π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 12 dokumenANALISIS EMISI CO2 PADA TAHAP PELAKSANAAN KONSTRUKSI STRUKTUR JEMBATAN: STUDI KASUS PROYEK JALAN TOL AKSES PATIMBAN PAKET 4
Sektor konstruksi merupakan salah satu penyumbang emisi karbon dioksida (CO?) terbesar, namun perhatian terhadap emisi pada tahap pelaksanaan konstruksi masih relatif terbatas dibandingkan tahap produksi material. Penelitian ini bertujuan menghitung dan menganalisis emisi CO? pada tahap pelaksanaan konstruksi struktur jembatan Proyek Jalan Tol Akses Patimban Paket 4, serta membandingkan metode pelaksanaan eksisting dengan metode alternatif dari aspek emisi, durasi, dan biaya. Analisis menggunakan pendekatan gate-to-gate, yaitu hanya memperhitungkan emisi langsung dari konsumsi bahan bakar dan energi alat berat selama aktivitas konstruksi di lokasi proyek. Enam paket pekerjaan struktur ditinjau, yaitu pekerjaan tiang bor, fondasi, pilar, kepala pilar, ereksi girder, serta diafragmaβdeckslab. Perhitungan mengikuti alur volume pekerjaan ? produktivitas alat ? durasi ? konsumsi bahan bakar ? emisi CO?, dengan faktor emisi solar sebesar 2,68 kg CO?/L mengacu pada IPCC (2006). Hasil penelitian menunjukkan total emisi metode eksisting sebesar 446,44 ton CO?, dengan pekerjaan tiang bor sebagai kontributor terbesar (348,58 ton), yang di dalamnya aktivitas pengeboran menyumbang sekitar 55% sebagai hotspot utama. Penerapan metode alternatif menurunkan total emisi menjadi 266,66 ton CO?, atau berkurang sekitar 179,78 ton (?40%), dengan penghematan terbesar berasal dari penggantian metode tiang bor konvensional menjadi continuous flight auger (?46,7%). Selain menurunkan emisi, metode alternatif juga memperpendek durasi pelaksanaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemilihan metode pelaksanaan berpengaruh terhadap besaran emisi karbon dan dapat menjadi strategi dekarbonisasi konstruksi yang efektif.
EVALUASI PENERAPAN BIM 4D PADA PROYEK GEDUNG DAN POTENSI AUTOMASI TERHADAP PENJADWALAN BERDASARKAN PERSEPSI PRAKTISI KONTRAKTOR
Keterlambatan proyek konstruksi masih menjadi masalah kronis di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh keterbatasan metode penjadwalan konvensional yang tidak mampu mendeteksi konflik ruang dan waktu antar elemen pekerjaan secara visual. Di sisi lain, kajian mengenai penerapan BIM 4D sebagai instrumen penjadwalan konstruksi di Indonesia, beserta potensi automasinya, masih terbatas, padahal pemerintah telah mewajibkan penggunaan BIM pada proyek gedung berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas penerapan BIM 4D pada proyek gedung serta mengidentifikasi tingkat potensi penerapan automasi penjadwalan konstruksi berdasarkan persepsi praktisi kontraktor. Simulasi BIM 4D dibangun menggunakan Autodesk Revit dan Navisworks Manage pada sebuah proyek gedung sebagai objek simulasi, kemudian dievaluasi oleh praktisi kontraktor berpengalaman melalui kuesioner dan wawancara. Efektivitas simulasi dinilai menggunakan metode Simple Multi-Attribute Rating Technique (SMART), sedangkan potensi automasi penjadwalan pada beberapa skenario teknologi dianalisis menggunakan metode Relative Importance Index (RII). Hasil penelitian menunjukkan bahwa BIM 4D dinilai efektif oleh para praktisi, terutama sebagai media komunikasi lintas disiplin dan alat deteksi dini konflik pekerjaan, meskipun kemampuannya mendeteksi keterlambatan secara real-time masih terbatas karena pembaruan model yang belum dilakukan secara rutin. Penelitian ini juga menemukan bahwa persepsi praktisi yang berpengalaman dan yang minim pengalaman menggunakan software BIM 4D menunjukkan kecenderungan berbeda, di mana kelompok berpengalaman lebih menuntut akurasi teknis sementara kelompok minim pengalaman lebih menitikberatkan pada kemudahan visualisasi. Pada aspek automasi, skenario Multi-Objective Visualization diidentifikasi sebagai yang paling berpotensi diterapkan karena kemudahan penerapannya, meski dengan hambatan utama berupa keterbatasan data historis, biaya implementasi, dan kesiapan budaya industri konstruksi, bukan pada kesiapan teknologinya.
STRATEGI PENINGKATAN KOMPETENSI YANG DIPERLUKAN LAST PLANNER
Industri konstruksi di Indonesia menghadapi tantangan dalam meningkatkan keandalan perencanaan dan efisiensi operasional proyek. Sejak diperkenalkan oleh Ballard dan Howell, Last Planner System (LPS) telah menjadi salah satu pendekatan lean construction yang menawarkan solusi terhadap tingginya tingkat ketidakpastian di lapangan melalui perencanaan kolaboratif dan pengendalian produksi yang lebih adaptif. Namun, keberhasilan penerapan LPS sangat bergantung pada kompetensi pelaksana di lapangan, khususnya mandor dan subkontraktor yang bertindak sebagai Last Planner. Di Indonesia, mayoritas mandor dan subkontraktor berasal dari latar belakang pendidikan SMA atau SMK dan cenderung memperoleh kompetensinya melalui pengalaman langsung, bukan pelatihan formal. Peran sebagai Last Planner menuntut kompetensi yang jauh lebih luas dibandingkan peran mandor konvensional, terutama dalam aspek achievement and action (inisiatif, ketekunan, ketegasan) dan cognitive (berpikir sistematis, analisis kendala, pengambilan keputusan). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan oleh mandor dan subkontraktor dalam menjalankan peran sebagai Last Planner, menganalisis kondisi aktual kompetensi mereka pada proyek konstruksi yang telah menerapkan LPS, serta merumuskan strategi peningkatan yang tepat. Studi dilakukan pada dua proyek konstruksi gedung dari perusahaan BUMN dengan menggunakan metode studi kasus dan analisis deskriptif. Model Dreyfus digunakan sebagai kerangka evaluasi untuk menilai kompetensi dalam empat parameter: knowledge, standard of work, autonomy, dan decision. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kompetensi masih berada pada tingkat advanced beginner, terutama pada aspek Collaborative Planning, Pull Planning, dan Learning yang memiliki nilai terendah di kedua proyek. Kesenjangan utama yang ditemukan antara lain adalah kurangnya pemahaman menyeluruh tentang filosofi LPS, rendahnya kemandirian pelaksana dalam membuat keputusan, serta minimnya dokumentasi sebagai standar kerja. Berdasarkan hasil tersebut, strategi yang disarankan mencakup pendekatan jangka pendek dan jangka panjang. Strategi jangka pendek meliputi pelatihan berbasis praktik dengan model experiential learning dan simulasi konstruksi ramping. Sementara itu, strategi jangka panjang diarahkan pada integrasi kompetensi LPS dalam kurikulum pendidikan vokasi dan penyusunan standar kompetensi formal seperti SKKNI. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya meningkatkan keandalan sistem produksi konstruksi melalui penguatan kompetensi pelaku lapangan di Indonesia.
STUDI KOMPARASI PERANGKAT LUNAK TAKT PLANNING
Penjadwalan konvensional berbasis aktivitas dalam industri konstruksi sering kali menghadapi kendala, seperti kurangnya visualisasi alur kerja dan kesulitan dalam menyeimbangkan laju produksi untuk pekerjaan repetitif. Takt Planning, sebagai salah satu metode dalam Lean Construction, hadir sebagai solusi untuk menciptakan alur kerja yang kontinu dan efisien. Namun, implementasinya yang optimal memerlukan dukungan perangkat lunak khusus di mana studi komparatif mengenai perangkat lunak tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi komparasi terhadap empat perangkat lunak penjadwalan yang bersifat special purpose, yaitu Tactplan, inTakt, Nialli, dan VisiLean. Evaluasi dilakukan menggunakan kerangka ganda: aspek umum (berdasarkan kriteria Jackson et al., 2011) untuk menilai kualitas perangkat lunak secara keseluruhan, dan aspek teknis (berdasarkan enam tahapan Takt Planning dari Frandson et al., 2013) untuk mengukur kapabilitas dalam mengakomodir metode Takt. Hasil kuantifikasi teknis menunjukkan bahwa inTakt (417/600) adalah perangkat lunak yang paling mampu mengakomodir tahapan Takt Planning, diikuti oleh Tactplan (384/600). Sebaliknya, Nialli (194/600) dan VisiLean (235/600) menunjukkan skor teknis yang lebih rendah yang mengindikasikan bahwa fokus utama kedua perangkat lunak tersebut lebih condong ke arah Last Planner System (LPS). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada perangkat lunak yang sempurna, tetapi masing-masing memiliki keunggulan pada tahapan tertentu. Hasil studi ini menghasilkan sebuah peta komparasi yang dapat menjadi referensi bagi para praktisi industri konstruksi dalam memilih alat digital yang paling sesuai untuk mendukung adopsi dan implementasi Takt Planning secara efektif.
IDENTIFIKASI PELUANG, TANTANGAN, DAN STRATEGI KONTRAKTOR DALAM PELAKSANAAN PROYEK GEDUNG METODE DESIGN-BUILD (DB)
Keberhasilan proyek konstruksi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pemilihan metode pelaksanaan proyek atau Project Delivery System (PDS). Di Indonesia, metode Design-Bid-Build (DBB) sering digunakan, meskipun memiliki kelemahan dalam hal efisiensi waktu dan koordinasi. Sebagai alternatif, metode Design-Build (DB) dapat meningkatkan integrasi antara Desainer dan Kontraktor, yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi waktu, biaya, dan kualitas proyek. Namun, meskipun memiliki banyak keunggulan, pelaksanaan proyek dengan metode DB tetap menghadapi tantangan, seperti perubahan desain, koordinasi teknis, serta pengelolaan material dan waktu yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang yang dapat dimanfaatkan, tantangan yang dihadapi, dan strategi yang diterapkan oleh Kontraktor selama pelaksanaan proyek pembangunan gedung dengan metode Design-Build (DB). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui kuesioner untuk menganalisis peluang dan tantangan, serta wawancara untuk menggali strategi yang digunakan kontraktor dalam menghadapi masalah tersebut. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan metode Relative Importance Index (RII), sementara analisis data kualitatif dilakukan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peluang utama yang dapat dimanfaatkan oleh kontraktor mencakup koordinasi yang lebih efektif dengan desainer, keterlibatan kontraktor sejak tahap desain untuk efisiensi biaya, dan fleksibilitas untuk melakukan perubahan desain selama pelaksanaan. Di sisi lain, tantangan utama yang dihadapi kontraktor meliputi masalah dengan persetujuan perubahan desain, kesulitan implementasi desain, keterlambatan pengadaan material, dan kurangnya koordinasi antara pihak internal dan eksternal. Untuk mengatasi tantangan ini, kontraktor menerapkan beberapa strategi, termasuk penguatan komunikasi dan koordinasi, fleksibilitas operasional, evaluasi desain sejak awal, dan adaptasi terhadap perubahan desain dengan melibatkan vendor dan subkontraktor. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengoptimalkan implementasi metode Design-Build (DB) di Indonesia, meningkatkan efisiensi waktu, biaya, dan kualitas proyek konstruksi, serta memberikan rekomendasi praktis bagi kontraktor untuk menghadapi peluang dan tantangan yang ada.
PENGEMBANGAN MODEL INTEGRATED PROJECT DELIVERY (IPD) SYSTEM BERBASIS BUILDING INFORMATION MODELING (BIM) DALAM MENINGKATKAN KINERJA PROYEK KONSTRUKSI GEDUNG
Sektor konstruksi memainkan peran strategis dalam perekonomian Indonesia, memberikan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto nasional. Namun, masih rendahnya kinerja proyek konstruksi, khususnya pada proyek bangunan gedung, menjadi perhatian utama yang menuntut peningkatan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi Project Delivery System (PDS) di Indonesia serta mengkaji pengembangan model Integrated Project Delivery (IPD) System berbasis Building Information Modeling (BIM), sebagai upaya meningkatkan kinerja proyek konstruksi. Studi ini dilakukan dalam dua tahap: pertama, mengidentifikasi sembilan aspek utama PDS yang selama ini belum pernah dikaji secara komprehensif di Indonesia, serta mengaitkannya dengan kontrak konstruksi dan indikator-indikator kinerja proyek yang relevan. Kedua, membandingkan kinerja antara sistem PDS konvensional dengan IPD berbasis BIM berdasarkan sudut pandang berbagai pemangku kepentingan (stakeholder), seperti pemilik proyek, kontraktor, dan konsultan. Tujuan akhirnya adalah merumuskan model IPD berbasis BIM yang sesuai dengan karakteristik proyek konstruksi di Indonesia untuk mengurangi risiko rendahnya kinerja proyek. Data primer dikumpulkan melalui survei daring ke 320 sampel responden yang menyasar para pelaku industri konstruksi, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akademik dan profesional. Pendekatan metode campuran diterapkan, mencakup analisis kualitatif (pengkodean dan interpretasi naratif) serta analisis kuantitatif menggunakan ANOVA, MANOVA, regresi multivariat, skor rata-rata, dan Analytic Network Process (ANP). Penelitian ini juga menekankan pentingnya fase pra-konstruksi dalam regulasi nasional sebagai landasan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan siap berkolaborasi dalam manajemen proyek yang terintegrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPD berbasis BIM memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan efisiensi dan kinerja proyek secara keseluruhan. Namun, beberapa tantangan tetap ditemukan, seperti belum optimalnya pemanfaatan Common Data Environment (CDE), terutama dari sudut pandang pemilik proyek (? = -0,74), serta pentingnya aspek penghargaan dalam sistem PDS konvensional yang sangat berpengaruh terhadap kualitas proyek menurut perspektif kontraktor (? = -0,96). Selain itu, kualitas people & knowledge dan kekuatan kolaboratif antar pemangku kepentingan yang dikunci oleh aspek legalitas juga terbukti sebagai kunci sukses penerapan IPD dan BIM. Penelitian ini menghasilkan model pengembangan PDS dan IPD yang disesuaikan dengan konteks, permasalahan, dan kebutuhan stakeholder di Indonesia. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan sembilan aspek PDS dan sembilan dimensi kinerja proyek serta pemetaan hubungan kausal antar keduanya berdasarkan sudut pandang pemangku kepentingan. Temuan ini menawarkan kerangka kerja baru dalam meningkatkan sistem pengadaan proyek konstruksi di Indonesia dan mendorong adopsi IPD berbasis BIM sebagai tolok ukur manajemen konstruksi masa depan. Ke depan, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengungkap faktor- faktor lain yang memengaruhi hubungan kausalitas antara aspek PDS dan indikator kinerja proyek secara lebih mendalam.
PENGEMBANGAN MODEL BISNIS PT ASIA CIVIL INDONESIA DENGAN PENDEKATAN STRATEGI BISNIS
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi Pendekatan Kualitatif Strategi menggunakan SWOT, TOWS, dan Model Diamond untuk mengembangkan strategi memenangkan tender di PT Asia Civil Indonesia. Penelitian ini menelaah perspektif karyawan, manajer lini, dan eksekutif tentang peningkatan inovasi dan kontribusi pada manajemen biaya dalam proses tender. Studi kasus dilakukan dengan melibatkan dua pendekatan: menganalisis perusahaan yang merupakan klien PT Asia Civil Indonesia dan yang merupakan pesaing, masing-masing menerapkan strategi bisnis yang berbeda. Materi empiris mencakup wawancara dengan karyawan, manajer lini, dan direktur PT Asia Civil Indonesia, serta Presiden Direktur dari perusahaan klien dan Direktur perusahaan pesaing. Analisis berfokus pada bagaimana praktik strategi bisnis memelihara dan membatasi kreativitas dan inovasi, terutama dalam strategi penetapan harga untuk tender. Studi ini juga meneliti peran ganda strategi model bisnis dalam menstabilkan dan mendestabilkan perusahaan dalam konteks manajemen proyek konstruksi. Meskipun strategi bisnis berbeda, kasus-kasus tersebut mengungkapkan beberapa peluang bagi PT Asia Civil Indonesia untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam perhitungan harga, sehingga meningkatkan tingkat keberhasilan tender mereka.
PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) UNTUK MENENTUKAN PROYEK TERBAIK PADA BISNIS KONSTRUKSI DI INDONESIA: STUDI KASUS CV. MAEZURRA INDOTAMA
Sektor konstruksi memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB negara. Namun, inefisiensi dalam proses birokrasi dan penundaan pembayaran masih menjadi tantangan yang signifikan, terutama bagi perusahaan konstruksi skala kecil seperti CV. Maezurra Indotama. Dalam rangka memilih sistem manajemen proyek yang terbaik untuk perusahaan dan menjamin kelangsungan bisnis serta pertumbuhan jangka panjang, penelitian ini mencoba untuk menunjukkan faktor-faktor penting untuk membuat keputusan dan memberi peringkat pada pilihan yang tersedia. Dengan menggunakan Proses Hirarki Analitik (AHP), penelitian ini mengevaluasi kriteria keputusan utama, termasuk manajemen kontrak, keamanan dana, dan manajemen jadwal. Hirarki terstruktur dari kriteria dan subkriteria dikembangkan, dan perbandingan berpasangan dilakukan untuk memprioritaskannya. Pengumpulan data melibatkan wawancara mendalam dengan para ahli perusahaan, untuk memastikan dasar kualitatif dan kuantitatif yang kuat. Temuan menunjukkan bahwa faktor yang paling penting untuk keberhasilan proyek meliputi tinjauan kontrak sebelum penandatanganan (42,2%), memastikan ketersediaan dana klien (47,0%), dan menjamin jadwal pembayaran yang jelas (29,1%). Di antara proyek-proyek yang dievaluasi, SOP Peninjauan Kontrak yang Komprehensif muncul sebagai pilihan utama (37%), selaras dengan prioritas strategis perusahaan. Untuk meningkatkan hasil proyek, rekomendasi yang diberikan mencakup penguatan manajemen kontrak melalui penyederhanaan dan standarisasi dokumen, meningkatkan kesiapan keuangan dengan memastikan ketersediaan dana klien dan mengeksplorasi opsi pendanaan alternatif, serta mengoptimalkan penjadwalan proyek dengan jadwal yang realistis dan pengawasan yang efektif. Penerapan strategi ini dapat mengurangi risiko, merampingkan operasi, dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dalam industri konstruksi yang kompetitif
PERANCANGAN MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI PROYEK PEMBANGUNAN STRUKTUR GEDUNG 1 DAN GEDUNG 2 ITB INNOVATION PARK (IIP) BANDUNG TEKNOPOLIS DI GEDEBAGE
ITB Innovation Park (IIP) yang terletak di Kawasan Summarecon, Gedebage dirancang sebagai salah satu perwujudan konsep Bandung Teknopolis. Pembangunan Struktur IIP diharapkan menjadi prasarana dalam menciptakan ekosistem pengembangan inovasi tekonologi, produksi tahap pertama, kegiatan komersialisasi, inkubasi dan akselerasi start-up, kegiatan penguatan jaringan mitra industri, dan kegiatan komersial yang dapat mendukung perkembangan industri 4.0 di Indonesia. Pengerjaan Tugas Akhir ini adalah untuk merancang metode pelaksanaan konstruksi, perancangan formulir IBPRP (Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Penentuan Pengendalian Risiko), perancangan biaya SMKK (Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi), penyusunan penjadwalan, dan perancangan estimasi biaya konstruksi untuk mewujudkan proyek yang tepat mutu, tepat biaya, tepat waktu, dan tetap memperhatikan keselamatan di proyek konstruksi. Adapun item pekerjaan yang dirancang meliputi pekerjaan persiapan, pekerjaan perbaikan tanah, pekerjaan struktur bawah fondasi, pekerjaan struktur bawah basement, dan pekerjaan struktur atas. Kondisi eksisting proyek adalah tanah lunak sehingga diperlukan perbaikan tanah berupa pekerjaan PVD, PHD, preloading, dan monitoring instrumen geoteknik. Metode konstruksi yang digunakan adalah metode bottom up dengan dinding penahan tanah yang digunakan menggunakan secant pile yang diikat oleh capping beam dan diperkuat dengan sistem strutting. Fondasi yang digunakan adalah fondasi tiang rakit dan menggunakan beton massa sehingga diperlukan pengendalian suhu berupa sensor thermocouple. Dengan mempertimbangkan terdapat konstruksi basement dan terdapat muka air tanah berada di atas kedalaman basement, maka diperlukan pekerjaan dewatering dalam pelaksanaan proyek ini. Sebagian besar komponen struktur merupakan beton bertulang yang dibuat secara langsung di lapangan (cast in situ), selain itu terdapat struktur baja untuk pembuatan rangka baja lift, pembuatan kanopi, dan pekerjaan hoist crane. Oleh karena proyek ini merupakan proyek gedung tinggi, maka diperlukan alat berat berupa tower crane sebagai alat berat pengangkut dan pengangkat material ke ketinggian tertentu. Proyek ini akan dirancang untuk dimulai tanggal 2 Januari 2024 dan berakhir pada tanggal 6 Maret 2026 dengan total durasi selama 668 hari kerja. Nilai Rancangan Anggaran Biaya (RAB) proyek sebesar Rp 262.674.044.654,23.
PENDETEKSIAN UTILITAS BAWAH PERMUKAAN DENGAN METODE GROUND PENETRATING RADAR (GPR) UNTUK RENCANA PEMBANGUNAN GEDUNG
Dalam setiap rencana pembangunan gedung, pengetahuan tentang keberadaan utilitas bawah tanah sangat penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja atau insiden yang tidak diinginkan. Metode Ground Penetrating Radar (GPR) merupakan salah satu teknologi yang efektif untuk mendeteksi keberadaan utilitas bawah tanah tersebut. Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan GPR untuk mengidentifikasi jaringan utilitas di bawah permukaan tanah. Melalui penggunaan GPR, data yang dikumpulkan diolah menjadi radargram yang kemudian dianalisis untuk menemukan anomali yang muncul. Pada penelitian ini ditemukan anomalianomali yang di prediksi sebagai jaringan utilitas bawah tanah. Sehingga dalam penelitian ini menunjukan bahwa metode GPR mampu mendeteksi keberadaan utilitas bawah tanah dengan baik. Hal ini sangat penting dalam proses perencanaan dan pelaksanaan konstruksi bangunan. Penelitian ini tidak hanya untuk meningkatkan keselamatan kerja, penelitian ini juga berguna untuk memastikan kelancaran pembangunan tanpa gangguan yang disebabkan oleh keberadaan utilitas bawah tanah.
PENGUKURAN KINERJA MANDOR BERDASARKAN PERSPEKTIF KONTRAKTOR DALAM BENTUK TINGKAT KEPUASAN STUDI KASUS: PROYEK KONSTRUKSI KOTA BANDUNG
Industri konstruksi di Indonesia masih mengandalkan manusia sebagai sumber daya utamanya. Otomatisasi dan teknologi memang sudah mulai diserap, tetapi belum dapat diterapkan secara luas. Maka dari itu, keberhasilan dari suatu proyek konstruksi tergantung dari sumber daya manusia yang langsung berproduksi dalam mengeksekusi pekerjaan di lapangan. Setiap tukang dan laden akan dipimpin oleh seorang mandor, maka dari itu, kunci dalam kesuksesan suatu proyek konstruksi juga ditentukan oleh suksesnya mandor dalam melaksanakan peran dan tanggung jawabnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran mandor saat ini dibandingkan dengan penelitian belasan tahun sebelumnya yang dapat dipertanyakan relevansinya dengan kondisi saat ini. Metode penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuisioner terhadap pihak kontraktor kualifikasi besar di Kota Bandung, serta melakukan wawancara langsung terhadap beberapa mandor untuk mengetahui peran mandor saat ini. Temuan utama menunjukkan bahwa peran mandor masih relevan hingga saat ini, hanya saja mandor lebih berperan sebagai pengusaha atau perusahaan tersendiri, hanya saja belum berbadan hukum dan kondisi finansialnya yang masih terbatas. Selain itu, mandor saat ini juga memiliki kompetensi yang lebih baik dibandingkan dengan belasan tahun lalu, karena tuntutan pasar yang lebih kompetitif, serta adanya pengaruh pelatihan keterampilan terhadap beberapa mandor konstruksi.
ANALISIS PENERAPAN COMMON DATA ENVIRONMENT (CDE) PADA PROYEK KONSTRUKSISTUDI KASUS: PROYEK TERMINAL PETI KEMAS KALIBARU TAHAP 1B
Selama siklus hidupnya, proyek konstruksi menghasilkan jumlah data yang sangat besar dan beragam. Permasalahan utama yang sering dihadapi dalam penyimpanan dokumen proyek adalah dokumen tersebut sering kali tidak terstruktur, tidak teratur, dan kurang terkoordinasi sehingga sulit untuk diakses oleh semua pihak yang terlibat. Common Data Environment (CDE) merupakan salah satu sistem sumber informasi berbasis cloud yang digunakan untuk mengumpulkan, mengelola, dan mendistribusikan informasi berupa dokumentasi, model grafis, dan data non-grafis untuk seluruh tim. Di Indonesia, perkembangan penggunaan penyimpanan data berbasis cloud dalam sektor AEC (Architecture, Engineering, & Construction) masih berada pada tahap awal. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian untuk menganalisis penerapan CDE pada proyek yang telah menggunakan teknologi tersebut. Perlu diketahui juga manfaat, kendala, dan strategi dalam penerapan CDE tersebut. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan kajian literatur dan wawancara kepada pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 87,5% penerapan CDE pada proyek tinjauan sudah sesuai dengan penerapan CDE pada jurnal terkait. Hal ini membuat penerapan CDE menjadi optimal. Penerapan CDE yang optimal memberikan manfaat bagi pengguna CDE. Manfaat yang dirasakan adalah meningkatkan efisiensi terhadap waktu dan biaya, meningkatkan efisiensi koordinasi dan komunikasi, mempermudah dokumentasi dan pengarsipan, keamanan dan kontrol akses. Penerapan CDE pada proyek tinjauan juga mengalami beberapa kendala seperti pada proses persiapan dan pengaturan awal, kompetensi pengguna CDE, proses adaptasi sistem manual menuju digital, kecepatan internet, dan keterbatasan lisensi dan keamanan data. Namun, permasalahan tersebut dapat segera teratasi dengan strategi yang dilakukan, seperti menyelenggarakan pelatihan awal, meningkatkan kapasitas internet yang memadai, melakukan backup dokumen secara berkala, dan melakukan koordinasi dengan pihak IT pusat, sehingga kendala tersebut tidak mengganggu penerapan CDE pada saat ini.