π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenANALISIS FAKTOR PENGHAMBAT SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI GEDUNG (STUDI KASUS DI KONTRAKTOR SWASTA X)
Sektor konstruksi merupakan salah satu kontributor utama kecelakaan kerja di Indonesia, dengan tingkat kecelakaan mencapai 31,9% pada tahun 2023. Meskipun pemerintah telah menerbitkan regulasi Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) melalui Permen PUPR No. 10 Tahun 2021, efektivitas penerapannya pada sektor swasta masih menghadapi tantangan signifikan dibandingkan sektor BUMN. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penghambat utama penerapan SMKK pada proyek gedung yang dikerjakan oleh kontraktor swasta PT X di wilayah Jabodetabek. Metodologi yang digunakan adalah metode campuran (mixed methods). Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui kuesioner kepada enam responden kunci (Site Manager, HSE Officer, dan Supervisor) yang dianalisis menggunakan metode Relative Importance Index (RII). Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara terstruktur untuk memvalidasi data dan memberikan pemahaman mendalam mengenai kondisi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama berasal dari interaksi tiga pihak kunci. Dari sisi pekerja, faktor penghambat yang paling dominan adalah rendahnya pemahaman dan kesadaran terhadap K3 (RII 0.667) serta rendahnya komitmen dalam mengikuti program pembinaan (RII 0.567). Dari sisi kontraktor, hambatan utama yang ditemukan adalah kurang tegasnya penegakkan hukum atau pemberian sanksi terhadap pelanggar K3 (RII 0.500). Hal ini sering kali dipicu oleh mitra kerja seperti subkontraktor dan mandor yang cenderung lebih mementingkan target jadwal (schedule) dibandingkan aspek keselamatan. Selain itu, terdapat kendala dalam pengalokasian anggaran K3 yang kurang sesuai dengan realisasi rencana (RII 0.467), di mana beberapa item fasilitas K3 tidak dapat dimaksimalkan spesifikasinya karena keterbatasan dana yang tersedia secara langsung. Dari sisi konsultan pengawas, faktor penghambat yang dominan adalah ketiadaan atau kurangnya unit K3 khusus di internal pengawas (RII 0.433) serta kurangnya keterlibatan dalam pengawasan lapangan dan pelaporan biaya penerapan SMKK (RII 0.433). Konsultan pengawas cenderung lebih berperan dalam memberikan tuntutan kepatuhan kepada kontraktor, namun partisipasi dalam pengawasan rutin di lapangan, seperti patrol harian, masih dinilai terbatas. Dari sisi owner dan pemerintah, penelitian menemukan bahwa pihak ini tidak menjadi hambatan dominan. Seluruh faktor dari sisi pemilik proyek diklasifikasikan dalam tingkat pengaruh sedang-rendah karena pemilik memiliki kepedulian yang tinggi, rutin melakukan care walk, dan mengalokasikan anggaran K3 yang memadai (mencapai 5% dari nilai kontrak). Sementara itu, seluruh faktor dari sisi pemerintah baik itu pengawasan maupun kesesuaian regulasi sudah dinilai baik oleh responden dibuktikan dengan kunjungan ke lapangan dalam analisis lingkungan serta sebagian besar peraturan yang sudah sesuai dengan kondisi lapangan. Walaupun demikian, penulis mengemukakan pendapatnya bahwasanya faktor penghambat paling dominan justru berasal dari pemerintah, terlebih dalam regulasi dan pengawasan yang berpengaruh terhadap kinerja seluruh stakeholder pada proyek konstruksi PT X. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan safety leadership di tingkat mandor dan subkontraktor, penggunaan teknologi digital dalam pengawasan, serta standarisasi kualifikasi kompetensi K3 bagi seluruh tenaga kerja konstruksi.
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB UNSAFE ACTION PEKERJA KONSTRUKSI GEDUNG PADA PERUSAHAAN βPT Xβ BUMN JASA KONSTRUKSI
Industri konstruksi gedung bertingkat merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja tertinggi, di mana berbagai insiden yang tercatat di lapangan menunjukkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe action) menjadi pemicu utama terjadinya kecelakaan. Pada proyek konstruksi gedung PT βXβ, pola kecelakaan yang berulang selama beberapa tahun terakhir mengindikasikan bahwa tindakan tidak aman masih muncul dalam berbagai bentuk, meskipun perusahaan telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) dan Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK). Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengaturan keselamatan dalam dokumen formal dan perilaku aktual pekerja. Kondisi tersebut menegaskan perlunya kajian komprehensif untuk memahami bentuk unsafe action yang terjadi serta faktor-faktor penyebab yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi unsafe action yang sering muncul pada proyek konstruksi gedung skala besar, menentukan indikator penyebab dominan berdasarkan empat perspektif utama: kondisi objektif, manajemen keselamatan, persepsi individu, dan pengaruh kelompok, serta merumuskan rekomendasi penguatan RKK melalui optimasi program yang sudah berjalan dan pengembangan program baru agar lebih efektif dalam mengendalikan risiko perilaku pekerja. Rumusan tujuan ini disusun untuk menjawab kebutuhan industri konstruksi akan pemahaman yang lebih mendalam terkait akar penyebab perilaku tidak aman, sehingga upaya mitigasi risiko dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Metode penelitian meliputi studi literatur, validasi indikator oleh lima ahli K3 konstruksi, kuesioner pilot study, dan pengumpulan data utama melalui kuesioner. Responden terdiri dari 178 pekerja yang mengisi kuesioner cetak dan 119 personel manajemen proyek yang mengisi melalui Google Forms. Uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa seluruh instrumen layak digunakan dengan nilai Cronbachβs Alpha >0,7. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan analisis deskriptif untuk unsafe action yang sering dilakukan pekerja dan Relative Importance Index (RII) untuk faktor-faktor penyebab unsafe action, sedangkan analisis kualitatif dilakukan melalui focus group discussion (FGD) dengan para ahli K3 PT βXβ untuk memvalidasi prioritas unsafe action dan menilai hubungan temuan dengan riwayat kecelakaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsafe action pada proyek tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran prosedural seperti ketidakpatuhan penggunaan APD atau penempatan material yang tidak sesuai, tetapi juga dipengaruhi oleh tekanan pekerjaan, beban target waktu, kondisi fisik dan mental pekerja, serta keterbatasan pemahaman terhadap prosedur keselamatan. Selain itu, norma kelompok kerja termasuk keteladanan mandor, pola interaksi antar pekerja, dan kebiasaan kerja yang terbentuk secara informal terbukti memiliki pengaruh terhadap munculnya tindakan tidak aman. Faktor manajerial seperti kurangnya konsistensi pengawasan, tidak optimalnya koordinasi, serta keterbatasan penyediaan sarana keselamatan turut memperkuat kecenderungan tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa unsafe action dalam konteks proyek gedung bersifat multidimensi dan dipengaruhi interaksi antara faktor teknis, sosial, psikologis, dan manajerial. Kebaruan penelitian ini terletak pada tahapan tiga sumber data hasil survei berskala besar, validasi ahli melalui FGD, dan pemetaan historis kecelakaan kerja yang menghasilkan prioritas unsafe action berbasis bukti empiris yang kuat. Selain itu, penelitian ini menghadirkan orisinalitas melalui pemetaan langsung antara penyebab unsafe action dan kesenjangan implementasi RKK, sehingga rekomendasi yang disusun dapat diimplementasikan secara operasional oleh kontraktor. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi ilmu keselamatan konstruksi dengan menyajikan kerangka analisis perilaku tidak aman secara lebih menyeluruh. Temuan penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pekerja pada proyek gedung bertingkat, serta memberikan dasar empiris untuk merancang intervensi berbasis perilaku yang lebih efektif. Intervensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penerapan RKK dan mengurangi kecelakaan kerja yang disebabkan oleh unsafe action di sektor konstruksi.