π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenIDENTIFIKASI TUTUPAN PASIR DAN ZONA PASUT DARI CITRA SATELIT SPOT
Tugas akhir ini bertujuan untuk menghasilkan serta memperlihatkan identifikasi tutupan pasir (sand cover) dan zona pasut (tidal zone) dari citra satelit SPOT (Satellite Pour lβObservation de la Terre). Lokasi penelitian terletak di Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara yang dikelilingi dataran karang seluas 12 kmΒ². Metodologi penelitian ini diawali dengan identifikasi tutupan pasir hasil rekaman radiometrik citra SPOT dengan klasifikasi terawasi (supervised classification). Hasil klasifikasi tutupan pasir diverifikasi dengan data inspeksi bawah air yang dideteksi sebagai pasir pada lokasi penelitian. Verifikasi dilakukan dengan pertampalan titik-titik inspeksi bawah air (28 titik) ke dalam area hasil identifikasi tutupan pasir. Kesesuaian hasil identifikasi tutupan pasir pada lokasi penelitian memiliki prosentase sebesar 70%. Tujuan lain penelitian ini adalah mengetahui distribusi kedalaman tutupan pasir, yang didapat dari data batimetri dan citra satelit untuk mengidentifikasi zona pasut. Pembagian zona pasut yang dibedakan menjadi zona supratidal, intertidal, dan subtidal dilakukan dengan tahapan klasifikasi dari citra satelit SPOT. Luas area untuk masing-masing zona pasut memiliki nilai yang berbeda, zona supratidal memiliki luas area 4,83Γ106 hektar (ha), zona intertidal 4,95Γ106 hektar (ha), dan sisanya zona pasut subtidal. Hasil identifikasi tutupan pasir dan zona pasut ditampalkan dengan kontur kedalaman untuk mengetahui distribusi kedalaman pada lokasi penelitian. Kedalaman tutupan pasir memiliki distribusi kedalaman antara β0,1 hingga 24,6 meter, dengan distribusi yang dominan terdapat pada kedalaman β0,1 hingga 3,7 meter.
STUDI PERUBAHAN GARIS PANTAI DI MUARA CIMANUK INDRAMAYU TAHUN 2014-2024 BERDASARKAN CITRA SATELIT DAN SURVEI LAPANGAN MENGGUNAKAN DRONE
Muara Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu merupakan wilayah pesisir yang mengalami dinamika garis pantai signifikan akibat proses akresi dan abrasi, yang dipicu oleh kombinasi faktor oseanografi dan aktivitas manusia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) mengestimasi perubahan garis pantai di Muara Cimanuk dari tahun 2014 hingga 2024 dan (2) menghitung laju perubahan serta luas area terkait proses erosi dan akresi. Metode yang digunakan mencakup analisis citra satelit Landsat 8 OLI dengan teknik Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) dan analisis garis pantai menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Selain itu, dilakukan survei lapangan menggunakan drone di dua area representatif, yaitu Pantai Waledan (akresi) dan Pantai Tiris (abrasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muara Cimanuk didominasi oleh akresi, dengan rata-rata pergeseran garis pantai sebesar 46,77 m dan laju perubahan mencapai 4,68 m/tahun. Secara keseluruhan, terjadi perubahan area daratan seluas 818,27 ha, terdiri dari akresi sebesar 515,12 ha dan abrasi sebesar 303,16 ha. Validasi spasial terhadap data dari Badan Informasi Geospasial (BIG) dan penginderaan drone menunjukkan rata-rata Shoreline Change Envelope (SCE) antara 12β16 m, yang masih dalam batas toleransi resolusi citra satelit Landsat (30 m). Faktor oseanografi seperti pasang surut, topografi landai, dan arah gelombang dominan dari barat daya, serta konversi lahan pesisir menjadi tambak, turut memengaruhi pola sedimentasi dan abrasi di wilayah studi.
KANDUNGAN LOGAM BERAT TEMBAGA (CU), TIMBAL (PB), DAN NIKEL (NI) DI KAWASAN WISATA RAJA AMPAT
Raja Ampat merupakan wilayah perairan yang memiliki nilai strategis sebagai kawasan wisata bahari dan konservasi laut dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Namun, meningkatnya aktivitas manusia, seperti kegiatan pariwisata dan kegiatan industri, seperti pertambangan nikel di Pulau Gag, menimbulkan potensi pencemaran terhadap perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi logam berat terlarut tembaga (Cu), timbal (Pb), dan nikel (Ni) di beberapa titik perairan Raja Ampat. Pengambilan sampel dilakukan di sejumlah lokasi, yaitu Piaynemo, Arborek, Friwen Wall, dan Teluk Mayalibit. Analisis kandungan logam berat dilakukan di laboratorium menggunakan instrumen Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Secara umum, hasil perbandingan dengan baku mutu air laut untuk biota berdasarkan Lampiran VIII Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021 menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat masih berada dalam ambang batas aman. Hasil analisis dengan ICP-MS menunjukkan tidak adanya cemaran logam berat di Arborek dan Friwen Wall, sedangkan di Piaynemo terdeteksi adanya timbal dengan konsentrasi sangat kecil yaitu 7,3 x 10-5 mg/L yang diduga oleh adanya aktivitas perkapalan di sekitar titik kajian. Rendahnya konsentrasi logam berat terlarut diduga dipengaruhi oleh pola arus laut yang dinamis serta tingginya curah hujan yang berperan dalam proses pengenceran. Data logam berat yang diperoleh dari PT Gag Nikel di Pulau Gag menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat masih memenuhi baku mutu untuk pertambangan nikel. Meskipun demikian, ditemukan satu lokasi dengan konsentrasi logam berat yang relatif tinggi walaupun masih memenuhi baku mutu, yaitu di perairan Teluk Mayalibit. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pengaruh runoff sungai yang bermuara di wilayah tersebut. Temuan ini menunjukkan pentingnya pemantauan berkala terhadap kualitas air di kawasan konservasi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut Raja Ampat.
PEMETAAN PADANG LAMUN DENGAN CITRA SATELIT SENTINEL-2A SERTA KAITANNYA DENGAN PARAMETER OSEANOGRAFI DI PANTAI PENGUDANG, BINTAN TAHUN 2015-2024
Padang lamun merupakan salah satu komunitas tumbuhan yang paling produktif, menghasilkan makanan dan habitat untuk berbagai macam organisme laut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ekosistem lamun bagi makhluk hidup serta manusia yang tinggal di daerah pesisir. Perubahan luasan padang lamun dapat dianalisis melalui berbagai cara, salah satunya adalah menggunakan citra satelit Sentinel-2A. Penelitian ini akan menganalisis perubahan luasan padang lamun pada tahun 2015-2024 serta kaitannya dengan beberapa parameter oseanografis. Pemetaan padang lamun sendiri dapat dipermudah dengan menggunakan metode machine learning. Dengan menggunakan metode ini, pemetaan akan menjadi lebih mudah serta cepat untuk sebuah Kawasan yang cukup luas. Berdasarkan penelitian ini, luasan padang lamun di Pantai Pengudang mengalami penurunan 4,5% dari tahun 2015 ke 2024 dengan total penurunan sebesar 13,95 hektare. Penurunan luasan ini dipengaruhi oleh parameter pH yang memiliki pengaruh yang cukup kuat dibandingkan dengan parameter lain seperti salinitas dan suhu. Selain itu, faktor antropogenik seperti kegiatan manusia dan polusi kemungkinan juga berpengaruh terhadap penurunan luasan ini.
ANALISIS PERUBAHAN LUASAN LAMUN DENGAN CITRA SATELIT SENTINEL-2A DI PESISIR KECAMATAN GUNUNG KIJANG, PULAU BINTAN
Lamun memiliki banyak fungsi dan manfaat terutama untuk daerah pesisir, seperti produktivitas primer, tempat pemijahan, tempat berkembang biak, sumber pangan, dan laiinnya. Hal ini menyebabkan lamun perlu dikelola dengan baik. Pengelolaan lamun bisa dipermudah dengan adanya citra satelit yang dapat memantau lamun dalam skala luas dan waktu singkat. Salah satu citra satelit yang bisa digunakan adalah citra satelit Sentinel-2A dengan resolusi spasial 10 meter. Penelitian ini akan meninjau perubahan luasan lamun dari tahun 2020-2023, serta perubahan saat musim barat dan timur dengan data tahun 2019. Pemetaan lamun dengan citra satelit bisa dipermudah dengan metode Depth Invariant Index yang mana metode ini adalah metode untuk mengurangi efek kolom air sehingga objek akan teridentifikasi dengan baik dan benar walaupun berada di bawah permukaan air. Berdasarkan penelitian, luasan lamun di pesisir Gunung Kijang cenderung berubah-ubah dengan trend yang menurun yang memiliki arti bahwa luasan lamun akan semakin turun di kemudian tahun. Luasan lamun di pesisir Kecamatan Gunung Kijang dari tahun 2020 ke 2023 mengalami degradasi dengan total sebesar 262,26 ha dengan degradasi tiap tahunnya sebesar 87,42 ha/tahun dengan persentase sebesar 13,02%. Penurunan luasan lamun di pesisir Gunung Kijang cenderung diakibatkan oleh penurunan nilai parameter oseanografi salinitas yang menyebabkan salinitas berada di luar rentang nilai baku mutu lamun. Terdapat perubahan luasan pada musim barat dan timur, yang mana saat musim barat luas lamun lebih kecil dari musim timur karena pada musim barat lamun tertutup pasir yang diindikasikan dari kecepatan arus pada musim barat yang lebih besar. Selain itu, perubahan luasan juga bisa diakibatkan oleh beberapa aktivitas manusia di sana.
PEMBUATAN PETA BATAS LAUT MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SATELLITE DERIVED BATHYMETRY (SDB)
Indonesia adalah Negara Kepulauan dengan luas laut lebih dari 3 juta km2. Laut menjadi bagian penting dalam aspek politik, ekonomi, dan Sosial Indonesia sehingga batas dari laut tersebut perlu ditetapkan dengan jelas. Umumnya batas laut tersebut ditentukan dengan melakukan survei lapangan, namun kegiatan ini memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Capstone ini membahas mengenai pembuatan peta batimetri menggunakan metode Remote Sensing Sattelite Derived Bathymetry (SDB) rasio logaritmik Stumpf. Dari kedalaman yang dihasilkan selanjutnya akan dilakukan delineasi garis pantai saat Lowest Astronomical Tide (LAT) agar didapatkan garis pangkal normal sebagai dasar penentuan Batas Laut Negara. Selain itu juga dilakukan pengolahan data citra satelit menggunakan algoritma Normalized Difference Water Index (NDWI) dan data slope dari DEMNAS untuk mendapatkan garis pantai pada saat Highest Astronomical Tide (HAT). Garis pantai pada saat HAT ini selanjutnya dilakukan buffer sejauh 12 Mil Laut untuk mendapatkan Batas Kewenangan Provinsi di Laut. Citra yang digunakan dalam capstone ini adalah citra SPOT6, SPOT7, dan Sentinel 2A. Untuk data training dan validasi dalam metode SDB digunakan titik kedalaman dari peta laut yang dikeluarkan Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (PUSHIDROSAL). Dari proses pengolahan tersebut, didapatkan 3 buah produk, yaitu Peta Batimetri, Peta Garis Pangkal, dan Peta Batas Kewenangan Provinsi di Laut. Dari Peta Batimetri, didapatkan kualitas SDB dengan korelasi bervariasi dari 0.605-0.763, RMSE 5.614 m-8.219 m, dan MAE 4.66 m-6.882 m. Dari Peta Batas Kewenangan Provinsi di Laut, dilakukan pengujian terhadap garis pantai HAT dan didapatkan nilai RMSE terhadap garis refrensi sebesar 21.122 m dan MAE sebesar 15.444 m. Dari peta garis pangkal, dilakukan pengujian terhadap Titik Dasar No.046A, dan didapatkan adanya pergeseran garis pangkal sebesar 156 m. Dari hasil uji produk, di ambil kesimpulan bahwa metode SDB dapat digunakan untuk mendapatkan kedalaman dan melakukan monitoring garis pangkal dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan survei lapangan. Metode analisis NDWI juga dapat digunakan untuk mendapatkan garis pantai saat HAT dengan ketelitian yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai dasar penentuan batas kewenangan provinsi di laut. Metode-metode ini memiliki harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan melakukan survei lapangan.
PENENTUAN BATAS LAUT MENGGUNAKAN METODE SATELLITE DERIVED BATHYMETRY
Indonesia adalah Negara Kepulauan dengan luas laut lebih dari 3 juta km2. Laut menjadi bagian penting dalam aspek politik, ekonomi, dan Sosial Indonesia sehingga batas dari laut tersebut perlu ditetapkan dengan jelas. Umumnya batas laut tersebut ditentukan dengan melakukan survei lapangan, namun kegiatan ini memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Capstone ini membahas mengenai pembuatan peta batimetri menggunakan metode Remote Sensing Sattelite Derived Bathymetry (SDB) rasio logaritmik Stumpf. Dari kedalaman yang dihasilkan selanjutnya akan dilakukan delineasi garis pantai saat Lowest Astronomical Tide (LAT) agar didapatkan garis pangkal normal sebagai dasar penentuan Batas Laut Negara. Selain itu juga dilakukan pengolahan data citra satelit menggunakan algoritma Normalized Difference Water Index (NDWI) dan data slope dari DEMNAS untuk mendapatkan garis pantai pada saat Highest Astronomical Tide (HAT). Garis pantai pada saat HAT ini selanjutnya dilakukan buffer sejauh 12 Mil Laut untuk mendapatkan Batas Kewenangan Provinsi di Laut. Citra yang digunakan dalam capstone ini adalah citra SPOT6, SPOT7, dan Sentinel 2A. Untuk data training dan validasi dalam metode SDB digunakan titik kedalaman dari peta laut yang dikeluarkan Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (PUSHIDROSAL). Dari proses pengolahan tersebut, didapatkan 3 buah produk, yaitu Peta Batimetri, Peta Garis Pangkal, dan Peta Batas Kewenangan Provinsi di Laut. Dari Peta Batimetri, didapatkan kualitas SDB dengan korelasi bervariasi dari 0.605-0.763, RMSE 5.614 m-8.219 m, dan MAE 4.66 m-6.882 m. Dari Peta Batas Kewenangan Provinsi di Laut, dilakukan pengujian terhadap garis pantai HAT dan didapatkan nilai RMSE terhadap garis refrensi sebesar 21.122 m dan MAE sebesar 15.444 m. Dari peta garis pangkal, dilakukan pengujian terhadap Titik Dasar No.046A, dan didapatkan adanya pergeseran garis pangkal sebesar 156 m. Dari hasil uji produk, di ambil kesimpulan bahwa metode SDB dapat digunakan untuk mendapatkan kedalaman dan melakukan monitoring garis pangkal dengan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan survei lapangan. Metode analisis NDWI juga dapat digunakan untuk mendapatkan garis pantai saat HAT dengan ketelitian yang cukup tinggi untuk digunakan sebagai dasar penentuan batas kewenangan provinsi di laut. Metode-metode ini memiliki harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan melakukan survei lapangan.