📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 41 dokumenPENERAPAN MANAJEMEN PROYEK PADA PROYEK PEMASANGAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN (EBT) OLEH SOCIETY OF RENEWABLE ENERGY (SRE) INDONESIA
Peningkatan implementasi proyek pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia mendorong perlunya pengelolaan proyek yang terstruktur agar pelaksanaan proyek dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia sebagai organisasi yang aktif melaksanakan proyek pemasangan pembangkit EBT di berbagai lokasi masih menghadapi kendala dalam penjadwalan, penyusunan anggaran, pengalokasian sumber daya, serta pengendalian proyek yang belum terintegrasi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan keterlambatan pelaksanaan, ketidakefisienan penggunaan sumber daya, serta kesulitan dalam mengevaluasi kinerja proyek. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan manajemen proyek pada proyek pemasangan EBT oleh SRE Indonesia. Tahapan penelitian diawali dengan mengidentifikasi peluang dan perumusan kebutuhan analisis dan sintesis, pembangkitan dan pemilihan solusi, evaluasi solusi terpilih, dan pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan dengan mempertimbangkan risiko dan dampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen proyek mampu mengintegrasikan penyusunan jadwal, anggaran, alokasi sumber daya, serta proses monitoring dan controlling menggunakan Microsoft Project. Beban kerja aktual dianalisis berdasarkan jumlah hari pengerjaan ke lapangan. Kinerja durasi dan biaya aktual proyek juga dianalisis menggunakan grafik-grafik Earned Value Management. Penerapan strategi yang diusulkan berhasil mempercepat durasi survei dari 24 menjadi 9 hari dan durasi pemasangan dari 98 menjadi 85 hari, sehingga proyek selesai 11 hari lebih cepat dari jadwal. Selain itu, biaya aktual proyek sebesar Rp13,29 miliar lebih rendah dibandingkan anggaran sebesar Rp13,35 miliar. Selain meningkatkan efisiensi waktu dan biaya, penerapan manajemen proyek juga menghasilkan pembagian beban kerja yang lebih merata bagi seluruh Tim Engineer. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan manajemen proyek dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan proyek pemasangan EBT dan berpotensi menjadi acuan bagi proyek sejenis di masa mendatang.
PERANCANGAN APLIKASI KANTOR VIRTUAL BERBASIS GAMIFIKASI UNTUK MEMFASILITASI MANAJEMEN PROYEK DALAM LINGKUNGAN KERJA REMOTE (STUDI KASUS: TIM KREATIF STUDIO GIM)
Industri gim merupakan salah satu sektor kreatif yang berkembang pesat dan semakin banyak mengadopsi sistem kerja jarak jauh (remote). Pergeseran ini menimbulkan tantangan signifikan bagi tim kreatif di studio gim, seperti fragmentasi alur kerja, kompleksitas tugas yang saling bergantung, lemahnya alur validasi pekerjaan, hingga rendahnya kehadiran sosial antaranggota tim. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan baru dalam merancang lingkungan kerja digital yang tidak hanya mampu mengelola proyek secara terstruktur, tetapi juga meningkatkan keterlibatan dan efektivitas kerja tim. Penelitian ini bertujuan merancang sebuah aplikasi ruang kerja virtual tergamifikasi yang menempatkan manajemen proyek sebagai fungsi utama untuk mendukung tim kreatif di studio gim. Perancangan mengacu pada Work Breakdown Structure (WBS) beserta logika dependensi dan alur persetujuan tugas sebagai fondasi manajemen proyek, Octalysis Framework sebagai pendekatan gamifikasi, serta konsep body doubling dan Social Presence Theory sebagai pendekatan kehadiran sosial. Hasil perancangan berupa aplikasi bernama WARP, yaitu ruang kerja virtual yang mengintegrasikan pengelolaan tugas berbasis WBS, sistem gamifikasi, serta ruang sosial bersama. Melalui perancangan ini, diharapkan WARP dapat menjadi solusi ruang kerja digital yang terstruktur, interaktif, dan mendukung pengelolaan proyek tim kreatif jarak jauh secara efektif.
ANALISIS MANAJEMEN PROYEK PADA PENERAPAN PERLINDUNGAN PANTAI ALAMI TAMAN MANGROVE PEKALONGAN
Kawasan Taman Mangrove Pekalongan merupakan wilayah pesisir Pantai Utara Jawa yang terdampak abrasi, erosi, rob, dan penurunan muka tanah sehingga memerlukan perlindungan sementara untuk mendukung pertumbuhan mangrove sebagai pelindung pantai alami. Penelitian ini menganalisis penerapan tanggul geobag geotextile melalui penyusunan metode konstruksi, Work Breakdown Structure (WBS), estimasi volume, produktivitas, penjadwalan, biaya, stakeholder management, dan risk management. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sepanjang ±1.700 m membutuhkan 8.557 unit geobag geotextile, matras kayu dan matras geotextile masing-masing 16.320 m², serta pekerjaan cut and fill/base raising sebesar 19.800 m³. Jadwal konstruksi utama disusun selama 559 hari kerja atau 668 hari kalender, dengan masa layanan struktur dua tahun dan pekerjaan demobilisasi sekitar 36 hari kalender. Total biaya proyek sebesar Rp6.500.919.890, terdiri atas fase mobilisasi Rp889.394.000 (13,68%), fase instalasi Rp5.572.802.846 (85,72%), dan fase demobilisasi Rp38.723.044 (0,60%), serta biaya mitigasi area cleaning geotextile sebesar Rp40.468.500. Analisis stakeholder mengidentifikasi 36 stakeholder yang memerlukan strategi pelibatan berbeda berdasarkan Impact of Change dan Level of Influence. Analisis risiko mengidentifikasi 35 risiko, dengan 24 risiko negatif berada di atas batas acceptable risk sebelum treatment; Degree of Centrality menunjukkan bahwa komunikasi dan koordinasi stakeholder menjadi risk driver utama, sedangkan jadwal menjadi titik akumulasi dampak. Berdasarkan hasil tersebut, tanggul geobag geotextile layak direncanakan sebagai struktur perlindungan transisi apabila didukung pengendalian teknis, biaya, jadwal, stakeholder, dan risiko secara terintegrasi.
PROJECT PLANNING FOR THE CONSTRUCTION OF SHOPPING BUILDINGIN TEMBALANG SEMARANG
Salah satu kampus terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Diponegoro, sedang melakukan pembenahan dan renovasi. Sebelumnya Undip berlokasi di dua tempat, yaitu Peleburan dan Tembalang. Setelah renovasi, sekarang Undip berlokasi di Tembalang Selatan, Semarang. Pindahnya lokasi Undip membuat area di sekitarnya berkembang dengan pesat. Toko, kos-kosan, cafe, restoran menjamur dengan cepat dan akan terus berkembang. Para pelaku bisnis melihat peluang yang sangat bagus karena Undip memiliki kapasitas mahasiswa yang tidak sedikit dan area di sekitarnya masih banyak yang belum dimanfaatkan. Pak Dwiyanto dan Bu Rochmi selaku pemilik ruko melihat peluang bisnis yang sangat berprospek. Maka dari itu Pak Dwiyanto membangun ruko yang berlokasi di Jalan Jati Mulyo No. 16, Tembalang Selatan, Semarang. Lokasi ruko ini sangat strategis karena berlokasi tepat di depan gerbang Undip, dimana setiap siang sampai sore banyak mahasiswa Undip yang mampir di cafe atau restoran sekedar untuk makan maupun bergaul. Visi Mr. Dwiyanto dalam membangun ruko ini adalah sebagai usaha rumah makan dan akan disewakan kepada pelaku bisnis guna menunjang kebutuhan hidu mahasiswa Undip. Penulis didampingi oleh seorang manajer proyek, yakni Pak Hafid, bertujuan untuk membuat perencanaan dan penjadwalan proyek untuk proyek pembangunan ruko ini. Dengan bantuan manajer proyek, penulis akan membuat perencanaan dan penjadwalan proyek yang berisi perencanaan kegiatan pekerjaan, rancangan anggaran dan biaya, penjadwalan kegiatan, dan pengalokasian sumber daya. Pertama, rencana kegiatan kerja terdiri dari tujuan proyek, definisi proyek, struktur rincian pekerjaan, dan tanggung jawab grafik linier. Kedua, penjadwalan proyek terdiri dari bagan Gantt chart dan Network Diagram yang menggunakan metode jalur kritis. Ketiga, rencana anggaran dan biaya terdiri dari harga satuan, harga bahan baku, dan biaya total untuk setiap kegiatan, dan ditambah dengan S-curve guna memudahkan manajer proyek dalam mengelola dana. Terakhir, pengalokasian sumber daya yang terdiri dari alokasi sumber daya dan pemanfaatan sumber daya. Penulis akan melakukan penelitian lapangan untuk mendapatkan data aktual seperti wawancara dengan manajer proyek, dsb. Akhirnya, perencanaan dan penjadwalan proyek diharapkan akan menciptakan sebuah gambaran besar proyek sebelum pelaksanaan dan sebagai panduan untuk membantu manajer proyek melaksanakan proyek tersebut. Kata Kunci: Project Planning, Project Scheduling, Work Breakdown Structure, Gantt Chart, Total Budget Cost
PENERAPAN PRINSIP KONSTRUKSI LEAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PROYEK DAN MENGURANGI BIAYA: STUDI KASUS KONTRAKTOR KONSTRUKSI INDONESIA
Proyek konstruksi di Indonesia sering mengalami keterlambatan jadwal, pembengkakan biaya, dan pemborosan yang dapat dihindari karena pelaksanaan pekerjaan bersifat reaktif dan serah-terima (handoff) antarproses terfragmentasi. Tesis ini mengkaji bagaimana prinsip Lean Construction dapat dioperasionalkan untuk meningkatkan efisiensi proyek dan menurunkan biaya pada PT Anugerah Konstruksi Nusantara (PT AKN, nama fiktif). Permasalahan bisnis dipicu oleh rendahnya keandalan perencanaan jangka pendek, keterlambatan penghilangan kendala (constraint removal), lead time persetujuan–pengadaan yang panjang, serta disiplin lapangan yang lemah sehingga memicu rework dan kehilangan material. Penelitian ini menerapkan desain Action Research satu siklus yang selaras dengan PDCA, dengan evaluasi embedded mixed-methods. Paket Lean terintegrasi (Last Planner System (LPS), Value Stream Mapping (VSM), dan 5S) dikembangkan bersama praktisi dan dipiloting pada empat proyek prioritas (A2, A4, A7, A12). Efisiensi diukur menggunakan indikator berbasis catatan (record-based): keandalan perencanaan (Percent Plan Complete/PPC), kinerja aliran/lead time pada value stream persetujuan–pengadaan, serta outcome pemborosan (tingkat waste material dan jam rework). Dampak biaya dikuantifikasi melalui item saving yang saling eksklusif (preliminaries/overhead dari hari yang berhasil dipulihkan, waste material, rework, dan lembur) dengan aturan perhitungan yang eksplisit dan didukung dokumen proyek. Pada keempat proyek, pilot menunjukkan peningkatan keandalan perencanaan dan pemendekan lead time end-to-end (24,8 menjadi 20,8 hari, sekitar 16%). Total estimasi penghematan sebesar IDR 1.237.700.000, terutama berasal dari penurunan waste material dan rework, didukung oleh turunnya lembur dan preliminaries. Hasil diinterpretasikan dengan mempertimbangkan variabel eksternal proyek (misalnya cuaca, perubahan desain oleh klien, perizinan/akses lahan) sebagai batasan (boundary conditions), menggunakan lingkup waktu yang sebanding dan bukti yang dapat ditelusuri agar atribusi Lean tidak berlebihan.
USULAN PROSEDUR KERJA SEBAGAI MEKANISME PENDUKUNG KEPUTUSAN BERBASIS NILAI UNTUK PRIORITISASI BACKLOG RICEFW PADA IMPLEMENTASI SAP S/4HANA MENGGUNAKAN VFT DAN SMART DI PT BUKIT ASAM
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan, dalam implementasi 1ERP SAP S/4HANA di PT Bukit Asam (PTBA), untuk memprioritaskan backlog RICEFW lintas modul di tengah keterbatasan waktu dan kapasitas delivery. Pada kondisi yang diamati, prioritisasi cenderung ad hoc karena belum tersedia acuan prioritisasi berbasis nilai yang terdokumentasi dan dapat dipakai bersama untuk membahas trade-off lintas fungsi serta mendukung keputusan yang dapat ditelusuri. Untuk menutup gap tersebut, penelitian ini menyusun usulan Prosedur Kerja (Working Procedure) sebagai mekanisme pendukung keputusan berbasis nilai untuk prioritisasi backlog pada forum tata kelola proyek. Penelitian menggunakan desain single-case berbasis MCDA. Value-Focused Thinking (VFT) digunakan untuk menurunkan objective pengambilan keputusan dan menerjemahkannya menjadi lima kriteria operasional (C1–C5) yang dilengkapi definisi serta rubrik penilaian 1–5. Penilaian lintas fungsi dikumpulkan menggunakan rubrik tersebut dan diagregasi dengan model nilai aditif tipe SMART untuk menghasilkan baseline ranking dan shortlist awal. Robustness diuji melalui discrete weight-profile sensitivity dengan mengevaluasi ulang ranking dan shortlist pada beberapa profil bobot alternatif. Keluaran penelitian meliputi set kriteria dan rubrik sebagai standar evaluasi bersama, baseline ranking atas 27 grouping RICEFW, serta Top-15 priority shortlist awal untuk perencanaan rilis. Pada profil bobot yang diuji, sebagian besar kandidat baseline (13 dari 15) tetap berada dalam shortlist; perubahan terutama terjadi pada grouping borderline di sekitar batas Top-15. Secara keseluruhan, Pedoman Operasional mengompilasi standar evaluasi, hasil prioritisasi, ringkasan robustness, serta template decision trail untuk mendukung diskusi prioritisasi lintas fungsi yang lebih konsisten dan dapat ditelusuri.
PENINGKATAN SISTEM MANAJEMEN PROYEK UNTUK PT. GEARINDO TIGA UTAMA: STUDI KASUS PROYEK KONSTRUKSI SISTEM PEMIPAAN
Proyek engineering, procurement and construction (EPC) menempatkan satu kontraktor sebagai penanggung jawab desain, material, dan konstruksi dengan target waktu dan biaya yang ketat. Di Indonesia banyak proyek juga bergantung pada tenaga kerja subkontraktor dan material yang disediakan pemilik, sehingga risiko koordinasi meningkat. PT Gearindo Tiga Utama (GTU) mengalami kegagalan pada proyek pemasangan pipa untuk pabrik kertas di Riau yang dikenal sebagai BM4. Tesis ini mengkaji mengapa proyek tersebut menyimpang dari rencana serta jenis sistem manajemen proyek seperti apa yang dapat menurunkan kemungkinan kegagalan. BM4 dianalisis sebagai satu kasus tunggal. Studi ini berangkat dari asumsi bahwa proyek kompleks biasanya gagal karena akumulasi pilihan manajerial, bukan satu peristiwa tunggal. Tujuannya adalah mengidentifikasi faktor kunci di balik kegagalan dengan menggunakan enam kendala proyek sebagai kerangka, menjelaskan bagaimana faktor tersebut memengaruhi jadwal, kesiapan area kerja, subkontraktor, dan arus kas, serta mengembangkan sistem manajemen proyek yang disesuaikan dengan konteks GTU. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Data diperoleh dari wawancara semi terstruktur dengan tujuh pemangku kepentingan internal serta dari dokumen pendukung proyek. Seluruh materi dikodekan berdasarkan kendala proyek, dianalisis menggunakan Current Reality Tree untuk mengaitkan gejala yang terlihat dengan akar penyebab, dan dibandingkan dengan proses terpilih dalam PMBOK Guide Sixth Edition sebagai tolak ukur praktik yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan tiga akar penyebab utama: kurangnya kepemimpinan dan disiplin proyek, ketiadaan formal change control, serta baseline jadwal dan sumber daya yang tidak realistis. Secara bersama-sama ketiganya menjelaskan berbagai kesulitan di BM4, termasuk ketidakstabilan tenaga kerja subkontraktor, masalah koordinasi, dan isu kualitas yang berulang. Tesis ini diakhiri dengan usulan sistem manajemen proyek yang praktis bagi GTU yang memperjelas rutinitas tata kelola, memperkenalkan prosedur integrated change control, dan memperkuat aturan penetapan serta pembaruan baseline untuk mendukung proyek EPC di masa mendatang.
USULAN IMPLEMENTASI LEAN CONTRUCTION PADA PROSEDUR MANAJEMEN PROYEK DALAM PENYUSUNAN RENCANA KERJA PROYEK (RKP) (STUDI KASUS PT INDONESIA CONSTRUCTION COMPANY TBK.)
Studi ini mengusulkan pengintegrasian prinsip-prinsip Lean Construction ke dalam prosedur Rencana Kerja Proyek (RKP) PT ICC (Persero) Tbk untuk mengatasi inefisiensi dan pemborosan tingkat proyek selama tahap perencanaan dan pelaksanaan. Meskipun PT ICC telah mengadopsi kerangka kerja manajemen proyek berbasis PMBOK yang komprehensif, pelaksanaan proyek tetap sebagian besar reaktif dan didorong oleh administrasi, membatasi efektivitas RKP sebagai alat perencanaan proaktif. Akibatnya, inefisiensi berulang muncul di tingkat proyek, berkontribusi pada penundaan jadwal, pembengkakan biaya, dan pemborosan material. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan pemetaan proses, wawancara mendalam dengan enam ahli internal dan eksternal, penilaian ahli, dan analisis kuantitatif melalui Relative Importance Index (RII), penelitian ini mengidentifikasi empat jenis limbah yang dominan: menunggu, kelebihan produksi, kelebihan persediaan, dan bakat yang tidak dimanfaatkan. Analisis lebih lanjut membedakan limbah yang berasal dari kelemahan struktural RKP dengan limbah yang disebabkan oleh penyimpangan selama pelaksanaan proyek. Berdasarkan hasil RII, Sistem Perencana Terakhir (RII = 0,93), Kolaborasi Lintas Fungsi Awal (RII = 0,90), dan Perencanaan Tarik (RII = 0,83) diidentifikasi sebagai alat Lean yang paling penting untuk integrasi. Studi ini mengembangkan kerangka kerja RKP yang direvisi dengan menyematkan alat Lean terpilih ke dalam prosedur berbasis PMBOK yang ada tanpa mengubah struktur tata kelola dasar. Temuan ini menunjukkan bahwa perencanaan Lean-integrated berpotensi meningkatkan keandalan jadwal, mengurangi pemborosan terkait material, dan meningkatkan prediktabilitas alur kerja di tingkat proyek. Namun, implementasi yang berhasil sangat bergantung pada transformasi organisasi dan budaya, terutama dalam mengatasi resistensi terhadap perubahan dan praktik pengambilan keputusan hierarkis. Oleh karena itu, komitmen kepemimpinan yang kuat, pelatihan praktis, dan manajemen perubahan yang berkelanjutan sangat penting untuk mewujudkan manfaat penuh dari integrasi Lean Construction dalam kerangka kerja RKP.
PENERAPAN MANAJEMEN PROYEK SURVEI TOPOGRAFI PADA EKSPLORASI TAMBANG BATU BARA
Survei topografi mempunyai peranan yang sangat penting mulai dari awal proses penambangan batu bara hingga akhir. Pada tahap eksplorasi rinci, dibutuhkan peta detail topografi skala 1:1000 untuk mengetahui koreksi topografi dari daerah pengeboran hingga arah penyebaran, kemiringan dan perkiraan cadangan awal pada suatu daerah yang dieksplorasi agar dapat diinterpretasikan dengan baik. Untuk mendapatkan hasil kegiatan survei topografi yang maskimal, dibutuhkan penerapan manajemen survei pemetaan bagi individu ataupun perusahaan agar dapat melaksanakan kegiatan survei topografi dengan prinsip efisiensi dan efektivitas. Perencanaan survei topografi meliputi perencanaan teknis pelaksanaan, sumber daya manusia, jadwal serta biaya. Pada perencanaan teknis dilakukan pembagian zona pengukuran dan penentuan titik-titik rencana bench mark. Selanjutnya, tahap pelaksanaan merupakan proses implementasi dari perencanaan proyek yang terdiri dari pengukuran kerangka dasar, pengukuran detail situasi dan pengukuran titik kontrol. Pengendalian proyek survei topografi dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan non-teknis yang dapat terjadi saat pelaksanaan survei topografi. Penerapan manajemen proyek dapat menghasilkan rencana teknis survei topografi yang digunakan sebagai dasar perencanaan waktu, sumber daya manusia serta biaya pelaksanaan survei topografi pada eksplorasi rinci tambang batu bara. Agar perencanaan survei topografi efektif, harus dilakukan kegiatan penyuluhan lapangan terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan keadaan aktual dari wilayah pengukuran.
IMPLEMENTASI NETWORK PLANNING DALAM SURVEY HIDROGRAFI
Survey hidrografi adalah kegiatan survey untuk mendapatkan informasi kelautan. Pelaksanaannya diperlukan biaya yang mahal, beresiko tinggi dan tergantung pada cuaca. Untuk mendapatkan informasi kelautan tersebut, perlu adanya manajemen proyek yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan kontrol kualitas produk. Manajemen proyek dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode barchart dan metode network planning. Dalam penulisan ini, digunakan metode network planning untuk proyek survey hidrografi, karena dengan metode ini akan didapat analisa waktu dan biaya yang efektif dan efisien untuk melaksanakan proyek serta optimasi hubungan ketergantungan antar kegiatan dalam penggunaan waktu dan sumber daya. Proses yang digunakan untuk menunjukkan network planning dalam survey hidrografi digunakan critical path method (CPM). Dengan digunakan network planning, proyek survey hidrografi akan terlaksana dengan baik, efektif dan efisien dalam hal waktu dan biaya, sehingga metode network planning ini dapat digunakan sebagai prosedur pelaksanaan manajemen proyek dalam survey hidrografi.
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI JALAN TOL DENGAN BANTUAN BIM (STUDI KASUS: JALAN TOL TRANS SUMATRA BENGKULU – TABA PENANJUNG ZONA 1, KM 0-6.5)
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rencana penjadwalan dan estimasi biaya pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatra Seksi Bengkulu – Taba Penanjung dengan memanfaatkan pendekatan Building Information Modeling (BIM) untuk mendukung efisiensi waktu dan biaya. Tahapan perencanaan dimulai dengan pengumpulan koefisien produktivitas alat melalui Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bina Marga dan metode resource enumeration. Pekerjaan dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu pekerjaan jalan dan pekerjaan jembatan, yang masing-masing dijadwalkan secara paralel berdasarkan 15 segmen jalan yang dikelompokkan menjadi tiga sequence. Durasi awal dihitung dari total volume dan koefisien produktivitas, kemudian disesuaikan menggunakan rasio terhadap target penyelesaian proyek sehingga diperoleh durasi yang realistis per pekerjaan dan per sequence. Seluruh data kegiatan, durasi, dan hubungan ketergantungan kegiatan dimasukkan ke dalam Microsoft Project untuk menghasilkan jadwal akhir. Hasil penjadwalan menunjukkan total durasi proyek selama 295 hari dengan pembagian front kerja paralel yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan alat dan meminimalkan waktu menganggur. Estimasi biaya pekerjaan yang dihitung melalui Analisis Harga Satuan dan dikalikan volume aktual menghasilkan total anggaran sebesar Rp 722.313.413.351,32.
KAJIAN PENERAPAN PROJECT PRODUCTION MANAGEMENT (PPM) DI PT X
Industri konstruksi menghadapi berbagai tantangan seperti kompleksitas teknis, koordinasi lintas pemangku kepentingan, dan variabilitas yang berdampak pada waktu dan biaya proyek, sementara pendekatan manajemen proyek konvensional belum mampu mengatasinya secara menyeluruh. Project Production Management (PPM) dikembangkan sebagai solusi dengan memandang proyek sebagai sistem produksi dan mengelola lima pengungkit (desain produk, desain proses, kapasitas, inventori, dan variabilitas). Keberhasilan penerapan PPM terbukti di proyek Terminal 5 Bandara Heathrow dan oleh PT X di Indonesia sejak 2019, yang mampu meningkatkan efisiensi, keandalan pasokan, serta mencegah keterlambatan proyek. Namun, kajian ilmiah mengenai implementasi PPM di PT X, termasuk tantangan selama penerapan masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian mengenai kajian penerapan PPM di PT X menjadi penting untuk dilakukan guna memahami gambaran penerapan PPM dan tantangan-tantangan yang dihadapi selama penerapan PPM. Pengumpulan data terkait penerapan PPM dan tantangan yang dihadapi dilakukan melalui wawancara serta penelaahan dokumen PPM dari PT X. Data tersebut kemudian dianalisis untuk melihat kesesuaiannya dengan penerapan dan tantangan yang tercantum dalam literatur. Berdasarkan hasil penelitian, penerapan PPM di PT X mencakup dua dari tiga elemen utama, yaitu Production System Optimization (PSO) dan Project Production Control (PPC) serta tiga dari lima pengungkit (five levers) yaitu desain proses, inventori, dan variabilitas. Selain itu, penerapan PPM ini didukung oleh software SPS meskipun belum menyeluruh. Tantangan yang dihadapi meliputi biaya tambahan software, keterbatasan teknis, tekanan kerja pada tim, perbedaan mindset dengan project control, serta kesulitan komunikasi lintas tim. Pembelajaran penting dari penerapan ini mencakup perlunya perubahan mindset, keterlibatan semua pihak, pengembangan SDM, serta alternatif tools sederhana jika penggunaan software menjadi kendala.
PENGEMBANGAN APLIKASI PEMANTAUAN PROYEK UNTUK PROJECT MANAGEMENT OFFICE PADA KMPPD BANK INDONESIA
Kelompok Manajemen Program dan Proyek Digitalisasi (KMPPD) serves as the Project Management Office (PMO). KMPPD is responsible for monitoring all digitalization projects within the Departemen Layanan Digital dan Kemanan Siber (DLDS). Currently, the project monitoring process still relies on the use of Microsoft Excel-based worksheets. This dependence on manual processes creates various obstacles. This Final Project aims to design and develop a web-based project monitoring application to accommodate the specific needs of KMPPD. The development methodology used refers to the Waterfall model, starting from the analysis phase through to testing. The application's functionality design is based on the Project Management Body of Knowledge (PMBOK) 6th Edition framework. Technically, the application is implemented using a layered architecture design. The application is composed of main modules, such as project and program management, work breakdown structure, milestone schedule, risk register, issue log, dashboard, and user management. The implementation of 53 functional requirements was successfully carried out and has successfully passed unit testing and integration testing.
STRATEGI TRANSFORMASI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK KONSTRUKSI MENUJU TAKT PLANNING DAN TAKT CONTROL
Industri konstruksi di Indonesia masih banyak mengandalkan metode perencanaan dan pengendalian konvensional seperti bar chart, kurva S, dan Critical Path Method (CPM) yang kurang adaptif terhadap dinamika lapangan dan lemah dalam sinkronisasi aliran kerja. Kondisi ini kerap menyebabkan keterlambatan, pemborosan sumber daya, dan inefisiensi. Penelitian ini mengkaji transformasi metode konvensional menuju takt planning dan takt control, yaitu pendekatan yang menekankan ritme kerja terukur, sinkronisasi antar zona, dan pengendalian berbasis siklus pendek. Metode penelitian meliputi kajian literatur, studi kasus pada proyek yang telah menginisiasi takt (Proyek X) dan proyek konvensional (Proyek Y), wawancara mendalam, serta analisis kesenjangan dan kendala penerapan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan mendasar dalam aspek perencanaan, koordinasi, dan respons terhadap variabilitas. Berdasarkan temuan tersebut, disusun panduan strategis transformasi yang membagi proyek ke dalam tiga tingkat kesiapan, yaitu: (1) belum menerapkan takt, (2) sudah menginisiasi takt, dan (3) telah menerapkan takt planning namun belum takt control. Untuk setiap tingkat kesiapan, dirumuskan tahapan preparation, initiation, execution, dan stabilization. Tujuan utama panduan ini adalah memastikan proyek dapat mengimplementasikan takt secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Panduan ini diharapkan dapat digunakan oleh praktisi konstruksi di Indonesia sebagai acuan praktis dalam melakukan transformasi manajemen proyek secara bertahap sesuai kondisi riil di lapangan.
STUDI KASUS PERBANDINGAN PERENCANAAN METODE PERBAIKAN TANAH PADA TANAH LUNAK DI CILEGON DENGAN PVD, KOLOM GROUT MODULAR, DAN DEEP SOIL MIXING
Tanah lunak merupakan tanah dengan karateristik daya dukung dan stabilitas yang rendah, yang sering dijumpai di wilayah pesisir Indonesia, termasuk di Cilegon, Banten. Tanah ini memiliki permeabilitas rendah dengan kompresibilitas tinggi, sehingga proses konsolidasi berlangsung lama, dengan penurunan tanah yang besar. Kondisi tersebut dapat mengganggu kestabilan dan fungsi infrastruktur, sehingga diperlukan metode perbaikan tanah yang tepat. Studi ini bertujuan untuk membandingkan tiga metode perbaikan tanah pada tanah lunak di Cilegon, yaitu preloading dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD), Kolom Grout Modular (KGM), dan Deep Soil Mixing (DSM), berdasarkan pemenuhan kriteria desain serta efisiensi biaya, waktu, dan kemudahan pelaksanaan. Studi ini dimulai dengan penentuan parameter tanah dari pengujian lapangan dan laboratorium, diikuti dengan analisis penurunan dan stabilitas sebelum perbaikan tanah, kemudian dilakukan desain perbaikan tanah menggunakan perhitungan manual dan pemodelan PLAXIS 2D, serta evaluasi hasil berdasarkan kriteria desain faktor keamanan dan penurunan yang diizinkan. Selain itu, dilakukan juga penilaian akhir yang membandingkan ketiga metode perbaikan tanah dengan menggunakan kriteria penilaian biaya pekerjaan, waktu pelaksanaan, dan indeks kemudahan pekerjaan. Hasil studi menunjukkan ketiga metode perbaikan tanah memenuhi kriteria desain yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil desain, metode PVD membutuhkan biaya sekitar Rp 17.87 miliar, waktu pelaksanaan 182 hari, dengan indeks kemudahan 4. Metode DSM membutuhkan biaya Rp 14.78 miliar dengan durasi 84 hari dan indeks kemudahan 1, sementara metode KGM membutuhkan biaya paling rendah yaitu Rp 5.04 miliar dengan waktu pengerjaan 91 hari dan indeks kemudahan 2. Secara keseluruhan, metode KGM memperoleh skor tertinggi sehingga dapat direkomendasikan sebagai metode paling efisien untuk kasus ini.