📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

PENGEMBANGAN DAN EVALUASI SISTEM MANAJEMEN ENERGI BERBASIS MICROSERVICE PADA SMART MICROGRID

Pemanfaatan energi baru terbarukan pada smart microgrid menuntut Sistem Manajemen Energi (EMS) yang andal dan responsif, sementara arsitektur EMS monolitik konvensional yang bersifat sinkron rentan terhadap latensi komputasi dan kegagalan tunggal, sehingga menghambat respons sistem terhadap fluktuasi tarif dinamis dan eksekusi kendali secara seketika. Tugas akhir ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi EMS berbasis arsitektur microservice dengan komunikasi event-driven untuk mereduksi latensi transmisi data, memitigasi risiko kegagalan tunggal, serta meningkatkan akurasi sinkronisasi data dan ketepatan evaluasi keekonomian pemanfaatan energi terbarukan. Sistem diimplementasikan sebagai sebelas kontainer Docker yang terisolasi, data inverter hibrid diakuisisi melalui protokol Modbus TCP/IP dan didistribusikan antar-layanan secara asinkronus melalui message broker MQTT, dengan setiap instruksi kendali divalidasi melalui tampilan virtual sebelum diterapkan secara semi-otomatis (human-in-the-loop). Hasil pengujian menunjukkan latensi segmen kendali rata-rata 2,540 ms dan segmen pemantauan 42,247 ms, jauh di bawah batas toleransi ETSI, sehingga arsitektur layak untuk operasi waktu nyata. Kegagalan satu kontainer tidak merambat ke layanan lain dan pulih secara otonom, sinkronisasi data terbukti akurat dengan deviasi mendekati nol, dan efisiensi inverter rata-rata 95,53%. Evaluasi keekonomian menghasilkan LCOE sebesar Rp12.144/kWh, Renewable Fraction 28,07%, reduksi emisi karbon 104,31 kg ????????2 selama periode observasi, dan Energy Storage System Autonomy (ESSA) sebesar 21,382 jam. Penelitian ini menghadirkan kerangka EMS terdistribusi yang andal dan modular sebagai fondasi pengembangan kendali energi adaptif pada smart microgrid.

2026
👤 Penulis: Kayla Avrilica
🏷️ Microservice 🏷️ Smart Microgrid 🏷️ Manajemen Energi Terbarukan

STUDI POTENSI ENERGI SURYA MASA DEPAN BERDASARKAN SKENARIO PERUBAHAN IKLIM MULTI MODEL CMIP6 DI INDONESIA

Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar berkat letak geografisnya di daerah khatulistiwa dengan intensitas penyinaran matahari yang tinggi dan relatif stabil sepanjang tahun. Hal ini menjadikan energi surya sebagai sumber energi terbarukan kunci untuk mendukung target emisi nol bersih pada 2060. Pemanfaatannya dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung bauran energi nasional. Namun, pengembangan energi surya menghadapi tantangan berupa ketidakpastian akibat variabilitas iklim jangka panjang. Perubahan suhu, radiasi matahari, dan kecepatan angin akibat pemanasan global dapat memengaruhi produksi listrik dari sistem photovoltaic (PV), sehingga perlu dipertimbangkan dalam perencanaan investasi.Studi ini mengevaluasi proyeksi potensi energi surya di Indonesia untuk periode 2030–2060 menggunakan tiga skenario emisi Coupled Model Intercomparison Project phase 6th (CMIP6): Shared Socioeconomic Pathways (SSP)1-2.6 (emisi rendah), SSP2-4.5 (emisi sedang), dan SSP5-8.5 (emisi tinggi), serta melihat bagaimana perubahan potensi PV di masa depan jika dibandingkan dengan periode historis (Tahun 1980-2014). Lima model iklim global CMIP6 digunakan untuk menganalisis proyeksi variabel iklim utama yang memengaruhi potensi energi surya, seperti suhu udara, radiasi matahari permukaan, dan kecepatan angin. Analisis ini tidak hanya melihat nilai rata-rata potensi energi surya di masa depan, tetapi juga ketidakpastian antar model dan antar skenario, sehingga memberikan gambaran lebih realistis mengenai potensi pengembangan energi surya di berbagai wilayah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi lebih tinggi dan lebih konsisten antarskenario, sementara wilayah lain menunjukkan ketidakpastian lebih besar. Analisis probabilitas antar model digunakan untuk menilai tingkat kepercayaan proyeksi, membantu pengambil kebijakan dan investor menyusun strategi pengembangan energi surya yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan tahan terhadap risiko perubahan iklim demi mendukung transisi energi nasional.

2025
👤 Penulis: Farah Rizki Octavia
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Iklim

ANALISIS LIFE CYCLE ASESSMENT PRODUKSI HIDROGEN DI PLTGU PRIOK BLOK 3: PERBANDINGAN EMISI GRK PADA SKENARIO LISTRIK FOSIL, HIBRID, DAN SURYA

Bahan bakar fosil masih menjadi sumber energi yang dominan untuk kegiatan sosial-ekonomi global, tetapi eksploitasi yang terus menerus mendorong penipisan sumber daya dan meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK), sehingga memperparah perubahan iklim. Untuk mencapai target netralitas karbon dalam Perjanjian Paris pada tahun 2050-dan membatasi kenaikan suhu di bawah 2°C, dengan upaya menuju 1,5°C-membutuhkan pergeseran cepat ke pembawa energi rendah karbon. Hidrogen yang diproduksi melalui elektrolisis air yang ditenagai oleh listrik terbarukan telah muncul sebagai alternatif bahan bakar nol karbon terkemuka, terutama untuk sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi. Studi ini menggunakan pendekatan life cycle assessment (LCA) untuk mengevaluasi emisi gas rumah kaca dari tiga skenario produksi hidrogen di mana hidrogen digunakan sebagai bahan bakar kendaraan. Ketiga skenario tersebut adalah: (1) produksi hidrogen menggunakan listrik dari jaringan listrik konvensional berbasis bahan bakar fosil; (2) produksi hidrogen menggunakan listrik dari jaringan listrik campuran (teknologi turbin gas siklus gabungan dan fotovoltaik surya (PV)); dan (3) produksi hidrogen menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan (teknologi PV surya). Menggunakan OpenLCA dengan basis data ecoinvent, kami mengevaluasi emisi per kilogram hidrogen yang disalurkan sebagai bahan bakar kendaraan. Skenario yang sepenuhnya menggunakan tenaga surya menghasilkan nilai GWP terendah, mengurangi emisi daur hidup lebih dari 95% dibandingkan dengan skenario dasar berbasis jaringan listrik fosil. Skenario hibrida mencapai pengurangan emisi yang bersifat menengah, menunjukkan manfaat dari integrasi energi terbarukan meskipun hanya sebagian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan campuran listrik memiliki pengaruh dominan terhadap jejak lingkungan hidrogen elektrolitik. Temuan kuantitatif ini dapat menjadi panduan bagi pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan industri dalam merumuskan strategi implementasi energi terbarukan dan hidrogen yang efektif untuk mendukung transisi Indonesia dan dunia ke masa depan energi rendah karbon.

2025
👤 Penulis: Linda Putri Leksono
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Lingkungan

PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO RIORITA TIPE RUNOF RIVER, KABUPATEN KOLAKA UTARA, SULAWESI TENGGARA.

Kebutuhan energi listrik di Indonesia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan wilayah, sehingga mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan. Salah satunya adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) dengan sistem run of river. PLTM Riorita direncanakan di Kecamatan Pakue Utara, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan memanfaatkan debit banjir periode ulang 100 tahun sebesar 628,01 m³/s dan debit andalan 1,47 m³/s (67%). Bangunan utamanya berupa bendung tipe gergaji setinggi 3,27 m dan lebar 40 m, dilengkapi bangunan pembilas selebar total 4,5 m. Air dialirkan melalui intake selebar 1,5 m menuju saluran transisi berukuran 1,5 m × 0,96 m, side channel spillway 1,5 m × 0,98 m sepanjang 27 m, dan kantong lumpur sepanjang 147 m dengan kapasitas tampung tujuh hari. Aliran diteruskan ke bak penenang berukuran 8 m × 16 m, kemudian ke pipa pesat berdiameter 1,4 m sepanjang 2.373,20 m dengan percabangan berdiameter 1 m sepanjang 10 m. Air bertekanan menggerakkan dua turbin Francis (0,735 m³/s per turbin) lalu dialirkan kembali melalui saluran pembuang 2 m × 0,67 m. Dengan total headloss sebesar 2,195 m diperoleh net head 69,82 m yang menghasilkan daya maksimal 0,86 MW dan energi tahunan 5,91 GWh. Dari aspek ekonomi, biaya konstruksi diperkirakan sebesar Rp71,89 miliar dengan pendapatan sekitar Rp6,26 miliar per tahun, NPV Rp9,51 miliar, dan BCR 1,13. Hasil ini menunjukkan bahwa PLTM Riorita layak untuk mendukung penyediaan energi bersih berkelanjutan di Kabupaten Kolaka Utara.

2025
👤 Penulis: Naila Alfarafisha Zakiyarahman
🏷️ Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro 🏷️ Manajemen Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Ekonomi Pembangunan

SIMULASI GELOMBANG LAUT DI PANTAI BINUANGEUN, BANTEN

Gelombang tinggi yang umumnya disebabkan oleh angin dan siklon tropis dapat menjadi ancaman bagi wilayah pesisir Indonesia. Potensi gelombang di laut tidak hanya mencakup aspek risiko bencana, tetapi gelombang juga memiliki potensi besar dalam pemanfaatan energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik gelombang di perairan selatan Banten khususnya Binuangeun yang merupakan salah satu daerah dengan potensi gelombang tinggi pada tahun 2020 dengan menganalisis spektrum gelombang, probabilitas wind sea dan swell, serta sea state. Metode penelitian ini menggunakan model gelombang laut dengan perangkat lunak Simulating Wave Nearshore (SWAN) dengan data input angin, batimetri, dan data gelombang di open boundary. Simulasi penelitian ini berawal dari domain regional yang kemudian diperkecil resolusinya ke domain lokal dengan metode nested dan unstructured grid. Data yang dihasilkan model meliputi kecepatan dan arah angin, tinggi dan arah gelombang, beserta spektrum gelombang dengan variasi spasial dan temporal. Hasil analisis menunjukkan variasi pola angin mengikuti angin monsun di Indonesia dan pola tinggi gelombang menuju arah utara dengan ketinggian maksimum tercatat pada bulan Juli yang hampir mencapai 4 m. Gelombang di wilayah ini tercatat sebagai gelombang yang didominasi oleh swell dengan probabilitas kejadian swell di atas 90% setiap bulannya dengan nilai intensitas energi paling besar terjadi pada periode lebih dari 10 sekon. Karakteristik perairan (sea state) yang dikaji pada Pulau Deli memperlihatkan tinggi gelombang maksimum terjadi pada bulan Juli dengan probabilitas kejadian gelombang yang paling sering terjadi adalah ?? 3 – 3,25 m dan ?? 10 – 10,5 s dengan persentase distribusi 10,21%. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi dalam penelitian lebih lanjut terkait energi gelombang laut di wilayah ini.

2024
👤 Penulis: Amabel Zalfa Rienetza
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Gelombang Laut
💬