๐Ÿ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 1 dokumen

PERANCANGAN PERBAIKAN SISTEM INSPEKSI QC END-LINE PROSES SEWING BONEKA DJUNGELSKOG ORANGUTAN DI PT QUTY KARUNIA DENGAN METODOLOGI SIX SIGMA

PT Quty Karunia merupakan perusahaan manufaktur soft toys pemasok produk IKEA yang perlu menjaga konsistensi kualitas sesuai standar pelanggan. Berdasarkan data historis periode Desember 2025โ€“Februari 2026, produk Djungelskog Orangutan memiliki defect rate sebesar 3,10%. Nilai ini melebihi batas toleransi internal perusahaan sebesar 2%. Penelitian ini bertujuan merancang usulan perbaikan kualitas pada lini sewing produk Djungelskog Orangutan dengan menggunakan metodologi six sigma. Penelitian menggunakan pendekatan DMAIC yang terdiri atas tahap Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control. Tahap define mencakup penetapan ruang lingkup, pemetaan proses sewing, identifikasi jenis cacat, dan penentuan cacat prioritas. Tahap measure mengukur kondisi kualitas aktual menggunakan peta kendali atribut, DPMO, dan level sigma. Tahap analyze menggunakan metode Delphi, cause-and-effect diagram, dan FMEA untuk mengidentifikasi akar penyebab cacat. Tahap improve berfokus pada perancangan usulan perbaikan, sedangkan tahap control menghasilkan rancangan mekanisme pengendalian karena solusi belum diimplementasikan secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa open seam merupakan cacat prioritas dengan jumlah 2.551 unit atau 49,94% dari total cacat. Proporsinya terhadap total output produksi sebesar 1,39%, dengan level sigma awal 2,83. Akar masalah prioritas meliputi rendahnya kesadaran operator terhadap dampak perilakunya, tekanan cycle time yang membatasi waktu pemeriksaan QC, serta instruksi kerja QC yang belum menetapkan prioritas area pemeriksaan. Usulan perbaikan terdiri atas instruksi kerja QC end-line dan Traffic Light System berbasis acceptance sampling. Evaluasi rancangan menunjukkan bahwa nilai AOQ open seam menurun dari 1,39% menjadi 1,13%, dengan AOQL sebesar 2,3%. Nilai tersebut menunjukkan penurunan risiko cacat yang lolos dari lini sewing, bukan penurunan langsung proporsi cacat yang dihasilkan proses. Berdasarkan nilai AOQ, level sigma keluaran meningkat dari 2,83 menjadi 2,90. Rancangan solusi juga berpotensi menurunkan kebutuhan QC end-line dari lima menjadi dua orang pada kondisi lima lini aktif, dengan potensi efisiensi biaya bersih sebesar Rp178.000.716 per tahun.

2026
๐Ÿ‘ค Penulis: Bahran Azizi
๐Ÿท๏ธ Six Sigma ๐Ÿท๏ธ Manajemen Kualitas Proses Produksi ๐Ÿท๏ธ Hidrologi Manufaktur
๐Ÿ’ฌ