📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 14 dokumenDAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP LAJU EROSI DAN SEDIMENTASI DAS SERAYU HULU: ANALISIS KOMPARATIF SKENARIO SSP2-4.5, SSP3-7.0, DAN SSP5-8.5 MENGGUNAKAN MODEL SWAT+
DAS Serayu Hulu sebagai daerah tangkapan Waduk Mrica menghadapi permasalahan erosi dan sedimentasi yang tinggi serta berpotensi dipengaruhi oleh perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan karakteristik curah hujan, membandingkan laju erosi dan hasil sedimen pada kondisi baseline dan tiga skenario perubahan iklim (SSP2-4.5, SSP3-7.0, dan SSP5-8.5), serta mengkaji keterkaitan antara perubahan curah hujan dengan perubahan erosi dan hasil sedimen. Analisis dilakukan menggunakan model SWAT+ dengan data iklim historis CHIRPS dan proyeksi CMIP6 ensemble lima model yang telah dikoreksi bias menggunakan metode Quantile Mapping. Simulasi dilakukan pada periode Near Future, Mid Future, dan Far Future. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan diproyeksikan menurun pada Near Future, kemudian meningkat pada Mid Future hingga Far Future, terutama pada skenario SSP5-8.5. Perubahan tersebut diikuti oleh perubahan limpasan permukaan, laju erosi, dan hasil sedimen dengan pola yang serupa. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko degradasi lahan dan sedimentasi di DAS Serayu Hulu, sehingga diperlukan strategi pengelolaan DAS yang adaptif terhadap perubahan iklim.
PEMANTAUAN STATUS TERKINI PENURUNAN MUKA TANAH WILAYAH BANDUNG DENGAN METODE SURVEY GPS
Penurunan muka tanah merupakan suatu fenomena alam yang banyak terjadi di kota-kota besar yang berdiri di atas lapisan sedimen. Pemanfaatan air tanah secara besar – besaran pada daerah industri dan kawasan pemukiman padat mengkibatkan penurunan muka air tanah yang kemudian hal ini menyebabkan penurunan muka tanah. Untuk memantau besar penurunan tanah yang terjadi dengan menggunakan metode survey GPS. Dengan metode ini dapat memantau penurunan tanah sampai level ketelitian millimeter. Karena karakterisitik gerakan dari penurunan muka tanah yang sangat lambat dan nilai penurunannya kecil, maka dilakukan pengamatn survey GPS secara episodic (periodik). Dengan mengetahui besanya penurunan muka tanah yang ditunjukkan oleh perubahan tinggi titik tersebut dari satu pengamatan ke pengamatan berikutnya, maka karakteristik dari penurunan muka tanah ini dapat dipelajari lebih lanjut. Tugas Akhir ini menjelaskan mengenai penggunaan metode survey GPS untuk pemantauan penurunan muka tanah di wilayah Bandung dan korelasinya terhadap penurunan muka air tanah, kondisi tata guna lahan, kondisi demografi cekungan Bandung serta dampak yang ditimbulkan.
ANALISIS KARAKTERISTIK PENYEBAB DAN DAMPAK PENURUNAN PERMUKAAN TANAH DI WILAYAH JAKARTA
Penurunan tanah (land subsidence) adalah suatu fenomena alam yang telah cukup lama terjadi di beberapa tempat di wilayah Jakarta. Dalam periode 1982 sampai 1997, penurunan tanah sebesar 20 sampai 200 cm telah dideteksi oleh metode survei sipat datar (leveling). Dari 1997 sampai 2007, metode survei GPS (Global Positioning System) menunjukkan bahwa penurunan tanah di wilayah Jakarta terus berlangsung, dengan laju maksimum sekitar 10-15 cm/tahun di wilayah Jakarta Utara bagian Barat. Metode InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) yang berbasiskan pada citra dari satelit radar, menunjukkan bahwa dalam periode Januari sampai November 2007, penurunan tanah di wilayah Jakarta dengan laju sekitar 10 cm/tahun terjadi di banyak tempat di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Secara umum penurunan tanah di wilayah Jakarta bervariasi secara spasial maupun temporal, dan disebabkan oleh kombinasi dari pengambilan airtanah yang berlebihan, beban bangunan, kompaksi sedimen, serta aktivitas tektonik. Tugas akhir ini menjelaskan karakteristik, penyebab dan dampak penurunan tanah di wilayah Jakarta, serta korelasinya dengan kondisi tata guna lahan, kedudukan muka air tanah dan kondisi demografi.
APLIKASI DATA SPASIAL UNTUK PREDIKSI LAHAN KRITIS MENGGUNAKAN METODE REGRESI LINIER BERGANDA (STUDI KASUS : KAWASAN LINDUNG KABUPATEN BANDUNG BARAT)
Lahan merupakan tempat manusia melakukan aktifitas, karena berbagai kepentingan dan perkembangan jumlah penduduk, banyak lahan yang digunakan tidak sesuai dengan fungsinya, menyebabkan kerusakan pada lahan. Kerusakan lahan menyebabkan hilangnya fungsi produksi sebagai sumber pangan juga fungsi tata air sebagai tempat penyimpanan air tanah dan area resapan air hujan, hal ini mengindikasikan terjadinya lahan kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kekritisan lahan berdasarkan kriteria yang ada, selanjutnya dilakukan pemodelan prediksi tingkat kekritisan lahan di kawasan lindung kabupaten Bandung Barat, yang hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan rekomendasi prioritas rehabilitasi atau konservasi lahan kritis. Metode penelitian untuk mengidentifikasi tingkat kekritisan lahan dilakukan melalui analisis data spasial dan overlay dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan software ArcGis 9.3 terhadap data spasial kriteria penentu lahan kritis yang meliputi citra Landsat 5 TM untuk identifikasi kondisi tutupan vegetasi, data spasial erosi untuk identifikasi kondisi tingkat bahaya erosi, dan data DEM untuk identifikasi kemiringan lereng. Sedangkan pada metode prediksi tingkat lahan kritis, dilakukan analisis regresi linier berganda untuk membentuk persamaan matematika dengan mengkaji hubungan antara tingkat kekritisan lahan (variabel terikat) dengan kriteria penentu lahan kritis (variabel bebas). Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan tingkat kekritisan lahan di seluruh kawasan lindung sudah memasuki kategori agak kritis dan setelah dilakukan uji regresi, didapatkan persamaan prediksi tingkat kekritisan lahan dengan ketelitian yang baik dan diketahui bahwa data spasial yang digunakan sebagai kriteria lahan kritis berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kekritisan lahan.
PEMETAAN INDEKS KERENTANAN WILAYAH PESISIR TERHADAP ABRASI DALAM PERSPEKTIF PERENCANAAN PEMBANGUNAN (WILAYAH STUDI : KECAMATAN MUARA GEMBONG)
Muara Gembong merupakan salah satu kecamatan yang terletak di pantai utara Provinsi Jawa Barat dan terkena dampak dari adanya fenomena abrasi. Abrasi merupakan fenomena berubahnya garis pantai akibat terkikisnya daerah pantai. Fenomena ini merupakan hal yang cukup serius karena menyebabkan berkurangnya lahan yang ada di kecamatan tersebut. Untuk mengetahui seberapa rentan desa yang ada di Kecamatan Muara Gembong terhadap abrasi, maka perlu dilakukan pemetaan indeks kerentanan pesisir terhadap abrasi (IKPA) di daerah tersebut. Nilai IKPA pada wilayah pesisir didapat dengan mengklasifikasikan variabelvariabel indeks kerentanan terhadap abrasi berdasarkan nilai kelasnya dan kemudian nilai kelas tersebut dikali dengan nilai bobot masing-masing variabel. Variabel ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu variabel fisik dan variabel non fisik. Variabel fisik terdiri dari tunggang pasut maksimum, kecepatan arus maksimum, tinggi gelombang signifikan, sudut datang gelombang dominan terhadap garis pantai, kemiringan topografi, jenis sedimen, jenis tutupan lahan, curah hujan, dan kecepatan angin rata-rata. Sedangkan variabel non fisik terdiri dari kepadatan penduduk, harga tanah, produktivitas lahan, dan nilai location quotient (LQ). Hasil penghitungan nilai indeks disajikan dalam bentuk tabel dan peta kerentanan.Hasil penelitian tugas akhir ini menunjukan bahwa 3 (tiga) dari 5 (lima) desa di Kecamatan Muara Gembong berada dalam kondisi rentan berdasarkan variabel fisik dan variabel gabungan fisik dan non fisik. Jika berdasarkan variabel non fisik saja, semua desa pesisir di kecamatan tersebut berada dalam kondisi rentan.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK FISIK DAN SOSIOEKONOMI WILAYAH BODETABEK
Wilayah Bodetabek adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, dimana terjadi interaksi secara langsung antara keduanya. Terus meningkatnya kebutuhan lahan di DKI Jakarta, untuk menunjang berbagai kegiatan ekonomi dan kebutuhan tempat tinggal, tidak di imbangi jumlah lahan yang tersedia, hal ini mendorong pengembangan lebih lanjut terhadap lahan yang ada di wilayah sekitar DKI Jakarta, khususnya wilayah Bodetabek. Dalam proses pengembangan lebih lanjut terhadap lahan yang ada di wilayah Bodetabek ini, perlu dilakukan proses analisis kesesuaian lahan untuk mengetahui jumlah lahan yang tersedia dan tingkat kesesuaiannya, dalam proses analisis kesesuaian lahan ini didasarkan pada karakteristik yang dimiliki tiap wilayah, dimana dipilih karakteritik fisik dan sosioekonomi, yang dianggap mampu menggambarkan ketersediaan lahan dan kebutuhan lahan.
INTEGRASI FOTOGRAMETRI FOTO UDARA FORMAT KECIL-WAHANA UDARA NIR AWAK DAN KECERDASAN BUATAN UNTUK PERCEPATAN PEMBUATAN PETA DESA
Ketersediaan peta rupa bumi skala besar yang detail dan mutakhir sangat penting untuk mendukung perencanaan pembangunan, pengelolaan lingkungan, dan mitigasi bencana. Metode survei konvensional maupun citra satelit resolusi tinggi memiliki keterbatasan dari sisi biaya, frekuensi akuisisi, dan tingkat detail spasial. Fotogrametri Foto Udara Format Kecil Wahana Udara Nir Awak (FUFK-WUNA) menawarkan alternatif yang lebih fleksibel, terutama untuk wilayah pedesaan (rural) yang luas di Indonesia, karena pemetaan dapat dilakukan secara bertahap sesuai prioritas kebutuhan daerah, berbeda dengan pendekatan satelit yang umumnya dilakukan sekaligus pada cakupan yang luas. Metodologi penelitian ini mencakup akuisisi data menggunakan FUFK-WUNA, pemrosesan fotogrametri untuk menghasilkan ortofoto resolusi tinggi (10 cm), serta penerapan berbagai metode kecerdasan buatan (AI) untuk segmentasi dan klasifikasi tutupan lahan. Model yang diuji meliputi U-Net, DeepLab, CNN-based classifier, SVM, dan Segment Anything Model (SAM) yang dikombinasikan dengan algoritma klasifikasi seperti Random Forest, SVM, LinkNet, dan U-Net. Evaluasi kinerja dilakukan dengan parameter matriks konfusi (akurasi, F1, Kappa), serta analisis kesesuaian bentuk menggunakan Intersection over Union (IoU), berdasarkan data referensi lapangan dan peta resmi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis SAM memberikan performa segmentasi terbaik. Model High Quality SAM (HQ-SAM) dengan pendekatan zero-shot mencapai IoU sebesar 0,68 dan Dice Coefficient sebesar 0,81, mengungguli metode segmentasi lainnya. Pada tahap klasifikasi, dua pendekatan terbukti paling efektif: kombinasi OBIA dengan Decision Tree menghasilkan F1- Score 0,772 di Sumedang Kota, sedangkan arsitektur LinkNet–ResNet34 mencapai F1-Score 0,966 di Cimahi. Secara keseluruhan, workflow yang dikembangkan diuji pada enam set data yang merepresentasikan kawasan rural, transisi rural–urban, dan urban, dengan variasi sumber data mulai dari ortofoto FUFK-WUNA hingga citra satelit 50 cm. Tahapan pascapemrosesan merupakan komponen penting dari workflow otomatisasi ini. Proses mencakup pembersihan data untuk mengurangi noise hasil segmentasi, region merging untuk menggabungkan poligon kecil ke dalam kelas yang sesuai, serta penyederhanaan bentuk geometri agar hasil vektor lebih efisien secara topologi. Langkah-langkah ini terbukti meningkatkan keterbacaan hasil peta sekaligus menjaga efisiensi komputasi pada tahap akhir produksi. Evaluasi menyeluruh menunjukkan bahwa akurasi semantik rata-rata (F1) mencapai 70%, sementara kesesuaian spasial vektor (IoU) berada pada 37%. Dari sisi efisiensi, workflow ini mampu menghemat waktu hingga 85% dibandingkan metode manual. Selain itu, Indeks Otomatisasi Pemetaan (IOP) yang dikembangkan memberikan nilai rata-rata 0,61, dengan kinerja terbaik 0,65 pada data Cimahi (ortofoto FUFK-WUNA nonmetrik dengan kombinasi kanal RGB dan nDSM) serta nilai terendah 0,57 di Sumur Bandung berbasis citra satelit 50 cm. Temuan ini memperlihatkan bahwa metode berbasis FUFK-WUNA tidak hanya unggul untuk kawasan rural sebagaimana tujuan awal penelitian, tetapi juga efektif di kawasan urban dengan kompleksitas lebih tinggi. Perbandingan tambahan dengan citra satelit resolusi 50 cm menegaskan bahwa otomatisasi berbasis ortofoto FUFK-WUNA resolusi 10 cm menghasilkan akurasi lebih tinggi, sekaligus lebih fleksibel untuk diimplementasikan bertahap sesuai kebutuhan wilayah. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan kamera metrik maupun nonmetrik menghasilkan kualitas radiometrik yang sebanding, asalkan prosedur akuisisi dilakukan dengan tepat, khususnya perencanaan waktu pemotretan untuk meminimalkan bayangan. Kontribusi utama penelitian ini adalah: (1) pengembangan workflow FUFKWUNA untuk pemetaan tutupan lahan skala besar dan otomatisasi vektorisasi, (2) evaluasi komparatif berbagai metode AI untuk segmentasi dan klasifikasi dengan metrik F1, IoU, dan Dice, (3) pembuktian empiris bahwa FUFK-WUNA lebih unggul dibanding citra satelit resolusi tinggi serta efektif di rural maupun urban, (4) integrasi tahapan pascapemrosesan sebagai bagian esensial untuk menjamin kualitas vektor, dan (5) penegasan bahwa prosedur akuisisi yang tepat lebih menentukan kualitas hasil dibanding sekadar jenis kamera yang digunakan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan landasan kuat bagi pengembangan sistem pemetaan desa berbasis kecerdasan buatan yang efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
PERANCANGAN ULANG KAWASAN SINGLE-FAMILY HOUSING DI DAERAH GRAND CANAL DOCK, KOTA DUBLIN DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP UP-ZONING
Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang kawasan perumahan single-family di Grand Canal Dock melalui penerapan konsep up-zoning. Dublin saat ini menghadapi masalah krisis pasokan perumahan dan pemanfaatan lahan yang kurang optimal meskipun memiliki potensi yang cukup besar. Dengan mengadopsi konsep up-zoning, di mana peraturan zonasi diubah untuk memungkinkan pembangunan dengan ketinggian dan kepadatan yang lebih tinggi, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan sekaligus memberikan solusi terhadap kebutuhan perumahan yang terus meningkat. Metodologi yang digunakan dalam perancangan ini menggunakan metode fragmental dengan melibatkan analisis mendalam terhadap kondisi eksisting kawasan, studi perbandingan dengan kawasan lain yang telah berhasil menerapkan up-zoning, serta simulasi desain untuk menguji berbagai skenario perancangan. Penelitian ini juga mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk memastikan bahwa perancangan ulang kawasan tidak hanya berfokus pada peningkatan densitas, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup penghuni serta keberlanjutan lingkungan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan up-zoning di kawasan Grand Canal Dock berpotensi meningkatkan kapasitas hunian hingga 50% tanpa mengorbankan kualitas ruang publik dan lingkungan. Rancangan ulang ini juga mampu mengakomodasi berbagai tipe hunian, mulai dari apartemen hingga mixeduse development, yang dapat mendukung keberagaman sosial dan dinamika ekonomi kawasan. Perancangan ini merekomendasikan implementasi konsep upzoning sebagai strategi jangka panjang untuk pembangunan kota yang lebih efisien dan berkelanjutan.
ANALISIS DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMAR PADA TELUK BIMA, NUSA TENGGARA BARAT
Fenomena sea snot atau marine mucilage dilaporkan muncul pada Teluk Bima, Nusa Tenggara Barat. Kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Kejadian ini menyebabkan terhentinya aktivitas masyarakat di wilayah Teluk Bima sehingga menimbulkan kerugian ekonomi. Kawasan Teluk Bima mengalami perkembangan pesat seiring dengan konsep pembangunan Kota Bima sebagai “Kota Tepian Air”. Konsep ini akan meningkatkan aktivitas di kawasan pesisir Teluk Bima dan menyebabkan peningkatan penggunaan lahan, sehingga berdampak pada kualitas dan ekosistem perairan pesisir. Kecenderungan peningkatan aktivitas manusia didorong oleh peningkatan jumlah penduduk dan konsumsi per kapita sehingga mendorong terjadinya perubahan kualitas lingkungan. Selain itu, meningkatnya aktivitas ekonomi juga menyebabkan perubahan tata guna lahan yang sangat massif, khususnya untuk pertanian. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya akumulasi polutan dari berbagai aktivitas antropogenik melalui limpasan air hujan dan muara aliran sungai yang nantinya akan masuk ke Teluk Bima. Perubahan iklim turut berperan dalam pembentukan sea snot. Selain itu, berdasarkan kondisi geografis, Teluk Bima dapat dikatakan rentan dan berpotensi kembali mengalami fenomena sea snot. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terhadap besaran beban polutan parameter total nitrogen (TN) dan total fosfor (TP) dari berbagai sumber yang masuk ke Teluk Bima, menghitung daya tampung beban pencemar pada Teluk Bima, serta mengkaji apakah beban pada Teluk Bima telah atau tidak melewati daya tampungnya. Selain itu, dilakukan juga pengembangan konspetualisasi model untuk permasalahan sea snot pada Teluk Bima. Analisis data pada penelitian ini terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama berupa analisis kualitas air pada Teluk Bima. tahap kedua yaitu analisis data hidrologi berupa data hujan untuk mengidentifikasi karakteristik hujan pada wilayah studi. Tahap ketiga meliputi penggunaan sistem informasi geografis (SIG) untuk analisis penggunaan lahan, volume, dan luas teluk. Tahap keempat adalah analisis koefisien limpasan permukaan pada 12 daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Teluk Bima. Tahap kelima melakukan pemodelan sistem dinamik yang mencakup 6 submodel; beban polutan dari penggunaan lahan DAS, beban polutan limbah peternakan, domestik, perikanan, total beban pada Teluk Bima, dan daya tampung beban pencemar Teluk Bima. Model divalidasi menggunakan uji statistik berupa Root Mean Square Error (RMSE). Tahap selanjutnya berupa pengembangan konseptualisasi terhadap model sebelumnya terkait permasalahan sea snot Teluk Bima dengan mempertimbangkan faktorfaktor lain, tidak hanya masukan beban polutan Hasil pemantauan kualitas air Teluk Bima menunjukkan bahwa terdapat beberapa parameter yang melampaui baku mutu air laut, termasuk TN dan TP. Karakteristik hujan wilayah studi termasuk dalam tipe hujan monsoon dengan curah hujan rendah (0 – 100 mm/bulan). Penggunaan lahan pada 12 DAS sekitar Teluk Bima terbagi menjadi 6 kelompok; residensial, komersial, lahan terbuka, pertanian, perikanan, dan hutan, dengan lahan terluas adalah lahan terbuka. Koefisien limpasan permukaan pada 12 DAS berada pada kisaran 0,2 – 0,5, dengan nilai tertinggi terdapat pada DAS Panda senilai 0,5. Beban polutan yang paling berkontribusi berdasarkan besarannya adalah beban dari penggunaan lahan DAS. Hal ini karena beban tersebut dipengaruhi oleh limpasan permukaan dari tiap-tiap DAS sehingga dipengaruhi juga oleh hujan. Selanjutnya yaitu beban dari limbah domestik, peternakan, dan terakhir perikanan. Beban TN dan TP pada Teluk Bima telah melewati daya tampungnya, dan kondisi Teluk Bima sudah masuk pada tahap hipereutrofik. Nilai validasi model untuk parameter TN adalah 0,1042, sedangkan untuk TP 0,0095. Hasil menunjukkan bahwa model memiliki performa yang baik. Pengembangan konseptualisasi model dilakukan dengan mempertimbangkan faktor iklim, pemanasan global, hidrodinamika, beban polutan, dan siklus N dan P di perairan. Melalui penelitian ini, diperoleh informasi bahwa daya tampung beban pencemar Teluk Bima sudah terlampaui dan Teluk mengalami eutrofikasi. Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk pembuatan kebijakan khususnya terkait pengelolaan nutrien pada Teluk Bima. Selain itu, pengembangan konseptualisasi model juga dapat digunakan sebagai acuan untuk pembuatan model sea snot untuk penelitian selanjutnya
ANALISIS SPASIO TEMPORAL FENOMENA SURFACE URBAN HEAT ISLAND DI KAWASAN PERKOTAAN CEKUNGAN BANDUNG
Surface Urban Heat Island (SUHI) adalah suatu fenomena yang terjadi ketika suhu udara di daerah perkotaan secara signifikan lebih tinggi daripada perdesaan yang berada di sekitarnya. Salah satu faktor utama penyebabnya adalah penggunaan lahan yang intensif, di mana lahan-lahan hijau dan vegetasi alami digantikan oleh permukaan bahan bangunan, jalan, dan parkir. Hal tersebut juga terjadi Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang merupakan kawasan perkotaan padat dengan perubahan penggunaan lahan yang signifikan. Keberadaan pegunungan di sekitarnya memberikan kontras yang menarik, di mana Bandung memiliki reputasi sebagai kota dengan iklim yang sejuk dan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika fenomena SUHI secara komprehensif serta dampaknya terhadap lingkungan di wilayah tersebut. Analisis spasio-temporal dilakukan menggunakan data citra Landsat 8 selama tahun 2013 hingga 2021 dengan bantuan aplikasi Google Earth Engine dan ArcMap. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat peningkatan kepadatan bangunan di perkotaan dan konversi lahan pertanian menjadi lahan terbangun. Adanya hubungan positif antara kepadatan bangunan dan suhu permukaan dengan nilai R-square diatas 0.79, sementara kepadatan area hutan dan suhu permukaan memiliki hubungan negatif dengan nilai R-square diatas 0.78. Temuan ini menekankan pentingnya vegetasi untuk mengurangi efek Surface Urban Heat Island di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dan perlunya perencanaan ruang hijau.
PERANCANGAN SUSTAINABLE RIVERSIDE AGROFORESTRY DI KAWASAN HULU DAS CITANDUY (SUNGAI CIMUNTUR), KAB. CIAMIS, JAWA BARAT
DAS Citanduy merupakan DAS di Jawa Barat dengan kondisi kritis. DAS ini telah menjadi tumpuan sumber penghidupan masyarakat, salah satunya melalui pengelolaan agroforestri. Praktik agroforestri di kawasan DAS Citanduy masih belum optimal, tercermin dari kurangnya sistem silvikultur yang diaplikasikan dan tidak maksimalnya keuntungan yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola tanam dan sistem silvikultur yang diaplikasikan oleh masyarakat, mengestimasi potensi tegakan berbasis riap, volume panen tanaman kayu, potensi pendapatan total dan nilai harapan lahan serta mengukur kontribusi keuntungan agroforestri terhadap pendapatan total. Metode pengambilan data dilakukan secara purposive sampling melalui inventarisasi tegakan dan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif, interpretasi dari hasil persamaan yang digunakan dan didukung uji korelasi Pearson dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 9 pola di Kawasan Hulu DAS Citanduy (Sungai Cimuntur) dengan rata-rata nilai intensitas silvikultur adalah 11,5; tertinggi pada pola 9 (A7F2D35) yaitu 15. Rata-rata riap tegakan tanaman kayu adalah 6,31 m3/Ha/tahun, terbesar pada pola 2 (A5F1D10) yaitu 15,11 m3/Ha/tahun. Rata-rata volume panen kayu kumulatif adalah 169,48 m3/Ha/daur akhir, terbesar pada pola 7 (A5F5D35) yaitu 284,94 m3/Ha/daur akhir. Rata-rata potensi pendapatan total Rp9,10 miliar, terbesar pada pola 9 (A7F2D35) Rp24,4 miliar. Rata-rata nilai harapan lahan Rp12,04 miliar, terbesar pada pola 8 (A8F2D10) yaitu Rp22,59 miliar. Rata-rata kontribusi keuntungan agroforestri 84,59%; terbesar pada pola 2 (A5F1D10) yaitu 98,04%.
ANALISIS KAPASITAS INFILTRASI BERDASARKAN PENGGUNAAN LAHAN DAN KORELASINYA TERHADAP SIFAT FISIK TANAH SERTA KANDUNGAN ORGANIK PADA SEMPADAN SUNGAI CISANGKUY
Sub-DAS Cisangkuy yang terletak di kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, mengalami banjir setiap tahunnya. Luas lahan Sub-DAS Cisangkuy sebesar 6.084,95 hektar masuk ke dalam kategori lahan kritis akibat perubahan penggunaan lahan yang dapat mengganggu proses hidrologis. Kapasitas infiltrasi yang rendah dapat meningkatkan laju limpasan dan menyebabkan banjir di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kapasitas infiltrasi pada berbagai jenis penggunaan lahan dan mengungkap hubungan antara kapasitas infiltrasi, sifat fisik tanah, dan bahan organik tanah di sepanjang Sungai Cisangkuy. Pengukuran kapasitas infiltrasi dilakukan dengan menggunakan alat double ring infiltrometer melalui metode Horton di sempadan Sungai Cisangkuy. Sampel tanah diambil pada setiap titik pengukuran infiltrasi untuk menganalisis sifat fisik tanah dan kandungan bahan organik tanah. Sifat fisik tanah yang diamati meliputi kadar air, bulk density, dan porositas. Hubungan antara kapasitas infiltrasi, sifat fisik tanah, dan bahan organik tanah dianalisis menggunakan analisis statistik Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukan bahwa kapasitas infiltrasi tanah bervariasi pada berbagai penggunaan lahan, yaitu: perkebunan (51 cm/jam); hutan tanaman (21 cm/jam); pertanian lahan kering (19,59 cm/jam); pertanian lahan kering campuran (45 cm/jam); hutan lahan kering sekunder (75 cm/jam); permukiman (3 cm/jam); dan sawah (5,65 cm/jam). Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahan organik tanah memiliki hubungan kuat dengan kapasitas infiltrasi dan sifat fisik tanah. Secara khusus, bahan organik tanah memiliki hubungan yang sangat kuat dengan porositas tanah.
IDENTIFIKASI PENGARUH KEBERADAAN STASIUN KERETA CEPAT PADALARANG TERHADAP HARGA LAHAN DI SEKITARNYA
Stasiun Kereta Cepat Jakarta Bandung merupakan salah satu proyek strategis nasional yang bertujuan meningkatkan konektivitas dan mobilitas serta mendorong pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi disekitarnya. Harga lahan menjadi salah satu aspek yang umumnya terdampak dari pembangunan infrastruktur ialah perubahan harga lahan. Saat ini belum terdapatnya penelitian terdahulu yang membahas tentang pengaruh stasiun Kereta Cepat Padalarang terhadap harga lahan disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh tersebut pada harga lahan disekitar stasiun. Penentuan variabel penelitian menggunakan Content Analysis berdasarkan kumpulan variabel-variabel studi terdahulu yang membahas dampak stasiun terhadap perubahan harga lahan dengan metode Hedonic Pricing Model. Analisis faktor dan analisis regresi dengan Ordinary Least Square dilakukan untuk menilai signifikansi pengaruh faktor-faktor terhadap harga lahan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa keberadaan Stasiun Kereta Cepat Padalarang belum memberikan pengaru terhadap harga lahan disekitarnya. Harga lahan disekitar stasiun dipengaruhi oleh faktor atribut lingkungan, faktor atribut transportasi, faktor atribut intrinsik, dan faktor atribut disekitar persil lahan. Faktor atribut lingkungan terdiri atas KDB, KLB, dan Zonasi. Faktor atribut transportasi terdiri atas jarak lahan ke CBD, jarak lahan ke fasilitas pendidikan, dan jarak lahan ke fasilitas kesehatan. Faktor atribut intrinsik lahan terdiri atas luas dan bentuk lahan. Faktor atribut disekitar persil lahan terdiri atas lebar jalan dan kondisi wilayah. Berdasarkan studi terdahulu, belum terdapatnya pengaruh keberadaan Stasiun Kereta Cepat terhadap kenaikan lahan mungkin disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari masa operasional yang masih kurang dari satu tahun atau diakibatkan mobilitas masyarakat pengguna kereta cepat masih rendah.
IDENTIFIKASI POTENSI PENURUNAN MUKA TANAH DI INDONESIA
Wilayah Indonesia banyak yang mengalami fenomena penurunan muka tanah yang umumnya terjadi di kota-kota besar. Penurunan muka tanah (land subsidence) merupakan suatu proses gerakan penurunan muka tanah terhadap suatu datum tertentu (kerangka referensi geodesi) dimana terdapat berbagai macam variabel penyebabnya (Marfai, 2006). Penurunan muka tanah memiliki karakteristik yang bervariasi, secara spasial maupun temporal, yang diakibatkan oleh faktor penyebab yang berbeda. Penyebab utama dari terjadinya fenomena penurunan muka tanah adalah pemanfaatan lahan yang menyebabkan pemadatan sistem akuifer akibat pengambilan air tanah, beban yang berlebih, dekomposisi dan pengeringan dari tanah organik, pertambangan bawah tanah, ekstraksi minyak dan gas bumi, ekstraksi lumpur, patahan kerak bumi, hidrokompaksi, pemadatan alamiah (natural compaction), pergeseran lempeng tektonik, serta pencairan permafrost. Indikasi adanya penurunan muka tanah diantaranya terjadinya banjir rob, kerusakan infrastruktur, maupun intrusi air laut. Potensi penurunan muka tanah diperoleh dengan melakukan analisis spasial tumpang susun (overlay) dan grid network dari enam jenis pemanfaatan lahan yang diduga berkorelasi sebagai penyebab penurunan muka tanah. Enam jenis pemanfaatan lahan yang di maksud adalah daerah sedimen, lahan gambut, pertambangan, konsesi migas, panas bumi (geothermal), dan pemukiman. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat 26,05% wilayah di Indonesia yang didalamnya ada 1 faktor penyebab penurunan muka tanah, 20,71% wilayah di Indoensia yang didalamnya memiliki 2 faktor penyebab penurunan muka tanah. Dan sebanyak 5,23% wilayah di Indonesia rawan mengalami penurunan muka tanah karena terdapat 3 faktor didalamnya. Untuk daerah yang didalamnya terdapat 4 faktor dan atau lebih ada sebanyak 0,49%.