahap: ketersediaan dan stabilitas antrean menentukan apakah pengemudi bertahan; ketika kondisi stabil, persepsi keadilan layanan dan kenyamanan stopover mendorong kunjungan ulang. SPBU diposisikan sebagai Reliable Logistics Stopover Hub dengan strategi diferensiasi terfokus yang dijalankan melalui enam inisiatif bertahap: stabilisasi ketersediaan, pengendalian throughput pada jam puncak, penyesuaian jam operasi, rekonfigurasi fasilitas yang ramah truk, penguatan kontrol kepatuhan dan keadilan layanan, serta pengembangan NFS yang berorientasi pada kebutuhan pengemudi.
PENGEMBANGAN MODEL DISTRIBUSI MATERIAL PASANG BARU BERBASIS INTEGRASI BIAYA TRANSPORTASI DAN SIMPAN DI PT PLN (PERSERO) UID LAMPUNG
Distribusi material pasang baru pada sektor ketenagalistrikan memerlukan sistem logistik yang efisien dan terstruktur untuk mendukung keandalan layanan kepada pelanggan. Di PT PLN (Persero) UID Lampung, distribusi material diselenggarakan melalui sistem dua eselon, yaitu aliran material dari pemasok ke gudang Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) dan selanjutnya ke Unit Layanan Pelanggan (ULP). Dalam praktik operasional, masih dijumpai ketidakseimbangan aliran material, yang ditunjukkan oleh rendahnya tingkat persediaan pada beberapa ULP meskipun stok di tingkat UP3 relatif tinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pengaturan frekuensi pengiriman dan alokasi distribusi belum direncanakan secara terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model distribusi material dua eselon yang mengintegrasikan biaya transportasi dan biaya penyimpanan, dengan frekuensi pengiriman dan alokasi distribusi sebagai variabel keputusan utama. Permasalahan ini diformulasikan menjadi model biner integer kudratik (Biner Integer Quadratik Programming/BIQP) dan disesuaikan dengan karakteristik operasional distribusi material pasang baru di PT PLN (Persero) UID Lampung. Model dirancang untuk meminimalkan total biaya logistik tanpa mengubah struktur jaringan distribusi yang bersifat tetap. Hasil uji coba menunjukkan bahwa penerapan model optimasi mampu menurunkan total biaya logistik dibandingkan dengan kondisi baseline. Implementasi model menghasilkan penghematan biaya sebesar Rp 15.423.833 atau setara dengan efisiensi 4,03% dari total biaya distribusi. Hasil uji sensitifitas stabil terhadap perubahan biaya simpan dan biaya transportasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaturan frekuensi pengiriman dan alokasi distribusi secara terintegrasi dapat meningkatkan efisiensi distribusi material pada sistem dua eselon serta mendukung pengambilan keputusan logistik yang lebih sistematis di lingkungan PLN.
PERANCANGAN KAPASITAS TANGKI TIMBUN, TARGET PERSEDIAAN, JUMLAH DAN JENIS KAPAL, SERTA ATURAN VOLUME KARGO DENGAN SIMULASI DINAMIKA SISTEM UNTUK PENINGKATAN NILAI PADA JARINGAN LOGISTIK SOLAR PT X
Industri migas menyumbang Rp500 triliun ke PDB Indonesia pada 2024, menjadikannya vital bagi perekonomian nasional. Salah satu produk kunci adalah BBM jenis solar dengan proyeksi permintaan meningkat hingga 45 juta kl di tahun 2040. PT X berperan penting dalam distribusi solar ke seluruh Indonesia, namun jaringan logistik yang menghubungkan kilang dan terminal menghadapi berbagai tantangan yang menurunkan mutu layanan dan inefisiensi biaya. Penelitian ini menganalisis empat proksi nilai pada jaringan logistik solar, yaitu (1) layanan pengiriman solar ke terminal PT X, (2) deviasi pelayaran, (3) waktu persiapan dan penyelesaian muat, serta (4) waktu persiapan dan penyelesaian bongkar. Tujuan penelitian adalah merancang model dinamika sistem untuk mengembangkan kebijakan kapasitas tangki timbun, target persediaan, jumlah dan jenis kapal, serta aturan volume kargo yang mampu mereduksi inefisiensi biaya logistik solar tanpa mengorbankan keterjaminan suplai solar yang tepat waktu, guna meningkatkan daya saing PT X. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik dinamika sistem untuk merepresentasikan interaksi dan efek umpan balik antara kebijakan kapasitas tangki timbun, target persediaan, jumlah dan jenis kapal, serta aturan volume kargo secara dinamis. Model disusun berdasarkan pemetaan rantai nilai, dikembangkan dalam bentuk causal loop diagram dan stock-flow diagram, diverifikasi, divalidasi dan disimulasikan. Setelah simulasi skenario baseline, dilakukan analisis sensitivitas dan perancangan skenario intervensi kebijakan. Lima variabel keputusan yang diuji adalah Desired Parcel Size, Ship Tonnage, Available Ships, Beta in Safety Stock, dan Max Terminal Tank Capacity di Terminal C. Dari 24 skenario yang disimulasikan, skenario 16 terpilih sebagai skenario terbaik berdasarkan penilaian MCDA. Skenario 16 menerapkan kebijakan Desired Parcel Size sesuai kebijakan usulan, penggunaan kapal jenis MR berkapasitas 36.000 kl, nilai Beta in Safety Stock sebesar 0,5, jumlah armada kapal 7 unit, serta penambahan kapasitas tangki timbun Terminal C sebesar 16.000 kl. Skenario ini menghasilkan penurunan Total Terminal Shortage sekitar 69% dibandingkan baseline, penurunan Total Headroom Failure sekitar 80%, serta penurunan Total Shipments from Other Refinery sekitar 10%, dengan Total Ship Shortage sebesar 1,86. Dengan demikian, model yang dihasilkan berfungsi sebagai alat bantu pengambilan keputusan strategis untuk meningkatkan daya saing PT X.
PENCIPTAAN NILAI DALAM RANTAI PASOK BERAS NASIONAL MELALUI PENGEMBANGAN MODEL TRANSPORTASI MULTIMODA UNTUK OPTIMASI BIAYA LOGISTIK DENGAN MIXED INTEGER LINEAR PROGRAMMING
Beras merupakan komoditas pangan strategis di Indonesia dengan tingkat konsumsi yang sangat tinggi dan peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan antarwilayah. Meskipun produksi nasional secara agregat mencukupi, ketidakseimbangan spasial antara wilayah surplus dan defisit menyebabkan kebutuhan distribusi lintas wilayah yang intensif. Permasalahan utama dalam sistem distribusi beras nasional adalah tingginya biaya logistik yang mencapai sekitar 31% dari margin perdagangan dan pengangkutan (MPP), yang sebagian besar dipicu oleh dominasi moda transportasi darat jarak jauh serta belum optimalnya pemanfaatan sistem transportasi multimoda. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan nilai dalam rantai nilai beras nasional dengan efisiensi distribusi melalui pengembangan model transportasi multimoda berbasis Mixed Integer Linear Programming (MILP). Model dirancang untuk meminimalkan total biaya logistik sebagai indikator efisiensi distribusi dengan mengintegrasikan keputusan pemilihan moda, penentuan rute, alokasi pasokan antarprovinsi, transshipment, serta penanganan persediaan dalam satu kerangka optimasi. Struktur biaya logistik mengacu pada kerangka ongkos logistik nasional Saragih (2011) dan jaringan multimoda dari Indriastiwi dkk. (2023), yang disesuaikan dengan karakteristik distribusi beras Indonesia. Analisis dilakukan dalam horizon multi-periode menggunakan pendekatan Net Present Value (NPV) untuk menangkap dinamika distribusi dalam jangka menengah, serta divalidasi melalui perbandingan dengan data MPP nasional. Hasil optimasi menunjukkan bahwa konfigurasi distribusi multimoda yang diusulkan mampu meningkatkan efisiensi sistem distribusi secara signifikan. Total biaya logistik menurun sebesar Rp384/kg atau sekitar 43,87% dibandingkan kondisi eksisting, dengan penghematan terbesar berasal dari komponen biaya transportasi. Selain itu, pola aliran distribusi antarprovinsi mengalami rasionalisasi melalui pengurangan jumlah rute lintas wilayah, konsolidasi pasokan dari provinsi terdekat, serta pengurangan ketergantungan pada rute lintas pulau jarak jauh. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan dan pemanfaatan sistem transportasi multimoda berpotensi menjadi instrumen kunci dalam menurunkan biaya dan meningkatkan efisiensi distribusi beras nasional.
MENTRANSFORMASI PERUSAHAAN NUSAPOST MENJADI PUSAT LOGISTIK: STRATEGI FINANSIAL UNTUK PROFITABILITAS DAN PERTUMBUHAN
Logistik merupakan sektor strategis yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik nasional menjadi 8% dari PDB. Mengikuti agenda transformasi BUMN, NusaPost ditunjuk menjadi perusahaan induk (holding) logistik angkutan jalan. Peran baru ini mendorong transformasi internal NusaPost dari perusahaan pos menjadi orkestrator logistik 4PL, yang mengelola arus logistic, modal, dan informasi. Namun, NusaPost menghadapi kendala akibat keterbatasan regulasi dalam penyediaan layanan keuangan seperti pemberian pinjaman langsung serta keterbatasan modal internal. Studi ini menunjukan pola inefisiensi operasional NusaPost pada proyek berskala besar yang menciptakan beban kas riil tinggi dan membakar kas internal sebesar Rp4,3 miliar. Kondisi ini menyebabkan masalah likuiditas dan kesenjangan pendanaan (funding gap) sebesar Rp39 miliar, hingga menghambat eksekusi proyek-proyek potensial. Untuk mengatasi masalah ini, studi mengusulkan adopsi peran Logistics Financier guna mengaktifkan mekanisme Supply Chain Finance (SCF)—khususnya Purchase Order Finance dan Reverse Factoring—untuk menjembatani kesenjangan pendanaan dan mengoptimalkan modal kerja. Studi ini menggunakan mixed-method dan pendekatan simulasi yang dikombinasikan dengan analisis sensitivitas dan skenario, mendemonstrasikan bahwa implementasi SCF secara holistik (skenario B) tidak hanya membuka pendanaan eksternal, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan. Simulasi menunjukan ekspektasi laba bersih sebesar Rp12,8 miliar dengan marjin laba bersih lebih tinggi dibandingkan skenario tanpa efisiensi modal kerja. Namun, model menunjukan sensitivitas yang tinggi terhadap profitabilitas operasional. Meskipun implementasi SCF layak secara finansial, strategi ini memiliki potensi kerugian sebesar Rp800 juta jiga marjin proyek tidak dijaga dengan ketat. Studi menyimpulkan bahwa meskipun SCF adalah penggerak (enabler) yang kuat, keberhasilannya sangat bergantung pada disiplin operasional yang ketat dan prioritas segmen yang strategis.
PERANCANGAN SKEMA PURCHASING CONSORTIUM LOGISTIC PARTNER PT X UNTUK EFISIENSI BIAYA PENGADAAN BARANG CONSUMABLES
PT X sebagai perusahaan otomotif di Indonesia menjalankan sistem logistik milk run bersama sembilan logistics partner (LP). Dalam praktik eksisting, setiap LP melakukan pengadaan consumables seperti ban dan oli secara individual, sementara biaya ditagihkan kepada PT X dalam bentuk standar Rp/km. Mekanisme ini membuat biaya bersifat langsung variabel terhadap jarak tempuh logistik, tetapi daya tawar pembelian menjadi rendah karena volume yang terfragmentasi. Sebaliknya, PT X Asia di Thailand telah menerapkan fuel bundling scheme dengan mengonsolidasikan kebutuhan LP, sehingga mampu memperoleh harga lebih efisien. Penelitian ini bertujuan merancang model Purchasing Consortium (PC) yang sesuai dengan kondisi Indonesia untuk meningkatkan efisiensi biaya pengadaan consumables. Metodologi yang digunakan meliputi spend analysis dan diagram Pareto untuk menentukan prioritas, regresi linear untuk mengidentifikasi hubungan produksi dengan kilometer logistik, serta metode Holt–Winters exponential smoothing untuk meramalkan kebutuhan hingga 2030. Skema PC kemudian diuji dengan mekanisme Common Replenishment Epoch (CRE), yaitu penjadwalan pemesanan bersama antar-LP agar total volume terkonsolidasi dan syarat diskon atau minimum order quantity dapat tercapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi PC dan CRE mampu memberikan penghematan biaya secara konsisten. Untuk Goodrich EMSA, penghematan tahunan berada pada kisaran Rp814–840 juta (4,81–4,84%), sedangkan untuk Oil Machine sebesar Rp404– 409 juta (4,63–4,69%). Persentase penghematan relatif stabil selama periode 2026–2030. Hal ini menegaskan bahwa skema PC dengan dukungan mekanisme CRE berpotensi menjadi strategi efisiensi biaya yang berkelanjutan serta dapat mendukung daya saing operasional PT X dalam jangka menengah.
PENGEMBANGAN MODEL INTEGRASI PERSEDIAAN DAN PENJEMPUTAN PADA SISTEM MULTI-SUPPLIER SINGLE-MANUFACTURER DENGAN FREKUENSI TIDAK SERAGAM
Inbound Inventory Routing Problem (IIRP) merupakan permasalahan pengambilan keputusan terintegrasi antara pengelolaan persediaan dan perencanaan rute penjemputan, yang bertujuan meminimalkan total biaya sistem. Permasalahan ini sangat relevan dalam industri otomotif Indonesia yang didominasi oleh struktur pengadaan berbasis outsourcing, yaitu komponen dijemput dari berbagai supplier menggunakan sistem milk run. Seiring meningkatnya kompleksitas dan kebutuhan efisiensi, filosofi Just-in-Time (JIT) menjadi pendekatan strategis yang mendorong pengiriman dalam jumlah kecil dan frekuensi tinggi. Dalam konteks ini, pengaturan frekuensi penjemputan menjadi kunci, karena secara langsung memengaruhi biaya simpan, biaya transportasi, serta kontinuitas kebutuhan komponen. Penelitian ini bertujuan mengembangkan Model Integrasi Persediaan dan Penjemputan pada Sistem Multi-Supplier Single Manufacturer dengan Frekuensi Tidak Seragam. Model yang dibangun meminimalkan total biaya yang mencakup biaya transportasi, pemesanan, dan penyimpanan, dengan mempertimbangkan kendala kapasitas kendaraan, waktu tempuh, dan frekuensi sebagai variabel keputusan utama. Penyelesaian dilakukan secara matematis dengan LINGO untuk skala kecil, serta dua algoritma metaheuristik untuk skala besar, yaitu Random Search–Genetic Algorithm (RS-GA) dan Nested Genetic Algorithm (GA-GA). iii Hasil pengujian menunjukkan bahwa model frekuensi tidak seragam memberikan biaya total yang lebih rendah dibandingkan pendekatan frekuensi seragam. Hasil uji perbandingan performa dan statistik menunjukan bahwa algoritma GA-GA menghasilkan solusi yang lebih baik dibandingkan RS-GA dan metode eksak LINGO. Berdasarkan hasil uji paired t-test, terdapat perbedaan signifikan dalam nilai fungsi objektif. Namun, ketika waktu komputasi antara kedua algoritma disamakan, RS-GA mampu menghasilkan solusi dengan biaya lebih rendah pada sebagian besar skenario pengujian. Selain itu, RS-GA tetap lebih efisien dari sisi waktu komputasi.
PERENCANAAN SKENARIO BISNIS KARGO UDARA DI INDONESIA, STUDI KASUS PT CARDIG EXPRESS NUSANTARA
Sektor kargo udara Indonesia menghadapi ketidakpastian strategis yang signifikan, didorong oleh volatilitas harga bahan bakar, dinamika regulasi yang terus berubah, fluktuasi permintaan pasca pandemi, serta percepatan kemajuan teknologi. Kondisi ini menimbulkan tantangan dalam perencanaan jangka panjang, khususnya bagi perusahaan logistik yang beroperasi di pasar negara berkembang. Studi ini bertujuan mengembangkan suatu kerangka strategis melalui pendekatan scenario planning guna membantu PT Cardig Express Nusantara mengantisipasi dan beradaptasi terhadap berbagai kemungkinan masa depan. Melalui metode eksploratif kualitatif, data dikumpulkan dari kuesioner pemangku kepentingan, wawancara dengan jajaran manajemen, studi pustaka, serta analisis data sekunder. Penelitian ini menggunakan sejumlah alat analisis: PESTEL untuk menilai faktor makro lingkungan, Porter’s Five Forces untuk menganalisis tingkat persaingan industri, VRIO untuk mengevaluasi kapabilitas internal, dan SWOT untuk menyatukan wawasan strategis utama. Gagasan pokok dalam studi ini adalah bahwa scenario planning dapat mendukung pengambil keputusan dalam menghadapi ketidakpastian berdampak tinggi dan menyelaraskan strategi jangka panjang. Dua ketidakpastian utama (volatilitas harga bahan bakar dan perubahan regulasi) diidentifikasi sebagai kekuatan paling berpengaruh dalam membentuk masa depan industri kargo udara Indonesia. Berdasarkan itu, dikembangkan empat skenario: Seamless Skies, Predictable Cost, Turbulent Skies, Enabling Reforms, Stable Ground, Regulatory Headwinds, dan Perfect Storm: High Costs, High Hurdles. Setiap skenario memiliki implikasi spesifik terhadap prioritas investasi, model operasional, dan keterlibatan kebijakan. Strategi adaptif dirumuskan untuk masingmasing skenario, dengan menekankan fleksibilitas operasional, transformasi digital, kesesuaian regulasi, dan inovasi layanan. Penelitian ini memperluas penerapan scenario planning dalam logistik di pasar negara berkembang, serta menyediakan kerangka strategis bagi perusahaan kargo udara di Indonesia untuk mengantisipasi perubahan, memitigasi risiko, dan menjaga keunggulan kompetitif di tengah ketidakpastian
APLIKASI LEAN METHODOLOGY PADA LOGISTIC: STUDI KASUS OPTIMISASI TRUK LOGISTIK DI PT SUMARNA TBK. PABRIK JAWA BARAT
Sumarna merupakan salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia dengan produksi rokok lebih dari 80 miliar batang rokok per tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, PT Sumarna mengalami penurunan laba akibat fenomena downtrading dengan penurunan laba terbesar sebesar 39,39% pada tahun 2023 dibandingkan dengan puncaknya pada tahun 2016. Untuk mempertahankan dan meningkatkan laba, ada dua strategi yang dapat diambil oleh PT. Sumarna: 1) Meningkatkan Pendapatan Penjualan 2) Pengurangan Biaya dari kegiatan operasional. Factory Logistic merupakan salah satu departemen di PT. Sumarna yang menjadi sasaran pengurangan biaya. Dari analisis struktur biaya yang dilakukan pada tahun 2023, Transportasi Internal merupakan kontributor biaya utama di departemen Factory Logistic. Target pengurangan biaya sebesar 27% dari operasional saat ini diarahkan oleh Dewan Direksi PT. Sumarna untuk mempertahankan biaya tetap pada tahun 2025. Secara matematis pengurangan 27% dapat diterjemahkan menjadi pengurangan tiga (3) truk internal dari sebelas (11) truk internal yang digunakan untuk mengangkut bahan baku dan barang jadi dari gudang yang terletak di Lot 17 (Area Gudang) ke fasilitas produksi di Lot 41 dan sebaliknya. Namun, penghentian langsung dan pengurangan unit truk tanpa tinjauan dan perhitungan menyeluruh dapat menyebabkan penurunan tingkat layanan dan berisiko mengakibatkan hilangnya kapasitas yang lebih besar. Kombinasi metode Value Stream Mapping, Fill Rate Analysis, & Vehicle Route Mapping digunakan untuk mengidentifikasi kerugian dan meningkatkan efisiensi proses. Value Stream Mapping digunakan untuk menghilangkan aktivitas NonNilai Tambah (NVA) untuk mengurangi penggunaan waktu truk, Fill Rate Analysis digunakan untuk mengoptimalkan tingkat pengisian truk untuk mengurangi total perjalanan yang diperlukan, dan Vehicle Route Mapping digunakan untuk menentukan rute jarak terpendek untuk meminimalkan waktu perjalanan dan pada akhirnya berkontribusi pada penurunan penggunaan waktu truk. Berdasarkan analisis NVA yang dilakukan dalam penelitian ini, diketahui penggunaan truk saat ini adalah 69,1%. Dengan menggabungkan metodologi LEAN untuk perbaikan proses kerja, optimalisasi tingkat pengisian truk, dan pemetaan rute kendaraan, jumlah truk internal dapat dikurangi dari 11 menjadi 6 unit di PT Sumarna, yang berkontribusi pada efisiensi biaya sebesar 39% dari baseline. Kekuatan kombinasi beberapa metodologi LEAN yang sesuai dalam operasi logistik disorot dan dibahas dalam studi ini. Studi ini menawarkan solusi bagi manajemen untuk meningkatkan efisiensi proses logistik, terutama aktivitas transportasi internal yang melibatkan beberapa aktivitas seperti bongkar muat, parkir/keluar parkir, administrasi, dan perjalanan material dan barang antar pusat produksi/gedung yang umum dalam operasional harian pabrik manufaktur. Studi ini juga dapat berfungsi sebagai alat benchmarking untuk industri dengan proses dan pengaturan pabrik serupa yang memerlukan transportasi internal untuk memindahkan material antar gedung yang tersebar.
ANALISIS KOMPOSISI STRATEGI INVESTASI PADA PENYEWAAN FORKLIFT ELEKTRIK DAN FORKLIFT DIESEL (STUDI KASUS PT SPOONLIFT)
Perubahan iklim global dan regulasi internasional seperti Perjanjian Paris mendorong perusahaan logistik untuk beralih ke teknologi rendah emisi, termasuk forklift listrik. PT SPOONLIFT, perusahaan jasa transportasi dan outsourcing, menghadapi tantangan dalam menentukan komposisi investasi yang tepat antara forklift listrik dan diesel. Di tengah tekanan adopsi forklift listrik, perusahaan masih mempertimbangkan keterbatasan infrastruktur, biaya awal yang tinggi, dan ketidakpastian pasar. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi investasi optimal untuk penjualan dan penyewaan forklift dengan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP). Metode yang digunakan adalah mixed-method, yakni wawancara semi-terstruktur dengan lima pemangku kepentingan utama dan perhitungan kuantitatif AHP. Lima kriteria utama yang dianalisis adalah: dampak lingkungan, efisiensi ekonomi, kinerja operasional, kepatuhan terhadap regulasi, dan preferensi pasar. Hasil AHP menunjukkan efisiensi ekonomi sebagai kriteria paling dominan (52,3%), diikuti oleh kinerja operasional (16,3%) dan dampak lingkungan (15,2%). Alternatif investasi terbaik adalah komposisi 65,78% forklift listrik dan 34,22% forklift diesel. Ini mencerminkan strategi transisi bertahap menuju armada ramah lingkungan, sambil tetap mempertimbangkan kesiapan pasar dan infrastruktur. Penelitian ini memberi kontribusi bagi pengambilan keputusan strategis di sektor logistik serta mendorong pentingnya data dan partisipasi stakeholder. Selain itu, studi ini menyarankan pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur EV di luar Jawa untuk memperluas adopsi industri. Riset lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi aspek finansial seperti NPV dan IRR guna melengkapi analisis kelayakan investasi.