📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenKOMPOSISI DAN POTENSI SOIL SEED BANK PADA BERBAGAI FASE SUKSESI PASCAGANGGUAN DI HUTAN CAGAR ALAM GUNUNG PAPANDAYAN, GARUT
Soil seed bank merupakan cadangan benih yang tersimpan di dalam tanah dan berperan penting dalam proses regenerasi vegetasi serta pemulihan ekosistem setelah terjadi gangguan. Komposisi dan struktur soil seed bank dapat berubah sepanjang proses suksesi dan memengaruhi potensi regenerasi alami suatu ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi dan struktur komunitas soil seed bank komunitas soil seed bank serta hubungan antara soil seed bank dan vegetasi di atas tanah pada berbagai fase suksesi di Cagar Alam Papandayan. Penelitian dilakukan pada tiga tahap suksesi, yaitu belukar muda, belukar tua, dan hutan. Analisis soil seed bank dilakukan menggunakan metode ekstraksi dan germinasi, sedangkan vegetasi di atas tanah dianalisis berdasarkan inventarisasi spesies pada masing-masing zona. Struktur komunitas dianalisis menggunakan densitas biji, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), dan indeks dominansi, sedangkan hubungan antara vegetasi dan soil seed bank dianalisis menggunakan indeks kesamaan Sørensen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soil seed bank terdiri atas 22 spesies, yang didominasi oleh spesies pionir (19 spesies). Kelompok herba-perdu mendominasi soil seed bank baik berdasarkan jumlah spesies maupun densitas biji pada seluruh tahap suksesi. Densitas biji tertinggi ditemukan pada zona belukar muda dan belukar tua, sedangkan zona hutan memiliki densitas biji yang lebih rendah. Komposisi densitas biji didominasi oleh famili Asteraceae pada seluruh tahap suksesi. Nilai indeks keanekaragaman meningkat seiring bertambahnya tahapan suksesi. Dari total 34 spesies vegetasi yang ditemukan, Sebanyak 11 dari total 34 spesies vegetasi juga ditemukan dalam soil seed bank. Nilai indeks Sørensen menunjukkan kesamaan vegetasi dan soil seed bank yang rendah hingga sedang serta cenderung menurun dari belukar muda menuju hutan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa soil seed bank di Cagar Alam Papandayan masih didominasi oleh spesies pionir dan hanya merepresentasikan sebagian kecil komunitas vegetasi di atas tanah.
ANALISIS PERBANDINGAN STOK KARBON PADA BERBAGAI TUTUPAN LAHAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI MIKROKLIMAT SERTA TOPOGRAFI DI TAMAN BURU MASIGIT KAREUMBI, SUMEDANG, JAWA BARAT
Stok karbon hutan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassa vegetasi dan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan stok karbon pada berbagai tutupan lahan serta mengkaji hubungan stok karbon dengan faktor mikroklimat dan topografi di Taman Buru Masigit Kareumbi. Penelitian dilakukan pada tiga tipe tutupan lahan, yaitu hutan alam, hutan sekunder, dan zona penyangga (buffer). Variabel mikroklimat yang diamati meliputi suhu udara, intensitas cahaya, kelembapan udara, kelembapan tanah, dan pH tanah, sedangkan faktor topografi meliputi elevasi dan kemiringan lereng (slope). Data dianalisis menggunakan uji ANOVA, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stok karbon berbeda nyata antar tutupan lahan (p < 0,05), dengan nilai tertinggi pada hutan sekunder sebesar 400,36 ton/ha, diikuti hutan alam sebesar 268,12 ton/ha, dan zona penyangga (buffer) sebesar 153,64 ton/ha. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa struktur tegakan dan komposisi vegetasi berperan penting dalam menentukan kapasitas penyimpanan karbon. Karakteristik mikroklimat bervariasi antar tutupan lahan, sedangkan variasi topografi relatif kecil. Analisis hubungan menunjukkan bahwa suhu udara memiliki hubungan negatif dan signifikan terhadap stok karbon (r = -0,45; p < 0,05; R² = 0,20), yang menunjukkan bahwa peningkatan suhu cenderung diikuti oleh penurunan stok karbon. Sebaliknya, intensitas cahaya, kelembapan udara, kelembapan tanah, pH tanah, elevasi, dan kemiringan lereng (slope) menunjukkan hubungan yang lemah dan umumnya tidak signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi stok karbon lebih dipengaruhi oleh karakteristik vegetasi dibandingkan faktor mikroklimat dan topografi.
INVENTARISASI POTENSI REGENERAN ALAMI PADA AREAL TERINVASI CALLIANDRA SPP. DI KAWASAN BLOK CINANJUNG HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG GEULIS ITB, PROVINSI JAWA BARAT
KHDTK Gunung Geulis merupakan hutan lindung yang berfungsi sebagai penyangga sistem hidrologi dan kesuburan tanah. Namun, keberadaan kaliandra (Calliandra spp.) yang bersifat invasif di Blok Cinanjung mengancam keberlanjutan vegetasi asli. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi vegetasi yang terinvasi Calliandra spp. serta mengidentifikasi spesies pohon dan anakan alam di area tersebut. Penelitian dilakukan pada April–Agustus 2025 menggunakan 10 Plot Sampel Permanen (PSP) masing-masing berukuran 20 x 20 m atau dengan total luas amatan 0,4 ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Calliandra spp. mendominasi area dengan rata-rata tutupan mencapai 71%. Inventarisasi menemukan 9 spesies anakan alam, di antaranya Puspa (Schima wallichii), Tisuk (Hibiscus macrophyllus), dan Mahoni (Swietenia macrophylla), dengan rata-rata kerapatan 0,71 individu/m². Meski potensi regenerasi alami masuk kategori sedang, keberadaan pohon dewasa (DBH > 10 cm) sangat terbatas dan hanya ditemukan pada 6 dari 10 plot dengan rata-rata DBH 26 cm. Kondisi ini menunjukkan struktur tegakan yang jarang, di mana dominansi kaliandra menghambat pertumbuhan jenis lokal. Penelitian menyimpulkan bahwa invasi kaliandra mengancam suksesi alami di Gunung Geulis. Diperlukan tindakan pengendalian berupa penebangan selektif, restorasi vegetasi asli secara bertahap, serta pemantauan berkelanjutan untuk menjaga stabilitas ekosistem.
PENDEKATAN MULTIREGRESI INDEKS VEGETASI UNTUK PENDUGAAN STOK KARBON
Dalam upaya menekan laju pemanasan Global, terdapat beberapa alternatif yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah mengoptimalkan fungsi ekosistem hutan sebagai penyerap gas CO2. Hutan berperan penting dalam menyerap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya dalam ekosistem hutan. Telah dipahami bahwa 80% karbon (C) terestrial tersimpan di dalam hutan dan sekitar 40% di dalam tanah. Kegiatan-kegiatan explorasi dan eksploitasi ekosistem hutan seperti konversi, deforestasi, degradasi hutan, dan reforestasi dapat mengubah jenis penutupan lahan dan berpotensi mengubah komposisi biomasa terrestrial dan bawah tanah. Karena itu dibutuhkan informasi yang cukup akurat untuk mengestimasi stok karbon yang tersimpan pada biomasa hutan sebagai informasi yang dapat menjelaskan daya serap karbon oleh hutan tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan pendugaan cadangan karbon dengan pendekatan indeks vegetasi menggunakan Citra Satelit LANDSAT 5 TM yang mencakup sebagian wilayah Jawa Barat, Indonesia. Citra satelit yang digunakan direkam pada tangal 2 Juli 2005 dengan pengukuran data cadangan karbon yang dilakukan dari bulan Juli 2008 – Agustus 2008. Cadangan karbon di dekati dengan persamaan multiregresi persamaan linier dan exponential. Hasil perhitungan dari persamaan linier berupa Y=102.135*WI-295.647*NDVI-23 dengan R-square adalah 0.78 dan hasil perhitungan persamaan exponential berupa Y = 0.192*(𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒(0.394 𝑥 𝑆𝑆𝑆𝑆) 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒(1.114 𝑥 𝑊𝑊𝑊𝑊)+ 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒(5.405 𝑥 𝑁𝑁𝑁𝑁𝑊𝑊𝑊𝑊)) dengan nilai korelasi (R2)-nya adalah 0.865. Hasil studi juga menunjukan bahwa dengan mengkombinasikan beberapa variabel (multivariabel) indeks vegetasi dengan persamaan linier, menghasilkan peningkatan nilai korelasi yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan pengestimasian cadangan cadangan karbon menggunakan satu variabel indeks vegetasi.
PEMODELAN PRODUKTIVITAS GETAH PINUS MERKUSII BERDASARKAN KARAKTERISTIK MORFOMETRIK POHON DI RPH BOJONG, BKPH GUNUNG HALU, KPH BANDUNG SELATAN, PERUM PERHUTANI DIVISI REGIONAL JAWA BARAT DAN BANTEN
Produktivitas getah Pinus merkusii memiliki peran strategis dalam mendukung kontribusi hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Indonesia. Namun, variasi produktivitas antar individu pada tegakan dengan kondisi ekologis serupa menunjukkan perlunya pendekatan prediktif berbasis karakteristik pohon. Penelitian ini bertujuan menmbuat model pendugaan produktivitas getah berdasarkan parameter morfometrik pohon di RPH Bojong, BKPH Gunung Halu, KPH Bandung Selatan. Data diperoleh dari 151 pohon sampel melalui pengukuran diameter setinggi dada (DBH), tinggi pohon (TP), tinggi tajuk (TJ), lebar tajuk (LJ), dan hasil penyadapan getah. Analisis dilakukan dengan regresi linier berganda menggunakan metode Backward Stepwise Elimination (BSE), serta evaluasi performa model melalui Repeated Stratified Holdout dengan indikator Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), dan Normalized Root Mean Square Error (NRMSE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa DBH dan TP merupakan variabel prediktor dominan dengan kontribusi signifikan terhadap variasi produktivitas getah pinus (adjusted R² = 64,31%). Model terbaik ditentukan berdasarkan prinsip parsimoni dengan dua variabel (DBH dan TP) dan menghasilkan performa prediktif yang robust (RMSE = 336,53 g; NRMSE = 14%). Hasil penelitian ini men/unjukkan bahwa kombinasi parameter morfometrik pohon (DBH dan TP) dapat digunakan untuk mendukung strategi pengelolaan hutan pinus secara efisien. Lebih lanjut hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas getah pinus dan memperkuat kontribusi ekonomi hutan pinus di Indonesia.
ADAPTASI MORFOLOGI SPESIES POHON ASLI DI AREA PASCAKEBAKARAN, BLOK MUNJUL MASIGIT, TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI
Taman Nasional Gunung Ciremai, khususnya Blok Munjul Masigit, menghadapi tantangan pengelolaan berupa kebakaran hutan berulang. Untuk mendukung tujuan konservasi, dibutuhkan rehabilitasi hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman dan strategi adaptasi morfologi spesies pohon asli di area pascakebakaran. Studi dilakukan pada area seluas 141,45 ha yang dibagi menjadi 3 area, yaitu hutan alam submontana (HA), Calliandra calothyrsus (KA), serta ilalang dan belukar (IB). Data dikumpulkan menggunakan metode purposive sampling berjumlah 22 plot. Digunakan 5 indeks diversitas serta 8 variabel morfologi. Spesies di area IB dominan menunjukkan kemampuan bertunas dan permukaan daun glossy. Sementara, spesies di area KA dan HA menunjukkan kesamaan morfologi yang dominan menunjukkan permukaan daun glossy, tekstur daun smooth, dan memiliki drip tips. Pada rata-rata luas daun (LA) dan ketebalan daun (LT), spesies di area IB memiliki LA yang lebih kecil dan LT yang lebih tebal dibandingkan area KA dan HA. Sedangkan, spesies di area KA memiliki LA dan LT yang lebih besar dibandingkan spesies di area HA, tetapi nilainya berdekatan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada keanekaragaman komunitas spesies pohon asli di area IB yang bernilai lebih kecil dengan area KA dan HA dalam kedua kelompok tingkatan hidup. Di sisi lain, keanekaragaman di area KA tidak berbeda signifikan dengan area HA pada kedua kelompok tingkatan hidup. Secara keseluruhan, sebanyak 8 spesies menunjukkan strategi adaptasi resisters dan resprouters, 3 spesies memiliki strategi resisters, 21 spesies memiliki strategi resprouters, dan 15 spesies merupakan avoiders. Direkomendasikan 14 spesies pohon asli untuk rehabilitasi yang ditentukan berdasarkan strategi adaptasinya maupun berdasarkan bentuk morfologinya.